Archive for the ‘sketsa’ Category

Sketsa Puasa 3 : Indonesia Kehilangan AnimatorTerbaik

Wednesday, August 18th, 2010

Denny Alaudsyah Djoenaid, animator, ketua Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia (AINAKI) - - organisasi yang ikut saya bidani - -  berpulang, Selasa, 17 Agustus, pukul 14.50 di RSMedistra, Jakarta. Baru Senin saya menulis sketsa dunia industri film animasi, kabar duka pun mengiringi. Memorium saya tentang sosok Denny,  pernah magang  di studio animasi Yotsuya, Tokyo. Ia satu-satunya orang Indonesia pernah bekerja di Richard William Studio, London dengan ArtBabitts, Senior Animator Disney. Selain animasi, Denny,  suhu bela diri Shirorinji Kempo dengan - -  tak tanggung-tanggung — ENAM DAN, itu.

HUJAN lebat jatuh ketika saya pas turun di halte Busway di Bundaran Hotel Indonesia,Jakarta Pusat. Menunggu hujan rinai, saya duduk di bangku stainless steel, menyimak lalu lintas kendaraan, menatap ke arah air mancur Bundaran Hotel Indonesia menjadi pengalaman tersendiri.

Di menjelang berbuka puasa, 17 Agustus 2010,itu  saya menerima  sebuah SMS diteruskan oleh Rio Sasongko,animator, yang saya kenal karena menanggapi tulisan Sketsa Puasa 2 : Berpuasa Berserial Animasi Malaysia, Senin, 16 Agustus 2010, melalui medium sosial Facebook.

“Telah berpulang Bapak Denny Djoenaid, Ketua AINAKI …”

Sambil menikmat mie lamien  di sebuah restoran, ketika berbuka puasa dengan seorang kawan, di Plaza Indonesia, ingatan saya tertuj upenuh ke almarhum Denny.  Bahkan ketika kami shalat Magrib berjamaah di lantai tiga di  Mushalla terbaik yang pernah saya temui  di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta itu, doa terus saya panjatkan bagi almarhum.

Saya menelepon Rio. Saya menyampaikan penyeselan. Baru semalam saya berkeinginan menjenguknya, tetap ikini mendapatkan kabar duka.

Denny terserang kanker usus, berkomplikasi dengan diabetes.  Sebelumnya Agung Sanjaya, animator di Bali yang banyak mengerjakan bagian proses animasi serial Jepang, seperti Dora Emon, pernah pula mengabari ihwal penyakit Denny.  Namun menetap  di Jakarta terkadang membuat jarak silaturrahim, laksana  jarak  Sabang- Merauke. Sehingga kaki belum juga tergerak bertemu, dan  tahu-tahu sudah kabar duka.

DENNY Djoenaid, begitu ia akrab disapa.  Ia saya kenal di komunitas kecil animator. Pertemuan saya medio 90-an, ketika usaha yang saya bangun diambang gagal mengindustrikan animasi. Satu hal yang saya keluhkan ke Denny, kala itu mengapa kemampuan dasar menggambar sosok mengaku animator di Indonesia,   begitu lemah, khususnya dalam membuat dan memahami anatomi.

Akibat tak memahami anatomi, orang berjalan, digerakkan dengan begitu kakunya. Anatomi kucing dan macan,  yang tampaknya sama, tetapi tarikan kaki dan lompatan beda, begitu seterusnya.

“Karenanya seorang animator yang baik, yang bisa menggambar anatomi dengan benar, tahu persis, bahwa tumit kaki sebelum maju ke depan ada tempo sekitar 3 frame gambar, dimana tumit kaki belakang seakan mundur,” ujar Denny memberi petuah.

“Animator juga pengamat gerak yang paling baik.”

Ia lalu memfotokopikan buku teknik gerakan animasi yang dikeluarkan oleh Richard William Studio, London, tempat di mana ia pernah bekerja. Studio yang berafiliasi dengan Disney itu, telah menjadikan hanya Denny-lah satu-satunya oarang Indonesia, yang mampu membuat gerakan gambar animasi persis dengan kemampuan animator Disney. Kalau gambar latar yang sesuai dengan kemampuan Disney, kawan-kawan di Bali banyak yang mumpuni.

Pada 8 Juni 2004, saya bersama Achmad Hirawan, berinisiatif menemui Denny. Kami mengajak kawan-kawa nlain, untuk mau mendirikan Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia (AINAKI).  Sebab organisasi lama, ANIMA,  Asosiasi Animasi Indonesia, tidak berjalan. Maka dengan  pemahaman dasar  benar dan baik,  Denny, kami daulat berkenan memimpin organisasi itu.

Pada medio  2006, Direktorat Pendidikan Kejuruan, Diknas, pernah mengongkosi saya berdua Denny berkeliling Jawa-Bali. Kami diminta Diknas menilai kemampuan menggambar anatomi guru-guru kesenian se-Jawa dan Bali. Dalam perjalanan ke ibu kota propinsi itulah dialog saya dengan almarhum instens.

Di Jogja kami tertawa terpingkal di luar ruang kelas SMK, di mana kami menemui bahwa guru kesenian mengajarkan siswa menggambar anatomi dengan memfoto kopi anatomi  tubuh manusia. Lalu foto kopian itu di-trace di kertas menggunakan light box, alias macam orang menjiplak di kertas. Dengan cara ini, bisa dibayangkan, bukanlah pemahaman benar didapat siswa, apatah  lagi keahlian.

Saya lalu teringat ketika pernah ke Paris 1994, sempat berkunjung ke Museum Luvre. Saya bertemu dengan beberapa seniman yang menjelaskan, jika ingin mengambil studi seni lukis, diperguruan tinggi di sana, dua tahun pertama pasti digojlok membuat anatomi; orang maupun hewan. Ibarat belajar musik, belajar musik klasik dari membaca not balok, dari tingkat dasar.

“Dan membuat anatomi yang benar itu memang dengan melihat, langsung menggoreskan di kertas,” ujar Denny pula, “Karenanya, untuk menentukan seseorang itu animator atau tidak, lihat saja tarikan garisnya dalam membuat lingkaran sekali tarik.”

Hal hasil, dari lebih1.000 guru kesenian yang kami temui se-Jawa dan Bali,  tak sampai hitungan lima jari yang mampu  membuat anatomi dengan benar. Jika pun ada lima orang, semuanya dengan catatan khusus.

Atas dasar petuah lingkaran itu pulalah, saya membuat logo AINAKI dengan goresan  tangan sendiri membentuk lingkaran, sebagai  dasar mapping wajah. Filosofisnya, agar  masyarakat industri animasi, punya pondasi skill kuat, lalu tidak sekadar berkesenian. Animasi juga dominan merambah industri. Dan hingga hari ini kami masih merasa gagal mengindustrikan animasi. Lalu Denny pun sudah duluan pergi di usia setengah abad.

PUKUL dua puluh satu  17 Agustus 2010.  Bulan di langit masih setengah. Saya melangkah pulang dari rumah nomor 8 Jl. Hidup Baru, Gandaria Utara,  Jakarta Selatan. Di kediaman orangtuanya itu,  jasad Denny di semayamkan sejak petang di mana hujan lebat mengguyur datang. Di rumah bersahaja, dengan teras kecil langung ke tepian jalan itu, para tamu tampak menumpuk. Namun saya tak menemukan kawan-kawan yang pernah bergerak di bidang animasi.

Di seberang jalan sayamelihat ada lima orang anak muda yang tampak celingukan.

Saya tanyakan apa kaliandari komunitas animasi?

“Iya Pak, kami murid PakDenny  di Bina Nusantara.”

Mereka sekaan serantak menjawab pertanyaan saya.

Rupanya apa yang kami jakaki di awal mendirikan organisasi animasi, antara lain mengajak perguruan tinggi bekerjasama  untuk menumbuhkan minat dan meningkatkan jumlah SDM animator berkembang sudah mulai menggelinding.  Bagi saya ini sebuah kabar menggembirakan.

Itu artinya kebanyakan kawula muda kini yang mengoprek aplikasi animasi seperti 3D Studio Max, paling tidak di tingkat Bina Nusantara, sudah mulai diberi pemahaman oleh Denny, harus mampu menggambar dasar, antara lain anatomi.

Sebab acap kini, mereka yang mengaku animator, dengan hanya menguasai aplikasi atau software sudah kadung mengaku animator. Padahal sosok animator itu adalah insan yang bisa membuat key drawing, kunci gerakan sebuah objek, manusia, atau hewan. Dan di 3D, kompetensi visual itu bukan hanya animator, di kompetensi  animasi ada yang namanya  modeller, tukang buat karakter, dan pembuat latar lingkungan, arsitektur dan sejenis: objek tiga dimensi tapi tak bergerak. Lebih jauh, kalau bicara film, baik seri maupun layar lebar ada lagi kompetensi menulis skenario yang  tak kalah sangat penting.

SAYA kemudian pamit ke kawan-kawan mahasiswa dari Bina Nusantara itu. Kaki saya melangkah di jalan aspal basah. Bulan dilingkaran masih setengah. Leher saya menengadah: ya Allah  Denny telah merdeka, setidaknya ia terhindar dari azab kubur, menghadap-Mu  di Ramadan mulia,  semoga Surga baginya.

Kekhusyuan saya berdoa  terganggu sejenak. Sebuah SUV Range Rover hitam melintas di jalanmenurun yang tak lebar itu. Di atasnya Kusumo A Martoredjo,  Ketua Umum Pengurus Besar Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia (PB.Perkemi) periode 2010-2014, sosok yang saya temui diruang tamu kediaman orang tua Denny. Almarhum Denny juga seorang atlit langka Kempo. Prestasinya luar biasa, meraih gelar DAN VI - - tak banyak orang Indonesia bisa punya.

Dalam beberapa pertemuan di Kadin Indonesia, wajah Kusumo, pengurus Kempo itu,  tidak asing bagi saya. Ia komisaris Bumi Resouces, kelompok usaha Bakrie, bergerak di tambang batu bara. Membayangkan kemewahan mobil Kusumo,  ingatan saya melayang ke sebuah BMW putih  pernah saya beli dengan keringat sendiri awal 1990, dan mobil itu pun sudah lama ludes demi industri animasi. Di Jepang animator kaliber Denny, jangankan sebuah Range Rover, mebeli Gulf Stream G-5, pesawat pribadi, hal biasa.

Seketika saya tertawa berjalan terus menuju jalan Radio Dalam, mencari kendaraan umum yang ada. Saya lalu nyengir membayangkan kelucuan Denny memainkan gambar ketika membuat kartun iklan animasi untuk Puddle Pop, dan banyak materi iklan lain. Ia memang belum berhasil membuat serial, macam enam serial animasi wayang yang pernah saya produksi, itupun gagal masuk ke pasaran karena tak mampu menjadi 52 episode, tak bisa masuk ke pasar global..

Denny fokus bekerja untuk sesuatu yang dibayar di muka.

Seingat saya, Dwi Koendoro, pembuat Panji Koming di Kompas, kemudian pandai membuat animasi, dan kini mengaku pakar animasi, belajar animasi dari Denny Djoenaid.

Semoga kepergiannya membukakan hati dan mata pengelola bangsa ini, bahwa selain memperbanyak SDM animator, pendirian Venture Capital riil betul-betul  riil menyalurkan pendanaan bagi industri animasi nasional mutlak adanya. Karena inilah ranah credential asset sangat bernilai ekonomi. Kalimat ini pasti diamini Denny. Selamat jalan dunsanak! ***

Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com

Sketsa Puasa 2 : Berpuasa Berserial Animasi Malaysia

Monday, August 16th, 2010

Serial Upin Ipin, diputar berulang di TPI. Ceritanya kuat, walaupun secara teknis animasi,  visual tokoh utamanya hanyalah dua bocah kembar plontos, minimalis; bersekolah, bermain, berkehidupan di kampung. Literair  penggalan pengalaman  saya di industri animasi, berupaya lalu  patah di tengah jalan  mengindustrikan animasi di  Indonesia. Padahal kemampuan animator kita, jauh lebih baik dari Malaysia. Sama dengan lebih unggulnya skill anak Indonesiadi industri perminyakan. Setidaknya Dt. Noor M. Chalid, kartunis Kampong Boy, pernah ingin mengorder animasi ke saya. Pada13 Agustus lalu rasa keindonesiaan kita seakan ditampar  oleh ditembaknya  kapal Patroli Departemen Kelautan RI diwilayah RI, oleh Polisi Perairan Diraja Malaysia. Mereka menangkap tiga petugas kita. Saya menyebut langgam Malaysia ini bagaikan Orang Kaya Baru (OKB) di Indonesia . Kata orang kampung saya, mereka  ongeh - - setingkat di atas congkak. Tarian Randai Sungai Geringging, tanah kelahiran saya, pernah pula diaku Malaysia sebagai keseniannya. Namun Upin dan Ipin tetaplah menghibur! Mana serial animasi kita?

