Sketsa Puasa 3 : Indonesia Kehilangan AnimatorTerbaik
Wednesday, August 18th, 2010Denny Alaudsyah Djoenaid, animator, ketua Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia (AINAKI) - - organisasi yang ikut saya bidani - - berpulang, Selasa, 17 Agustus, pukul 14.50 di RSMedistra, Jakarta. Baru Senin saya menulis sketsa dunia industri film animasi, kabar duka pun mengiringi. Memorium saya tentang sosok Denny, pernah magang di studio animasi Yotsuya, Tokyo. Ia satu-satunya orang Indonesia pernah bekerja di Richard William Studio, London dengan ArtBabitts, Senior Animator Disney. Selain animasi, Denny, suhu bela diri Shirorinji Kempo dengan - - tak tanggung-tanggung — ENAM DAN, itu.
HUJAN lebat jatuh ketika saya pas turun di halte Busway di Bundaran Hotel Indonesia,Jakarta Pusat. Menunggu hujan rinai, saya duduk di bangku stainless steel, menyimak lalu lintas kendaraan, menatap ke arah air mancur Bundaran Hotel Indonesia menjadi pengalaman tersendiri.
Di menjelang berbuka puasa, 17 Agustus 2010,itu saya menerima sebuah SMS diteruskan oleh Rio Sasongko,animator, yang saya kenal karena menanggapi tulisan Sketsa Puasa 2 : Berpuasa Berserial Animasi Malaysia, Senin, 16 Agustus 2010, melalui medium sosial Facebook.
“Telah berpulang Bapak Denny Djoenaid, Ketua AINAKI …”
Sambil menikmat mie lamien di sebuah restoran, ketika berbuka puasa dengan seorang kawan, di Plaza Indonesia, ingatan saya tertuj upenuh ke almarhum Denny. Bahkan ketika kami shalat Magrib berjamaah di lantai tiga di Mushalla terbaik yang pernah saya temui di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta itu, doa terus saya panjatkan bagi almarhum.
Saya menelepon Rio. Saya menyampaikan penyeselan. Baru semalam saya berkeinginan menjenguknya, tetap ikini mendapatkan kabar duka.
Denny terserang kanker usus, berkomplikasi dengan diabetes. Sebelumnya Agung Sanjaya, animator di Bali yang banyak mengerjakan bagian proses animasi serial Jepang, seperti Dora Emon, pernah pula mengabari ihwal penyakit Denny. Namun menetap di Jakarta terkadang membuat jarak silaturrahim, laksana jarak Sabang- Merauke. Sehingga kaki belum juga tergerak bertemu, dan tahu-tahu sudah kabar duka.
DENNY Djoenaid, begitu ia akrab disapa. Ia saya kenal di komunitas kecil animator. Pertemuan saya medio 90-an, ketika usaha yang saya bangun diambang gagal mengindustrikan animasi. Satu hal yang saya keluhkan ke Denny, kala itu mengapa kemampuan dasar menggambar sosok mengaku animator di Indonesia, begitu lemah, khususnya dalam membuat dan memahami anatomi.
Akibat tak memahami anatomi, orang berjalan, digerakkan dengan begitu kakunya. Anatomi kucing dan macan, yang tampaknya sama, tetapi tarikan kaki dan lompatan beda, begitu seterusnya.
“Karenanya seorang animator yang baik, yang bisa menggambar anatomi dengan benar, tahu persis, bahwa tumit kaki sebelum maju ke depan ada tempo sekitar 3 frame gambar, dimana tumit kaki belakang seakan mundur,” ujar Denny memberi petuah.
“Animator juga pengamat gerak yang paling baik.”
