Archive for the ‘berita singkat’ Category

Sketsa: Dua Belas Mei Dua Belas Tahun Sudah (lah!)

Wednesday, May 12th, 2010


Sebuah Sketsa Mei bicara peluang dan kreatif. Bukan darah. Sebuah
premis kepada trias politika: sudah (lah). 
Mempertontonkan kelakuan beruk, hanya bikin negeri kian teruk. Sudah
(lah), yang saya maksud mengajak  mengembangkan
beragam ceruk agar wajah bangsa tak kian buruk.

 

 

UNTUK  bagian awal tulisan  ini, 
seorang kawan mengirimkan bahan. Agaknya sosoknya ingin mengenang
peristiwa  12 Mei  1998, 
dalam format lain: ingin menggugah mbok,
ya, bangkit, Indonesia!

 

Entah kawan itu paham atau tidak, pada 12 Mei 1998,
saya  terjebak tak bisa pulang ke rumah,
dan menginap di kantor di bilangan Pondok Indah Jakarta Selatan. Kala itu saya
bekerja di perusahaan milik Singapura, yang melakukan usaha di  jasa  high end post production (rumah paska produksi film, video).

 

Nukilan cerita kawan itu:

JAKARTA  di pagi cerah. Udara sudah terasa panas. Kami
menjemput seorang relasi  bisnis di
bandara Soekarno Hatta. Sebagaimana biasa, 
bandara terlihat padat, pertanda lalu lintas penumpang bergerak kian
sesak. Di sela-sela penumpang datang , kami 
melihat sosok pria 60-an tahun, sebut saja namanya Tjeng Hong.

 

Tjeng Hong pengusaha di 
Singapura.  Logat bicaranya
berlanggam nginglis melayu.  Dalam perjalanan dari bandara yang macet,
Thjeng Hong menceritakan pengalaman hidupnya. Singkatnya gambaran etos kerja
keras yang pantang menyerah.  Pujian pun  lalu  mengalir dari mulut Tjeng terhadap negeri ini.

Your  country is so rich!” ujarnya.

 

Acap dan biasa banget mendengar kata normatif  itu. Kalimat itu kami tanggapi dingin.

 

“Indonesia
doesn’t need the world, but the world needs Indonesia.”

 

 Everything can be found here in Indonesia,
you  don’t need the world
.”

Indonesia
paru-paru dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan,
dunia pasti kiamat. Dunia butuh Indonesia!
Singapura is nothing, we can’t be rich
without Indonesia.”

 

“Kalian tahu kan
bagimana kalapnya Singapura, jika terjadi kebakaran hutan, asap membuat
Singapura kalang-kabut.”

 

Thjeng lalu memaparkan data: 500.000 orang Indonesia
berlibur ke Singapura tiap bulan. Ia mengajak kami mengkalkulasi pendapatan
Singapura dari turis asal Indonesia.

 

“Apartemen-apartemen   terbaru kami,  yang  beli orang-orang  Indonesia,” tutur Thjeng pula, “Tak
 peduli harga selangit, laku keras.
Lihatlah rumah sakit kami, hampir semua pasien orang Indonesia.”

 

“Kalian tau kan
kalo Agustus kemarin dunia krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia?
Kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras.”

 

Agustus yang dimaksud Thjeng adalah pada 2009 lalu.

 

“Liatlah negara kalian, air bersih di mana-mana. Lihatlah
negara kami, air bersih pun kami beli dari Malaysia.”

 

“Saya ke Kalimantan pun dalam
rangka bisnis, karena pasirnya mengandung permata. Terlihat glitter kalo ada
matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3.000/kg ke pabrik China. Si
pabrik jual kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya liat ini sebagai peluang,” tutur
Thjeng.

 

Thjeng mengingatkan, “Kalian sadar tidak kalo negara-negara
lain selalu takut meng-embargo Indonesia?!”

 

“Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut
kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya kalianlah yang
meng-embargo diri kalian sendiri.”

 

“Belilah pangan dari petani-petani kita sendiri, belilah
tekstil, garmen dari pabrik-pabrik sendiri. Tak perlu impor kalau nyata bisa
produk sendiri. Jika kalian bisa mandiri, bisa meng-embargo diri sendiri, Indonesia  will
rules the world
.”

 

Kami yang menemani Thjeng di mobil sejenak terdiam, mobil
terhenti di perempatan lampu merah Tomang, Jakarta Barat,  di kemacetan yang terasa  kian panjang.

 

Kami  lalu
membayangkan bagaimana kereta api bawah tanah di Singapura yang menjadi moda
angkutan massal, nyaman digunakan warga. Kini di Jakarta, setelah dua belas
tahun Reformasi, Jakarta khususnya, kian tak jelas juga pembangunan moda
transportasi masalnya, malahan yang mengemuka akan menerapkan pola  pembayaran melalui jalur Sudirman –Thamrin,
tanpa  kita tahu entah kapan urusan
angkutan masal publik nyaman dibuat?

 

 

 

SAYA lupa tepat
tanggalnya. Tapi,  pasti awal Mei 1998.
Saya membaca sebuah majalah tentang film dan video di Video Headd Quarter
(VHQ), tempat saya bekerja kala itu. Saya menyimak Media Development Authority
(MDA) memberikan dukungan finansial ke anak negerinya, melalui venture ke para pengembang konten di
Singapura.

 

Kala itu pula saya membaca di dua halaman majalah, rencana
MDA membuat film layar lebar Sing to Down - - yang dua tahun lalu justeru
penyelesaian film ini  dengan judul
berbeda, dibuat oleh animator Indonesia di Batam, Riau Kepulauan..

 

Kala itu saya bermimpi, akan  ada badan sejenis MDA di Indonesia. Bahkan  sejak Sembilan tahun  sebelumnya, 1989, begitu melangkahkan kaki
pindah dari jalur jurnalistik  mencoba
peruntungan ke usaha kreatif,  saya telah
 bermimpi Indonesia  dengan kekayaan  konten budaya, 
mampu menghasilkan serial  animasi
 merambah dunia internasional.

 

Mimpi itu bukan tanpa usaha, hingga 1995 saya  bersama kawan-kawan di PT Potlot Nasional,
mengasilkan 6  serial animasi wayang  bertajuk Burisrawa dengan target produksi 52
episode. Apa hendak dinyana, dukungan pembiayaan amat sulit kala itu, terlebih
ke  usaha-usaha kreatif yang asset fisik
berupa bangunan, tidak kami miliki.

 

Burbank Sydney, sebagai distributor, siap memasarkan ke
global market. Hitungannya pun sederhana saja. Jika satu episode laku US $
1.000  - - harga termurah di pasaran
serial animasi global - - maka  untuk 52
episode  menjadi US $ 52.000. Biasa untuk
mendapatkan pasar 1.000 stasiun teve di dunia, 
atau setara dengan US $ 52 juta, sesuatu yang mudah saja. Tiadanya
dukungan perbankan, membuat usaha itu kemudian terhenti.

 

Jepang, yang  di hari
belakangan saya verifikasi,  menghisap
negeri ini dengan laku transfer paricing  di pajak, 
secara lantang bilang ke seorang senior animator yang mengerjakan
animasi Dora Emon dan produksi Jepang lainnya di Bali.

 

Sosok Jepang itu bilang tak akan pernah mau mendukung
pengembangan industri animasi negeri lain.

 

Maka sebuah studio animasi kawan saya di Bali,
hinggi kini hanya sebagai tukang untuk Jepang, kendati pun mereka mampu membuat
film layar lebar dan serial animasi jepang yang menglobal: sekali tukang tetap
tukang.

 

Begitulah  Sidang
Pembaca; kata akhir tulisan ini, kepada segenap unsur trias politika yang kini dominan
dimainkan partai politik, untuk sesekali merenung lalu bicara ke diri sendiri:
sudah (lah).

 

Mungkin ada baiknya mengukir kembali kalimat Thjeng Hong di
atas, untuk saat ini juga mengubah kelakuan 
hati dan diri, bahwa ternyata, dua belas tahun waktu berlalu, belum
mampu  menjayakan Indonesia. Tadi
malam di Metro TV, saya baca running teks: 8.637 balita kurang gizi di Banten.
Dan di daerah lain bukan pula berkurang.

 

Kunci mensejahterakan balita, Indonesia keseluruhan,  sederhana saja, di urusan hati, di perilaku dan
pikir cemerlang, berbuat  berlandaskan pemikiran
bahwa bangsa ini kaya. Lain tidak.***

 

Iwan Piliang, blog-presstalk.com

Sketsa VII Pajak: Pengadilan Pajak Reaktif Kiri-Kanan

Monday, April 19th, 2010

Setelah enam Sketsa ihwal pajak, soal Tansfer Pricing (TP) mengalir saya tuliskan, laku reaktif di Depkeu, Direktorat Jenderal Pajak (DJP), juga di Pengadilan Pajak (PP), seakan tertayang bagaikan sinetron televisi. Saya sebagai sosok penonton melaporkan sang tayangan kepada Anda. Setelah lantai PP dan berbagai ruangan diberi CCTV, seluruh satpam diganti, kini adalagi sistem pengamanan baru, pengunjung kudu melewati pintu ber-Xray. Kian hari kian ada-ada saja. Mereka lupa mengelola kekayaan negara, uang rakyat untuk kepentingan rakyat. Apakah termasuk bagi mempersulit rakyat datang bertandang?

MINGGU, 18 April 2010, pukul 8 pagi waktu Indonesia, saya mencoba melayani kawan-kawan asal Indonesia di Houston, AS, menjadi pembicara seminar melalui aplikasi di Webinar. Baru pertama saya memakai software Webinar. Situasi sampai tiga kali putus koneksi. Di dua jam pembicaraan utama, menyangkut Transfer Pricing (TP). Selebihnya topik umum Indonesia ke depan.

Seorang peserta seminar online, menanyakan, bagaimana jika kelak saya menjadi bagian kekuasaan, logikanya acap kali seseorang berada di luar lingkaran kekuasaan bicaranya lain. Setelah di dalam pemerintahan lain pula? Termasuk bila mantan pejabat setelah di luar kekuasaan, bersuara sumbang?

Pertanyaan peserta seminar online lintas benua itu mengingat saya akan staf Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang menangani PMA. Ia kini sudah berbisnis. Suatu hari sosok mantan staf DJP itu bertanya kepada saya.

“Jika sebuah dus teve berukuran 29 inci, lalu dihidangkan ke Anda berisi penuh lembaran Rp 50 ribu? “ Kala itu lembaran tertinggi Rp 50 ribu, belum muncul lembaran Rp 100 ribu.

Sosok mantan staf DJP itu tanpa menunggu saya menjawab.

“Pasti Anda ambil!” ujarnya.

“Ingat bukan sekadar omongan atau janji lho, uang tunai di depan Anda!”

Kalimat tadi seakan bersahutan hadir di telinga. Nada berbeda, konteks sama dengan penanya di Webinar.

Peserta seminar Webinar mengultimatum

“Saya rekam jawaban Anda sekarang, nanti akan kami ingat omongan ini.”

Saya mejawab: Paradigma terhadap uang harus dibalik. Uang sebagai value, nilai, bukan volume. Jika nilai yang dikedepankan, seseorang di Depkeu, contohnya, menulis komentar di Sketsa VI di Kompasiana.com, mengatakan setelah remunerasi di departemennya, uang gajinya cukup untuk layak hidup.

Ke depan kita butuh pemimpin siap “miskin”. Sejarah sudah memberikan tauladan seperti Muhammad Hatta, misalnya. Tanpa membalik paradigma terhadap uang, tidak akan pernah terjadi perbaikan kemajuan Indonesia.

Sabtu malam sehari sebelumnya, saya mendengar percakapan Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi, dengan Farhan, pembawa acara di TV One. Mahfud menyebutkan sistem rekrut anggota DPR, pejabat di pemerintahan. Mahfud menyebut para menteri, banyak tidak pada tempatnya. “Mereka didudukkan lebih bagi kompromi politik, menampung aspirasi partai politik, bukan aspirasi rakyat, “ ujar Mahfud.

Dalam kenyataan itu, keadan diperparah langgam uang menjadi tuan. Untuk menjadi anggota parlemen kudu membeli, naik jabatan di pemerintahan dengan fulus, agar mulus.

Atas logika itulah, agaknya, uang kudu diraih dengan menghalalkan segala cara; merampas hak orang lain, jika perlu membunuh sesama biasa. Dalam tatanan inilah saya mengatakan kepada banyak komunitas anak muda, bahwa bukan saja kebudayaan kita tidak bergerak maju, tetapi peradaban mundur.

Laku memuluskan segala langkah itu pulalah yang dilakukan oleh oknum di Pengadilan Pajak (PP), yang di Sketsa VI saya deskripsikan terindikasi ada yang pernah memiliki SUV Toyota Cygnus, kendati gajinya sebulan tak sampai Rp 8 juta. Sosoknya dan pejabat di atasnya, ditengarai telah memainkan peran menghimpun uang bagi kepentingan kelompok kerja, bagi kepentingan kantung masing-masing.

Dan sebagaimana departemennya bekerja, sikap personalnya pun reaktif. Ia melacak saya sebagai penulis, dan bersama seorang koleganya menemukan kontak saya, yang katanya mengajar di Ukrida, Jakarta.

Itulah perbincangan sang oknum bersama koleganya di ruangan kerjanya. Padahal sosok yang diperbincangkannya itu adalah Indra Piliang, mantan staf peneliti CSIS, yang kini terjun ke ranah politik praktis, secara kebetulan memang bersuku Piliang, sekampung, sesama Piliang, otomatis kami bersaudara.

Jika sang oknum punya rencana “sesuatu” terhadap saya, jangan pulalah nanti kalian salah sasar ya?!

Akan halnya saya, data lengkap ada di dunia online, menganga adanya.

Pekerjaan Rumah kalian, bukan “mengurus” saya. PR kalian adalah mengembalikan segalanya berjalan sesuai aturan, bukan sebaliknya membentengi diri, atau jika perlu menyerang orang. Laku demikian usang. Era keterbukaan, publik kini mudah memantau fakta yang ada.

Tanpa punya CCTV, macam proyek yang kalian lakukan di Depkeu untuk PP, saya dengan rendah hati dapat menerawang oknum yang pernah ber-Cygnus, mendengar percakapannya sehari-hari. Termasuk materi dan strategi para hakim PP menghadapi Sketsa-Sketsa ini.

Saya sudah mafhum, sekadar contoh, kalau mobil Cygnus, sang oknum, sudah berganti ke Mitsubishi Pajero Sport - - tetap terbilang mobil mewah. Dan saya yakinkan kalian, esensi urusan bukan personal, tak hanya kelembagaan PP, tetapi indikasi tumpah ruah bocornya penerimaan negara.

Dan yang bersangkutan tak usah berkecil hati bahwa keliru memperbincangkan saya. Sekadar contoh, Eddy Satriya, kawan di komunitas oneline, staf Deputy Menkoperekonomian RI, dalam membuka seminar nasional Teknologi Inovasi Radio 2.0 di ITB, Bandung, pada Selasa, 15 April, di mana kebetulan saya salah satu pembicara, setidaknya 3 kali menyebut nama Indra Piliang, sambil menujuk ke arah saya.

Nah jika menyasar seseorang saja salah, laku oknum di PP itu, saran saya, ia dan genk-nya introspeksi diri saja. Tidak perlu kuatiar akan Sketsa-Sketsa ini, apalagi membahas serius di dalam rapat resmi PP. Yang pasti, publik, siapapun Anda, terutama media, kontrol-lah PP.

PP kudu terbuka bagi umum. Undang-undang menabalkan demikian. Termasuk para wajib pajak tambun yang minta dirahasiakan namanya juga keliru. Undang-undang menjaga kerahasiaannya, jika ia membayar pajak benar.

Tetapi jika wajib pajak berani menggugat ke PP, otomatis mereka siap buka-bukaan ke ranah publik. Dan umumnya mereka yang terbuka dan bisa menang di PP, adalah yang berusaha memang benar, sepantasnya dibenarkan.

MINGGU, 18 April malam, saya mencoba meyakinkan seorang konsultan pajak untuk bertemu. Sosoknya acap bersidang di PP. Sudah 6 tahun ia bekerja di perusahaan yang cukup bunyi namanya bagi perusahaan besar bermasalah pajak. Namun ia agak keberatan untuk jumpa.

Kami berbincang melalui telepon.

“Situasi sekarang serasa tak kondusif, termasuk di pengadilan pajak, kecurigaan tinggi,” ujar Sam Adi Mulyo, sebut saja namanya begitu.

Dari enam Sketsa yang saya tulis, Sam Mulyo mengamini sebagian besar narasi yang ada. Ia hanya memberikan catatan, dari satu dua perusahaan yang maju banding ke PP, adalah mereka benar-benar seharusnya menang. “Karena memang ada kalanya pejabat pajak salah hitung, atau salah membaca data dan lampiran laporan pajak,” ujarnya.