TIGA anak saya lelaki. Mereka sepuluh, delapan dan tiga tahun. Dua anak  tertua kini sudah menjalankan ibadah puasa penuh.  Hiburan utama kami di saat makan sahur bersama keluarga di Ramadan kali ini menyimak  penggelan serial animasi Upin-Ipin, produksi Malaysia disiarkan oleh TPI.

Di sebuah serialnya, Ipin membayangkan berbuka puasa melahap ayam goreng. Lalu kakaknya,  Ros, mengajaknya berbelanja ke pasar. Kak Ros memberikan lembaran ringgit, sedianya dibelikan untuk dua tiga potong ayam sahaja. Namun  Upin dan Ipin, justeru merasa dapat angin. Mereka membelanjakan semua ringgit ke aneka  ayam; ayam golek, ayam madu, ayam goreng, ayam bakar, ayam pandan.

Di pasar mereka melihat  Mail,  teman sekelas, menjual ayam goreng kegemaran Ipin.

“Kau belilah ayamaku ni ‘Pin, emak aku buat, enaklah!” Mail berpromosi.

Si kembar itu pun sepakat membeli. Tak tanggung-tanggung, semua ayam goreng dagangan Mail bersisa,mereka borong.

Visual Upin dan Ipin menenteng beragam bungkusan serba ayam dengan riang pulang. Tinggallah Kak Ros  manyun terperangah, segenap  ringgit   telah berganti ayam.

Di meja makan berbuka puasa. Meja penuh dengan  hamparan piring berisi  aneka penganan serba  ayam.

“Kau habiskan itu semua,” ujar Ros ke Upin dan Ipin. Wajah Ros dongkol.

“Tak lah Kak, tak kuat lagi kami makannya.” suara Upin dan Ipin memelas.

Susana di ruang makan di kampung melayu, Malaysia,  itu. Opa- - nenek - - lalu menasehati Upin dan Ipin dengan suara khas, bijak, bahwa kalau lagi berpuasa, di siang hari,  memang serasa semua makanan seakan terlahap,namun nyatanya di saat  berbuka, sedikit sahaja  dimakan, perut  sudah berasa kenyang.

Khas duniakanak-kanak, khas Melayu.

“Betul, betul,betul!”  ungkapan khas  Ipin.

Ia  acap mengulang ucapan lema betul, bentuk  persetujuannya  akan sesuatu.

Lalu anak Indonesia mengenallah budaya Malaysia melalui animasi. Berlanjut membanjirlah merchandising Upin Ipin, termasuk mewabah mainan tangkai es krim, diantaranya.

Lantas  pertanyaannya, mana budaya kita, mana industrianimasi Indonesia?

PANTASKAH saya bertanya ?

Setelah mencoba berbisnis di jasa iklan sejak berhenti  jadi wartawan dari majalah SWA pada 1989, dari 1993 hingga 1995, saya  fokus memproduksiserial animasi. Alasan saya ketika itu sederhana saja. Bahwa menjadi pengusaha haruslah punya produk dan atau jasa yang masuk ke pasaran. Itu pengusaha!

Kalimat itu terus saya sosialisasikan di setiap menulis mengupas kewirausahaan hingga kini. Konon, kemajuan Cina dahsyat kini, tiada lain karena kegigihan membanjiri dunia dengan manca-ragam produk.

Nah setelah  “capai” di jasa yang saya rasakan lebih banyak tangan “di bawah”, saya memilih industri tak dilirik orang ramai. Yakni serial animasi. Pilihan saya kala itu animasi wayang, dengan membuat karakter anak-anak, ada yang plontos macam Upin Ipin, namun berbaju wayang. Saya memilih judul  Burisrawa, berdialek Batak.

Mengapa wayang? Sulit bagi saya kala itu membuat cerita berserial banyak. Cerita Kancil saja, untuk dijadikan enam episode masing-masing 24 menit  - - untuk siaran setengah jam - - sudah seret kisahnya. Saya memilih Wayang Carangan, yang tak akan habis dikembangkan kisahnya hingga beratus serial.

Maka singkat kata, setelah sempat melihat-lihat ke Disney, AS, saya pun mengumpulkan animator 2D terbaik negeriini, dan membenamkan segenap uang  yang dihimpun  seperak dua perak dari usaha selama lima tahun, lalu fokus membuat serial animasi.

Sesungguhnya  serial animasi itu gampang menghitung bisnisnya. Harga penjualan paling murah serial itu per episode US $ 1.000, lalu jika kita sudah memproduksi 52 episode, untuk setahun, diputar seminggu sekali,maka perpaket US $ 52.000. Untuk melego ke-1.000 stasiun teve menayangkan di pasar global sesuatu yang dapat dijangkau.

Maka jika seribu teve manca negara membeli, akan didapat US $ 52 juta, alias Rp 500 miliar lebih,  belum termasuk pendapatan penjualan karakter untuk merchandising. Anggaplah pesimis, 10% saja jangkauan penjualan, masih diraih US $ 5,2 juta.

“Untuk meraih seribu televisi, bukan suatuyang sulit, Karena di suatu negara televisi lebih dari satu, belum termasuk hak ulang siar,” ujar David C.  Fill, Direktur Burbank, Sydney, perna hmengunjungi studio animasi  saya awal 1995.

David pula yang melihat potensi Burisrawa dengan perbaikan penambahan dialog. Ia menyanggupi memasarkan ke Eropa, Asia, Timur Tengah. Amerika Serikat  tidak bisa tembus, karena karkter yang kami buat terlalu tradisional.

Maka ketika satu episode serial Burisrawa yang kami produksi kelar, saya pun membuat sebuah event di Hotel Le Meredien pada awal 1994, membedah produksi kami. Hadir seratusan pakar, budayawan, kalangan DPR, pemerhati anak. Kritik dan pujian mengalir.

Episode pertama itu pula yang membuat Datok Noor M. Chalid - - akrab dengan tokoh kartunnya: Lat - -  menerima saya di Kuala Lumpur, 11 Februari1995. Ia menjemput saya ke bandara dengan Pajero, yang ia kemudikan sendiri. Ia mengajak ke sebuah klub eksekutif  tak jauh dari Masjid Raya, Kualalumpur. Di sana sambil makan siang dengan  nasi beralaskan potongan utuh daun pisang, kami saling tertawa, bagaimana serial Kampong Boy, dibuat di Kanada, sebagain proses dikerjakan oleh animator Filipina.

“Batang kelapa berdau npisang, pisang berdaun kelapa. Pedati jadi macam kereta kuda kerajaan, ” ujar “Lat”. Kami lalu terbahak-bahak, menertawakan para desain karakter Kanada tidak pula tahu tahu beda kelapa dan pisang, juga pedati  hanya gerobak, kayu  segi empat ditarik sapi atau kerbau.

“Segera tahun depan, saya akan berkunjung ke studiomu, kita jajaki kerjasama produksi, karena di Indonesia biaya produksi rendah,” ujarnya.

Rencana  Datok “Lat” itu tak pernah kesampaian. Sebab di penghujung 1995, seluruh dana produksi yang saya miliki dengan jumlah seria lanimasi kelar 6 eposide, mencapai hampir Rp 2 miliar terbenam sudah. Pre Letter of Intent dari sebuah televisi lokal yang berkenan membeli dan menayangkan, tak kunjung kontrak. Padahal saya berkenan mereka beli di harga berapa saja. Toh sudah ada komitmen pasar global.  Karena tiadanya kontrak, saya kesulitan mencari loan ke perbankan lokal.

Produksi yang rampung  enam episode itu mustahil dipasarkan, karena untuk tayang setidaknya perlu 13 episode, dan untuk dijual ke pasar globali dealnya 52 episode satu paket, minimum 26 episode.

Maka khatam sebuah upaya membangun sebuah animasi dalam kerangka industri itu.

Sepuluh  tahun silam kepada Agung Sanjaya, animator di Bali,  memiliki studio mengerjakan bagian proses animasi untuk banyak produksi serial Jepang, seperti Dora Emon, Candy-Candy, bahkan untuk Film Animasi layar Lebar Jepang, saya sampaikan ide untuk ke depan memproduksi serial  Wayan dan Made.

Sebab dari Sanjaya saya mengerti bahwa Jepang tidak bakalan mendukung industri animasi negara lain. Karenma itu salah satu credential asset mereka, baik sebagai industri, maupun penetrasi budaya. Di Bali orang kita hanya menjadi tukang yuntuk Jepang, sebatas meraih gaji tak seberapa.

Maka, ide tinggallah ide. Kini Indonesia, heboh Upin Ipin.

Mencari permodalan untuk bisnis kreatif di Indonesia amatlah sulitnya. Apalagi yang namanya venture capital riil yang saya teriakan sejak 25 tahun lalu, untuk dunia industri kreatif Indonesia, hingga kini masih isapan jempol belaka.

DI MEJA saya ketika menuliskan literair ini, menggeletak buku Undang-Undang Nomor11, 2008, tentang Informasi Transaksi Elektronika (ITE). Di bagian halaman awalnya ,ada tanda tangan seorang Dirjen Aplikasi Telematika, Depkominfo. Pada awal ia menjabat sempat saya paparkan potensi Indonesia di konten dan animasi. Karena, Departemen inilah salah satu yang sedianya mampu mengembangkan animasi menuju industri, bekerjasama dengan Depertemen Perindustrian dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Namun belakangan hari, sang Dirjen boro-boro mengembangkan industri animasi untuk konten telematika, malah membuat UU ITE yang mengakibatkan ranah kehidupan seakan gonjang-ganjing, bahkan seorang ibu menyusui macam Prita Mulyasari, harus dibuikan tanpa bisa pamit ke anaknya yang lagi disusui.

Kala itu saya menggugat UU ITE ke Mahkamah Konstitusi (MK), seakan seorang diri. Kawan-kawan media kal aitu belum ngeh. Sang Dirjen, di persidangan sempat membawa artis Azhari bersaudara, sehingga  konten pasal 27 ayat 3 yang saya gugat, soal beratnya hukuman ihwal pencemaran nama baik, seakan beralih ke sisi privat artis yang harus dilindungi. Dan kuat dugaan saya sang artis datang ke MK dibayar dengan  uang Departemen, uang rakyat.

Kini mantan  Dirjen itu sudah pula menjadi Komisaris sebuah bank BUMN papan atas. Dilihat dari iportofolio karirnya,  mampu melompat-lompat dalam hitungan pendek; Sebelumnya Kepala PT Pos Sumut, lalu  tak sampai setahun  jadi salah satu jajaran pimpinan Percetakan Uang Negara RI (Peruri). Maka pahamlah saya, bahwa bicara dengan pejabat  negara, menjadi seakan menghadapi tembok.

Di Departemen Perindustrian, saya pernah merintis pengadaan motion capture. Alat untuk meng-capture gerak,sehingga mempercepat proses produksi. Depertemen manganggarkan untuk dua tahun uang negara Rp 3,7 miliar sesuai dengan alat asal Inggris yang saya rekomendasikan: 18 kamera infra red, real time.

Ketika  turun anggaran tahun pertama Rp 1,7 miliar,eh, kawan di AINAKI (Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia),  dimana organisasi ini saya salah satu pendiri - -  bahkan logonya pun goresan tangan saya sendiri - -  bersama sang Depertemen, malah membeli kamera berkualifikasi sangat rendah dengan spesifikasi kualitas VGA,yang tak sampai Rp 200 juta didapat di p-asaran. Hal ini harusnya diverifikasi KPK.