Ia lalu memfotokopikan buku teknik gerakan animasi yang dikeluarkan oleh Richard William Studio, London, tempat di mana ia pernah bekerja. Studio yang berafiliasi dengan Disney itu, telah menjadikan hanya Denny-lah satu-satunya oarang Indonesia, yang mampu membuat gerakan gambar animasi persis dengan kemampuan animator Disney. Kalau gambar latar yang sesuai dengan kemampuan Disney, kawan-kawan di Bali banyak yang mumpuni.
Pada 8 Juni 2004, saya bersama Achmad Hirawan, berinisiatif menemui Denny. Kami mengajak kawan-kawa nlain, untuk mau mendirikan Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia (AINAKI). Sebab organisasi lama, ANIMA, Asosiasi Animasi Indonesia, tidak berjalan. Maka dengan pemahaman dasar benar dan baik, Denny, kami daulat berkenan memimpin organisasi itu.
Pada medio 2006, Direktorat Pendidikan Kejuruan, Diknas, pernah mengongkosi saya berdua Denny berkeliling Jawa-Bali. Kami diminta Diknas menilai kemampuan menggambar anatomi guru-guru kesenian se-Jawa dan Bali. Dalam perjalanan ke ibu kota propinsi itulah dialog saya dengan almarhum instens.
Di Jogja kami tertawa terpingkal di luar ruang kelas SMK, di mana kami menemui bahwa guru kesenian mengajarkan siswa menggambar anatomi dengan memfoto kopi anatomi tubuh manusia. Lalu foto kopian itu di-trace di kertas menggunakan light box, alias macam orang menjiplak di kertas. Dengan cara ini, bisa dibayangkan, bukanlah pemahaman benar didapat siswa, apatah lagi keahlian.
Saya lalu teringat ketika pernah ke Paris 1994, sempat berkunjung ke Museum Luvre. Saya bertemu dengan beberapa seniman yang menjelaskan, jika ingin mengambil studi seni lukis, diperguruan tinggi di sana, dua tahun pertama pasti digojlok membuat anatomi; orang maupun hewan. Ibarat belajar musik, belajar musik klasik dari membaca not balok, dari tingkat dasar.
“Dan membuat anatomi yang benar itu memang dengan melihat, langsung menggoreskan di kertas,” ujar Denny pula, “Karenanya, untuk menentukan seseorang itu animator atau tidak, lihat saja tarikan garisnya dalam membuat lingkaran sekali tarik.”
Hal hasil, dari lebih1.000 guru kesenian yang kami temui se-Jawa dan Bali, tak sampai hitungan lima jari yang mampu membuat anatomi dengan benar. Jika pun ada lima orang, semuanya dengan catatan khusus.
Atas dasar petuah lingkaran itu pulalah, saya membuat logo AINAKI dengan goresan tangan sendiri membentuk lingkaran, sebagai dasar mapping wajah. Filosofisnya, agar masyarakat industri animasi, punya pondasi skill kuat, lalu tidak sekadar berkesenian. Animasi juga dominan merambah industri. Dan hingga hari ini kami masih merasa gagal mengindustrikan animasi. Lalu Denny pun sudah duluan pergi di usia setengah abad.
PUKUL dua puluh satu 17 Agustus 2010. Bulan di langit masih setengah. Saya melangkah pulang dari rumah nomor 8 Jl. Hidup Baru, Gandaria Utara, Jakarta Selatan. Di kediaman orangtuanya itu, jasad Denny di semayamkan sejak petang di mana hujan lebat mengguyur datang. Di rumah bersahaja, dengan teras kecil langung ke tepian jalan itu, para tamu tampak menumpuk. Namun saya tak menemukan kawan-kawan yang pernah bergerak di bidang animasi.
Di seberang jalan sayamelihat ada lima orang anak muda yang tampak celingukan.
Saya tanyakan apa kaliandari komunitas animasi?
“Iya Pak, kami murid PakDenny di Bina Nusantara.”
Mereka sekaan serantak menjawab pertanyaan saya.