“Saya tak sepakat kalau seratus persen yang maju ke pengadilan pajak, perusahaan pengemplang.”

Logika Sam Mulyo, tentu bisa diterima. Satu dua perusahaan, sama halnya dengan satu dua orang di PP. Mereka yang mau bekerja dengan benar dengan hati tentu ada. Karena adanya hati bening nan tersisa itulah, dari sana saya bisa mendapatkan info ketidak-beresan itu, jadi bukan dari siapa-siapa, apalagi dari sumber dikarang, sama sekali jauh lah yauw

Termasuk saya mengetahui adanya mesin penghancur kertas di lantai V PP, yang berukuran besar dan sempat dipekerjakan maksimal dan hari ini sudah pula dipindahkan?

Sam Mulyo secara hati nurani mengatakan, “Memang benar kami acap kali melakukan hal-hal yang terkadang bertentangan dengan hati nurani. Laporan audit untuk klien, harus kami stel. Bahkan mencarikan konsultan hukum, pakar, yang paham perpajakan, untuk memberikan opini legal demi memenangkan perkara di persidangan.”

“Yah, seperti di persidangan pada umumnya, pendekatan kepada panitera, kepada hakim kami lakukan dengan berbagai cara. Dengan kondisi pengadilan pajak yang selama ini eksklusif, kami merasa aman. Tetapi sejak Anda menulis Sketsa ini, keadaan benar-benar berubah. Bagi kami ini bisa berkah juga bisa musibah”

Atas dasar adanya perubahan itulah, Sam Mulyo yang sesungguhnya cukup lama saya kenal, merasa “takut’ berjumpa. Kuatir ada pihak-pihak yang melihatnya bertemu saya. Lalu ia akan mengalami kesulitan bekerja di PP, dan itu akan merugikan operasional perusahaannya sebagai konsultan pajak.

Karenanya saya menjadi teringat kepada seorang pejabat di seksi Tranfer Pricing

“Berbicara ke media ini, juga resiko bagi kami. Tetapi demi kepentingan lebih luas, hal ini kami lakukan.”

Dan benar saja, setelah Sketsa IV meluncur saya tuliskan, kini sang pejabat itu, malah “dinaikkan” jabatannya.

Ia kini tak lagi berada dalam Seksi Transfer Pricing. Padahal sosoknya paling peduli, dan paham akan “kebohongan” tambun selama ini.

Demi penghargaan kepada pejabat yang bersangkutan , Senin, 19 April 2010 ini, siaran Presstalk, QTV, talkshow indie sejam saya pandu, pukul 12.00, kembali mengulang penampilannya bersama Achsanul Qosasi, Wakil Ketua Komisi XI DPR.

Barusan di akhir menulis Sketsa ini, Achsanul mengirim SMS, bahwa pertemuan DPR dengan Pengadilan Pajak, kemungkinan baru akan dilakukan pada Kamis pekan ini. Tentu agenda yang sudah tertunda itu, kian cepat dilakukan kian baik.

Esok Sketsa lanjutan akan hadir lagi, dengan reportase dan bahan indikasi pah-poh DJP di berbagai daerah!

Pengadilan Pajak?

Tentu!

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.

Sketsa: Ole Ole Bandung Radio 2.0

Monday, April 5th, 2010

Seorang kenalan di Bandung bekerja di IPTN, pernah berjibaku bagi proyek Boeing 777. Ia bilang, bahwa Bandung kini kota 3F: Food, Fashion, Fun. Bagi saya bertemu dengan kawan-kawan di Bandung menjadi kesenangan tersendiri. Mereka melakukan R & D di aplikasi dan konten untuk teknologi informasi, pengetahuan, dunia ICT khsusnya. Bandung menjadi oase harap saya. Sekelumit tentang dunia broadcasting di Radio2.0. Revolusi radio dengan aplikasi total football buatan anak negeri sendiri. Adalah sebuah lompatan pesat jika perusahan seperti PT Telkom Indonesia, nimbrung melakukan venture ke upaya-upaya kemajuan ICT. Itu tampaknya kini dilirik Telkom bagi e-Broadcasting Institute (eBI), Bandung.

SABTU 3 April. Suasana long week end. Jalanan di ibu kota Jakarta, begitu berbeda dibanding hari kerja. Pagi cerah. Langit bersih. Satu dua mobil, motor, berlalu lalang di bilangan Jakarta Pusat di sekitar pukul 7 pagi. Di suasana demikian saya meninggalkan Jakarta menuju Bandung dengan mobil travel Cipaganti. Berangkat dari pool mereka di Cikini. Penumpang mobil Hyundai Travello, berkapasitas 9 orang, cuma ada 4; tiga perempuan dan saya.

Sejak tol Cipularang ada, angkutan penumpang Jakarta-Bandung atau sebaliknya, lebih meriah menggunakan travel. Beragam perusahaan jasa muncul. Mereka membandrol tarif di kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu. Cipaganti Rp 70 ribu. Layaknya perjalanan umumnya, jika udara cerah, sudut pandang jernih dapat melihat panorama. Lekuk bukit hijau, gunung di kejauhan, pemandangan dari daerah Sadang hingga ke Padalarang.

Seperti biasa, saya memilih tujuan BTC (Bandung Trade Center). Akan tetapi pool kedatangan kini sudah di seberang BTC; tanah lapang, tempat aneka bis, mobil ukuran sedang, ada deretan Alphard terbaru Vell Fire. Mobil mewah ini setiap jam kini melayani warga Bandung hendak menuju Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Tarifnya Rp 175 ribu perorang. Dengan rupiah segitu, dapat untuk menempuh kenyamanan perjalanan dua setengah jam.

Saya jadi teringat ketika pertama ke New York, AS, awal 90-an, melihat helikopter mangkal di jalanan di seberang patung Liberty. Mereka menawarkan jasa mengelilingi kawasan patung. Tarifnya satu orang US $ 50. Dikala rupiah gagah satu dolar belum sampai Rp 2.000, realatif murah numpak helikopter sekitar 15 menit.

Sedang melamun, Hemat Dwi Nuryanto, telah hadir di depan saya. Ia salah satu pendiri Zamrud Technology, berkantor di kawasan Salman, ITB Bandung. Hemat alumni ITB, pernah mengambil S2 di Perancis. Ia mantan karyawan IPTN. Bersama kawan-kawan di komunitas open source di Bandung, ia membuat layanan sosial untuk mengemas seluruh materi ajar dapat diakses gratis melalui web di www.crayonpedia.org.

Program mulia itu, bila saja tuntas kelak, menguntungkan publik, karena seluruh buku pelajaran bisa diakses gratis, Siswa secara interaktif dapat menyimak pelajaran dalam format video, image interaktif. Beragam hal menguntungkan publik menjadi pokok perhatian kami. Crayonpedia.org, menjadi perekatnya.

“Tapi hari ini kita bahas e-broadcasting dulu,” ujar Hemat.

Di mobilnya, Hemat memperagakan bagaimana colokan lighter ke mobil terhubung ke i-phone-nya. Ia mengklik www.suararadio.com, dengan menekan satu frekuensi di radio mobil, kendali radio berbasis internet dari i-Phone itu sudah terdengar melalui speaker yang ada di mobil.

Hemat dapat mengganti chanel radio kesepuluh radio yang sudah bergabung di suararadio.com, seperti radio Antares. Gamblang memindah-mindahkan frekuensi. Itu artinya semua radio yang sudah tergabung di suararadio.com, jika pun kelak adanya di ujung Sabang, Aceh, dengan mudah didengar; termasuk jika radio itu ada di Alaska sekalipun, dapat diakses dari desktop terhubung internet, termasuk mobile phone.

Saya teringat akan sebuah artikel lama yang bertajuk mobility on the race. Kini teknologi aplikasi mobile seperti Android, dengan handset murah buatan Cina akan membanjiri pasar. Konten kian menjadi primadona.

Nah musik, radio, salah satu konten bisa jadi berkibar. Di dalam mobil Hemat, saya teringat akan Next Generation Dahsboard. Dengan perangkat mobile yang kita bawa, cukup dengan voice command, maka perangkat tersebut akan merespon setiap permintaan kita. Misalnya, perintahkan ke dash board mobil, saya ingin mendengar berita jam 7 di radio Elshinta, Jakarta, misalnya, maka sang player radio akan melakukannya untuk Anda. Kini sudah dimulai Ford Motor Company.

Apa yang disuguhkan Hemat di mobilnya, merupakan kepiawaian smart phone yang diintegrasikan ke jack audio di mobil, jika di rumah ke Hifi system, Audio Land atau public address, seperti di kantor-kantor. Perkembangan inilah yang ditarget Hemat di e- Broadcasting Institute (eBI), Bandung. Inovasi dalam setahun ke depan akan membuat mereka melompat mengikuti Next Generation Radio atau Radio 3.0; menginjeksi kecerdasan buatan ke dalam radio 2.0 : intelligent radio.

Bila kini kebanyakan radio siaran masih menggunakan teknologi manual, atau pun sudah menggunakan sistem komputer, namun sifatnya masih data base searah. Untuk format lagu msialnya. Pada radio 2.0, semua data dan input data, bisa real times, terintegrasi, bergerak dinamis. Pada radio 3.0 kelak, sudah dapat diperintah dengan suara Anda.

Di bawah Zamrud Technology, eBI sedang menggalang jaringan. Setidaknya 1.000 radio dapat bergabung hingga 2014. Portal suararadio.com, itu memiliki kelebihan bahwa semua radio dapat memuat berita atau kontennya, secara real time tayang (pod casting), pendengar dapat menyimak berita atau konten musik, dari gadget-nya di mana pun berada. Ibaratnya bagaikan kita membaca berita macam di detik.com, tapi di suararadio, mendengarkan berita dalam formatsuara.

Kelebihan lain, di antaranya, pemasang iklan di radio di mana pun berada kini dapat memantau iklannya real time, maupun melihat archive jam pemutaran secara nyata.

Kecanggihan itu dapat bekerja, karena adanya jantung aplikasi yang diciptakan menggerakkan, berupa aplikasi RISE (Radio Broadcasting Integrated System). Aplikasi yang berguna bagi para radio melakukan otomasi siaran.

Melalui aplikasi RISE di masing-masing radio, mereka mendapatkan kemudahan bagaimana mengelola siaran, mulai lagu yang hendak diputar, berita yang dipancarkan itu semua dapat dilakukan dengan cara remote, termasuk melalui handset mobile phone sang penyiar.

Seluruih back office radio, manajeman lagu, konten siaran lain, iklan, bahkan pendataan secara real time, dapat dilihat di manapaun dan kapan pun. Singkatnya RISE telah merevolusi manajemen radio menjadi ke dalam genggeman.

Perkembangan pesat eBI, tampaknya akan terjadi, menghingat PT Telkom kini dalam proses melakuan kerjasama saling menguntungkan. Pada 13 April 2010 mendatang setidanya k 750 radio yang tergabung di PRSNI, dan juga radio swasta lainnya, diundang ke Bandung oleh eBI.

Masing-masing radio dengan investasi Rp 2,5 juta sudah mendapatkan bantuan peralatan RISE dan hard ware. Bahkan untuk pengembangan bisnis radio yang dikelola secara modern itu masing-masing peserta dimungkinkan mendapatkan pinjaman dana lunak berkisar Rp 100- Rp 200 juta melalui CSR bantuan UKM Telkom, yang pengembaliannya ringan, melalui kompensaisai iklan Telkom.

Prestasi eBI itu dapat dicermati melalui 10 radio yang telah tergabung. Konten dan pendapatan bisnis naik tajam. Di konten, kini SMS pendengar secara real time dapat dimonitor komputer, pemeringkatan lagu pendengar seketika, bukan lagi kira-kira, atau sekadar catat.

“Iklan radio kecil yang semula tarifnya Rp 15 ribu, kini melompat Rp 115 ribu satu spot dalam enam bulan,” ujar Henat.

Kok bisa?

“Karena biro iklan mendapatkan data komprehenmsif sercara real time tentang pendengarnya, bahkan sampai usia pendengar,” ujar Hemat..

Obrolan panjang dan kemapuan RISE lainnya itu kami lakukan di kantor Hemat di Salman Bussiness Center. Suara azan Zhuhur dari Masjid Salman berkumandang. Allahu Akbar. Kami masih meneruskan obrolan.

KAWASAN Sulanjana 28, Bandung. Di sebelah toko busana Muslim Shafira, di lantai dasarnya deretan aneka makanan dan penganan. Di beberapa toples kecil ada aneka contoh camilan gratis. Cimpring bawang tipis dengan bumbu kucai, khas, mengusik selera saya. Cimpring adalah kerupuk dari bahan singkong berbumbu.

Ribuan aneka makanan lain, bahkan dodol Garut Picnic pun kini sudah mengeluarkan berbagai rasa, termasuk aroma coklat dan aneka buah di gelar di tooktoko itu berjejer di sana.

Menyimak beragam makanan itu, saya teringat bagaimana Iran melakukan pameran selama tiga bulan dari Desember -Februari di setiap tahun di Dubai Global Village, Dubai, Persatuan Emirat Arab. Iran membanjiri standnya dengan aneka makanan, terutama aneka makanan manis macam dodol. Jika segenap makanan ole-ole Bandung itu digelar di Dubai, amboi meriah kali pasti.

Di lantai dua, saya dan Hemat, bertemu dengan Dadang Erawan. Ia tokoh vital merancang kelahiran pesawat N2130 buatan IPTN. Jika saja peswat itu jadi berwujud, penerbangan macam Lion, tak perlu lagi membeli Boeing 737 900 ER, karena kapasitasnya sama.

Pendidikan S3 dadang dari Perancis. Ia ahli sebagai pembuat wind tunnel, bagi pengujian pesawat,. Sejak tidak di IPTN, ia berusaha survive dengan melakukan jasa pembuatan wind tunnel dan pesawat tanpa awak. Celakanya negara seperti Singapura yang beberapa kali mengorder Dadang, termasuk kampus NUS dan NTU mengorder pembuatan wind tunnel.

Malang bener kita serbagai bangsa ya, kata saya?

Kalian sekolah hebat kemampuan sakti, negeri lain yang memanfaatkan?

“Itulah, demi bertahan,” kata Dadang tertawa.

Karena pertahanan ekonomi bangsa ini tidak pernah terurus baik, bahkan business intelligent pun tidak ada lembaga yang menggarapnya, maka credential asset bangsa ini, kemudian memang berarakan, bercerabutan terburai terkulai.

Sambil tersenyum Dadang melihat ke dinding, di mana poster usaha isterinya Yoghurt Odise ikut disuguhkan dengan berbagai rasa di sana. “Nah dalam keadaan tertentu, yoghurt lebih menghidupi dari pada keahlian ilmum kami” ujar Dadang.

Seorang rekannya, yang pernah bekerja untuk pembuatan Boeing 777 menimpali “Iya nih kita bisa kalah sama para isteri. Isteri saya sekarang dagang macam-macam termasuk bandrek dalam sase ke Pekanbaru. Beli di Bandung seribu, di sana jual dua ribu perak. Cepat dapat duit.”

Kami tertawa. Dalam pembiacaraan itulah keluar kata Bandung kini kota 3F: Food, Fashion dan Fun.

Banyak sekali yang dapat saya tuturkan dalam perjalanan sehari ke Bandung. Mereka orang mandiri yang tak bergantung ke proyek pemerintah. Saya merasa bersyukur sebagai orang biasa yang tidak bersekolah tinggi.. Bertemu mereka dalam satu komunitas, berjibaku terus berkarya bagi sebuah perubahan kemajuan, darah segar kehidupan.

“Jangan lupa nanti tanggal 13 April Anda jadi pembicara bagi jurnalisme radio 2.0,” ujar Hemat ketika melapas saya pulang ke Jakarta.

Bagi saya, suatu yang unik lagi.

Sebagai sosok cuma menulis di blog, di tengah konten radio ke depan akan berkembang dengan revolusi aplikasi dan penyiaran, jurnalisme radio memang memiliki tantangan. Perkembangan, formatnya, di tengah segalanya bisa berinteraksi, menjadi “mainan” tersendiri lagi. Khusus urusan jurnalisme radio untuk era radio 2.0, lain kali saya tuliskan. Sehari perjalanan ke Bandung, bagi saya, sebuah rona membakar semangat, bahwa Indonesia ke depan, pasti Ibndonesia yang hebat.***

Iwan Piliang. Literary Ctizen Rporter, blog-presstalk.com

Sketsa: Untuk Seorang Ayah, Paman, Kawan, BSH

Friday, March 19th, 2010

Profesi wartawan tak bisa dibeli.” Budiman S Hartojo (BSH), wartawan senior dan penyair, mantan wartawan Tempo, ini, Jumat pekan lalu dimakamkan. Ia berpulang di usia menjelang 70 tahun. Teman, ayah, paman, sekaligus “ lawan” diskusi, BSH, begitu ia akrab disapa, menjadi kamus berjalan wartawan muda. Sebuah penggalan kenangan bersama pendiri Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi(PWI-Reformasi) ini; tauladan etika dan prinsip jurnalisme, tempat bersandar saling-silang belajar; antara senior dan yunior. sebuah situasi nan kini sirna di meja redaksi media.