Dengan membeli peralatan  dari Inggris, padahal tetap ada profit 5%,  industri tertolong peralatan terpakai untuk kepentingan industri secara riil.

Dan di tahun berikutnya saya tak tahu lagi. Konon alat yang telah  dibeli berkriteria VGA itu  menganggur. Padahal setelah motion capture, saya mengharapkan negara mendukung pembelian jaringan komputer untuk merender: Rendering farm.

Apa dinyana, wong motion capture gagal, apatah pula rendering farm.

Saya kemudian lebih memilih menulis untuk publik. Dari jauh saya amati banyak sekali sosok  mengaku begawan di dunia animasi di Indonesia,tetapi belum ada yang mampu menjadi sebuah industri memproduksi 52 episode.

Maka ketika di event Indonesia  ICT Award  (INAICTA) 2010  ini ada animasi 3D Larjo,  masuk sebagai pemenang, Riza Endartama,animator, lalu menjawab ucapan selamat saya di facebook-nya, “Iya kan berkat upaya  abang juga dulu.” Ketika masih aktif di AINAKI dulu, kami memang sempat meminta usulan kawan-kawan animator membuat rencana  serial. Larjo (singaktan Lalar Ijo) salah satu yang terpilih untuk dicarikan solusi menjadi serial, minimum hingga 26 episode, pada 2004 lalu.

Kini dalam hati terkadang ada rasa bekecil hati; apalah kita dibandingkan Malaysia kini dengan Upin Ipin saja kita telap.

Toh  Larjo saja barulah berdurasi 5 menit, tidakpula  sampai sepuluh episode.

Saya terkadang senyum dikulum. Menertawakan diri sendiri: tahu jalan menuju roma, apa daya tangan tak sampai. Jadi ingat sosok Jarjit Singh,  acap berpantun di serial Upin Ipin, “Satu dua buah manggis, gagal tak usahlah menangis.”

He he he

Begitulah kawan-kawan,sebuah narasi tentang animasi yang tak kunjung menjadi industri di negeri ini. Rindu akan pemimpin negeri ini paham akan potensi dan peluang credential asset anak bangsanya.

Selamat merayakan Har i Ulang tahun Kemerdekaan!***

Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter,blog-presstalk.com

Sketsa Puasa 1: Orang “Sampah” & Pintu Air Bersampah

Friday, August 13th, 2010

Saya  tinggal di bilangan Guntur, Setiabudi Jakarta Selatan. Guntur lebih dikenal karena di pojokan Jalan Sultan Agung dan Perempatan Jalan Guntur ada markas Polisi Militer (PM).  Di belakang penjara PM Guntur, ada Pasar Manggis, tempat kami acap membeli kebutuhan sehari-hari. Tak terkecuali gas elpiji ukuran 3 kg.  Sekelimut pengalaman memakai tabung gas elpiji 3 kg dan kisah  pemberhentian langkah di saat menjelang berbuka puasa Ramadan hari pertama di Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan.

SEJAK menjelang Ramadan, hingga puasa hari pertama, suatu kehebohan nyata di Pasar Manggis, Guntur, Jakarta Selatan. Tabung gas elpiji 3 kg, tak bertanda Standar Nasional Industri (SNI) tidak  bisa ditukarkan lagi ke pedagang. Tabung terakhir  kami pakai, bagian  mulut lehernya diberi ikat karet gelang, kajai, kata orang Minang.

Suatu petang aku pulang. Di dapur  aku menyium bau gas. Sertamerta aku cabut selang tabung,  lalu membawa “melon”  ke halaman. Dan kini tabung itu tak mau diterima pedagang, padahal sebelumnya dibeli dari pedagang sama.Dan di belakang Pasar Manggis ada perkampungan padat, yang sehari-hari warga membeli gas dengan tabung gas tanpa SNI itu. Keajaiban demikian,agaknya, mungkin cuma terjadi di ranah Indonesia.

Di awal Ramadan ini, menikmati hidup sebagai rakyat,  ihwal berpisahnya nyawa  dari badan akibat meleduknya tabung gas, membuat jasad bisa bak sampah. Seakan murah.

“Tukang gas yang 12 kg tak lewat. Telepon ke  penjual agen agak dekat rumah, dia bilang tidak ada  petugas antar,” kata isteri saya.

Maka dengan berjalan kaki, dan  menenteng tabung  “melon” ringan, menjadi pilihan keluarga kami membeli gas. Apalagi pedagang penjual gas “melon”: yang suka keliliang juga tak lewat.

Kenyatan demikian, manalah dipedulikan oleh Pertamina. Segenap pimpinan Pertamina, jajarannya, asyik sibuk  dengan rutinitas yang ada. Lagian, mereka di kantoran, sudah pasti melepaskan tanggung jawab ke para distributor, dealer dan segenap turunannya.

Dengan logika demikian, mereka membenarkan diri, tetapi dengan rendah hati  saya katakan: bolehlah sebagai orang biasa bertanya, bagaimana pengawasan produsen terhadap barang dagangan produksinya?

Apalagi urusan gas elpiji ini memang monopoli Pertamina memproduksi?

Dalam kerangka inilah kepapaan sebagai orang biasa menjadi kian tergerus asa. Bentuk kekecewaan publik satu dua meretas ke aksi datangnya warga ke istana: setelah cara dan segenap akal menjadi percuma menyampaikan kata, tak tahu lagi harus mengadu ke mana?

Puncaknya  seorang Susi Hariani yang membawa anaknya, Ido,  cacad panggang,  dari Bojonegoro mengadu ke istana, 18 Juli lalu  - - untungnya kini sudah dalam penanganan rumah sakit dibiayai pemerintah.

Lebih banyak masalah tak mengemuka ke media!

Lebih berjibun mengendap di bawah permukaaan.

Kami tinggal hanya dipisahkan Jalan Sultan Agung dan Kali Ciliwung, hitungan jarak  tak sampai dua ratus meter, bersebelahan dengan kawasan Menteng, Jakarta Pusat, dan tidak pula  sampai lima ratus meter dari kediaman Rumah Dinas Wapres, mengalami keadaan tabung gas bermasalah, bagaimana   pula warga di banyak daerah?

Jika di pusat Jakarta saja, tabung gas bermasalah beredar banyak, kuat dugaan saya, angka 9 juta tabung bermasalah  dari 45 juta  elpiji 3 kg tabung beredar kini, lebih besar lagi. Angka sembilan itu kini bisa jadi sudah sembilan belas, atau bisa jadi dua puluh sembilan?

Kedengaran mengarang memang.

Tetapi sebuah angka rabaan bisa jadi bukan omong kosong, karena tidak  ada program darurat,  aksi cepat,  Pertamina memverifikasi  perihal ke-pah-poh-an ini.

Hilangnya nyawa puluhan orang  mereka anggap biasa. Sama biasanya dengan pulang perginya mereka  bekerja di Pertamina sehari-hari menunaikan tugas, terkadang membuat mereka bagaikan robot, melupakan aras  manusia.

Macam melihat robot itulah body language Dirut Pertamina dalam sosialisasi penggunaan tabung gas 3 kg belakangan di televisi. Bahkan dalam iklan layanan masyarakat yang mereka buat pun, sang  Dirut  hanya berujar, “Tabung Gas Pertamina Aman”. Tanpa ada kerendah-hatian, membeberkan  dalam satu paparan, langkah-langkah tanggap telah mereka lakukan, lalu prihatin mendalam dari musibah  telah terjadi.

Laku demikian,  akibat langgam hidup, tak pernah lagi mau bersinggungan dengan kenyatan hidup sehari-hari. Tak ingin lagi merasakan bagaimana memasak dengan minyak tanah, bagaimana merasakan antri minyak tanah. Ketar-ketir terror”melon”. Nah bila insan “begawan” demikian dominan mengaku memimpin segenap kepentingan rakyat, sulit memang berharap bahwa mereka akan mampu menjiwai denyut-kejut rakyat, kusut-masai, mereka cincai-cincai!

SATU jam lebih menjelang berbuka  Ramadan hari pertama. Saya sengaja mampir ke Pintu Air Manggarai, yang diarsiteki Herman van Breen, pada 1922. Dulu agaknya, kawasan pengatur aliran air mengatasi banjir kanal barat ini bisa jadi tampak besar sekali.

Kini, bila Anda  berdiri di tepiannya, di sebelah kanan menumpuk batang kayu  berdiameter  lebih tiga pagutan orang biasa. Di sampingnya menumpuk gelondongan kayu lain lebih kecil. Bersebelahan, potongan-potongan kecil pecahan kayu digelontor air pasang.

Bau sekitar anyir. Anda yang alergi bau, saya pastikan akan hacin-hacin.

Petang itu saya perhatikan dua anak muda tampak memancing. Mereka bilang suka dapat lele,mujair, sesekali ikan gabus. Gabus bila di Riau dikenal Ruting, jenis ikan darat banyak gizi, sekaligus dianggap  makanan menyehatkan pria.

Di bagian kiri ada jalan menuju ke tepian air bercorak coklat. Saya perhatikan menggunung sampah mulai dari kasur hanyut, bantal, kursi pun ada. Urusan  botol plastik, patahan kayu-kayu pendek selengan, jangan ditanya jumlahnya.

Seorang bapak tua, tampak mengait pakai galah setiap aliran barang yang ada. Ia pilah-pilah botol plastik, ember plastik pecah-belah dan barang plastik  khanyut lainnya. Dari binar matanya terlihat bagaikan orang mencari butiran intan di Martapura, Kalimantan Selatan.

Di bagian atas bersebelahan dengan jembatan  kereta api Manggarai, sebuah gubuk seukuran kandang ayam, menaungi  tempat tinggal seorang nenek tua. Nenek bongkok itu menjemur potongan kayu basah dari kali. Ia hidup dari menjual potongan-potongan kayu kecil yang kini kian dicari masyarakat sebagai kayu bakar.

Petang  merembang menjelang  berbuka pusa itu, saya membayangkan sosok Fauzi Bowo, Sang Gubernur Jakarta ini, ada berdiri di samping saya. Ia ada sebagai rakyat biasa, melihat bagaimana gunungan sampah, bau apek, kumuh,  anyir, dan nenek tua renta tidak nyinyir masih bekerja.

Sayang, yang saya terima dari sang Gubernur sehari menjelang Ramadan, hanya ucapan selamat menunaikan puasa Ramadan via SMS saja.  Ia mengajak semoga amalan puasa diterima  Tuhan.

Terima kasih gubernur.

Selama Ramadan pula dirilis ke media oleh  Pemda DKI , gubernur akan berkeliling melakukan  Shalat tarawih. Tak ada agenda menginjak kenyataan riil kehidupan warga DKI, yang air got, paritnya,  mampat, kalinya belum bersih jua. Giliran hujan, air berlepak-peak di jalanan, kemacetan menjadi-jadi.

Solusi angkutan massal belum juga terealisir. Proyek MRT sudah tiga tahun bergulir, terindikasi baru hanya memakan APBD untuk perencanaan tok, sudah lebih Rp 200 miliar.

Anehnya, Monorail, jelas-jelas terindikasi lebih - - sebagaimana pernah saya tulis di Sketsa - - kepada perebutan kepentingan pengusaha, bukan demi kepentingan publik, tak berani juga diputuskan untuk  dilanjutkan oleh sang gubernur. Pilar-piliar Monorail  yang berdiri kini dengan  investasi awal PT Adhi Karya, tetap saja berderetan karat sunyi.

Apakah kemudian lalu menunggu ada warga DKI menampar muka gubernur dan segenap jajaran pemda DKI dalam arti riil?

Tulisan Sketsa Ramadan ini aku tulis dengan ajakan, sebelum tamparan riil itu terjadi, macam “kenekatan” Ibu Ido datang ke  istana, marilah beramadan dalam arti riil, jauhkan diri dari seremoni. Apalagi beribadah demi seremoni. Injaklah bumi, temuilah rakyat, rasakan denyut kehidupan rakyat nyata.

Toh semua dana kalian mainkan, dari rakyat jua asalnya.

Lain tidak!

Jika itu dicamkan, aku yakin Ramadan kali  ini menjadi puasa berbeda.