Rupanya apa yang kami jakaki di awal mendirikan organisasi animasi, antara lain mengajak perguruan tinggi bekerjasama untuk menumbuhkan minat dan meningkatkan jumlah SDM animator berkembang sudah mulai menggelinding. Bagi saya ini sebuah kabar menggembirakan.
Itu artinya kebanyakan kawula muda kini yang mengoprek aplikasi animasi seperti 3D Studio Max, paling tidak di tingkat Bina Nusantara, sudah mulai diberi pemahaman oleh Denny, harus mampu menggambar dasar, antara lain anatomi.
Sebab acap kini, mereka yang mengaku animator, dengan hanya menguasai aplikasi atau software sudah kadung mengaku animator. Padahal sosok animator itu adalah insan yang bisa membuat key drawing, kunci gerakan sebuah objek, manusia, atau hewan. Dan di 3D, kompetensi visual itu bukan hanya animator, di kompetensi animasi ada yang namanya modeller, tukang buat karakter, dan pembuat latar lingkungan, arsitektur dan sejenis: objek tiga dimensi tapi tak bergerak. Lebih jauh, kalau bicara film, baik seri maupun layar lebar ada lagi kompetensi menulis skenario yang tak kalah sangat penting.
SAYA kemudian pamit ke kawan-kawan mahasiswa dari Bina Nusantara itu. Kaki saya melangkah di jalan aspal basah. Bulan dilingkaran masih setengah. Leher saya menengadah: ya Allah Denny telah merdeka, setidaknya ia terhindar dari azab kubur, menghadap-Mu di Ramadan mulia, semoga Surga baginya.
Kekhusyuan saya berdoa terganggu sejenak. Sebuah SUV Range Rover hitam melintas di jalanmenurun yang tak lebar itu. Di atasnya Kusumo A Martoredjo, Ketua Umum Pengurus Besar Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia (PB.Perkemi) periode 2010-2014, sosok yang saya temui diruang tamu kediaman orang tua Denny. Almarhum Denny juga seorang atlit langka Kempo. Prestasinya luar biasa, meraih gelar DAN VI - - tak banyak orang Indonesia bisa punya.
Dalam beberapa pertemuan di Kadin Indonesia, wajah Kusumo, pengurus Kempo itu, tidak asing bagi saya. Ia komisaris Bumi Resouces, kelompok usaha Bakrie, bergerak di tambang batu bara. Membayangkan kemewahan mobil Kusumo, ingatan saya melayang ke sebuah BMW putih pernah saya beli dengan keringat sendiri awal 1990, dan mobil itu pun sudah lama ludes demi industri animasi. Di Jepang animator kaliber Denny, jangankan sebuah Range Rover, mebeli Gulf Stream G-5, pesawat pribadi, hal biasa.
Seketika saya tertawa berjalan terus menuju jalan Radio Dalam, mencari kendaraan umum yang ada. Saya lalu nyengir membayangkan kelucuan Denny memainkan gambar ketika membuat kartun iklan animasi untuk Puddle Pop, dan banyak materi iklan lain. Ia memang belum berhasil membuat serial, macam enam serial animasi wayang yang pernah saya produksi, itupun gagal masuk ke pasaran karena tak mampu menjadi 52 episode, tak bisa masuk ke pasar global..
Denny fokus bekerja untuk sesuatu yang dibayar di muka.
Seingat saya, Dwi Koendoro, pembuat Panji Koming di Kompas, kemudian pandai membuat animasi, dan kini mengaku pakar animasi, belajar animasi dari Denny Djoenaid.
Semoga kepergiannya membukakan hati dan mata pengelola bangsa ini, bahwa selain memperbanyak SDM animator, pendirian Venture Capital riil betul-betul riil menyalurkan pendanaan bagi industri animasi nasional mutlak adanya. Karena inilah ranah credential asset sangat bernilai ekonomi. Kalimat ini pasti diamini Denny. Selamat jalan dunsanak! ***
Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com