JUMAT siang menjelang shalat Jumat, 19 Maret 2010 Mendung menggayut. Matahari malu-malu dibalut awan. Hujan titik rintik. Keranda jenazah Budiman S Hartojo, kelahiran Solo, berpulang Kamis, 18 Maret 2010 pukul 14.22, itu, dibawa ke masjid di sebelah halaman taman rumahnya,di bilangan Jati Bening II, Bekasi, Jawa Barat.

Di saat itulah ingatan saya menerawang kepada sosoknya. Ketika saya pindah ke Jakarta 1979, dari Pekanbaru,. Riau, semester akhir SMP, dan tinggal di bilangan Karet Belakang, Karet Kuningan, Jakarta Selatan. Saya tak menduga bertetangga dengan seorang wartawan Tempo, majalah yang edisi bekasnya suka saya bulak-balik, beberapa artikel kadang saya baca.

Menuju kelas 1 SMA, intensitas perjumpaan dan ngobrol dengan BSH meninggi. Apalagi kedua orangtua saya yang sudah duluan tinggal di Jakarta, sejak 1973, lebih dulu mengenal BSH dan isterinya Djati Budiman, sosok perempuan cantik, kelahiran Cirebon.

“Ibumu kalau bikin rendang enak sekali,” ujar BSH.

Entah karena pintar memuji, setiap ibu saya memasak, termasuk gulai kepala ikan, pastilah BSH tidak terlewatkan. Bahkan sup tulang tungkai sapi, yang berisi sum-sum, menjadi santapan kegemaran BSH. Bisa Anda bayangkan kolesterolnya? Sayalah kebagian mengantar ke kekediaman kontrakannya. Sepenggalah saja jaraknya dari tempat kami.

Tukar-menukar penganan acap kali. Di jeda sowan itu, ada saja obrolan dengan BSH. Dari situlah satu dua bukunya , suka saya pinjam dari perpustakaan pribadinya. Banyak buku sastra, termasuk majalah Horison yang lama. Buku kumpulan puisinya tak pernah terlewatkan.

Intensi mengobrol dengan BSH, seingat saya ketika saya kelas dua SMA, soal pemberdelan Tempo. Saya banyak mendengar beragam masalah liputan Tempo, yang tak disukai oleh rejim Ordebaru, kala itu. Juga soal internal majalah berita mingguan itu. Di hari-hari deadline, terkadang ia meminta saya tidur di kamar depan rumahnya, karena Tante Djati, seorang diri di rumah. Mereka tak punya pembantu, juga belum dikaruniai anak keturunan hingga akhir hayatnya.

MOBIL jeep Toyota Land Cruiser hardtop, coklat muda itu, baru saja dipasang rak di atas plafonnya. BSH menaikkan barang berukuran besar. Untuk ukuran badan kecil, pendek, dengan napas tersengal, tak tega melihatnya. Barang bawaan itu umumnya buku. Di medio 1980-an itu, BSH harus pindah ke Bandung, menjadi Kepala Biro Tempo, Bandung, Jawa Barat.

Mengenakan topi, bak Mafioso Italia, lengkap dengan jas kotak-kotak dengan bagian siku berornamen bulatan coklat, saya tertawa geli melihat sosok mafia kecil seakan tenggelam di balik lingkaran setir mobil yang besar. Kendati duduknya sudah diganjal bantal, badan BSH tetap tak kunjung meninggi.

Saya, ayah, dan ibu, melepasnya berangkat menuju jabatan baru. Jadilah kediamannya di Jakarta, bak rumah kami. Saya sehari-hari menunggui. Beragam buku koleksinya, menjadi santapan hari-hari.. Ada dosa terasa di dada saya. Satu dua buku koleksinya ada yang terbawa, lalu dipinjam kawan, dan tak kembali. Dari sosoknya saya begitu memahami pentingnya literasi.

Dosa berikutnya, ketika mobil dinasnya sudah berganti dengan Dauhatsu Charade merah. Suatu waktu ia pertama dapat jatah dari Tempo menunaikan hajji. Jadilah saya menemani Tante Djati, dan hari-hari wira-wiri dengan mobil merah itu, mejeng.

Pertemanan BSH dengan sumber berita luas. Kendati kritis terhadap pemerintahan Ordebaru, sosok macam almarhum Rudini, mantan Kasad, secara khusus mengirim ucapan selamat lebaran pribadi: foto Rudini dan isteri lengkap dengan tanda tangan pribadi, salah satu yang saya ingat dipajang di meja rumahnya. Ia berkawan dengan banyak orang, terutama seniman yang suka mangkal di Taman Ismail Marzuki (TIM). Ia memilih bersahabat dengan banyak anak muda.

Suatu hari di Bandung. Saya melihatnya bekerja. Suara mesin tik-ketak-ketuk. Suaranya keras, setajam tarikan pena kalau ia menuliskan sesuatu, termasuk tanda tangannya dengan haruf B dominan bertekanan. Entah karena melihat suara ketikan itu pula, hingga kini, kolega saya programmer Anthony Seger, selalu protes akan gaya saya mengetik di komputer.

Di Bandung saya melihat wartawan muda seperti Bambang Harimurti, kini Pimpinan Umum Tempo, dan banyak nama lain yang beredar di dunia penerbitan di Indonesia. Sosok Moebanoe Moera, kini Redaktur Pelaksana TRUST, dulu juga di Tempo, yang kebetulan berdiri di kanan saya saat men-shalatkan jenazah BSH, mengaku sebagai salah satu muridnya.

BSH mengingatkan saya akan ejaan. Hingga ia berpulang, penulisan ejaan saya tak pernah 100 % benar. Padahal, ejaan salah satu kunci profesional, begitu BSH selalu mewanti-wanti.

Maka ketika saya berkuliah di jurusan komunikasi massa, sebuah buku tipis Ejaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar, terbitan Balai Pustaka, yang menjadi acuan kami satu semester, hanya mengantarkan nilai kuliah di angka do-re-mi. BSH terpingkal-pingkal. “Maka jangan anggap enteng urusan ejaan,” ujarnya. Seingat saya, itulah tawa heboh sosok yang suka bercanda ini.

Acap pula dia memperlihatkan tulisan yang hendak ia serahkan ke redaksi Tempo, ke saya untuk dibaca. Dan selalu hampir tak ada cacad salah tulis. BSH mengingatkan menuliskan di menyatakan tempat, seperti di muka dipisah. Beda dengan penulisan dikerjakan, kata sifat. Hingga kini hal remah begini masih alpa dilakukan, tak terkecuali wartawan tua apalagi muda. Dia akan senang hati jika kita ikut mengoreksi tulisannya.

Suatu saat setelah pensiun di Tempo, BSH, masih kiri kanan berusaha bekerja menulis. Ia menulis untuk majalah Pantau, 2003. Naskahnya tak keberatan diedit oleh sosok muda seperti Andreas Harsono.

Kecuali ketika Andreas mempertanyakan, mengapa tak ada tanda-tanda kekerasan dalam ‘sarang teroris’ di Pesantren Ngruki?

“Lah saya itu reporter, apa yang saya lihat, itu yang saya tulis,” jawab BSH.

BSH bilang reporter itu profesi wartawan seumur hidup.

“Redpel, Pemred, itu kan hanya urusan jabatan.”

Tulisan BSH di Pantau, ditempatkan oleh kawan-kawan jurnalis sebagai salh satu literair yang bagus. Penulisan literair itu pulalah yang kemudian menjadi pendalaman saya.

“Dan menulis macam ini, bukan barang baru. Tahun dua puluhan, Adi Negoro sudah menulis dengan langgam literair dalam Buku Melawat ke Barat.”

KETIKA menginjakkan kaki melangkah ke masjid di Jumat pekan lalu itu, sambil mengiringi keranda jenazah BSH, ingatan saya masih melayang akan kediamannya. Kendati bersahaja, rumah itu didesain oleh arsitek Adhi Moershid, arsitek yang pernah mendapatkan Aga Khan Award atas karyanya untuk Masjid Said Naum, Jakarta.

Suatu hari masih di medio 80-an, ia memperlihatkan sketsa di kertas putih, goresan tangan sang arsitek. BSH bermimpi mewujudkan rumahnya itu, kendati tak tahu harus membangunnya melalui rejeki darimana. “Baguskan desainnya? “ katanya. Saya melihat matanya menerawang, bermimpi.

Di kediamannya itu pula pernah suatu hari saya menemani sosok almarhum Prof Dr. Saleh Poeradisastra, ahli sejarah cum sastrawan, yang sedang menulis buku. Ia ingin di tempat sepi tak terganggu. Saya naik angkot biru menemani Prof., Saleh ke sana. Jalanan becek berlubang. Kini walaupun sudah beraspal dan beton, jalanan seputar rumah masih ada bolong-bolong. Di rumah yang masih standar KPR kala itu, Buyung Saleh, begitu sang Profesor akrab disapa menyelesaikan terjemahan Darul Islam, misalnya.

Akibat perkenalan dengan Buyung Saleh, suatu hari saya ketika bekerja sebagai reporter di mjalah Matra, membutuhkan referensi urusan asal muasal kata Menteng. Kami sedang melakukan liputan panjang kata Menteng. Amarzan, sebagai Redpel Matra, mengingtakan saya agar menemui Saleh. Benar saja. Saleh menyebutkan kata Menteng dari nama orang. Namun ia enggan dikutip dulu sebelum ada referensi.

Di suatu Kamis petang, Saleh bersandal jepit, membawa tas kresek berisi buku tebal berbahasa Belanda. Ia langsung menuju meja saya di mana Matra kala itu berkantor di Setiabudi Building II, Jakarta Selatan. Saleh dengan peduli menterjemahkan bagian penting bagi reportase saya. “Nama Menteng itu dari nama tuan tanah, Daeng Menteng,” ujar Saleh. Di saat VOC bubar, malamnya Gubernur Jenderal Belanda di Batavia, mengembalikan tanah-tanah tuan tanah.

Itulah gunanya senior, memberi arah, mengantarkan ke sumber yang bertanggung-jawab. Sejak saya berkecimpung tulis menulis, tak menemukan lagi bagaimana sosok macam Prof Saleh, punya tanggung jawab literasi besar sebagai sumber.

Dan pergumulan saya ke dunia tulis-menulis sebagai profesi, tidak terlepas dari katebelece BSH. Setelah saya menjadi reporter lepas majalah Swasembada (kini SWA), BSH membawakan surat untuk diberikan kepada Kemala Atmojo, Redaktur Pelaksana, di kantor majalah Zaman, sebagai bagian dari Tempo, kala itu di Proyek Senen. Di 1985 itu, Zaman akan berganti wajah menjadi Matra. Setelah mendapat penugasan dari Sori Siregar, Redaktur Zaman yang juga penulis cerpen, saya masuk sebagai list reporter lepas, hingga kemudian bekerja full di Matra.

Suatu petang, BSH memanggil saya., yang lagi mengetik laporan di Matra. Seperti biasa ia bersemangat dan tersenyum.

“Ini kenalkan Buyung, saudara juga.”

Sosok yang dikenalkan menjawab, Kemal

“Ini Kemal Efendi Gani, dari Solo, orang Padang tapi lebih Jawa,” tutur BSH tertawa.

Ia menenteng Kemal bertemu Bondan Winarno - - kini terkenal dengan Maknyus itu — kala itu Redpel SWA, yang kantornya bersebelahan dengan kami. Tempo kala itu baru punya Gedung baru di seberang kami di HR Rasuna Said.

Kemal kini Pemimpin Redaksi SWA. Maka ketika saya melihat Bambang Halintar, Pemimpim Umum dan Perusahaan SWA, yang dulu juga di Tempo, hadir di antara pelayat, saya bertanya, ke mana Kemal?

Pertanyaan yang sama, agaknya, juga ditanyakan kawan-kawan kepada saya, “Ke mana Iwan?” di saat BSH dirawat di RS Thamrin, Jakarta Pusat.

Di saat saya di Abu Dhabi,. Medio Februari 2010, SMS dari tanah air masuk. Eddy Mulyadi, mantan Sekjen PWI-Reformasi mengabarkan, “Jenguklah BSH, keadaannya mengkuatirkan.”

Dalam urusan SMS inilah saya sebagai anak, pernah melawan BSH, melarangnya berkirim SMS. Karena pernah menimbulkan salah pengertian di saat saya menjabat Ketua Umum PWI-Reformasi. Lebih jauh, saya pernah menghitung uang SMS yang dikeluarkannya untuk memotivasi wartawan jangan menerima amplop, termasuk menggerakkan organisasi PWI-Reformasi, jumlahnya sudah bisa mengganti mobil Daihatsu Classy Putih tuanya ke Kijang terbaru. Dan hingga akhir hayat, ia hanya mampu mengganti kelir mobil itu dari putih ke hitam. Bukan mobil baru.

Sekembali dari dari Abu Dhabi, bahkan telah tiga Sketsa saya tuliskan, saya tak kunjung juga menjenguk BSH ke rumah sakit. Entah mengapa jauh-jarak seakan melilit bak antara kutub utara dan selatan, langkah saya tak kunjung sampai ke rumah sakit. Lalu datanglah kabar melalui SMS bertubi-tubi dari kawan-kawan jurnalis, bahwa BSH sudah berpulang.

TANAHdi pusara baru saja ditutup. Abdul Hakim, adik kandung BSH memberikan sambutan. Saya teringat akan bagaimana BSH mendidik adik kandungnya nya itu dulu bekerja. Abdul Hakim pernah dari satu rumah ke rumah lainnya mengukur jalanan Jakarta, mendagangkan buku terbitan Tira Pustaka. Seingat saya BSH hanya memberikan ongkos bis saja ke Takim, begitu kami menyapanya.

Saya pernah bertanya, makan siangnya bagaimana?

“Ia harus cari sendiri,” ujar BSH.

Maka sering ibu saya menawarkan makan seadanya kepada Takim, di saat bajunya lepek basah pulang kerja di era 80an itu. Di Kamis malam di saat jam sudah menunjukkan 00.30, setelah 20-an tahun tak bertemu, Takim, menjabat tangan saya. “Sekarang saya jadi ustad,” katanya. Senyum dan tawa khasnya masih seperti dulu. Masih ingat dalam benak saya, hampir tiap malam Takim mengaji, membaca Al Quran.

Usai Takim berkidmat, kerabat diminta bicara terhormat. Toriq Hadad, Pemimpin Redaksi Tempo, mengenakan baju koko putih, bekopiah, di sebelah saya menatap, mengangguk, seakan meminta saya tampil. Adalah Afdol Toriq mengucapkan kata akhir.

“Yang kita makam kan ini adalah guru kita, guru banyak kawan-kawan jurnalis,” ujar Toriq.

Sekelebat ingatan saya ke November 2008, di mana saya berada di liang lahat menutup pusara ibunda saya. Dari sudut mata, saya tatap BSH kala itu berkopiah haji, berjaket biru bersepatu karet putih, menatap nanar.

Ia ucapkan duka menjabat saya. “Ibu Agusti orang baik, pasti diterima di surganya Allah.”

Kala itu juga kalimat yang sama saya tabalkan dalam hati: Ya Allah, Budiman S Hartojo, orang baik, semoga Surga-Mu imbalannya. Amin.

Di Minggu, 21 Maret 2010, petang kami sekeluarga datang ke kediaman BSH. Menduga ada tahlilan, sebagaimana kebiasaan banyak dilakukan masyarakat. Ternyata menurut Tante Djati, isteri almarhum, mereka tidak mengadakan.

Keesokan paginya bangun tidur, isteri saya menangis sesenggukan.

Ada apa?

“Kok Pakdhe tidak ditahlilkan?”

Pakdhe adalah panggilan bagi ketiga anak kami terhadap BSH.

Saya jawab, pasti banyak orang mendoakan, banyak cara berdoa, termasuk malaikat akan mendoakan.

“Iya, ingat bagaimana dia bermain dengan anak-anak, mengajak anak-anak menggambar, sedih,” ujar Vivi, isteri saya.