Memartabatkan harkat manusia dengan mutu kehidupan, mulia adanya!***

Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter,blog-presstalk.com

Sketsa: Awal Ramadan Berlimpah Meteor Semoga Banyak Berkah

Monday, August 9th, 2010

Awal Ramadan ini penghuni bumi akan menikmati hujan meteor. Agaknya dapat dinikmati mata telanjang. Rabu Malam, 11 Agustus menjadi puncak langit berkilau membiru-biru. Semoga pertanda alam yang terjadi 133 tahun sekali ini membawa berkah. Amin. Di bumi, di selatan Jakarta, kususnya, di Sabtu petang hujan membuncah-uyah. Benak saya tak habis pikir mengapa ruas jalan Karet Belakang, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, sejak 1970, belum juga memiliki got mengalir airnya? Di samping jalan, gedung tinggi berdiri berendeng-rendeng. Parit patah tertutup tanah. Tentulah berjibun ruas jalan lain tak berparit. Ihwal got dan air tidak mengalir bermuara ke peradaban tak kunjung baik mutunya. Sudah 2010?

KETIKA SMA dulu, kami memiliki kegiatan ekskul di Lembaga Ilmu pengatahun Indonesia (LIPI). Salah satu yang kami minati menyimak langit, menikmati wejangan tentang dunia astronomi. Masih lekat dalam ingatan saya bagaimana Dr. Karlina, wanita ahli astronomi Indonesia pertama memberi kami segala info.

Pekan ini, tepatnya pada 11 Agustus malam, mereka gemar mengeker langit akan dimanjakan rentenan fenonema alam; Venus, Mars, dan Saturnus lebih berkilau menghiasi langit mulai sejam setelah Matahari terbenam sampai akhir malam.

Ketiga planet itu membentuk segitiga dengan Venus, bersinar paling terang di titik bawah. Mars mengiringinya di kiri atas dan Saturnus di sisi kanan. “Ketiganya bergerombol di area yang relatif kecil dan membentuk formasi memikat,” ujar Joe Rao, astronom yang menulis untuk situs Space.com, Sabtu 7 Agustus.

Venus mudah terlihat dengan mata telanjang hanya dengan memandang ke arah barat dan barat laut. “Mars dan Saturnus sulit, karena sinarnya cuma 1/150 dari Venus,” kata Rao. Dia menganjurkan penggunaan teropong untuk bisa melihat formasi segitiga planet itu.
Venus, Mars dan Saturnus bakal mengakhiri penampilan bareng mereka, yang dimulai awal bulan lalu, tepatnya 12 Agustus mendatang. Badan Antariksa Amerika Serikat NASA mengatakan planet itu menghilang di kegelapan langit sekitar pukul 10 malam.

Saat itulah fenomena langit berikutnya menyusul: hujan meteor Perseid. Fenomena ini sebenarnya telah berlangsung sejak 17 Juli, puncaknya pada 12 Agustus, bertepatan dengan awal Ramadan.

Hujan meteor Perseid muncul akibat serpihan ekor Komet Swift-Tuttle, melintasi Galaksi Bima Sakti, 133 tahun sekali. “Bumi melewati garis orbitnya. Ketika memasuki lapisan atmosfir, serpihan ekor komet menguap, dan menciptakan meteor,” kata Rao.

Jika cuaca mendukung, masyarakat bisa melihat hujan bintang jatuh di semua tempat.

“Paling bagus lihat di langit yang gelap, jauh dari cahaya kota,” ujarnya. Menurutnya, waktu terbaik untuk menyaksikan show spektakuler ini ada dua malam: Rabu 11 Agustus menjelang tengah malam sampai menjelang subuh Jumat 13 Agustus. “Pengamat langit yang sabar, didukung cuaca bagus, bisa melihat sampai 60 bintang jatuh per jam,” kata Rao.

FENOMENA alam menjadi acuan makhluk hidup khususnya bagi manusia pemilik mandat akal di bumi. Mereka terbiasa menatap langit, macam memahami ilmu Geomensi berkembang di Cina kuna; kapan sedianya menyemai bibit, kapan menanam, kapan pula tempo menyerang di tenggat peperangan sekarat: arah angin, aliran air, aroma tanah, suara semak, jejaring robek tarantula, semuanya pertanda.

Satu keutamaan Geomensi saya pahami, air mestilah mengalir.

Konon di surga juga di mana air mengalir.

Maka ketika menelepon seorang kawan di Sabtu, 7 Agustus, yang baru pulang berlibur ke Beijing dan Shanghai, Cina, saya tanya bagaimana dengan got dan saluran air di sana?

“Kalau di Orchad Road, Singapura gorong-gorong utama berdiameter tujuh meter, di Shanghai bisa dua kali lipat,” ujar Masnun, sebut saja kawan itu demikian.

Lama saya tak jumpa dengan Masnun. Sejak medio 1980-an ia berkecimpung di urusan properti. Ia pernah bekerja di kelompok usaha besar. Kelompok usahatempatnya bekerja, kini saya kritisi terindikasi menggelapkan pajak. Kini ia mengurusi investasi Korea di sebuah kawasan resor hotel di Bali. Sehingga ihwal sanitasi, lingkungan, pastilah menjadi perhatian seriusnya.

”Orchad dengan saluran air besar dalam setahun terakhir, sudah tiga kali dilibas banjir, walaupun dalam hitungan tak sampai enam jam, banjir kering mengalir.”

Bandingkan dengan Jakarta dominan ruas jalannya banyak tak berparit. Sabtu petang kemacetan hebat terjadi. Informasi dari Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya menyebutkan bahwa genangan air mengakibatkan arus lalulintas terputus di Cireundeu arah Kampung Gunung.

Genangan air mencapai 30 cm, di depan SPBU Shell, Mampang, Pasar Cipete, Duren Tiga, Kemang Timur, depan Hotel Grand Kemang, Fatmawati Raya Selatan, Haji Nawi, membuat kemacetan parah hingga ke Arteri Pondok Indah.

Jalan Veteran menuju Tanah Kusir tak bergerak. Hal sama terjadi ke arah pinggiran Jakarta, Pasar Rebo-Jalan Raya Jati Asih, hingga pintu tol Jati Asih, Kota Bekasi, semua kendaraan tak bergerak.

Bila dalam keadaan demikian, duduk di dalam sebuah Mercedes Benz S 350 terbarupun Anda, tidak lagi berasa nyaman. Otak buntu. Dengkul kaku. Punggung ngilu.

Begitulah bila air tidak mengalir.

Tentulah banyak ruas jalan lain stagnan. Jika Anda menyigi tatap sekejap, maka tampaklah bahwa banyak jalanan di Jakarta itu tak berparit, kalau pun ada got cuma sedikit.

Dari parit nan seketek itu dominan mampat. Lebih sadis, got ditimbun tanah, dibiarkan padat menahun, macam di lingkungan Karet Belakang daerah pertama saya injak ketika pertama ke Jakarta pada 1979. Dan hari ini tak beda. Parit di kiri kanan jalan belum tuntas mengalir - - jika enggan menyebut tersbumbat dan tak pernah digali.

MINGGU, 8 Agustus pagi, saya memperhatikan batang-batang pisang pernah ditanam almarhumah ibu saya di kiri jalan persis di trotoar, hanya di ruas belasan senti meter antara aspal dan tubir got. Batang pisang itu macam memagari Masjid Babussalam, Jalan Karet Belakang itu.

Satu dua tandan pisang kepok masih bersemangat berbuah. Batang nangka, berdaging buah tebal berwarna kuning emas, sengaja dibawa dari kampung dulu bibitnya, kini masih berputik bergelayutan, kandati kini sulit menungu buah hingga matang, karena belumlah menua sudah disikat entah oleh siapa.

Di kiri di dalam parit di bawah pohon pisang itu, air seakan menumpuk tak mengalir. Dari air mampat itu dulu, ibu suka menyiduk dengan bekas kaleng biskuit diberi tangkai kayu pengait. Air comberan itulah menjadi pupuk tanaman di pinggir jalan. Itulah satu-satunya muara aliran air menghijaukan sebuah titik Jakarta. Di sebelah ruas dari Masjid Babusalam itu, got tertutup tanah, begitu pula di belahan kanannya.

Menahun tidak berubah.

Jika Anda pembaca rutin Sketsa saya, tentulah masih ingat bagaimana saya pernah menuliskan, bahwa sebuah kendaran berpelat CD berbendera Jerman, sengaja menghentikan mobilnya. Ruas jalan ini, memang acap menjadi lalu-lintas alternatif menembus Jalan Sudirman, Karet Depan ke Rasuna Said, Kuningan. Penumpang mobil berdasi berjas rapi menghampiri ibu almarhumah yang sedang menyiram pohon pisang.

”Banana?”

”Yes…” kata ibu saya.

Lalu terjadilah percakapan ala Tarzan, antara mereka berdua. Ibu tak bisa berbahasa Inggris selain yes no.

Momen itu jika saya ingat, membuat geli kali. Dua orang berbeda bangsa berdialog dengan lema masing-masing, namun saling tertawa.

Sosok pejabat kedutaan asing lalu geleng-geleng kepala tak habis pikir, di antara aspal, bibir jalan, kok, bisa tumbuh pohon pisang?

Dan di Minggu pagi kemarin, saya pun geleng-geleng tak berhenti membayangkan Jakarta banyak jalanan tak berparit, dan berani saya menduga lebih tujuh puluh persen parit di DKI Jakarta ini tidak mengalir airnya.

Itu artinya, Jakarta memang bukan surga.

Bisa jadi satu kalimat di atas sebuah ungkapan bodoh. Orang Betawi akan bilang, empok elo bilang Jakarta surga?

”Betul, betul, betul, ” mengutip sosok animasi Ipin, di serial Upin-Ipin.

Toh sebagaimana sudah saya tuliskan di atas, konon surga di mana air mengalir.

Terkadang terpikir di benak ini, bila berkesempatan menjadi Gubernur DKI, dengan satu program saja: Mengalirkan air ke segenap parit, got, gorong-gorong, kali bersih mengalir ke laut.

Namun apa daya, bercita-cita jadi pejabat kini tanpa fulus plus agaknya akal bulus, ibarat bermimpi di siang bolong. Apalagi belum tampak program gubernur sekarang signifikan memperbaiki kota. Sosoknya sudah pula pindah partai. Ia kini menjadi pengurus sebuah partai politik lain, terindikasi demi menyiapkan diri untuk jabatan kedua.

Begitulah. Selamat memasuki Ramadan, bulan yang membersihkan jelaga hati. Semoga.***

Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com

Sketsa: Bicara Snack, Subtitusi Beras, Smesco UKM Festival

Saturday, July 17th, 2010

Ketika di Uni Emirat Arab kwartal pertama 2010, saya sempat dua kali mengunjungi Global Village, Dubai, kawasan luas bagi arena pameran dagang yang berlangsung Desember-Februari setiap tahun. Stand pameran yang ramai dikunjungi, seperti Iran, dominan menjual makanan kecil. Melihat Smesco UKM Festival ke-8, di Jalan gatot Subroto, Jakarta, tahun ini, berlangsung 14-19 Juli, peluang makanan khas Indonesia jika merambah pasar Timur Tengah dan Asia Selatan menjadi begitu terbuka lebar. Sketsa akhir pekan uhwal makanan kecil, subtitusi beras: ada beras dari singkong, sepenggal kecil catatan dari pameran.

BUNGKUSNYA menggunakan daun pelepah jagung. Isinya wajik, berbahan ketan diolah santan dan gula merah. Sebungkus seukuran tiga jari tangan. Deretan lima wajik ini dijahit merangkai, di tengahnya berlogo bertuliskan Wajik Kletik Dibungkus Klobot, Ibu Prajitno. Dibawah logo tertera tulisan: Sejak 1969, di Blitar.

Di daerah saya, Sumatera Barat, wajik lebih berminyak seperti Kalamai, atau dikenal dodol oleh orang Betawi. Keduanya sangat mengandalkan santan kelapa. Namun wajik Kletik, lebih kering, dominan berasa gula merah.