Saya pun terbawa perasaan, bertanya dalam hati, mengapa sepi kawan dan kerabat mengantar BSH ke pusara, padahal begitu besar namanya? Jarak, waktu, dan kesibukan, telah membuat segalanya jauh. Sama dengan sok sibuknya saya, sehingga alpa hadir di saat Oom Bud - - begitu saya menyapa - - masih dirawat. ***

Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com

Sketsa PEA II: Ibarat Puzzle Inilah Penggalan “Kombur” TKW & Ziad

Monday, March 1st, 2010

Tugas diplomat Indonesia di luar negeri, seperti saya simak di Persatuan Emirat Arab (PEA), juga cerita sosok Indonesia bekerja di Oman, bermuara: galebeh-tebeh urusan Tenaga Kerja Wanita (TKW): kabur dari majikan; di bawah umur; dilecehkan seksual; diperkosa; jatuh dari gedung; disetrika panas; sengaja menjual diri alasan terpaksa; bersuami seakan berpoliandri di negeri orang; panjang kata jika dilanjutkan. Jahanam kali laku lelaki - - termasuk saya - - mengirim perempuan mara ke manca negara. US $ 6, 615 miliar peneriman dari TKI, 2009, setara Rp 59, 5 Triliun, tiada arti apa-apa dibanding penggelapan pajak melalui transfer pricing pelaku usaha di Indonesia yang setahun melebihi Rp 1.000 Triliun. Buat apa mendidik, menggaji mahal para diplomat, jika pekerjaannya terguras arus mengurus TKW. Lanjutan Sketsa Ziad Salim Zimah yang “tertahan” 8 tahun di PEA, pulang bersama saya 16 Februari 2010: mencairkan rindu air mata darah sang ibu.

JARUM JAM menjelang pukul 00.00 di Villa, Wisma Duta, kawasan Muhammad bin Zayed City, Abu Dhabi.. Di ruang tamu Dubes RI, tiga cangkir teh dan toples kecil berisi korma hitam terhidang di atas meja. Saya, Ziad Salim Zimah, 44 tahun, dan Wahid Supriyadi, Dubes, berbincang hangat. Ziad mengucapkan terima kasih, atas bantuan yang diberikan KBRI. Pukul 02.00 dinihari itu, 16 Februari 2010, Ziad direncanakan dapat terbang pulang.

Walaupun tampak tersenyum, saya menangkap kekuatiran di wajah Ziad. Tiket pesawat, dokumen pencabutan seluruh berkas kasusnya di pengadilan, baik perdata dan pidana, termasuk bukti pencabutan black list di kepolisian, juga surat keterangan scanning retina mata di imigrasi Dubai, semuanya lengkap - - memakan tempo sebulan kami urut pengurusannya bersama pihak pihak KBRI.

“Ya Ziad, selamat, Anda akhirnya malam ini dapat pulang, atas upaya keras semua pihak yang membantu. Jadikanlah kasus ini sebagai pengalaman berharga, mari menyambut hari esok lebih baik, salam saya untuk keluarga “ ujar Wahid.

Kalimat Wahid bak seorang bapak, tapi tak mengubah kecut di wajah Ziad. Ziad baru sedikit terhibur, ketika kemudian datang Hannan Hadi, Sekretaris III, Protokol dan Konsuler KBRI, yang turut menemani kami ke lapangan terbang. Itu artinya, kami mendapatkan pengawalan hingga ke airport. “Untung ada Pak Hannan, kalau tidak jika nanti ada apa-apa lagi di airport bagaimana?” kata Ziad.

Sekadar menunggu waktu, pembicaraan di ruang tamu itu bergulir kembali ke soal TKW. “Coba Anda bayangkan, jika kami mengurus terus permasalahan TKW, kapan kami membangun citra baik negeri kita, kapan kami harus melakukan lobby mendatangkan investor, misalnya?” tutur Wahid.

Setiap bulan mendekati angka 100 orang TKW yang harus ditampung di KBRI. Manca ragam masalah. Urusan gaji belum dibayar majikan, dipukuli, hingga dimaki-maki. Untuk kasus dimarahi, pihak KBRI kesulitan menghadapi. Bisa jadi, majikan marah karena sang TKW memang datang dengan ke-awami-an; alias tembak langsung dari ndeso, memakai mesin cuci saja kagok, misalnya..

Lebih mengenaskan diperlakuan perkosaan.

Bila di Sketsa PEA I, saya deskripsikan soal Santi, lugu, di bawah umur, diduga tak paham arti kata: perkosa. Berbeda dan Laksmi, sebut saja namanya demikian. Saat saya temui di KBRI Abu Dhabi, mengaku sudah bersuami. Sosok wanita 35-an tahun itu, diperkosa oleh anak majikannya. Derita kemiskinan di kampungnya di Jawa Tengah, uang pendidikan mahal dan kesehatan selangit, telah “memisahkan” keluarganya. “Kadang bisa pulang sekali setahun, kadang dua tahun sekali,” ujar Laksmi.

Bisa Anda bayangkan perih luka hati sang suami, jika mengetahui derita sang isteri. Saya tentu tak perlu bertanya kepada Anda, para pria, jika isteri Anda diperkosa, adik perempuan, atau saudara diperlakukan demikian? Saya pastikan darah kalian bergelegak mendadak sontak!

Apa yang dicari mara ke negeri orang jika kenyataan hidup demikian?

Maka menjelang jarum jam berdentang 12 kali di malam itu, ingatan saya melayang ke Depnaker, ada pula badan add-hoc yang dibentuk oleh negara di era reformasi ini bertajuk BNP2TKI: kedua badan ini, plus para PJTKI, dengan bangga mengatakan perolehan devisa dari TKI, terutama TKW nomor dua setelah Migas.Pada 2009 negara menerima US $ 6,615 miliar ( Rp 59, 5 Triliun) devisa dari TKI.

TKI dikatakan pahlawan devisa. Jika fakta di lapangan berbeda dengan yang didengungkan, tidak berlebihan saya mengatakan bahwa bangsa ini menipu dirinya sendiri dengan riang gembira sengaja. Lebih tak berperi lagi, sesungguhnya penerimaan negara dari sektor lain tidak terurus, dari penggelapan pajak melalui transfer pricing, misalnya, diduga lebih Rp 1,.000 triliun setahun, dilakukan para pengusaha Indonesia, termasuk BUMN. Ke mana negara?

Terpikir juga di benak saya malam itu. Bisa jadi kepahitan hanya mendera para TKW yang di Timur Tengah saja. TKW di Hongkong, misalnya, banyak kisah sebaliknya, lebih manusiawi hidupnya?

Namun dugaan saya lebih baik para TKW di Hongkong itu di luar dugaan pula. Adalah Nova Riyanti Yusuf, akrab disapa Noriyu, sosok penulis tiga buah buku novel ini adalah anggota komisi 9 DPR, salah satu termuda di Partai Demokrat. Saya berjumpa dengan Noriyu pada 18 Februari 2010, di DPR saat Fraksi Demokrat menerima Ziad dan kaluarga di Lantai 9, Gd, Nusantara I.

“Ada tiga kelompok TKW yang saya lihat di Hongkong, “ Noriyu melanjutkan, “Pertama berpakaian tomboi, lelaki abis, kedua feminin dan seksi abis, rok mini menantang.” Laku lesbian menjadi trendi di TKW di Hongkong. Urusan laku hubungan intim itu, di Abu Dhabi saya seakan mendapatkan jawab, sekaligus menonton teater romansa hidup.

Mengiriman TKW sekaligus melawan kodrat Tuhan. Bayangkan mereka yang sudah menikah harus berpisah dengan pasangan. Bagaimana pula kebutuhan batin harus mereka penuhi? Sehingga, jika bukan diperkosa, hubungan persebadanan suka sama suka menjadi biasa.

Macam itulah para TKW kita berarakan nasibnya di luar negeri . “Suatu hari saya pernah mengunjungi penjara. Di sana saya bertemu para TKW yang berbuat susila, diantaranya. Saya tanya kok kamu begitu? “ tutur Wahid pula, “Ya gimana Pak, habis cowok itu ganteng-ganteng kayak di film India.!”

Wahid geleng-geleng kepala mendengar jawaban TKW yang dihukum karena berzina. Masih untung penjara di Abu Dhabi tak macam di Indonesia, makanan terjamin, lingkungan penjara sehat. “Mereka malah jadi gendut-gendut,” ujar Wahid.

“Kejenakaan” TKW yang ditemui Wahid itu belumlah klimaks. Suatu hari stafnya kedatangan seorang TKW melaporkan dirinya diperkosa. Karena faktor surat-suratnya lengkap, PJTKI yang mengirimnya jelas, umurnya dewasa, maka dilaporkan ke polisi dan diotopsi.

Kongklusi otopsi?

“Looks comfortable.” Artinya tidak terdapat luka vagina yang dipaksa.

Staf KBRI yang bercerita ke saya berurai air mata tawa, geli menceritakan pengalaman ini.

Ada pula TKW di KBRI yang ditanya kamu diperkosa?

“Ia Pak!”

Berapa kali

“Ada lima kali!”

Di waktu berbeda?

“Iya Pak?!”

Lain di PEA, lain pula di Arab Saudi. Menurut Noriyu, anggota DPR kita itu, kini ada 20.000 TKI asal Indonesia yang over stay di Jedah.. “Saya ke Jeddah, melihat mereka berserakan di bawah-bawah kolong jembatan, mereka memasak di sana,” ujarnya. Kisahnya ini belum lama.

Noriyu menyaksikan di Oktober 2009. Di kelebihan masa tinggal itu, seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah Arab Saudi memulangkan? Agaknya volume manusia sudah demikian besar, mereka masih di sana.. Hingga kini belum tercapai kesepakatan kedua negara bagaimana cara memulangkan ke-20.000 manusia itu. “Dalam waktu dekat akan ada agenda pembiacaraan lagi soal over stayer oleh kedua negara,” kata Noriyu.

Yang pasti, simak data ini: dari 20.000 ribu orang itu, sekitar 10% -nya adalah pernah tercatat menjadi Perkerja Seks Komersial (PSK) di tanah air. Dan saktinya lagi, hampir 1.000 dari mereka mantan narapidana. Jika mantan napi, mantan PSK, ikut berhamburan ke negeri orang, bagimana dengan pertanggung-jawaban moral mereka?

Mereka kini mengalami nasib macam Ziad, belum bisa pulang di negeri seberang, dan itu terjadi berulang-ulang, tak tahu lagi lema yang harus saya tuliskan, melihat negeri ini yang sesungguhnya kaya raya, tetapi anak negeri berjuang belang-belentang

.

WAKTU SEDIKIT lagi pukul 00.00. Mengingat dokumen Ziad yang mesti diurus di bandara, kendati penerbangan Etihad yang akan membawa kami pulang take off pukul 02.00, kami pamit kepada Wahid Supriyadi, Dubes. Saya jabat tangannya, sambil mengucapkan janji, sepulang ke tanah air, sebatas bisa, minimal melalui tulisan, akan melakukan upaya agar Indonesia ini tidak lagi mengirim TKW-nya ke luar negeri, Kendati berkerja di negeri orang adalah hak, akan tetapi bila TKW yang dikirim dipastikan mudaratnya lebih tinggi dari manfaat. Maka, atas dasar itulah saya lebih hormat kepada India, Pakistan, Bangladesh bahkan Nepal, tidak mengirim perempuannya menjadi babu.

Dua hari sebelum saya pulang Tuhan sekaan mengantar contoh solusi kepada saya. Saya seakan mendapatkan jawaban. Adalah Untung Wiyono, Bupati Sragen, Jawa tengah, Ia berkunjung untuk misi dagang ke PEA. Ia melakukan presentasi di KBRI Abu Dhabi. Saya diberi kesempatan Wahid, Dubes, menyimak. Di luar dugaan saya, daerah yang bersemboyan bebas pengemis, bebas pengasong, pohon tanpa paku, tanpa ada pemboman ikan ini, sudah sejak 2003 tidak lagi mengirim TKW ke luar negeri.

Kok bisa?

Hampir setiap malam sebelum tidur di PEA, saya selalu bertanya dalam hati, bagaimana solusi lapangan kerja, agar Indonesia terbebas mengiriim TKW ke luar negeri. Eh, jalan Tuhan, telah mengantarkan saya bertemu contoh nyata di PEA.

Di kesempatan makan pagi bersama Untung dan Wahid, saya mendapatkan penjelasan, bahwa jika suatu hal memang diniatkan, pasti ada jalan. “Kami memiliki techno park untuk mendidik tenaga kerja berpengetahuan, terdidik. Kredit usaha kecil kami maksimum hingga Rp 500 juta tanpa agunan dijalankan oleh Pemda langsung,” ujar Untung. Sehingga kini, praktis tak ada warga yang menganggur.

“Bahkan pegawai negeri di luar jam kerja, saya suruh jadi pengusaha,” ujar Untung..

Entah mengapa saya terlambat tahu, dan baru dibukakan telinga setelah jauh di negeri seberang. Karenanya saya berjanji kepada Bupati Sragen itu untuk di suatu kesempatan bertandang dan dapat membuat literair untuk Anda, mengapa Sragen bisa tak lagi mengirim TKW mara ke manca negara bekerja.

TURUN dari mobil hendak memasuki terminal bandara di pukul 00.15 itu, udara terasa dingin menyapa kulit. Di mobil hingga turun bandara itu, Ziad saya perhatikan tak bicara,. Ia menjawab satu dua kata saja pertanyaan saya. Misalnya, apa surat, paspor sudah dikantung? “Sudah,” ujarnya.

Kami ditemani supir staf KBRI Syamsu Rizal, akrab disapa Jali. Sosok inilah di waktu silam yang menjadi supir pribadi, Saleh Alkatiri, adik ipar yang memperkarakan Ziad. “Jali pula dulu yang memberikan paspor saya ke Saleh, sehingga Saleh dapat menahan paspor saya,” tutur Ziad kepada saya.

Saya tegaskan ke Ziad, kaji lama tak perlu dikenang. Urusan baru, bak kata Wahid, hari esok menjadi lebih penting. Apalagi malam itu, Jali, menemani kami sudah bak pejabat RI, yang kalau bertugas ke luar negeri acap merepotkan staf KBRI, harus diantar dan ditemani hingga masuk ke ruang boarding bandara.

Benar saja, di migrasi saya dengan mudah lewat. Tidak demikian dengan Ziad. Setelah melihat surat dan paspornya., ia diminta menemui polisi di ruangan sebelah migrasi. Saya melihat Ziad dari jauh. Sebagaimana diperkirakan Ziad, untung ada Hannan Hadi. Pejabat KBRI ini kemudian berdiplomasi. Rupanya Ziad harus dicek ulang retina matanya.

Kala itu saya sudah bertekad dalam hati. Jika Ziad belum juga bisa pulang, saya akan tunda terbang, biarlah dua tiket yang sudah kami beli hangus. Rasa penasaran, senang berkecamuk kesal berurusan legal di PEA: seberapa panjang lagi urusan di negeri yang dibangun oleh Alamrhum Syeh Zayed, yang dicintai rakyat itu?

Untunglah setengah jam kemudian Ziad bisa lolos dari imigrasi.

Alhamdulillah, Puji Tuhan.

Serta merta wajah Ziad saya lihat masih tegang.

“Saya baru akan tenang kalau pesawat sudah take off,” uajr Ziad.

Saya hibur Ziad dengan mengajaknya membeli sekotak dua kotak coklat, sekadar ole-ole.

DI RUANG tempat boarding Etihad dengan penerbangan EY 472 itu, mata kami kembali tertumbuk dengan ratusan TKW. Mereka umumnya berpakaian lusuh. Satu dua ada yang rapi berjins ketat berselendang. Padanan warnanya serasa kurang pas, merah diadu hijau, selendang hitam. Bibir berggincu merah menyala.

Para TKW itu ada yang transit dari Mesir, Oman, Arab Saudi. Salah seorang tampak berjalan tertunduk seperti orang sakit. Ia ditemani oleh staf darat Etihad yang tampaknya wanita Filipina. Ia diminta duduk di ruang tunggu, tetapi begitu pendamping crew darat Etihad bergerak, sosok TKW itu pun ikut berjalan. Wajahnya ketakutan. Saya enggan bertanya,.

Begitu pengumuman penumpang dipersilakan naik pesawat, mereka berebutan, tidak mengerti antri. Logika saya, setelah mereka di negeri orang, seharusnya mereka paham bahwa antri itu salah satu budaya, yang menandakan beradabnya sebuah bangsa. Saya perhatikan satu dua orang bule yang satu penerbangan dengan kami, tersenyum kecut.

Setengah jam kemudian barulah kami naik pesawat. Sambil bercanda saya minta Ziad mencubit jangat tangannya. Apa bukan mimpi pulang?

“Saya belum tenang.”

“Pengen rasanya mendorong pesawat ini agar cepat take off,” ujar Ziad

Sambil menunggu pesawat take off saya berusaha menyapa seorang pria di kanan bangku kami. Ia rupanya bekerja di sebuah perusahan migas di Oman, tepatnya di Muscat. Di belakangnya seorang ibu paruh baya, TKW asal Karawang. Ia mengaku pulang karena tidak tahan bekerja membersihkan WC di kota Salalah, 900 km dari Muscat, ibukota Kesultanan Oman.

Kota Salalah adalah kota tua unik di tepi pantai kawasan Timur Tengah. Di sana dikenal dua musim; panas dan 4 bulan hujan gerimis. Kawasan di sana berada di ketinggian dan hijau. Di saat wilayah Timur Tengah lain didera panas hingga mencapai 50 derajat celcius, Salalah kian sejuk di bulan Juni hingga September. Di Salalah dimakankan Nabi Ayub, salah satu Nabi yang tertera untuk diimani sesuai amanat Rukun Iman Umat Muslim.

Selama di udara 8 jam itu, sepertiga waktu saya habiskan mendengar cerita soal tenaga kerja di Oman. Urusan TKW menjual diri macam yang saya temui di dua restoran Indonesia BDG dan SR di malam hari di Abu Dhabi, rupanya, di Oman lebih parah lagi.

“Para supir taksi di Oman, sudah paham kalau TKW kita itu, maaf, citranya bisa memang bisa dipakai,” ujar Burhanudin, sebut saja demikian. Sosoknya mengaku dulu pernah pula bekerja di PJTKI. Ia merasa bersyukur kini bisa hijrah dan bekerja di bagian purchasing sebuah oil company di Muscat.

“Nanti kalau ada waktu di bandara Jakarta, Mas ikuti saja, banyak dari TKW yang sudah menyiapkan uang untuk pungutan ini dan itu. Dan, maaf, ya, bahkan mereka ada juga menyiapkan bandannya.”

Masya Allah!

“Suatu hari ada kenalan saya berlibur dari Muscat ke Jakarta. Ia bingung melihat wanita Indonesia yang berbeda jauh dengan apa yang mereka lihat di Oman,” tutur Burhanudin.

Saya lalu terlelap setelah meminta segeals red wine kepada pramugari Etihad yang ramah. Film Transformer, salah satu yang saya pilih dari 73 DVD yang tersedia, saya memencet touch screen. Mata saya nanar. Mata Ziad masih terang menerawang. Entah apa yang sedang bekecamuk di dadanya?

Menjelang terlelap, tak terasa air mata saya mengalir. Dua orang wanita seakan menyapa malam di ketinggian 33 ribu kaki itu. Pertama ibuku, ia telah berpulang pada November 2009 lalu. Kedua wajah tersenyum ibu mertuaku, juga sudah meningglkan kami sejak 5 tahun silam. Keduanya sosok wanita yang kukagumi kesabarannya.

Ibu mertuaku tercatat sebagai karyawan teladan di Deppen - - kini Depkominfo - - kami anak menantunya baru tahu setelah seorang pejabat Depkominfo datang melayat, menyampaikan ucapan duka di hari berkabung, bahwa yang kami shalatkan adalah karyawan teladan, ibu teladan, wanita terhormat, bukan bak TKW yang bersebutan entah untuk apa ke negeri orang?

Untuk uangkah? “Gaji saya kecil, saya mau cari kerja di Jakarta saja, sebab kalau pulang ke Karawang malu sama tetangga,” kata ibu paruh baya di kanan saya tadi.

Ketika terbangun, sinar matahari sudah menembus jendela pesawat, persis menusuk pandang mata. Saya sapa Ziad, sebentar lagi kita mendarat. Baru siang itu saya lihat wajahnya senang. Delapan tahun lamanya ia dominan berhadapan dengan tembok: takut ke luar rumah, kuatir ditangkap polisi, karena urusan nasibnya yang diperkarakan namun tak terbukti bersalah itu.

Etihad EY 472 itu mendarat pukul 14.00. Para penunmpang bergerak berdiri mengemasi barang bawaan. Namun mendadak sontak, suara pramugari berbahasa Indonesia mengumumkan sesuatu.

“Penumpang diminta duduk kembali, untuk sekitar sepuluh menit menunggu polisi menjemput seorang penumpang!”

“Aduh Pak Iwan, pasti saya?”

Wajah Ziad pucat-pasi.

Saya duga tangannya dingin. Saya hibur Ziad: Jika sudah di Jakarta, bukan Anda yang akan ditangkap, tetapi saya - - saya menjawab sekenanya demi menenangkan Ziad.

Tak lama kemudian, 4 orang polisi bandara yang bertugas untuk Etihad berpakaian biru-biru masuk ke kabin pesawat.

Muka Ziad pucat.

Darah seakan pergi dari bibirnya!

Rupanya, polisi itu menghampiri seorang pria berwajah Arab seperti Ziad. Ia duduk tiga baris di kanan belakang kami. Ketika dalam perjalanan, pria itu merokok. Ia sempat ditegur penumpang lain, tetapi malah melawan. Sempat ditegur pramugari Etihad tapi tak terima. Begitulah, di saat mendarat, diringkus polisi bandara ganjarannya.

“Alhamdulillah, “ kata Ziad plong! *** (bersambung)

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.com

Sketsa PEA I: Perjalanan Kemanusiaan; Ziad di Tanah Syeh Zayed

Monday, February 22nd, 2010

Sebulan saya di Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA), sejak medio Januari 2010 hingga Februari. Perjalanan membawa pulang Ziad Salim Zimah, 44 tahun, yang semula bermasalah keluarga di Abu Dhabi, tertahan urusan legal, tak bisa balik sejak 2002. Adalah Wahid Supriyadi, Dubes RI di PAE, memfasilitasi saya memediasi masalah, sehingga Ziad dapat pulang bersama saya, bertemu kembali dengan ibunya sakit tua, pernah mengangis darah menridukan anaknya. Sebuah literair pembelajaran kesabaran, jejak hukum dan kemanusiaan.

PADA 28 Januari 2010 pagi pukul 9.00 waktu Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA) Di meja makan Dubes RI di Wisma Duta, di kawasan Villa, pemukiman baru, Muhammad bin Zayed City, sudah terhidang ayam, tempe dan tahu goreng, tumis pare dirajang tipis dengan cabe hijau. Kerupuk udang di dalam toples. Sarapan pagi itu, kali kedua saya ke sana Setelah sepekan di Abu Dhabi, saya sempat pulang dulu ke Jakarta seminggu. Pagi itu dengan Wahid Supriyadi, Dubes, kembali kami sarapan bersama.

Saya melihat ke kanan ke luar jendela. Di halaman samping, makin hijau tanaman sawi - - campuran mie ayam seperti di Jakarta - - daun singkong, tiga batang pepaya, tumbuh sepinggang. Daun bawang sup dan serai juga menghijau. Udara di luar 19 derajat celcius, mengingatkan saya akan kawasan Puncak, Jawa Barat.

Cabe rawit di meja di piring kecil, berikut pare yang ditumis, sedang saya lahap, juga hasil kebun samping, tidak begitu pahit. Justeru rasa pedas menyengat. Saya berkeringat.

“Syukurlah, Anda kembali, bisa menjembatani solusi, membantu Ziad bisa pulang, tinggal proses hukumnya diurus,” ujar Wahid.

Ziad yang dimaksud Wahid adalah sosok pria Indonesia sebaya saya. Ia pada medio 2002 ke Abu Dhabi menemui adiknya Firza, yang telah menikah dengan Saleh Alkatiri, warga negara PEA. Kehadiran Ziad ke sana, untuk mencoba mendamaikan keluarga sang adik. Di mana Firza menyatakan sudah tak kuat mepertahankan rumah tangga, karena acap menerima kekerasan fisik di rumah tangganya.

Berbeda dengan Manohara, ketika terjadi kekerasan fisik padanya belum memiliki keturunan. Tetapi pada kasus Firza, telah diperoleh dua pasang anak. Karenanya, atas keinginan Saleh, suami Firza, meminta Ziad berusaha membujuk adiknya melanggengkan perkawinan mereka.

Kepada saya, Ziad menuturkan, ”Firza bilang dia sudah sangat tak kuat,” kata Ziad pula mengutip Firza, “Mau saya paksakan meneruskan perkawinan, tetapi kalau nanti mendengar saya misalnya lompat tak kuat gimana?” Ada nada ancaman bunuh diri di mulut Firza ke kakaknya.

Mendengar kalimat adiknya itu, Ziad tak dapat berbuat apa-apa. Sang adik ipar, Saleh Alkatiri, salah seorang pengusaha papan atas di sana. Bisnisnya salah satunya menjadi vendor pakaian militer dan polisi PEA. Firza sebagai isteri kedua Saleh. Ia “minggat” pulang ke Indonesia, meninggalkan anaknya yang kini sudah di tingkat SMU dan SMP itu, bersama sang paman, Ziad di Abu Dhabi.

Malang tak dapat diduga, untung belum dapat diraih, Ziad kemudian diperkarakan oleh Saleh ke pengadilan di Abu Dhabi. Ia dituduh menggelapkan uang semasa perjalanan perkawinan dengan adiknya. Tidak tanggung-tunggung tuntutannya mencapai US $ 7 juta. Ziad yang sudah berpacaran serius dengan seorang dokter gigi cantik di Jakarta itu, dikenal keluarganya amanah, seketika seakan menghadapi tembok buntu. Sebab, begitu menghadapi proses hukum, seseorang menjadi tergembok meninggalkan PEA.

“Pernah saya mencoba pulang pada 2002 dari Dubai, tapi passpor saya langsung di blok,” kata Ziad.

Ia lalu berhadapan dengan setidaknya 5 kasus yang kemudian dituduhkan Saleh Alkatiri. Nun di setiap ujung kasus pengadilan, Ziad dinyatakan tidak bersalah. Tetapi begitu satu kasus menyatakannya bebas, kasus berikutnya sudah menghadang. Satu kasus memakan tempo bahkan hingga dua tahun. Lantas, keputusan akhir mahkamah pada awal 2009 - - - setelah 7 tahun berperkara - - menjatuhkan vonis kepada Firza (bukan untuk Ziad) mengganti kerugian mantan suaminya sebesar US $ 500.000.

Keputusan pengadilan itulah yang membuat Ziad seakan tersandera entah hingga kapan di PEA.

Bahkan setelah Saleh Alkatiri meninggal dunia pun pada September 2009, sebulan kemudian sang adik, Hasan Alkatiri melaporkan Ziad melakukan pidana memalsukan dokumen. Lagi-lagi kenyataan ini membuat Ziad kian menghadapi tembok baja untuk bisa ke luar dari negara penghasil minyak ketiga terbesar dunia itu.

Bila dilanjutkan setori ini, sebenarnya menceritakan ketidak nyamanan tentang diri sendiri, keluarga sendiri, bangsa sendiri. Contoh kasus, selama ini passpor Ziad tidak bisa diperpanjang. Alasannya, menurut penuturan Ziad, pernah ia datang ke KBRI, dikatakan kalau KBRI belum bisa memperpanjang karena ia masih bermasalah hukum. Keterangan demikian tentu dibantah oleh KBRI. Justeru sebaliknya, yakni, Ziad tidak muncul-muncul ke KBRI.

“Bagaimana saya datang, baru sampai di gerbang KBRI, tidak dibukakan pintu, ditolak masuk oleh petugas KBRI, ia bilang urusan kamu dengan Saleh Alkatiri belum beres,” tutur Ziad.

Laku saling menyalahkan ini tentu berlangsung di era sebelum Wahid Supriyadi sebagai Dubes.

Passpor Ziad baru dapat diperpanjang awal 2010 ini. Hal itu terjadi ketika Teguh Wardoyo, Direktur Perlindungann Warga Negara Indonesia (PWNI) di Deplu mengirim stafnya, Iskandar, awal 2010 ke Abu Dhabi. Ziad dapat ditemui Iskandar dan kala itu pula paspornya diperpanjang KBRI. Namun Iskandar tak bisa membawa pulang Ziad, karena memang urusan hukumnya belum tuntas.

Adapun Teguh, tergerak, setelah mendapatkan kontak dari Muhammad Rahmad, staf ahli Fraksi Demokrat di DPR. Rahmad saya kenal ketika saya memverifikasi kasus Pembunuhan David Hartanto Wijaya di Singapura. Rahmad kala itu salah satu staf KBRI Singapura. Saya meminta bantuan Rahmad, setelah suatu siang bertemu ibu Ziad

Sosok ibu Ziad, wanita tua, berkulit putih, dengan jalan agak membungkuk. Ia kena penyakit gula, jantung dan ginjal. Kerinduan mendalam kepada anaknya yang tak bisa ia temui selama 8 tahun, menyiratkan kepedihan mendalam. Ketika saya bertemu untuk ketiga kali ketika sempat pulang ke Jakarta sepekan, saya melihat mata kanan ibu Ziad mengeluarkan darah. Rupanya karena kepedihan tajam, telah mebuat pembuluh darah di matanya ada yang pecah. Seumur-umur dalam hidup saya, baru kali itulah saya menemui fakta pepatah: menangis darah! Ibarat melihat ibu kandung sendiri, mebulatkan tekad saya, Ziad pasti harus saya bawa pulang.

Di dalam verifikasi saya di lapangan, Saleh Alkatiri, memang dekat dengan orang-orang di KBRI, bahkan mantan supir Saleh, kini juga menjadi driver KBRI. Saleh juga punya anak yang bekerja di pengadilan Abu Dhabi, punya relasi luas dengan detektif kepolisian. Kenyataan inilah tampaknya, kehadiran saya, sebagai mediator, setidaknya menjadi pemecah kristal kebuntuan.

Sebuah kejadian pernah pula menimpa Ziad. Oleh oknum kepolisian Abu Dhabi, ia pernah mendapatkan perlakuan kasar. Sejak itu ia lebih banyak “bersembunyi” mengurung diri. Rutinitasnya, sebagaimana ia paparkan: bangun pukul 3 dinihari, shalat tahajud. Lalu menanti waktu subuh, shalat, berzikir, tidur, bangun pukul 10, lalu shalat dhuha, berzikir menanti zuhur, dan seterusnya demikian di antara waktu shalat. Begitu monoton, percaya atau tidak, ini dilakoni Ziad selama 8 tahun. Rasa takut menghantui hari-harinya. Kejiwaan Ziad mengalami sindrom ketidak-percayaan kepada orang lain.

Pintu solusi kemudian seakan terbuka, setelah sepekan sebelumnya saya mara ke Abu Dhabi. Adalah dari Hasan Alkatiri, adik almarhum Saleh Alkatiri, saya mendapatkan keterangan, bahwa tuntutan Saleh terakhir kepada sebuah rumah yang dibeli untuk keluarga ayahnya, WNI, yang ada di Indonesia. Properti itu masih dikuasai keluarga Firza. Dan jika aset itu dikembalikan, ahli waris akan mencabut semua tuntutan kepada Ziad, dan Ziad boleh pulang ke Indonesia. Urusan khalas (selesai).

DI KEPOLISIAN Khalidiyah, Abu Dhabi, medio Januari 2010. Saya bersama Amin Appa, staf lokal bagian konsuler di KBRI, mencoba menelusuri kasus dan berkas Ziad. Mengingat semua berkas itu harus diurut dan dicabut di kepolisian sehingga black list-nya di imigrasi dapat dihapus dan ia bisa pulang.

Di siang mentari terik tapi udara dingin itu, kami sengaja meninggalkan Ziad di mobil Toyota Innova - - Kijang Innova di sana 2.700 cc mesinnya - - kuatir Ziad yang selama ini menghilang justeru akan ditangkap polisi. Logikanya jika di dalam mobil berpelat CD, tak bisa ditangkap siapapun, ada ranah kekebalan diplomatik.

Setelah berkas Ziad kami perlihatkan ke lima orang investigator dengan proses menunggu mencapai sejam, investigator meminta Ziad dihadapkan ke mereka. Dengan berpura-pura memutar mobil, seakan menjemput Ziad, kami kembali membawanya. Lama kami menunggu, waktu magrib tiba. Ziad rupanya dibawa ke ruang bawah di sel-kan dengan kaki dirantai. Saya begitu kuatir. Keadaan ini kian memperburuk kejiwaan Ziad.

Untunglah kala itu Hannan Hadi, staf konsuler KBRI berkenan datang. Ia mencoba berbicara dengan Hasan Alkatiri, adik Saleh. Dari dialog itu saya menangkap Hasan berkenan mencabut laporan pidana di kasus terbaru, di mana Ziad dilaporkannya memalsukan dokumen. “Nah jika ada kasus hukum demikian, membuat KBRI sulit berbuat. Satu-satunya cara, mendekati pihak yang memperkarakan, menyelesaikan,” ujar Hanan Hadi.

Al hasil, pada pukul 21 malam, Ziad dapat kami bawa pulang dengan jaminan KBRI, dan paspornya ditinggal di kepolisian. Dan mulai hari itu Ziad diminta KBRI tinggal di KBRI. Saya masih ingat hari itu Kamis malam Jumat - - hari di mana libur di PAE. Saya pulang lega ke Wisma Duta. Keesokan pagi, terjadi kejutan, Ziad menghilang. Komunikasi dengannya sirna. Agaknya, pengalaman singkat dirantai di polisi itu, sebagaimana saya duga, kian membuatnya trauma.

Padahal, dari body language Hasan Alkatiri saya menangkap kesan damai. Ketika ia pertama datang ke kantor polisi di depan saya, saya lihat Hasan yang berpakaian kandura putih panjang, duduk jongkok di kaki Ziad meminta maaf. Dalam bahasa Arab. Bahkan ketika rantai di kaki Ziad dilepas dan ia boleh pulang, Hasan merangkul, memeluk Ziad. Konon sikap demikian sebagai budaya Arab di urusan khalas. Sinyal itu yang membuat saya optimis. Tetapi kaburnya Ziad, membuat harapan pudar. Saya lemas. Saya memutuskan pulang ke Jakarta.