Manca ragam makanan tradisional kita secara tekun tahun-menahun telah memiliki pasar sendiri. Membuat wajik masuk ke pasaran, sejak 1969, sebuh perjalanan ketekunan panjang. Prestasi demikian dimiliki oleh banyak Usaha Kecil Menengah Indonesia (UKM) Indonesia. Karenanya sebuah pameran nasional menampilkan mereka, bisa menjadi langkah menuju merambah pasar global.

”Saya juga sangat yakin hal itu jika digarap dengan baik akan menjadi peluang besar,” ujar Wahid Supriyadi, Duta Besar RI di Uni Emirat Arab, ketika saya jumpai di Abu Dhabi.

Wajik Kletik, salah satu contoh makanan tradisional yang saya temui di Pameran Smesco UKM Festival saat ini. Makanan tradisional, kemasan tradisional, khas Indonesia. Tidak berlebihan snack tradisional ini memiliki potensi sebagai camilan menyaingi makanan kecil Iran, misalnya.

Di Global Village, Dubai, stand pemeran Iran, dipenuhi aneka manisan, kacang-kacangan yang mengundang pengunjung antri datang. Dan bukan suatu mustahil jika, aneka wajik ada di stand Indonesia, apalagi kemasannya pun khas berbahan alami seperti Wajik Kletik, stand pameran Indonesia saya duga akan diserbu pengunjung.

Itu baru dari ranah wajik. Bicara kacang-kacangan, negeri ini juga tak terhitung kreatifnya. Di kampung saya, di Sungai Geringging, Sumatera Barat, usaha rumahan kipang kacang: kacang tanah segar yang digongseng kemudian diadon dengan gula merah kental dan dipress rata, dipotong kotak seukuran dua jari, lalu dikemas dengan daun pisang kering. Hmm rasanya khas, pilihan kacang segar, tanpa ada bagian kacang yang busuk; gula merah kelapa dan digongseng dengan api bara kelapa.. Sebuah karya tangan dan hati. Hingga saat ini rasa Kipang Kacang kampung tak tertandingi oleh industri yang membuat penganan sejenis.

Khusus kacang, di Smesco UKM kala ini saya menemukan gorengan kedele segar dari Salatiga dikemas dalam plastik. Keunikannya, kedele segar dipanen petani, itu langsung diolah, sehingga cita rasanya khas.

Ranah perkacangan itu, jika disimak dari Sabang sampai Merauke, tidak berlebihan saya mengatakan berlimpah ruah aneka olahannya. Tinggal bagaimana mengemas, memastikan volume, potensi pasar global sungguh terbuka lebar.

Selain kacang di Smesco UKM Festival saat ini, ada juga beragam kerupuk. Salah satunya kerupuk ikan pipih khas Kuala Pembuang, Seruyan, Kalimantan Tengah. Kerupuk sejenis di Palembang dikenal sebagai kerupuk Ikan Belida. ”Volume produksi kami bisa lebih besar dibanding Sumsel, karena potensi ikan pipih lebih besar,” ujar Sanusi, sang pedagang.

Volume memang salah satu masalah untuk memasarkan. Jika pasar global dibuka, biasanya permintan rutin bervolume besar. Umumnya tuntutan untuk mengisi jaringan supermarket.

Jika saja satu topik kerupuk Ikan Pipih atau Belida ini digarap secara nasional, dengan volume yang tertakar secara nasional: maka satu lagi lahir makanan khas Indonesia merambah pasar dunia. Perihal yang demikian seharus menjadi perhatian besar HIPMI, atau Kadin Indonesia. Bukankah yang disebut pengusaha itu sosok memiliki produk dan atau atau jasa? Sedangkan skala, besaran dari produk dan atau jasa itu merambah pasar. Makan saya suka tak habis pikir jika banyak orang kebingungan tak tahu harus mengusahakan apa?

Jika saja makanan khas, makanan kecil, ranah kuliner negeri ini sejak lama didukung untuk merambah pasar secara luas, betapa meriahnya.

Dua pekan lalu saya berjumpa dengan dua ibu turis malaysia di Bandung. Ia mengatakan salah satu hal mengundang minat mereka mara ke Bandung adalah: ”Di Bandung banyak nian pernik makanan kecil enak rasanya.”

TEROBOSAN membuat makanan non beras, layak diacungkan jempol kepada Prayitno, asal Penajam, Kalimantan Timur. Di Smesco UKM Festival kali ini, ia menampilkan beras yang ia beri tajuk MUSI (Mutiara Singkong). Wujudnya bagaikan beras yang terpotong-potong, putih persis beras. Namun bahan bakunya singkong.

“Sejak empat tahun lalau saya berkutat mencoba membuat produk pengganti singkong, pilihan akhirnya ke Musi,” ujar Prayitno.

Kini dalam sehari ia memproduksi 50 kg Musi. Konsumennya baru dalam lingkup kecil di seputar Panajam, Kaltim. Ia menjual Rp 4.500 per kg. Secara berseloroh saya sampaikan kepada Prayitno bahwa ia lebih kreatif dan bermartabat dari dominannya orang Panajam, Kaltim berbisnis batubara. Prayitno tertawa.

“Masyarakat acap mencampur Musi dengan beras Raskin, lalu jadi lebih pulen, beras Raskin menjadi terasa Rojolele,” ujar Prayitno berpromosi.

Upaya kerasnya empat tahun mencoba membuat alternatif produk pengganti beras ini luar biasa. Jika boleh disebut, agaknya, inilah produk terunik yang saya temui di Smesco UKM Festival dari ranah makanan ini. Anda tertantang mencoba Musi? Smesco UKM festival ini masih dapat dijumpai hingga esok.

Dan jika belum puas dengan beras putih, di stand lain dari Supiori, Papua, Anda dapat menemukan beras merah. Namun bahan bakunya dari buah Manggrove. Biji tanaman diolah, dikeringkan, kemudian dihancurkan. Wujudnya lebih halus. Rasanya seperti beras, namun mengandung unsur serat sangat tinggi. Family Star produsennya menjual Rp 30 ribu per kg. Dan konon dimasak sedikit saja beras mangrove ini akan mekar.

Maka dari menyimak khasanah makan kecil, alternatif bahan pangan pengganti beras, tiada lain kalimat saya, negeri ini memang kaya raya dan seharusnya warganya tidak yang miskin dan berkesulitan hidup.

Kiranya Smesco UKM Festival ini memang harus rutin berlanjut, sehingga fisik bangunan yang bagiannya ada dibuat berbentuk topi tentara Romawi itu, berkonten sesuatu yang dapat menjadi wadah mempromosikan industri UKM kita dalam skala lebih luas menjadi jenjang merambah pasar global.***

Iwan Piliang, blog-presstalk.com

Sketsa: Tulang Serikat Pekerja dan Paloh di PHK Papandayan.

Friday, July 16th, 2010

Perjalanan menulis Sketsa, dominan mereportase. Sebutlah dari reportase tukang patri menaut jalanan Jakarta, Kalimati Pademangan seumur Jakarta tak mengalir, kasus pembunuhan David, dipenjaranya Prita Mulyasari hingga memulangkan Ziyad ”terpenjara” 8 tahun Uni Emirat Arab. Berbeda dengan media mainstream memiliki rapat perencanaan, Sketsa esok, acap saya tak menduga menuliskan apa. Pada 14 Juli lalu, kaki telah menggerakkan saya berada di ruang Menteri Tenaga Kerja, pukul 13.00. Menteri menerima 44 orang Serikat Pekerja Mandiri Hotel Papandayan (SPMHP), Bandung. Ketika mengkonfirmasi via hand phone kepada Elman Saragih, Direksi Media Group, wartawan senior di Media Indonesia; bertanya mengapa Surya Paloh enggan menuntaskan PHK karyawan Hotel Panpandayan, Elman menjawab, ”Saya sedang ada pekerjaan.” HP-nya lalu dimatikan. Begitulah langgam wartawan menanggapi kerja dunianya sendiri. Bukan dunia lain.

TENGAH malam di berita malam sebuah televisi, 15 Juli saya menyimak bagaimana rombongan para advokat di Mahkamah Agung ribut. Pagi harinya koran Rakyat Merdeka menurunkan headline berjudul Gaduh, Pengacara Hina Ketua MA. Di situ juga ada foto Ketua MA, Arifin Tumpa menggeletak di lantai di barisan kaki para anggota Kongres Advokat Indonesia (KAI) dan Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi). Mereka bertikai. Mereka menepuk dada demi pengakuan, so paling absah.

Sikap dan laku yang tersiar ke media itu, tidak mencerminkan lagi adab, norma, hukum yang harus dijunjung.

Siang harinya, setelah sempat menghadiri pertemuan Serikat Pekerja Mandiri Hotel Papandayan (SPMHP), Bandung dengan Menteri Tenaga Kerja, saya mencoba mengkonfirmasi kepada Heyden Lubis, advokat PT. Citragraha Nugratama-Hotel Papandayan, di Bandung. Saya bertanya ihwal kalimatnya kepada serikat pekerja, mengapa begitu kasar berkata kepada serikat pekerja ini bahwa sesuai penuturan Asep Ruhiyat, ketua SPMHP, sang pengacara ini berujar, ”Sampai tulang pun serikat pekerja tak akan menang.”

Melalui saluran selularnya, Heyden dengan nada tinggi mengatakan, ”Saya tak pernah mengatakan begitu.”

”Dan hotel ini juga tak ada hubungan kepemilikan dengan Surya paloh,” ujarnya dengan nada sama.

Saya katakan di depan saya ada dokumen kepemilikan Surya Paloh sebesar 95% akan PT Citragraha Nugratama, pemilik Hotel Panghegar. Lagi Heyden membantah. ”Tak ada Surya Paloh memiliki hotel ini.”

Demi sebuah sambutan lebih baik, saya mengirim SMS ke selularnya menuliskan nama saya, jabatan di karir jurnalisme yang pernah saya sandang, plus, sertifikasi saya di dunia investigasi. Ia membalas, ”Saya lawyer di Matraman, Jakarta. Nada saya bicara memang seperti ini.”

Saya membayangkan bagaimana para karyawan di serikat pekerja ini berhadapan dengan wakil manajemen perusahaan yang dimiliki oleh Surya Paloh, kelompok besar itu?

Sebagai sosok yunior Surya Paloh di HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda, di mana saya pernah menjadi member dan pengusaha), acap saya memperhatikan ia berpidato sejak lama beretorika mulia. Bahkan di majalah Nasinal Demokrat, di mana di edisi perdananya, ada tulisan saya soal Transfer Pricing, yang diminta tuliskan oleh Noorca M. Massardi. Di majalah itu saya membaca idealisme besar bagi perubahan bangsa ini ingin digadang Surya Paloh, tak terkecuali untuk ranah pekerja.

Kernyataan ihwal Hotel Papandayan ini, bagi saya seakan lain kata dengan irama, beda angguk dan anggap. Retorika lawyer mereka mengatakan bahwa Hotel Papandayan bukan milik Paloh, dibantah sendiri oleh oleh Sugeng Suparwoto, wartawan di kelompok Media Group - - pemimilik utamanya Surya Paloh.

“Memang benar hotel ini milik Media Group dan Surya Paloh. Manajemen sudah bertindak wise, tetapi bisa saja yang terjadi political blowing.” Saya mengutip Rakyat Merdeka.

Saya tak paham apa maksud lema political blowing. Agaknya, Anda sidang pembaca lebih mafhum?

Bagi saya ini esensinya urusan hati saja, urusan nasib pekerja di tengah kepentingan investor.

Sugeng mengaku manajemen sudah menempuh semua prosedur dan ketentuan perundangan sebelum melakukan pemutusan hubungan kerja. Ia juga menegaskan sudah melakukan diskusi dengan Disnakertrans, karena hotel direnovasi menghabiskaan waktu 12-18 bulan, memakan waktu panjang, maka diizinkan melakukan PHK.

Ihwal pesangon, paparan Sugeng pula di Rakyat merdeka: dilakukan dengan dua kali pesangon, ditambah dua kali pendapatan lainnya ditambah 15 % hal lain ditambah tiga bulan gaji.

Katakanlah kalkulasi Sugeng ini benar.