Selama 8 tahun ini memang Ziad merahasiakan keberadaannya, juga komunikasinya melalui mobile phone, sangat kuatir dilacak polisi. Ketika kembali ke Jakarta saya yakinkan keluarga Ziad. Alhamdulillah komunikasi akhirnya bisa terjalin kembali antara Ziad dan keluarga.

Aset properti yang diminta keluarga Saleh Alkatiri, senilai Rp 1 miliar dapat saya yakinkan ke pihak keluarga Ziad untuk diserahkan. Toh Ziad, juga atas dukungan KBRI, juga akan dapat dipulangkan, jika seluruh kasus hukum sudah dicabut pihak memperkarakan.

Di depan notaris di Jakarta, keluarga Ziad menyerahkan kunci, sertifikat tanah di bilangan Duren Sawit, untuk saya bawa kembali ke Abu Dhabi

Dan di pagi saat sarapan bersama Wahid Supyaridi itu, saya sampaikan ihwal penyerahan asset itu sebagai adanya pintu solusi kasus yang merepotkan ini. Atas dasar itulah Wahid menyampaikan kalimat syukurnya.

Akan tetapi, lain padang lain ilalang, mencabut kasus di mahkamah pengadilan PAE, juga mencabut blac list di polisi dan imigrasi, tidaklah macam membalik telapak tangan. Pada tulisan lain tentang perjalanan ini, akan saya tuliskan dalam sesi tersendiri.

WAKTU menunjukkan pukul 09.30. Pagi 28 Januari 2010 itu, saya kembali menumpang mobil dinas Dubes, Mercedes Benz S 350. Di udara yang dingin saya amati, kendaraan kebanyakan dengan kapasitas mesin besar. Ada mobil seperti Mercedes Benz CL 65 (6.500 CC), biturbo, dua pintu, yang dipacu di jalur paling kiri - -khusus kecepatan tinggi - - dengan kecepatan 200 km perjam. Jalanan masing-masing 6 jalur, lebar beraspal kokoh massif dan rata. Satu dua Ferrari lewat di kiri kami. Bentley dua pintu, bahkan Roll Royce menjadi biasa di jalanan. Sekelabat lewat Bugatti Veyron hitam merah, persis mobil-mobilan mainan yang dibeli anak saya. Inilah salah satu negeri tempat menyimak manca ragam mobil mewah.

Abu Dhabi kota yang oleh pendirinya, Syeh Zayed, ditabalkan hijau. Adalah keinginan Zayed mengubah gurun berpasir gersang, menjadi hijau raya-raya. Untuk membuat kehijauan itu, di setiap meter tanah, membentang bermeter-meter selang air, baik berrukuran besar dan kecil. Di masing-masing pipa ada cerobong air dapat diprogram menyiram otomatis. Aliran pipa air itulah kemudian memberikan kehidupan bagi rumput, bunga pohonan, termasuk kurma tumbuh hijau di sepanjang trotoar dan pembatas jalan lebar.

Bersama Wiahid Supriyadi, Dubes, kami berdiskusi betapa peluang Indonesia besar merambah pasar PEA. Itulah titik perhatian Dubes saat ini. Di era Wahid ini pula kini sudah mulai masuk investasi langsung ke Indonesia, seperti investor untuk batubara dan jalan kereta api di kalimatan Timur senilai US $ 5 miliar.

“Nanti Juni, Garuda mulai lagi terbang ke Amstrerdam, dan transit di Dubai. Kita punya peluang mengirim beragam produk ke sini,” ujar Wahid.

Setiap hari tak henti-henti Wahid menjalin kontak, mencari akses bagi masuknya investasi ke Indonesia.

“Jika terfokus melayani tenaga kerja bermasalah, tidak akan ada habisnya. Sayang jam kerja diplomat habis disibukkan dengan urusan yang tak sesuai dengan kapasitasnya,”

“Lihatlah negeri ini, jangan cuma terfokus di kasus Ziad,” nasehat Wahid.

Saya sependapat dengan Dubes kita ini. Bayangkan setiap hari di banyak KBRI, kini, terutama di Timur Tengah, waktu para diplomat dan staf lokal, habis tersita mengurus TKW bermasalah di urusan yang terkadang remah-remah.

Sebagai contoh, di Abu Dhabi saya bertemu dengan anak, sebut saja Santi, TKW asal Cianjur. Ia baru bekerja 3 bulan, lalu terdampar di KBRI. Katanya ia diperkosa adik majikannya.

Ketika saya tanya, umurnya baru 18 tahun. Lebih parah ia tak mengerti apa itu diperkosa.

Saya tanya badannya diapakan?

“Dada saya diraba. Tetek saya dikenyot-kenyot,” jawab Santi polos. Maaf hal ini saya tuliskan, agar Anda mendapatkan kesan betapa lugu dan polosnya sosok Santi, contoh TKW yang dikirim oleh bangsa ini ke negeri orang.

Lalu?

“Celana saya dibuka”

Sampai di sini tak tega saya menuliskan, Sidang Pembaca. Intinya dari deskripsi Santi, ia baru hendak dimasukkan “senjata” pria dari belakang. Konklusi, pelecehan seksual terjadi.

Tetapi apakah sudah diperkosa? Wallahuawam. KBRI menghadapi dilema; pertama jika dilaporkan polisi, negara kita pasti disalahkan, mengapa mengirim anak di bawah umur? Santi tak mau pula di otopsi, lebih parah, di benaknya yang ada pulang, minta dipulangkan. Padahal PJTKI yang mengirimnya, konon, illegal pula. Kasus demikian ribuan corak dan ragamnya. Energi diplomat kita terkuras untuk hal demikian.

“India, Pakistan, Banglades yang lebih miskin, tidak mengirim tenaga kerja wanita ke negeri orang, Filipina mengimkan tenaga terdidik seperti kasir untuk supermarket,” kata Wahid. Saya lihat kegemasan di wajahnya.

Saya katakan, tidak akan pernah sebuah bangsa bermartabat, jika memperlakukan para perempuannya, berhamburan menjadi babu di negeri orang, lalu kemudian direndahkan, diperkosa, dilecehkan.

Dalam perjalanan ke kantor KBRI, kawasan Maharba Area Street 32, di pagi hari itu, terlintas di benak saya, bahwa segala masalah TKW di luar negeri, bermula dari laku kita di dalam negeri. KBRI di luar negeri ketiban apes.

Salah satu kegundahan yang sama di benak kami adalah: bagaimana para diplomat di luar negeri waktunya habis di urusan TKW. Mulai dari isu perkosaan, pengiriman tenaga kerja di bawah umur.

Setiba di KBRI, saya seakan sudah memiliki pos sendiri. Saya menuju dapur. Di lokasi ini akses wifi untuk internet berjalan cepat. Ada meja makan di mana saya dapat membuka laptop. Dan begitu senangnya saya, Ziad rupanya sudah ada di dapur. Itu artinya, kami bersama KBRI, bisa meneruskan mengurut berkas kasus Ziad, mulai dari mahkamah, polisi, investigator. Sudah saya bayangkan kerja yang melelahkan, membutuhkan kesabaran sekaligus bikin dag dig dug.

Kendati kuatir, hati saya kian mantap dapat membawa Ziad pulang, selain bekal sertifikat tanah yang sudah di tangan, sikap Wahid Supriyadi, Dubes, telah memperlakukan saya di luar dugaan. Ia memberi penginapan lebih dari memadai, makan lebih dari tiga kali sehari jika mau, menyediakan supir, mobil dan penterjemah untuk ke mahkamah. Sikap Wahid ini tentu berbeda dengan apa yang saya alami ketika memverifikasi kasus pembunuhan David Hartanto Wijaya di Singapura - - baca di 17 Sketsa soal David di blog-presstalk.com Saya menduga sikap ini karena keterbukaan berpikir sang Dubes, toh, jika kasus Ziad selesai, artinya menyelesaikan satu dari sekian banyak masalah yang mereka hadapi.

Laku demikian, memang seharusnya diperbuat oleh KBRI di luar negeri, memberi fasilitas dan perlindungan kepada warga negaranya. Jika bukan KBRI siapa lagi?

Di Sketsa PEA berikutnya, saya bertutur lika-liku mengurus berkas Ziad, potensi negeri kita yang kaya seharusnya bisa seberkibar Persatuan Emirat Arab, yang kini telah memiliki gedung pencakar langit di Dubai, Burj Khalifah, tertinggi di dunia.***

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.com, 22 Februari 2010

Sketsa: Ruby Alamsyah dan Kelangkaan Ahli Forensik Digital

Monday, January 25th, 2010

“Bobolnya” ATM bank, kian mencuatkan nama Ruby Alamsyah. Adalah Roy Suryo mengirim pesan SMS ke media, ke koleganya. Roy menyalahkan sosok ahli digital forensik yang memperagakan cara penjahat menguras ATM menggunakan ATM Skimmer. Mabes Polri melalui Humasnya, sesuai dengan tulisan Okezone.com, melaporkan Ruby ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), mengapa harus Ruby dilaporkan, dipersalahkan? Bukankah tugas polisi mengusut penjahat skimming ATM?

PAGI di medio 2009. Seperti biasa, sekon acap saya manfaatkan menulis, walaupun belum mandi pagi, key board computer yang seharusnya tak bersuara, saya bunyikan bak mesin tik Brother: ditekan keras, menyemangati pagi, cetak-cetok, memperlancar kata mengalir cair.

Handphone saya bergetar. Serbuah nomor belum saya kenal.

“Selamat pagi Pak Iwan, saya Ruby Alamsyah. Saya bergerak di forensik digital, siap membantu melakukan forensik digital untuk kasus David, jika diperlukan?”

Kasus David yang dimaksud Rubi, adalah terbunuhnya David Hartanto Wijaya, mahasiswa cerdas asal Indonesia di Nanyang Technological University (NTU). Singapura, yang terus-menerus saya verifikasi hingga saat menuliskan ini.

Sejak itulah saya dan Ruby menjalin pertemanan. Ranah online mempertemukan kami. Selang tak berapa lama Ruby sudah turut bersama saya meminta laptop David untuk dikembalikan pihak kepolisian Singapura. Ruby juga hadir di persidangan koroner kasus David di Singapura, dengan dukungan biaya dari pertemanan medium sosial di Facebook yang mendukung keluarga David.

Puncaknya, setelah sidang kasus David selesai, saya bersama Ruby, Hartono Wijaya, ayah David, ke Singapura lagi, untuk menerima Laptop David dari polisi. Kami mengajak Ruby, agar waktu penyerahan, data di laptop itu bisa dikloning dan dibuat hashing data sehingga ditemukan digital finger print sama dengan fakta yang diajukan polisi Singapura di persidangan.

Di persidangan, polisi mengatakan; David membuat surat elektronik pada 25 Januari 2009, menyatakan ia ingin bunuh diri. David juga ditemui mengunjungi situs yang berkaitan suicide, sebanyak tiga kali. Adalah wajar bila keluarga David kemudian meminta data digitalnya, sebagai sebuah barang bukti nyata.

Entah karena sudah terlanjur “bersandiwara” di persidangan, polisi Singapura enggan menyerahkan apa yang diminta keluarga melalui Ruby. Adegan yang berlangusng di Kedutaan Besar RI di Singapura, di saat rencana penyerahan, hanya menghasilkan polisi kembali ke kantornya, dan berjanji sesegera mungkin mengabari. Anehnya, hingga hari ini polisi bergeming belum berani mengembalikan laptop David.

Di hati kecil saya, bangga rasanya bahwa sebagai bangsa, dengan adanya Ruby: kita akhirnya bisa menunjukkan bahwa sebagai bangsa anak Indonesia tak dibisa didodolin!

Dari perjalanan bersamanya,. Saya pun paham dan mengerti beberap kasus yang sedang menasional beritanya, seperti kasus Antasari Azhar, di mana Ruby sebagai orang sipil, membantu Bareskrim, Polri. Ruby juga jadi saksi ahli yang menguatkan dukungan kepada Prita Mulyasari, terdakwa kasus UU ITE pasal 27 ayat 3, pencemaran nama baik, hanya karena mengeluhkan pelayanan Rumah sakit Omni, Tangerang.

HARI berlalu. Bila lebih tiga tahun saya menulis di blog sebagai Citizen Reporter yang menghibahkan gratis tulisan ke publik, melalui Ruby pula saya termotivasi mulai mencari rejeki profesi sebagai Private Investigator.

“Di luar negeri ahli forensik digital biasanya juga ada bagian menjalankan jasa private investigator,” ujar Ruby.

Maka ketika ia memiliki pekerjaan profesional, satu dua job ada yang diberikan Ruby kepada saya. Berbekal komunikasi saya ke USA, menjalin kontak dengan lembaga sertifikasi Private Investigator, ternyata semacam short course, di dalam liputan investigasi, seperti yang pernah saya miliki dari Wold Bank-IJJJ, sudah dapat dijadikan bekal. Maka kami bersama-sama pernah melakukan verifikasi tentang pemalsuan sebuah merek produk.

Tahun berlalu. Bila diawali oleh kasus David, di mana nama Rubi juga saya perkenalkan ke kawan-kawan media, termasuk tampil di acara Kick Andy untuk kasus David, sosoknya lalu kian bunyi saja. Dari jauh saya senang mengamati kiprah Ruby.

Kepada seorang kawan yang berkecimpung di dunia tekonologi informasi, Ardi Suteja, yang memiliki sertifikat CISA (Certified Information Security Auditor) CISRM (Certified Information Security and Risk Manager), saya pernah memyampaikan pertanyaan, mengapa di tengah jumlah penduduk Indonesia mencapai 240 juta, lalu masalah-msalah digital forensik kian dibutuhkan, sosok yang memiliki sertifikat forensik digital terbatas jumlahnya? Bahkan Ruby satu-satunya orang Indonesia yang menjadi anggota High Technology Crime Investigation Association (HTCIA), yang salah satu job-nya melakukan profesi forensik digital.

Ardi juga menyatakan keheranannya.

Di website www.hatcia.org, untuk menjadi anggota HTCIA, seseorang cukup membayar US $ 50. tentunya setelah memiliki sertifikasi pendukung.

Dari materi bacaan pula kemudian hari saya dapat menemukan bahwa sosok Ruby Alamsyah lebih tepat disebut sebagai Digital Forensic Engineer (DFE), yang kalau istilah kepolisian dikenal sebagai CSI (Crime Scene Investigator). Maka, di biodatanya, Ruby saya lihat mencantumkan dalam porto folionya: Digital Forensic Analyst for Indonesian Police. Kepada saya, Ruby dengan tegas mengatakan ia sebagai orang sipil yang suka diminta bantuan oleh Polda, Bareskrim, Polri.

Maka ketika di Okezone.com, saya membaca, Humas Polri melaporkan Ruby Alamsyah ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), apakah ada pelanggaran Undang-Undang, yang jika sendainya menurut KPI ada, akan diproses Polri. Kenyataan ini sebagai hal lucu.

Kelucuan pertama, Ruby sebagai orang sipil yang pernah membantu tugas-tugas polisi.

Kedua, adegan Ruby memperagakan bagaimana pelaku ATM Skimming melakukan aksi jahatnya di Indonesia, baik di TV One maupun di Metro TV, semuanya hanya memberikan gambaran kepada publik, sebagai bentuk laku pencerdasan. “Sehingga nasabah perbankan dapat melihat letak persoalan,” ujar Ruby.

Bila sebelum tingkat kehilangan uang nasabah ATM bank tinggi, pihak bank selalu menyalahkan nasabah, maka puncaknya sejak akhir pekan lalu hingga pekan ini, perbankan kebanyakn tanpa banyak bicara mengganti langsung uang nasabah. Bukan mustahil karena keterbukaan media, mata konsumken menjadi terbuka.

Lantas jika mencerdaskan konsumen, apakah pantas menghukum Ruby?

“Padahal jika berkait ke undang-undang perlindungan konsumen, nasabah punya hak untuk mendapatkan ganti lebih,” ujar Dhaniswara, ahli hukum perbankan di Presstalk - - program talk show yang saya pandu - - di QTV, Jumat, 22 Januari 2010 lalu.

Di lain sisi, sosok seperti Roy Suryo mengirimkan SMS ke kolega dan media, seperti dimuat di detik.com, menyayangkan laku ahli IT yang memperagakan bagaimana prosedur pembobolan ATM. Tanpa menyebut nama, agaknya kuat dugaan yang dimaksud Roy adalah Ruby.

Anggapan Roy Suryo ini seakan menga-ada. Apalagi sejak lama sebagian komunitas online Indonesia mempertanyakan kompetensi dan srtifikasi ICT yang dimilikinya.