Kepada salah satu pekerja yang sudah bekerja 21 tahun saya tanyakan, ia akan menerima uang PHK total Rp 50 juta. Jumlah Rp 50 juta angka itu jika diambil tetap akan divisit menutupi cicilan kredit rumah yang sudah terlanjur mereka beli, misalnya. Sementara untuk mengikuti ketentuan berlaku, ia masih memiliki kesempatan kerja tiga belas tahun lagi hingga usia 55 tahun masa pensiun. ”Kami membutuhkan pekerjaan, di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan kini, ” ujar Asep Ruhiyat.

“Lagian perusahan tidak bangkrut. Ketentua itu berlaku jika perusahaan bangkrut.”

Otomatis perihal ini yang tidak diterima karyawan., Papandayan kini melakukan renovasi menjadi lebih besar gran. Dan jika Anda ke Bandung, Hotel yang terletak tak jauh dari Gedung Sate itu, memang kini memang tampak sedang melakukan finishing bangunan megahnya.

Atas penolakan PHK sepihak itulah maka serikat pekerja mengajukan penuntun ke pengadilan, dengan resiko mereka dikucilkan dan tak digaji. Maka kemudian keluar keputusan pengadilan kasasi, meminta perusahaan membayarkan gaji April dan Mei 2010, sebesar Rp 93.995.492. Dan meminta perusahaan pada 1 Juli 2010 hadir ke Pengadilan Negeri Bandung. Namun entah faktor apa, pihak perusahaan tidak tampak batang hidungnya. Atas dasar itulah mereka merasa perlu mengadu ke Menteri.

Lebih dari tiga orang karyawan serikat pekerja yang saya temui; mengaku serabutan sejak adanya kasus ini. Mereka tidak bergaji. Salah satu isteri karyawan stress, sampai harus dirawat di rumah sakit. Arif Rahman, yang saya temui di bawah tiang Merah Putih di depan Gedung Depnaker mengatakan ia harus bekerja serabutan, mencari barang bekas, menjadi calo menjualkan apa saja, termasuk HP bekas untuk sekadar seperak dua sehari. Bahkan salah seorang persis di depan pintu masuk ruang kerja Menteri Muhaimin Iskandar, memperlihatkan di HP-nya. Ia menjadi tukang cat gedung. Ia memanjak bak cicak hingga ke lantai 6 bangunan, padahal sebelumnya, ia hanyalah petugas front office hotel.

Memang menjadi pertanyaan, jika mengembangkan Papandayan menjadi lebih besar, mengapa pula harus mem-PHK, toh setelah beroperasi, hotel ini membutuhkan lagi karyawan baru? Di sinilah letak soalnya. Acap pemilik modal menyerahkan segalanya ketatanan hukum berlaku, setelah tatanan hukum itu diikuti dan serikat pekerja terbukti menang di pengadilan, hukum itu sendiri masih belum ditunaikan sang pengusaha.

Karenanya kuat dugaan saya, pihak manajemen dan pemilik tak senang dengan gaya adanya serikat pekerja. Dan jika menelusuri sejarah di kelompok usaha Media Group, dengan mudah Anda mendapatkan di Google.com, bahwa pembentukan serikat pekerja di kelompok Media Group itu pun, terindikasi tidak diingini oleh Surya Paloh.

Kalau sudah begitu, sebesar apapun keinginan ambisi, perihal esensi dasar pekerja saja kita lupakan, menjadi tanya besar akan cita-cita agung. Dalam kerangka inilah saya selama ini bertanya terhadap corak langgam para pemilik media, televisi.

Lalu apakah karena hal ini pula lantas keluar kalimat political blowing? Kendati saya tak paham diksi kalimat ini, saya mengira maksudnya sebagai membesarkan untuk kepentingan politik. Tentulah jauh panggang dari api.

Ini murni urusan hubungan pengusaha dengan tenaga kerja, yang mengesampingkan hati.

Khusus terhadap serikat pekerja ini, kini, mereka di depan hukum telah menang tanpa harus menunggu tulang? Apakah ada kerendahan hati memenuhi ketentuan hukum, apatah lagi ada kerendahan mempekerjakan mereka kembali? Kembalikan ke ego pemilik saja tampaknya.***

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.com

Adil Belum Beli Buku Kelas Enam Es De

Tuesday, July 13th, 2010

Oleh Iwan Piliang

Bis Kopaja Enam-Enam petang itu menabrak jalur Busway menuju Manggarai
Metro Mini Enam Dua melanjutkan perjalanan menuju Pasar Minggu,
Adil kelas enam es de seusia anak pertamaku menjadi kernet
Ia bilang ibunya sudah berpulang

Adil pagi sekolah, siang hingga larut mengkernet
Ia perlihatkan dua garis di pangkal pahanya biru-biru
Ayahnya sang supir suka memukul
Adil menundukkan kepala menekuk kaki di pojok kiri

Adil, penumpang! Teriak si supir
Di perempatan Pancoran , billboard berukuran lapangan volley
Presiden dan Ibu Negara bervisual beragam kegiatan: Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat
Adil bilang buku kelas enam es de-nya belum terbeli

Di Durentiga menyeberang berselingkitan motor menabrak lampu merah
Motor bikin penumpang bis komprang-komprang berkurang
Berlabuh ke sebuah cafe bertajuk O, o-alah, ruko-ruko bersulap berdandan meng-cafe
Petuah sang kawan di cafe O, setiap kekayaan tambun cenderung berunsur kriminal

Sang kawan di Bareskrim Mabes Polri, mengaku gamang melihat kejahatan kerah putih
Lalu kami malam-malam menenggak dingin eskrim
Lantas hujan berlabuh rusuh, bertanya haruskah mengkriminil baru meluruh lusuh?
Membayangkan mengirim mimpi ke Adil menyeruput es krim

Di jalanan pukul dua tiga tiga puluh bis telah tiada
Menyusuri jalan raya Pasar Minggu menuju Pancoran
Rombongan pengajian Mejelis Zikir Rasulullah menyemut baru usai
Lapak pedagang sarung, kopiah, mukenah, minyak wangi, menepi jalan masih berdiri

Adil kiranya sudah di peraduan, hanya sebuah omprengan tua saja lewat
Dua gadis dan beberapa penumpang pria berwajah lusuh acuh
Mereka bekerja di sebuah rumah sakit
Mereka bilang jumlah pasien meningkat, insomnia dan lainnya penyakit.

Berjalan dari Pasar Rumput menuju rumah
Enam pasang tunawisma terlelap di pelataran toko-toko sepeda
Nyanyian nyamuk menyeka minat menggigit darah pahit
Tujuh gerobak membalut tubuh, membayangkan Adil tidur pulas bak manusia gerobak

Satu dua pengumpul berang bekas memilah gelas dan botol plastik
Menghitung bak lembar dolar di sebuah money-changer di sepelemparan batu Menteng
Tiga wanita ber-rok pendek di keremangan Pasar Rumput lalu empat lelaki menari-nari
Musik dangdut menghentak mengingatkan senandung kernet Adil di bis tadi petang

Sebuah lampu menyorot kepala patung sosok Gajah Mada di Markas PM Guntur
Bertanya ke hati, wajah asli Maha Patih Gajahmada-kah?
Hidung melengkung, muka keras, garis di jidat melilit, dagu belah kotak
Sejarah kadung menghafal tahun tanpa perlu verifikasi apalagi berguna nyanyian prestasi

Alam seakan tak perlu membaca mengejawantahkan lema adil
Membuka lembaran kamus Bahasa Indonesia yang lusuh
Adil: tidak berat sebelah, tidak memihak; berpihak kepada kebenaran.
Dapatkah kelak sosok kernet bernama Adil menjadi insan nan adil?

Menatap anakku, membayangkan Adil yang belum membeli buku kelas enam es de.
Anakku pun, belum membeli buku kelas enam es de
Di rumah televisi menyala sendiri menyiarkan ulang sebuah talk show tipi
Sesosok bergelar doktor hukum tata negara bertajuk Yusril berdebat keabsahan Jaksa Agung dan keadilan

Hampir semua doktor tak pernah lagi meninjau kawasan kumuh
Apatah pula sepenggal ruas Manggarai-Durentiga-Mangga

rai, bukan Manggarai NTT
Kendati letaknya tak sampai sekilo dari rumah Wapres ekonom bergelar doktor
Adil hanyalah sepenggal lema tak beda dengan Yusril, sebuah nama saja

Dini hari pekak telinga mendengar perdebatan doktor-doktor di tipi
Teringat kawan diminta menjawabkan pertanyaan mantan seorang pejabat ambil doktor
Rupanya pertanyaan itu dibocorkan tim penguji sang pejabat calon doktor
Agar cantik disimak orang diliput media di ujian doktor ala perjokian kotor

Adil yang belum bisa membeli buku kelas enam es de.
Para pejabat pendidikan, mantan pejabat, tokoh berlomba-lomba mengambil gelar doktor
Lalu ranah intelektual kotor demi gelar doktor-doktor
Adil tetap saja adil, sebuah kata tanpa makna

Adil yang belum bisa membeli buku kelas enam es de
Hanyalah penggalan kecil Indonesia di ruas Menggarai-Durentiga-Manggarai
Ribuan kilometer Indonesia berjuta Adil belum membeli buku kelas enam es de
Masih adakah Adil berhati wangi, bak Malaikat Subuh dijual di pinggir jalan tadi?

Adil sosok kernet yang belum bisa membeli buku kelas enam es de
Sebotol Malaikat Subuh lima ribu di pinggir jalan usai acara Majelis Zikir Rasulullah
Lima ribu bisa mahal bisa murah, relatif di kala kosong koin Rp 100 begitu berarti
Serelatif mencari malaikat keadilan di bumi Indonesia nan tak kunjung wangi.

Demi Adil yang belum bisa membeli buku kelas enam es de
Kepada-Mu Tuhan doa kupanjatkan agar Adil dapat membeli buku kelas enam es de
Semoga Malaikat Subuh wangi membelai Adil belum bisa beli buku kelas enam es de
Amin. Adil. Amin.

Jalan Malabar, Guntur, Jakarta Selatan, 13 Juli 2010

Statusku di facebook:
Di wall-ku ini sudah aku tarok sebuah tulisan: Adil Belum Beli Buku Kelas enam Es De. Ini bukan Sketsa. Bukan pula Opini. Dibilang puisi, selama ini aku bukan penulis puisi, juga mungkin tak bakat menulis puisi. Tetapi apun menurut kawan2, ia adalah sebuah karya tulisan yang aku kerjakan dengan hati. Untuk kritikus sastra, silahkan dikritisi, boleh disebut puisi atau tidak? Lebih baik kita membedah karya. Thx. salam

Sketsa: Bangga Garuda Mengibarkan Indonesia

Thursday, July 8th, 2010

Pada 7 Juli 2010, Jeremias Tandaju menulis surat pembaca di
detik.com, akan peristiwa tak nyamannya naik Garuda. Ia dari Menado
transit di Makassar, lalu oleh seorang pramugari meminta kursinya
diserahkan ke isteri seorang pilot, sementara ia harus menunggu 50
menit lagi, benarkah demikian ceritanya? Mengapa Garuda berusaha
mandiri di tengah gempuran bisnis penerbangan murah lokal maupun dunia
tak menjadi kebanggaan, termasuk oleh pemimpin negara? Kini negara
sibuk mengurus pembelian pesawat kenegaraan. Bukankah dengan dipakai
Presiden, memberi nilai tambah citra bagi Garuda Indonesia? Mungkin
Presiden kudu belajar dulu ke David Ogilvie, bangga memakai produk
kliennya sendiri selain membuatkan iklannya.

PEMBACA rutin Sketsa saya tentu masih ingat, ihwal kasus Garuda
tak mendapat pasokan Avtur di Bandara Timika, awal tahun ini, karena
tidak membawa direksi PT Freeport Indonesia, yang jadwal
penerbangannya, memang di jam berikutnya, sementara Garuda yang
meningggalkan sang direksi yang mulia PT Freeport Indonesia, sudah
kedodoran terlambat dari jadwal.