Berbeda sekali dengan Ruby, yang memiliki sertifikasi GCIH, CHFI, LPT, CEI, CEH, MCSE - - kendati pun sertifikasi ini kebanyakan diberikan vendor in house - - jelas jauh lebih punya kompetensi untuk membicarakan forensik digital dibanding Roy Suryo.

Kalau pun Roy mau mempersoalkan Ruby, itu hanyalah urusan tak macam CISA, CISRM-nya Ardi Suteja, sesma anggota dengan saya di komunitas APWKOMITEL, jaringan warnet.

Nah lantas Roy Suryo punya sertifikasi apa mengaku sebagai ahli ICT?

Hingga di sini sidang pembaca, saya mengajak kerendahan hati bicara.

Ruby telah membukakan mata publik, bahwa profesi forensik digital dibutuhkan dan pelayanan konsumen, khususnya bank selama ini kurang, terutama menjaga keamanan ATM –nya. Fakta padahal, pada 2009 lalu, perbankan Indonesia memiliki profit marjin salah satu tertinggi di dunia. Norak kan!? ****

Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com, 25 Januari 2010

Sketsa: Keadilan di Fulus Semua Mulus

Monday, January 11th, 2010

Sketsa: Keadilan di Fulus Semua Mulus

Jumat, 8 Januari 2010, program talkshow indie yang saya bawakan, Presstalk di QTV, mendapat tamu dari Medan. Di antaranya seorang ibu, isteri notaris, yang suaminya langsung ditahan tanpa surat penahanan di saat bayinya masih berusia 6 bulan, tanpa pula pertimbangan Majelis Pertimbangan Daerah (MPD) Ikatan Notaris. Bukan barang basi sesungguhnya lintas lini hepeng mangatur nagaraon demi keadilan? Di Jakarta Satgas Mafia Hukum yang dibentuk Presiden menemukan sel Artalita Suryani, di penjara Jakarta Timur, bak kamar hotel bintang tiga. Lagi-lagi keadilan di tangan fulus.

NAMANYA Lianawati. Ia sengaja datang ke Jakarta. Ketika saya temui di studio QTV,Jakarta, mengenakan celana panjang hitam dan baju hitam bergaris-garis putih, matanya memerah. Ia isteri San Smith, notaris di Medan. Sang suami, pada Juni 2009 dijemput pihak kepolisian Medan, tanpa menunjukkan surat pemanggilan.

Sebagai notaris San Smith, suami Lianawati, seharusnya mendapatkan perlindungan, juga pengawasan badan Majelis Pertimbangan Daerah (MPD) Notariat. MPD punya hak mengkaji apakah ada kode etik notaris yang dilanggar San Smith, dan jika memang ditemukan pidana, barulah kepolisian menindak-lanjuti. Namun MPD tak dilibatkan, San Smith langsung jadi pesakitan.

“Tanpa surat perintah penahanan.”

“Saya gemetaran sambil memeluk anak kami yang masih 6 bulan.”

“Sejak itu suami saya langsung dipenjara, dan diputuskan pengadilan di tuntut penjara satu tahun Desember 2009 lalu,” ujar Lianawati. Kini bayinya sudah 13 bulan, dengan sang suami masih mendekam di penjara.

“Untuk setiap ke penjara, saya mengeluarkan setidaknya Rp 50 ribu, untuk petugas petugas penjara.”

“Sudahlah suami dipenjara, dengan hanya sebagai ibu rumah tangga, keadaan ini sangat beratkan.”

San Smith adalah Notaris yang membuatkan akta jual beli tanah antara Tony Wijaya dengan pihak PT Ira Widya Utama, Medan. Dan Tony Wijaya yang sudah menyerahkan uang untuk dua kasus mencapai Rp 70 miliar, pada 4 Januari 2009 lalu dijatuhi hukuman dua tahun.

Saya sendiri belum melakukan reportase ke Medan.

Namun menurut paparan pengacara Tony Wijaya, yakni Syamsu Anwar - - pengacara yang saya kenal ketika ia dari awal menangani kasus Prita Mulyasari, di mana belakangan bergabung OC Kaligis. “Saya membacakan pledoi sebanyak 323 halaman untuk Tony, hanya tak sampai setengah jam kemudian sidang dianjutkan, tanpa hakim punya waktu memahami isi pledoi, keputusan diambil hingga persidangan berlangung pukul 10 malam.”

“Inilah mafia peradilan,” ujar Syamsu.

Logika Syamsu, pembeli dengan uangnya, sudah ditipu, kini dipenjara pula. Ibarat jatuh tertimpa tangga.

“Cuma ada di Indonesia.”

Saya belum melakukan verifikasi lengkap ke lapangan. Jika saja kenyataan seperti yang dipaparkan Lianawati, juga Syamsu sebagaimana adanya, tentulah urusan mafia peradilan bukan basa-basi. Patra M Zenm dari YLBHI, Jakarta, kepada media di Jakarta pernah mengatakan urusan mafia peradilan bisa dicium tetapi sulit diraba.

Pada kasus di Medan itu, saya melihat kemafian itu bisa diraba. Setidaknya timbul pertanyaan mengapa pihak kepolisian Medan sudah semena-mena. Belum pula pengadilan tuntas tak menunggu tempo pledoi dipelajari hakim? Keputusan sidang seketika, jika perlu hinga larut malam,

Memang Medan, Bung!

“Memang menimbulkan tanda tanya kasus ini,” ujar Sarfuddin Sudding, anggota komisi III DPR yang juga hadir di Presstalk.

Sebaliknya soal sosok Tony Wijaya. Melalui kawan wartawan di medan saya mendapatkan masukan, Sosoknya dikenal sebagai “mafia” di Medan. Namun Syamsu membantahnya. “Lawan yang mafia,” ujar Syamsu.

Saya memaklumi urusan kemafiaan, Medan bisa jadi jagonya.

“Tony itu adalah pengusaha yang tak dekat dengan wartawan juga dengan NGO. Tak ada yang dilakukannya untuk bidang sosial di Medan.” Begitu kalimat seorang jurnalis di Medan.
NGO adalah Non Governtment Organisation, atau lembaga sawdaya masyarakat.

Di tengah dunia jurnalisme jika mengacu ke data Aliansi Jurnalis Independen (AJI) 85% wartawan menerima amplop di Indonesia, lalu menurut Jaringan Jurnalis Presstalk, jaringan media alternatif blogger dan media kampus: 98% wartawan menerima amplop, terutama di daerah. Nah “ampolp” sudah sejak lama saya sinyalir mengurangi laku professional wartawan. Jika ranah keadilan juga turut dimainkan wartawan dalam kepentingan fulus, maka kecurigaan keadilan itu bisa dibeli, bukan lagi basa-basi.

Dengan logika tidak “dekat”nya Tony dengan jurnalis, apakah lantas cara-cara pemenjaraan terindikasi tak fair terhadap kasusnya tak mendapat tempat di Medan? Juga pemberitaan menjadi tidak berimbang?

Dari kenyataan yang ada, di kasus Tony dan San Smith ini mengemuka, bagaimana permainan di ranah mafia peradilan itu memang terjadi. Bukan hanya Medan, tetapi kini secara kaffah, total foot ball, di hampir di semua daerah di Indonesia. Malahan kian trendi saja.

LAIN MEDAN, lain pula Jakarta. Di Minggu, 10 Januari 2010, senja baru lewat. Tiga anggota Satgas Mafia Peradilan melakukan kunjungan mendadak ke penjara Jakarta Timur. Di luar dugaan, di ruang sel tahanan Artalita Suryani, tersangka kasus penyuapan Jaksa, dilengkapi AC, televisi, laptop, lengkap dengan akses internet. Semua itu berada di lantai 3 di ruang kantor lembaga pemesyarakatan.

Mengapa hal demikian bisa terjadi?

Lagi-lagi uang.

Kepada Tempo, yang terbit awal pekan ini Artalita, mengaku dapat mempimpin perusahaan dari balik sel tahanan. Lantas apa beda dia dengan di luar penjara? Artalita bentuk lain bagaimana meraba nyata mafia peradilan. Untuk dijadikan salah satu ikon, Artalita agaknya tepat. Jadi tak seperti kata Patra M. Zen, di kasus Medan dan di kasus Artalita, dua contoh yang dapat diraba.

Kepada Media Indonesia, Patra M Zen, mengatakan ada tiga langkah yang harus dilakukan dalam memberantas mafia peradilan. Pertama, diperlukan pengawasan masyarakat dan perlindungan saksi atau korban.

Perlindungan bagi saksi penting agar tidak dikriminalkan. Anda mungkn ingat kasus Endin Wahyudin, pengacara, mengaku pernah memberi uang ke majelis hakim yang menangani perkara kliennya namun justru dilaporkan balik ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Endin akhirnya diadili dan divonis tiga bulan penjara dan percobaan enam bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 2001. Sedangkan dugaan penerimaan uang menguap tanpa bekas.

Keadilan kita pertaruhkan di tangan hakim yang kini sangat terindikasi acap silau dengan uang.

Simaklah Lim Ping Kiat. Ia korban menulis surat pembaca dipengadilankan dan dipidana pencemaran nama baik, sejak 2005, hingga 2007 ia mengurus kasusnya agar dihentikan. Ia mendapatkan SP3 setelah mengurus dengan uang, termasuk membayar hakim.

Yang menarik di kasus Lim Ping Kiat, giliran ia melapor ke KPK, oknum KPK meminta, tanda bukti

“Mana ada hakim mengeluarkan kuitansi,” ujar Lim.

Pemberantasan mafia hukum tidak akan berjalan tanpa masinis yang membawa gerbong gerakan itu dengan komitmen tinggi dan konsisten: yakni keteladanan pemimpin.

Dalam keadaan demikian, beragam pun upaya akan seakan terguyur bah, karena esensi keadilan itu selalu dilanggar pemaknaannya oleh pengelola negara, termasuk oleh anggota dewan yang mewakili rakyat.

Contoh signifikan, di penghujung 2009 lalu dengan enteng dan encernya Sudi Silalahi, Menteri Sekretaris Kabinet mengatakan bahwa mobil Crown Royal Saloon seharga Rp 800 juta bukanlah barang mewah - - harga satuan Rp 1,3 miliar. Di sini rasa keadilan, fakta seakan dibulak-balik.

Lantas apakah ada hubungan dengan urusan penegakan hukum? Ya jelas, jika pejabat saja tak taat kaedah, berpilin kata menjadikan sumir pemaknaa sebuah lema, untuk sesuatu yang jernih adanya, melabrak rasa keadilan, maka menjadi contoh ke aras bawah, lalu semuanya semuanya berlakui aji mumpung. Bisa jadi mereka pelaksana penegak hukum berkata: yang di tas saja juga “maling”, apatah pula kami.

Dalam keadaan hilangnya ketauladan, kenegawarawan yang dibalut habis segalanya ditentukan oleh uang, tinggalah kiamat memang yang datang. Masihkah seumur bangsa ini hingga ke depan kita menomor satukan segalanya hepeng mangtur nagaraon? mereka yang jujur dan kere, lantas kita hinakan? Inilah kiamat keadilan itu! ***

Iwan Piliang, literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com

Sketsa: Sok ‘Kali Bos Freeport ke Garuda

Tuesday, January 5th, 2010

Bicara Garuda, ada dua sosok mantan pimpinannya yang saya kenal: JA Lumenta dan M Suparno. Dari Almarhum JA Lumenta, saya pernah dapat “kado” tulisannya panjang tentang proses SAR dua pesawat Dakota (DC 3), Operasi selama13 hari kedua pesawat jatuh di Sumatera berpenumpang masing-masing13. “Kalau aku sudah tak ada boleh kamu terbitkan,” ujarnya. M. Suparno, seingat saya, gencar membangun corporate culture. Jika berada di negeri orang, bangga hati melihat Garuda ada di bandara,. Pada 3 Januari 2009, Garuda mendapatkan perlakuan preman oleh oknum Bos PT Freeport. Avtur bagi GA 652 tak diisi pejabat bandara di Timika, konon atas instruksi oknum bos Freepor: kenaifan memperlakukan penerbangan laksana bis; perbuatan mereka yang mengaku bermartabat.

MALAM belum larut. Pada pukul 22.00, 4 Januari 2009, Pujobroto, Humas Garuda Indonesia, menerima telepon saya. Ia mangaku akan diwawancara Radio Elshinta, Jakarta dan akan menghubungi kembali.

Sejak kasus tidak diisinya avtur untuk Garuda GA 652 di Bandara Timika, Papua, 3 Januari, kesibukan Pujobroto menjadi-jadi. Hampir semua media ingin mewawancarainya. Tak terkecuali saya yang cuma menulis di blog-presstalk.com, dan menyebarkan ke media online lain gratis.

Ketika hendak beranjak ke peraduan, telepon dari Pujobroto masuk. Waktu sudah 23.40. Saya bertanya apa yang sesungguhnya terjadi. Premis dari kasus ini sederhana. GA 652 dari Denpasar tujuan Timika. Karena cuaca jelek di Timika, pesawat dialihkan terbang sementarara oleh pilot Manotar Napitupulu ke Jayapura.

Bertepatan di saat yang sama ada pimpinan PT Freeport Indonesia, yang mengantungi tiket GA 653. Mereka meminta untuk ikut saja dengan GA 652 ke Timika yang kembali hendak lepas landas ke tujuan awal.

“Menurut keterangan pilot, Bapak Armando, juga ada dalam rombongan direksi Freeport,” ujar Pujobroto. Armando Mahler, adalah Dirut PT Freeport.

“Pilot keberatan membawa rombongan Freeport, karena pesawat sudah sangat terlambat,” ujar Pujo pula, “Untuk menaikkan penumpang tambahan baru, harus mengubah manifest. Check list penumpang, itu memakan waktu tambahan, lagian rombongan Freeport itu sudah mengantungi tiket GA 653?”

Kisah berlanjut. Sesampainya GA 652 yang dipiloti Manotar di Timika, ketika hendak meneruskan penerbangan, pejabat Bandara Mozes Kilangin, Timika, Papua, tidak berkenan mengisi Avtur Garuda.

“Alasannya sesuai dengan perintah pimpinan Freeport tak bisa mengisi avtur Garuda.”

Di Detik.com, 4 Januari, pilot Garuda, Manotar Napitupulu disuruh pimpinanan bandara meminta maaf kepada pimpinan Freeport.

“Garuda Indonesia tidak akan menyampaikan permintaan maaf kepada Presdir Freeport, karena Garuda sudah menjalankan kegiatan operasional penerbangannya sesuai aturan dan ketentuan berlaku,” ujar Pujobroto

Pujobroto menegaskan bahwa dalam kejadian ini, Garuda sama sekali tidak melakukan kesalahan. “Dan karenanya tidak ada dasar bagi Garuda untuk meminta maaf,” tuturnya.

“Dalam melaksanakan kegiatan penerbangannya, Garuda mengutamakan kualitas pelayanan kepada masyarakat pengguna jasa dengan kenyamanan, antara lain menyangkut ketepatan waktu dan aspek keamanan.”

Di Detik.com, Freeport telah menyangkal hal tersebut. Yang benar, karena stok BBM di Bandara Timika terbatas, sehingga Freeport lebih mengutamakan armadanya.

Namun urusan kian berkanjut. Lebih sakti lagi keluarkan pula surat pejabat Bandara Mozes Kilangin, menyatakan tidak bisa mengisi avtur Garuda untuk waktu belum ditentukan.

Kasus PT Garuda Indonesia dan PT Freeport kian memanas. Garuda memutuskan berhenti melakukan penerbangan ke Timika.

Pemberhentian operasi itu dilakukan Garuda demi kepentingan keamanan penumpang. Garuda mendapatkan surat dari tertanggal 3 Januari 2009 berisi bahwa Garuda Indonesia tidak akan dilayani pengisian BBM di Bandara Timika sampai batas waktu yang tak ditentukan.

“Sehingga Garuda untuk sementara waktu tidak akan melakukan penerbangan ke Timika sampai ada kepastian bahwa akan ada bahan bakar untuk Garuda,” kata Pujobroto

Keputusan PT Garuda Indonesia ini dikeluarkan Senin, 4 Januari, melalui surat tertulis yang ditujukan kepada PT Freeport. Alasan utama pemberhentian penerbangan itu semata-mata alasan keamanan penumpang.

Pujobroto menjelaskan, jika tidak mendapatkan pasokan BBM dari Bandara Timika, dikhawatirkan pesawat akan mengalami kekurangan BBM. “Padahal kita juga harus memenuhi bahan bakar cadangan,” kata Pujobroto.

Saya mencoba menghubungi juru bicara Freeport. Namun hingga saya menuliskan hal ini, belum mendapatkann kontak.

Sesuai dengan tulisan di Detik.com PT Freeport Indonesia membantah telah menolak mengisi BBM pesawat Garuda Indonesia di Bandara Mozes Kilangin, Timika, Papua, gara-gara bosnya tak diangkut Garuda.

“Nggak benar itu. Saya baru dengar isu itu. Stok BBM di Timika tidak cukup,” jubir PT Freeport, Mindo Pangaribuan, kepada detikcom.

“Garuda mohon maaf kepada para pengguna jasa Garuda. Tapi ini kami lakukan terkait dengan keselamatan para penumpang,” kata Pujobroto.

Bandara Mozes Kilangin beroperasi sejak 1970-an sebagai sarana operasional PT Freeport. Pada 2008, bandara itu diresmikan oleh Menhub Jusman Sjafii Djamal sebagai bandara internasional. Sebagai bandara internasional, laku pejabat bandara itu telah melanggar ketentuan yang berlaku di dalam penerbangan internmasional. Apalagi Garuda membeli avtur, bukan gratis.

“Tiga puluh bahkan sampai empat puluh persen lebih biaya operasional penerbangan itu untuk bahan bakar,” ujar Pujobroto.

PADA penghujung 2009 lalu, pembaca blog saya dib log-presstalk.com, tentu masih ingat: saya memverifikasi hilangnya 17 orang bersama sekitar Rp 8 miliar dalam sebuah speed boat dari Serui- Mamberamo pada Maret 2009 lalu. Dalam verifikasi saya yang belum tuntas hingga hari ini, mengemuka laku pekabat di Papua unik-unik.

Seorang staf sebuah hotel tempat saya menginap di Jayapura menjelaskan bahwa bupati sebuah kebupaten, jika ke Jayapura, suka menyewa mobil-mobil yang ada di hotel.. Mobil-mobil kosong itu kemudian menjemput sang pejabat ke bandara Sentani. Iring-irangan kendaraaan kosong itu menemani ritual tersendiri bagi sang pejabat. Inilah Papua hari ini. Belum lagi ada kasus sang pejabat membelanjakan uang semalam Rp 2 miliar, untuk have fun dan mebayar Rp 300 juta untuk satu perempuan.

Entah ketularan langgam dan gaya orang Papua, indikasi Armando Mahler, Dirut PT Freeport, lalu marah meminta pejabat bandara tak mengisi avtur Garuda, entahlah? Ia sulit dikonfirmasi.

Yang pasti rombongan pejabat Freeport itu antara lain sedang mematangkan realisasi Memorandum of Understanding (MoU) pelepasan saham divestasi 9,36% PT Freeport Indonesia senilai lebih dari Rp 9 triliun di Jakyapura. Dalam nota kesepakatan itu, Pemprov Papua akan membayar saham divestasi Freeport melalui pemotongan dividen tahunan.

Dirjen Mineral, Batubara, dan Panas Bumi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Bambang Setiawan, kepada media di Jakarta, mengungkapkan. Freeport sudah melaporkan pada pemerintah pusat akan melepaskan saham divestasi 9,36% itu kepada Pemprov Papua. Melalui itikad baik, Freeport akan melepaskan saham tersebut tanpa ingin membebani Pemprov Papua. .

Sebagaimana disampaikan Dirut Freeport Armando Mahler dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Jakarta, medio November 2009, proses negosiasi untuk rencana pelepasan saham sudah rampung 80%.

Pembayaran atas hibah saham itu akan ditempuh melalui potongan dividen setiap tahun, dari porsi saham divestasi yang sudah dikuasai Pemprov Papua. Freeport dan Pemprov Papua.

Sumber Harian Investor Daily yang mengetahui seluk beluk negosiasi itu mengatakan, Pemprov Papua tidak membutuhkan pihak ketiga dalam bentuk kerja sama untuk mendanai pembelian saham divestasi 9,36% Freeport.

Konsep potongan dividen itu sebenarnya merupakan hibah dari Freeport kepada Pemprov Papua. Karena itu, spekulasi PT Aneka Tambang (Antam) Tbk dan Grup Bakrie untuk masuk ke Pemprov Papua untuk mendanai pembelian saham divestasi itu tidak benar dan tidak diperlukan.

Pemprov Papua tetap ngotot untuk menggandeng pihak ketiga, kesepakatan hibah itu bisa saja batal. Freeport bisa jadi akan meminta proses pelepasan saham tersebut dilakukan melalui negosiasi bisnis, dengan tahapan seperti melakukan uji tuntas, valuasi, kesepakatan harga, dan penandatanganan jual beli saham, safes and purchase agreement (SPA)

Sebelumnya, Antam dan Grup Bakrie kabarnya berniat bekerja sama dengan Pemprov Papua untuk mendanai pembelian saham divestasi tersebut. Dua pihak itu akan menjajaki kemungkinan kerja sama dengan Pemprov Papua dalam waktu dekat.

Saat ini, komposisi pemegang saham Freeport adalah pemerintah RI sebesar 9,36% dan Freeport McMoran 90,64%, termasuk di dalamnya saham eks Indocopper Investama yang dibelinya dari Grup Nu-samba pada 1991.

Freeport sebenarnya sudah menawarkan 9,36% sahamnya yang dulu dimiliki PT Indocopper Investama kepada perusahaan nasional senilai US$ 1 miliar atau Rp 9 triliun lebih. Harga itu 43% lebih mahal dari penawaran tahun lalu sebesar US$ 700 juta. Tawaran itu merupakan konsekuensi lanjut dari sikap pemerintah yang menolak tawaran membeli saham divestasi tersebut.

Kronologi Divestasi Saham PT Freeport Indonesia

Tahun

Kronologi

1991

Grup Bakrie melalui anak usahanya PT Indocopper Invesetama membelil saham divestasi 9,36% senilai US$213 juta

1992

PTFI kembali membeli 51% saham divestasi 9,36% dari Grup Bakrie senilai US$212 juta

1997

Grup Bakrie melepaskan saham 49% di Indocopper kepada PT Nusamba Mineral Industri milik Bob Hasan senilai US$302,7 juta

2002

Bob Hasan menjual semua sahamnya di Indocopper kepada PTFI

2009

Atas desakan pemerintah, PTFI berencana menghibahkan saham 9,36% itu kepada Pemprov Papua melalui pemotongan dividen tahunan.

Apakah karena sudah merasa bisa memberi “hibah” kepada tanah Papua, lalu secara pribadi Armando Mahler juga seakan “memiliki” Papua? Entahlah. Yang pasti kenyataan yang dihadapi oleh Garuda Indonesia di bandara Timika, pesawatnya tak bisa isi avtur karena tak membawa sang pejabat Freeport, yang sudah mengantungi tiket GA 653.

Kalau sudah demikian, saya jadi teringat akan nenek saya yang cuma sekolah bambu: Jika sekolah tinggi, jika menjabat terhormat, lalu hanya berlaku naïf untuk sesuatu apatah guna? Akhirnya laksana harimau mati meninggakan belang, manusia pergi meninggal value, nilai.

Jikalau keangkuhan yang Anda beri ke publik: triliunan uang pun yang Anda beri ke masyrakat, menjadi deretan angka belaka.

Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com

Sketsa I Aries: Wellcome to Singapore: Untuk “Bunuh Diri” Pelajar dan Wisatawan

Monday, January 4th, 2010

Tujuh belas Sketsa belumlah cukup menuliskan hasil verifikasi pembunuhan David Hartanto Wijaya, mahasiswa cerdas asal Indonesia di tingkat akhir Fakultas Electrical Engineering, Nanyang Technological University (NTU), 2 Maret 2009 lalu. Kini satu lagi anak Indonesia, Aries Jasuwito, 25 tahun, seusia David, terpisah dari keluarga di Rafles City, Singapura, penghujung Oktober 2009, 23 hari kemudian polisi mengabarkan Aries tewas. Lebam di punggung, indikasi pukulan benda tumpul. Tidak ada rahang dan gigi rusak menepis sangkaan Aries bunuh diri dari ketinggian. Kata polisi Singapura yang mengaku salah satu terbaik di dunia, Aries lompat dari ketinggian. Benarkah?!

MEDIO JUNI 2009. Begitu keluar dari stasiun kereta api bawah tanah di area Stasiun MRT Rafles, Singapura, itu saya menatap langit cerah seakan dipagari monumen jangkung. Gedung-gedung di seputar tinggi. Taman di antara gedung menjadi oase publik untuk sekadar duduk sambil menenggak secangkir kopi hangat.

Burung-burang gagak hitam, berkelompok hinggap di lantai semen. Mereka turut berjalan cuek tak terganggu langkah kaki cepat manusia di kesibukan kota besar di udara cerah siang itu.

“Kami salah satu polisi terbaik di dunia”

Kalimat itu terngiang di benak saya berulang-ulang.  Saya duduk di selasar taman, sembari terus dihantui urusan kata:  salah satu polisi terbaik di dunia itu. Omongan yang membuat gemas karena kemudian terbukti tidak seirama dengan laku, khususnya di kasus David, kini bertemua pula di kasus terbunuhnya Aries Jasuwito,  sehingga begitu mengganggu!

Kalimat polisi Singapura itu dituturkan kepada Hartono Wijaya dan isteri Tjhai Lie Kiun, di saat mereka menanyakan soal penyelidikan kasus meninggal anaknya, 2 Maret 2009. Ketika mereka bersua penyidik di Kepolisian Jurong, Singapura, saya diminta menunggu di luar pagar di jalanan, karena bukan keluarga David.

Hampir dua jam saya menunggu di terik panas, dengan ubun-ubun sakit disengat matahari. Inilah laku lain polisi Singapura memperlakukan tamu. Namun sengatan matahari itu tak begitu menganggu dibanding kalimat congkak tadi, yang saktinya kemudian faktual di kasus  pah-poh adanya.

Oleh kampusnya, NTU,  David dikatakan menusuk Prof Chan Kap Luk, dosen pembimbing ditugas akhir. Setelah menusuk, David lalu melukai diri sendiri dan lompat bunuh diri. Rilis sempat berubah-ubah dikeluarkan oleh rektor NTU, Su Guaning;  Tempat kejadian perkara  langsung bersih dalam hitungan sejam; membuat kecurigaan mendalam: ada sesuatu yang tak beres dalam kematian David.

Di persidangan koroner soal David, polisi terang-terangan menemukan tiga hal yang berkait ke data digital. Pertama, ketika surat David, di Laptopnya, mengatakan bahwa ia berminat bunuh diri. Kedua, dua kunjungan ke situs berkait ke suicide. Celakanya di persidangan polisi tidak bisa menampilkan bukti digital, hashing data, atau digital finger print.

Akibatnya setelah vonis jatuh, sesuai indikasi skenario mereka di persidangan, bahwa David dinyatakan bunuh diri, maka orang tua David berikut ahli forensik digital Indonesia minta sekalian laptop David dikembalikan berikut digital konten. Polisi Singapura mangkir hingga saya menuliskan ini. Jika tak ada apa-apa di laptop itu, mengapa polisi  Singapura yang mengaku salah satu terbaik di dunia itu, takut mengembalika?

“Sebelum sidang koroner, polisi berjanji mengembalikan Laptop David,” ujar Hartono Wijaya.

Begitulah, sidanmg usai, bahkan hingga hari ini, janji tinggal janji. Inilah laku  polisi yang mengaku salah satu terbaik di dunia.

PADA 26 Oktober 2009, siang. Keluarga Jasuwito, asal Bali, memanfaatkan liburan Galungan ke Singapura: Erna, anak tertua yang kebetulan sudah kost menetap di Singapura, Joko, nomor dua, dan Aries putra ketiga, bersama ibunya, Linda Dewi Jasuwito, menikmati kawasan mall Rafles City, lokasi  di salah satu gedung di mana saya beberapa kali rehat ketika di Singapura dalam memverifikasi kasus David.

Lantas,  sedang berjalan-jalan di mall, Aries Jasuwito, terpisah dari rombongan keluarga. Kakak dan ibunya masih melihat Aries di eskalator. “Keluarga berpikir ia mungkin pergi ke toilet,” ujar Jasuwito, ayah Aries.

Setelah ditunggu Aries tak kunjung kembali.

Keluarga panik.

Mereka melapor ke polisi. Foto Aries pun dicetak. Pamflet dibuat. Keluarga menyampaikan berita anak hilang ke radio dan koran Singapura.

Anehnya: baru 23 hari kemudian polisi mengabarkan penemuan Aries.

Pada 18 November 2009, Polisi menelepon, “Silakan datang melihat kemungkinan ditemukannya Aries, silakan mengenali sosoknya.”

“Saya yang tiga hari sebelum Aries hilang sudah duluan pulang ke Bali, diberi tahu oleh isteri dengan senang, Aries ditemukan. Semula keluarga tidak diberitahu tahu bahwa Aries sudah meninggal,” tutur Jasuwito.

Jasuwito tentu senang.  Namun keceriaan segera lenyap, setelah keluarga ke rumah sakit bersama polisi, hanya menemukan jasad Aries sudah membeku.

“Saya langsung ke Singapura.  Saya melihat sendiri anak saya yang rupanya sudah diotopsi duluan tanpa pemberitahuan keluarga,” ujar Jasuwito.

Itu artinya, polisi Singapura yang mengaku salah satu terbaik di dunia ini, telah melanggar ketentuan baku secara universal bahwa mengotopsi jenazah tanpa sepengetahuan keluarga, wali, orangtua.

“Di Jasad Aries dari bagian leher hingga kemaluan tampak bekas jahitan.”

“Yang menyakitkan kami, di bagian punggung Aries, saya lihat ada lebam-lebam semacam bekas pukulan benda tumpul”

“Bagian lengan kiri Aries, ada dugaan kami, semacam dipelintir akibat menangkis sesuatu.”

Polisi mengatakan kepada keluarga, bahwa Aries  melompat  dari ketinggian gedung di daerah Simei.  Membandingkan jarak bilangan area Simei ke lokasi mall Rafles City, ibarat di Jakarta, dari  Grand Indonesia di Jl. Thamrin, Jakarta Pusat, hinga ke Pondok Indah Mall, jaraknya  nun di ujung selatan.

“Kala itu saya sudah curiga, anak saya dibunuh,” ujar Jasuwito.

“Apalagi hand phone-nya  kata polisi tak ditemukan, termasuk KTP-nya. Sama sekali tanpa identitas.”

SEBAGAIMANA Almarhum David Hartanto, jasad Aries pun oleh polisi Singapura “dipaksa” dikremasi di Singapura. Bedanya, jika David, kremasi diurus oleh kampus NTU, termasuk segenap biaya hingga ke Mandai Crematorium.

“Sementara urusan kremasi anak kami, dilakukan oleh satu perusahaan jasa yang diminta polisi. Ongkosnya mencapai sepuluh ribu dolar Singapur. Dan kami [pula harus bayar,” tutur Jasuwito lagi,   “Kami tak mampu membayarnya.”

Jasuwito lalu meminta polisi menyelesaikan urusan pembayaran.

“Kami sudah berduka, kehilangan anak kami, yang masih kami ragukan penyebab kematiannya, mohon pengertian untuk tidak dibebani biaya yang tak dapat  kami pikul.”

Sebagai seorang pengusaha UKM di dagang kain gorden, dan keperluan interior di Denpasar, Bali, angka S $ 10 ribu memang besar  memberatkan.

“Dan lebih menyesakkan dada, hingga kini kami tak dapat foto di mana Aries jatuh, atau ditemukan, sama sekali tak ada. Sama sekali tak ada keterangan.”

Dalam keadaan demikian, sebagai WNI di negeri orang,  keberadaan Kedutaan Besar RI di Singapura, seharusnya dapat dijadikan andalan tempat mengadu dan berlindung. Namun faktanya KBRI memang tidak proaktif berbuat. Kenyatan ini kian membuat perasaan “sendiri” di negeri orang kian kental. Hal itu juga dirasakan oleh keluarga David, sebagai mana saya tangkap kesan ketika memverikasi kasus David Hartanto Wijaya.

Kepada Detik.com, 31 Desember 2009 Teguh Wardoyo, Direktur Perlindungan Warga, Deplu, mengatakan meraka sudah mempertanyakan ihwal kematian Aries ini ke pemerintah Singapura. Saya mencoba menghubungi Teguh via SMS mobile phone-nya, pada 31 Desember 2009 itu juga. Namun hingga tulisan ini saya turunkan belum ada konfirmasinya.

Di saat ajalnya, Aries sudah kembali menetap di Bali, memperfasih belajar bahasa Inggris. Liburan ke Singapura bersama keluarga adalah atas permintaannya kepada orang tua. Sebelumnya selama empat tahun sebelum kembali menetap bersama orangtua di Bali, Aries belajar bahasa Mandarin di Xin Ya College, di bilangan Pasar Pagi, Kota, Jakarta Utara.

Dan Aries, jika tak ada hubungan kekerabatan dengan Anda, tentu bukan siapa-siapa. Namun di balik kematiannya, yang menyisakan kabar misterius ini, sudah seharusnya verifikasi mendalam layak dilakukan, demi mencari kebenaran.

Kendati kasus David belum tuntas saya verifikasi, semoga selalu ada energi untuk melakukan hal yang sama di kematian Aries Jasuwito. Amin ***

Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, Blog-presstalk.com