Premis saya kala itu, keangkuhan laku direksi PT Freeport Indonesia,
sebagai bentuk kesewenangan, sok kuasa. Permintaannya tersebut diuji
dengan ketentuan berlaku di ranah dunia penerbangan mana pun, tetap
keliru, apalagi melanggar norma, terlebih adab hidup bermasyarakat.

Karena ulah direksi PT Freeport Indonesia ketika itu, Menteri
Perhubungan sampai harus turun tangan, memanggil kedua belah pihak.
Energi menjadi terkuras hanya untuk berapat urusan norak. Diakui atau
tidak. Lema saya: waktu terbuang hanya karena urusan ego. Bagi saya,
kasus itu sebuah catatan yang tak akan pernah raib, sebagai kumpulan
perilaku para pejabat, khususnya cara bertutur para pemangku kuasa yang
terus saya himpun di negeri ini. Di dalam kasus ini, khusus ihwal oknum
direksi sebuah perusahaan besar terpandang.

Karenanya ketika Jeremias Tandaju menulis surat pembaca di detik.com,
saya mengkonfirmasi kepada yang bersangkutan melalui SMS ke nomor
mobile phone-nya. Aplagi yang terjadi dengan Garuda?

”Apa yang saya tulis benar. Pramugari bertanya, apakah ada penumpang yang terbang sendiri tanpa keluarga?”

”Saya tunjuk tangan. Lalu pramugari meminta saya turun di saat transit
di Makassar itu, untuk menunggu 50 menit lagi ke penerbangan
berikutnya.”

”Alasan sang pramugari ada isteri pilot harus berangkat bersama pernerbangan itu, kalau tidak, pesawat tak akan berangkat!”

Di media sosial facebook, perihal ini segera menyebar. Setidaknya Linda
Djalil, mantan wartawan Tempo yang kini aktif sebagai blogger, mencoba
menghubungi Emirsyah Satar, Dirut Garuda, namun yang bersangkutan tidak
aktif hand phone-nya.

Saya mencoba menghubungi Pujobroto, Humas garuda via SMS. Karena
kesibukannya yang padat, baru malam ia memberi jawaban. Kamis pagi, 8
Juni, di saat hendak take off ke Kuala Lumpur, ia mengirim kabar, bahwa
sudah men-cek kasus ini, dan ternyata penumpang itu, bukan isteri
pilot. Ia penumpang Garuda yang memohon karena urusan sangat mendesak,
minta didahulukan berangkat.

Pertanyaan bagi saya, mengapa sang pramugari harus menggertak bahwa
sang penumpang isteri pilot? Apakah sebagai jalan pintas? Bukankah hal
itu sebuah kebohongan, sekaligus merusak reputasi sang pilot?

Sebelum Pujobroto memberikan keterangan lagi, saya menduga, bahwa jika
benar kelakuan sang pilot Garuda, seperti yang dituturkan sang
pramugari, bagi saya ia tak ubahnya bak supir Kopaja 66, jurusan
Manggarai-Blok M, Jakarta. Untungnya ini bukan laku sang pilot, tetapi
urusan cara berdiplomasi.

Bila supir Kopaja, Metro Mini, seenaknya berhenti, bahkan menurunkan
penumpang untuk pindah ke bis berikutnya, karena ia mau balik haluan.
Sudahlah di dalam bis itu serasa di atas kaleng rombeng;
komprang-kompreng suara kaca jendela, segenap suspensi mati pula,
sehingga bis menginjak lubang kecil saja membuat seluruh jok
bergetar-getar, lalu daun kuping Anda pasti turut bergoyang.

Belum lagi aroma oli terbakar di saluran pembuangan panas ada di
belakang bangku supir. Anda yang tak biasa, saya pastikan membuat
hidung sakit. Nasib berkendaran umum demikian bukan sepuluh tahun lalu,
tapi saat ini, hari ini, dan mana mungkin dijajal Gubernur DKI dan
jajaran?

Belum pula jika hujan mendera, kaca bis tak bisa ditutup, penumpang
kuyup. Azab jadi masyarakat kecil pengguna kendaraan umum di Jakarta
begitu. Nah jika salah satu azab itu, menurunkan penumpang sekenanya,
mendera penumpang Garuda, bagi saya absurd kali?

Untunglah komunikasi cepat Pujobroto, kendati pun belum menuntaskan
jawaban pertanyaan saya, setidaknya, ia telah menyampaikan bahwa ada
seseorang penumpang yang hendak ditolong, tetapi saya duga eksekusinya
keliru.

Sembari menunggu progres kasus ini, saya menuliskan sketsa ini.

JIKAAnda cermati, urusan langgam berkomunikasi di ranah pejabat
publik, kian hari memang kian pah-poh saja. Inti soal, langgam begawan
sebagai pejabat cenderung mengedepankan ego. Sehingga bertutur tidak
lagi dengan berkerendahan hati, apalagi bernurani hati?

Dalam kerangka inilah, saya memberi porsi perhatian kepada Garuda.

Jika Anda menyimak bisnis penerbangan kini, persaingan amat ketat.
Bahkan Ryan Air di Inggris sudah akan melayani pernerbangan penumpang
berdiri untuk jarak pendek.

Di dalam negeri kue Garuda sudah digerogoti banyak pemain. Mereka
adalah swata nasional yang memang juga harus ditumbuhkan. Namun berkaca
ke belahan jagad manapun, banyak negara di dunia mendukung dengan
segenap cara bahwa penerbangan nasional negaranya tumbuh pesat.

Secara signifikan kita dapat menyimak Singapore Airline, selain
dukungan negara yang kuat, pelayanan prima memang menjadi kunci utama
suksesnya usaha jasa penerbangan. Saya pernah menaiki Etihad milik Uni
Emirat Arab (UAE), smester pertama tahun ini. Laku subsidi bagi sang
penerbangan oleh pemerintahnya bukan basa-basi. Bahkan sosok
penerbangan negara sama, bertajuk Emirat, yang di kejuaraan World Cup,
sepak bola dunia 2010, dapat Anda simak beriklan board di lapangan
pertandingan di Afrika Selatan. Sponsor mereka bayarkan konon lebih
dari US $ 100 juta, sebagai bentuk subsidi UAE, negara. Demi citra: Fly
Emirat!

Kini jika bertanya ke lubuk hati, apakah kita bangga ber-garuda? Saya
sebagai pribadi, masih memiliki kebanggan itu. Setidaknya di saat-saat
transit di bandara internasional dunia, begitu ada, melirik Garuda,
bangga hati di sana, apalagi bertuliskan Garuda Indonesia. Ada
Indonesia-nya!

Maka ketika negara memutuskan membeli pesawat kepresidenan sendiri
dengan harga mahal, perawatan mahal, ongkos perjalanan lebih mahal,
bagi saya sebuah langkah salah. Sama gegabahnya dengan membangun gedung
baru DPR berbiaya Rp 1,6 triliun dengan menyebut alasan gedung lama
miring. Boleh saja menyebut sebagai citra juga, bahwa negara punya
pesawat kenegaraan. Tetapi bermartabat mana bangga dengan Guruda
mengibarkan kata Indonesia di badannya?: Garuda Indonesia!

Dan menyangkut citra, sudah saatnya Garuda Indonesia mulai melirik
media sosial. Ingat kini, teknologi telah membuat sosok Jeremias
misalnya, dengan cepat memuat surat pembaca ke media online, cukup,
agaknya dari email di Black berry-nya. Lalu kabar menyebar ke
setidaknya 30 juta komunitas online. Hari berikutnya berkelipatan dua,
60 juta pembaca. Dalam kerangka inilah, komunikasi publik kini tak bisa
lagi dihadapi dengan cara-cara konvensional. Aapalagi dengan
terus-terusan berlagak begawan.

Sebagai dukungan bagi Garuda yang ada Indonesia di badannya, saya
sebagai praktisi media sosial aktif (blogger) menuliskan ini, for free.
Saya bangga Garuda, Mengibarkan Indonesia!

Iwan Piliang, blog-presstalk.com

Opini: Meledek Obama & Urusan Celeng Diproses Polisi?

Thursday, July 1st, 2010

Belakangan sambil berseloroh acap di di media (teve) saya sampaikan yuk kembali belajar Bahasa Indonesia, karena bahasa logika, saya mengajak belejar SPOK. Kata celeng bermuara kepada celengan. Kendati bentuknya kodok, tak pernah dibilang kodokan. Lantas esensi alias subjek liputan utama TEMPO diapakan? Logika-logika aneh mengalir setelah reformasi yang tak mengantar meningkatnya mutu peradaban.

BARU pekan lalu saya menulis Sketsa soal Biennale Indonesia Art Award 2010, yang pamerannya berakhir 27 Juni 2010 ini. Di pameran adi karya seni Indonesia itu, peraih award membuat karya seni sosok patung Barack Obama naik becak.

Dalam sekuen foto yang digelar di pameran itu, sang patung sempat jatuh dari becak di Yogyakarta. Tangan patung itu patah, kakinya juga. Lalu adegan becak yang dinaiki patung difoto di depan rumah sakit Muhammadiyah di Yogyakarta, jidatnya dibalut perban, lengan dan kaki Obama sudah tersambung.

Di saat dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta, patung itu sehat wakafiat. Obama mengangkat jari kanan membentuk V, simbol peace. Oleh pembuatnya, Wilman Syahnur, patung dan parade foto patung Obama nyungsep dari becak itu sebagai kritik terhadap sang presiden AS itu, yang tak pantas menerima hadiah Nobel Perdamaian.

Logika saya apakah sang penerima yang harus dikritik atau sang panitia pemberi? Bisa menjadi sebuah diskusi.

Di Sketsa saya bertajuk Becak Obama dan Oh Miranda pekan lalu itu, saya bertanya mengapa Wilman tidak membuat saja patung Miranda Goeltom naik Becak dengan Nunun, yang mengaku pikun, karena tersangka mengalirkan sogokan kepada anggota komisi keuangan DPR, terindikasi demi mentasnya Miranda menjadi Deeputi Gubernur Bank Indonesia. Keduanya bisa dibuat patung naik becak lalu difoto diberdirikan dengan latar gedung KPK.

Setidaknya melalui ide saya itu, saya ingin bertanya kepada pematung bahwa tangau di seberang lautan tampak tapi gajah di pelupuk mata tidak kelihatan? Kepada Jim Supangkat, kurator yang juga ketua Dewan Juri, saya ingin bertanya mengapa tidak berani berseloroh kepada sang pematung? Dan sebagai seniman, apalagi korator independen, perihal itu bisa saja jadi bahasan, bukan?

Mengapa hal ini saya pertanyakan? Mengingat Miranda Goeltom membuka pemaran seni itu pada 17 Juni 2010. Ia ketua Yayasan Seni Indonesia. Dan menurut hemat saya di pembukaan itu, para seniman hanya takzim, manut-manut, santun-santunan, basa-basi, apatah sambil berharap ada koleksi karya seni yang bakal dibeli Miranda atau koleganya?

Bagi saya inilah bentuk pergeseran seniman adi luhung Indonesia kini dibanding eranya Soedjojono dan kawan-kawan, di masa silam. Sama dengan bergesernya karakter negarawan bak sosok Hatta, ke ranah pejabat dan aparat di era kini.

Di media sosial, khususnya di facebook saya, banyak kawan berkomentar, dan menyatakan bahwa kalau mengkritik Obama tidak berisiko. Berbeda dengan mengkritik pejabat publik Indonesia, selain siap diproses hukum, terkadang nyawa bisa dimunirkan.

Saya tak habis pikir.

Demikiankah ternyata kemajuan hebat kita lintas-lini setelah reformasi?

BELUM sepekan berlalu dari penutupan pameran seni itu, Senin, 28 Juni 2010, majalah TEMPO menurunkan laporan utama ihwal rekening milik jenderal polisi. Tak terkecuali di sana ada rekening Susno Duadji, terindikasi berisi lebih Rp 3 miliar.

TEMPO menampilkan cover visual grafis air brush, sosok perwira polisi yang ditarik oleh tiga buah celengan babi.

Celengan babi, wujud nyatanya, terbuat tanah liat. Di ranah masyarakat memang acap digunakan sebagai tempat menabung uang receh. Saya masih ingat ketika kanak-kanak dulu, sosok celengan bulat dengan wujud bergambar muka babi oleh pedagangnya, sempat menjadi wadah celengan saya. Seingat saya sosok kodok juga dominan, dan saya juga pernah punya celengan kodok.

Seorang kawan Fecebook, menyampaikan soal kata celeng yang menjadi celengan. Dalam penelusuran literasi saya, kata celeng memang menjadi istilah celengan. Kendati wujudnya ayam, atau kodok, tek pernah diucapkan ayaman atau kodokan

Cover sebuah majalah memang sebuah karya kreatifitas. Ia ditabalkan menyampaikan konten produknya yang utama untuk edisi itu. Liputan utama TEMPO indikasi uang tambun yang dimiliki oleh beberapa perwira polisi, yang jika memakai akal waras, dibandingkan dengan gaji para pemegang rekeningnya, sungguh tidak masuk akal.

TEMPO lalu ludes di pasaran sebelum sempat beredar. Saya tak paham siapa pembelinya, karena saya belum melakukan verifikasi untuk menulisnya dalam format reportase untuk Sketsa.

Di opini ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa laku memborong TEMPO itu sebuah langkah naïf, jika tak hendak dibilang bodoh. Di era dunia online kini sudah demikian dinamis, dan hampir 30 juta orang Indonesia berlalu lintas online, maka dengan mudah dapat diperoleh konten majalah itu di www.tempointeraktif.com.

Ada juga pihak yang menduga bahwa hilangnya TEMPO di pasaran oleh laku oknum TEMPO sendiri. Namun apa iya? Dalam keadaan cah flow media kini menjadi kian ketat, membeli produk sendiri menjadi laku gila. Apalagi di ranah media kini yang integritasnya banyak layak dipertanyakan, kawan-kawan, TEMPO, masih menjadi oase kejujuran bagi saya. Tetapi begitulah, negeri kita kadung terbuai dan acap dibuai rumor-rumor kotor.

Satu yang fakta, sesuai kelimat disampaikan pejabat Polri. Inspektur Jenderal Edward Aritonang, juru bicara Mabes Polri, mengatakan cover TEMPO edisi rekening gendut itu sangat mencemarkan, menghina, merusak nilai-nilai kehormatan Polri. Kata Aritonang pula, banyak telepon dari berbagai daerah dari markas polisi dari daerah mempertanyakan mengapa mereka seolah-olah bergelimang binatang?

Singkat kata sesui keterangan Aritonang, silakan TEMPO menganggap hal itu sebagai karya seni, tetapi Polisi akan meneruskan ke langkah hukum. Dan langkah hukum akan dilakukan oleh Kepala Pembinaan Hukum Mabes Polri.

Bagi saya kalimat itu sebagai sebuah sikap reaktif Polri.

Karena pendidikan saya dari jurusan komunikasi, laku demikian secara psikologi komunikasi adalah sikap melawan perasan massa, oleh seorang pejabat publik. Jika saja saya pejabat Polri, saya akn mempertimbangkan sisi plus minusnya dari sudut citra. Entahlah, bagaimana berhitungnya polisi kini?

Momen seperti ini, jika Polri tidak reaktif, jika saja ia dapat tampil rendah hati, maka akan mengatakan: Kami berterima kasih, atas liputan TEMPO, media pada umumnya.

Dari liputan TEMPO bergambar perwira dan celengan babi itu, memberi kesempatan kami kian berbenah diri menjadi polisi, penegak dan pelayan keadilan lebih baik ke depan. Kami yakin kami bukan warga hewan, dan tak ada pula niat kami menjadi babi ngepet apalagi babi benaran - - diucapkan sambil bercanda tawa.

Kalau mau menambahkan, celengan itu memang dari kata celeng, kami tak pernah mendengar ada ayaman, kodokan, walaupun celengan ada yang berbentuk hewan lain. Ah mungkin saya cuma bermimpi memberi teori.

Aklhirnya, selamat ulang tahun Bhayangkara, Polri. Semoga lebih baik citranya ke depan. Amin***

Iwan Piliang, blog-presstalk.com

Sketsa: Becak Obama dan Oh Miranda!

Saturday, June 26th, 2010
Jika Anda berada di Jakarta, 17 -27 Juni 2010 ini, ada pameran seni yang tak boleh Anda lupakan, yakni Biennale Indonesian Art Award 2010 bertema Contemporary, di Galeri Nasional, Gambir, Jakarta. Anda akan jumpa dengan Obama naik becak. Sayang seribu sayang, seniman Indonesia mengkritik Obama menerima Nobel Perdamaian, tetapi tak satu pun mengkritisi Miranda Goeltom, Ketua Yayasan Seni Rupa Indonesia, yang membuka pameran ini. Bukankah karena Miranda, seorang Nunun, isteri Adang Dorodjatun, kini mengaku pikun? Entah pikun benaran atau pikun-pikunan karena tersangka di urusan indikasi sogokan demi mentasnya sang Miranda jadi Deputi Gubernur BI?

TERKADANG tungau di seberang lautan tampak, tetapi gajah di pelupuk mata seakan kealingan. Ungkapan itulah dapat saya tuliskan setelah menyimak beragam karya seni, lukis, patung, grafis, dan video yang dipajang di Galeri Nasional selama sepuluh hari ini.

Utamanya sebuah becak istimewa di Jogja. Penumpangnya sosok berjas, berdasi. Ia seorang diri. Kaki kirinya disilangkan ke kanan, sehingga ujung sepatunya seakan menjulur ke depan. Tangan kanannya mengacung ke atas. Jari telunjuk dan tengah, membentuk simbol peace. Wajahnya tersenyum. Di kanan kirinya ada dua bendera kecil Amerika Serikat. Ya, penumpang istimewa, memang, sosok Barack Obama, Presiden AS.

Itulah seni patung karya Wilman Syahnur berjudul: Membuat Obama dan Perdamaian Dibuat-buat. Karya ini dinobatkan sebagai pemenang Biennale Indonesian Art Award 2010. Seniman asal Yogyakarta ini mengalahkan 1.200 perupa lainnya.

Di arena pemeran, sosok patung Obama duduk di atas becak itu dapat Anda temukan. Selain itu, dapat dilihat foto sikuel, di mana becak pernah jatuh, lengan dan kaki Obama patah. Lalu patung dan becak tersungkur itu beradegan berfoto di jalanan di depan rumah sakit umum di Yogyakarta.

Anak saya yang paling kecil, meminta ke ibunya.

“Mama mau berfoto di atas becak dengan Obama.”

Tentulah becak itu tak bisa dinaiki.

Pematungnya , Wilman Syahnur menyuguhkan Barack Obama tersenyum lebar di atas becak itu sebagai kritik atas anugerah Nobel Perdamaian untuk Presiden Amerika Serikat tersebut.

“Ini kepercayaan buat saya agar berkarya lebih baik lagi,” kata Wilman kepada media di pembukaan pameran Kamis, 17 Juni malam.

Sayangnya saya tak hadir di pembukaan pameran itu.

Saya baru bisa datang pada Sabtu, 26 Juni, sehari sebelum penutupan.

Jika saja saya hadir di pembukaan pameran itu, saya akan bertanya kepada Wilman. Mengapa Anda tidak membuat saja saja patung Miranda Goeltom, sosok yang membuka pameran ini, sedang berangkulan dengan Nunun, isteri Adang Dorodjatun, yang kini mengaku pikun itu?

Nunun pikun karena tersangka di kasus indikasi menyogok anggota DPR komisi keuangan perbankan, demi indikasi mentasnya Miranda jadi deputi Gubernur BI? Dan becak mereka berdua itu diberdirikan di pembatas jalan dengan latar gedung Komisi Pemilihan Umum (KPK).

Jika Miranda dan Nunun yang dipatungkan, apakah kurator Jim Supangkat, ketua tim juri akan memenangkan karya seni itu? Wallhuawam, wong namanya juga baru di angan. Dan cumalah angan saya yang bukan seniman patung.

Lalu apakah momen Juni ini dipaskan dengan rencana kehadiran Barack Obama, yang tertunda lagi untuk kedua kalinya ke sini? Bisa jadi,. Setidaknya bukan di pameran ini saja ada sosok Obama.

Di Geleri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM) sosok Damien Dematra juga menggelar pameran tunggalnya, dengan tema yang full Obama. Ketika menyimak pameran di TIM itu, panitia penyelenggara secara terang-terang bilang, “Bahwa pameran ini sedianya memang ingin menyambut kedatangan Obama ke Indonesia, selain sebagai kegiatan amal mengumpulkan dana untuk penderita penyakit Lupus”

“Sayang Obama tertunda lagi datang.”

KEMBALI ke Biennale. Yang pasti Jim Supangkat memilih juga The Good, The Bad and The Restless karya Erwin Pandu Pranata dari Bandung dan lukisan Teater Dari Saluran 99 karya Tatang Ramadhan dari Jakarta sebagai pemenang II dan III.

Dari tiga nama pemenang itu, hanya Tatang Ramadhan yang saya kenal. Pada era perubahan majalah Zaman, terbitan kelompok TEMPO, di 1985, saya sebagai reporter bersama dengannya di majalah Matra. Ia redaktur perwajahan yang mengubah Zaman ke Matra. Dari Tatang saya mengenal tipografi, bahwa huruf dapat dimainkan, di-condent, misalnya. Kini Tatang redaktur perwajahan harian Media Indonesia.

Sosok Tatang saya kenal rendah hati. Biacaranya kalem. Jika Anda pernah mampir ke gedung Metro TV, banyak karya lukis Tatang yang lulusan Senirupa ITB dipajang. Pada pertemuan terakhir dengannya, saya pernah menyampaikan pertanyaan mengapa tak kunjung berpameran tunggal? Bukankah sosok Surya Paloh yang mengoleksi banyak lukisannya dengan mudah membuatkan sebuah pameran bagi Tatang.

“Ia nih, ayuklah kita buat pameran,” ujar Tatang, di suatu kesempatan ketika saya pernah tampil di Metro TV.

Dan sebagaimana biasa, Jakarta, yang radiusnya cuma se-Ibu Kota ini, terkadang membuat jarak bagaikan antara Sabang sampai Merauke, sehingga sebuah ide dan rencana, pergi menguap begitu saja. Kami pun seakan sibuk entah ngapain, lalu siluturahim tak lagi terjalin.

Selain tiga karya terbaik di atas diberikan pula penghargaan Spesial Mentioned untuk karya grafis dan lukisan, Police Shoot Them, Ariswan Adhitama dari Yogyakarta dan Instalasi Dinding Aman-Suraman Smile, karya MG Pringgondono dari Jakarta. Pringgondono melukis air brush aneka wajah tersenyum di lengkungan helm yang dideretkan di dinding.

Biennale Indonesian Art Award 2010 bertemakan Contemporary diikuti 1.200 perupa Indonesia dengan berbagai karya lukisan, grafis tiga dimensi, dan video art. “Di tengah maraknya kegiatan pameran, lelang, dan berbagai kompetisi seni rupa, IAA tetap mendapat sambutan luar biasa. Hal ini sangat menggembirakan, karena seni rupa tanpa dukungan masyarakat seni tentulah tidak akan berkembang dengan baik,” kata Ketua Yayasan Seni Rupa Indonesia, Miranda S Goeltoem, dalam sambutannya.

Pada penyelenggaraan 2012 nanti keikutsertaan seniman berdasarkan pengajuan, bukan lagi undangan atau seleksi khusus.

Sehingga ide saya patung Miranda dan Nunun berangkualan di atas becak dengan latar KPK, bolehlah saya usulkan untuk dibuat kepada Wilman Syahnun. Toh momen Obama datang Juni lewat, sementara kasus suap anggota DPR itu juga belum tuntas di KPK. Dan bisa-bisanya Nunun mengaku pikun, juga bisa-bisanya Miranda masih berkesenian dan mebuka pameran seni.

Padahal dari seni, dari kesenian dan kesenimanan, saya menemukan oase kejujuran.

Dengan dibukanya pameran seni utama ini oleh sosok Miranda, sosok yang terindikasi bermasalah, bagi saya sebagai simbol alam sekaligus, bahwa sudah begitu keruh beragam ranah di Indonesia, tak terkecuali seni rupanya. ***

Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com