<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://blog-presstalk.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog-presstalk.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 09:26:58 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sketsa Puasa 3 : Indonesia Kehilangan AnimatorTerbaik</title>
		<link>http://blog-presstalk.com/?p=417</link>
		<comments>http://blog-presstalk.com/?p=417#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 09:26:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>presstalk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog-presstalk.com/?p=417</guid>
		<description><![CDATA[Denny Alaudsyah Djoenaid, animator, ketua Asosiasi Industri  Animasi dan Konten Indonesia (AINAKI) - - organisasi yang ikut saya  bidani - -  berpulang, Selasa, 17 Agustus, pukul 14.50 di RSMedistra,  Jakarta. Baru Senin saya menulis sketsa dunia industri film animasi,  kabar duka pun mengiringi. Memorium saya tentang sosok Denny,  pernah  magang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Denny Alaudsyah Djoenaid, animator, ketua Asosiasi Industri  Animasi dan Konten Indonesia (AINAKI) - - organisasi yang ikut saya  bidani - -  berpulang, Selasa, 17 Agustus, pukul 14.50 di RSMedistra,  Jakarta. Baru Senin saya menulis sketsa dunia industri film animasi,  kabar duka pun mengiringi. Memorium saya tentang sosok Denny,  pernah  magang  di studio animasi Yotsuya, Tokyo. Ia satu-satunya orang  Indonesia pernah bekerja di Richard William Studio, London dengan  ArtBabitts, Senior Animator Disney. Selain animasi, Denny,  suhu bela  diri Shirorinji Kempo dengan - -  tak tanggung-tanggung &#8212; ENAM DAN,  itu.</em></p>
<p><em></em></p>
<p><strong>HUJAN</strong> lebat jatuh ketika saya pas turun di halte Busway di Bundaran Hotel  Indonesia,Jakarta Pusat. Menunggu hujan rinai, saya duduk di bangku  stainless steel, menyimak lalu lintas kendaraan, menatap ke arah air  mancur Bundaran Hotel Indonesia menjadi pengalaman tersendiri.</p>
<p>Di  menjelang berbuka puasa, 17 Agustus 2010,itu  saya menerima  sebuah SMS  diteruskan oleh Rio Sasongko,animator, yang saya kenal karena  menanggapi tulisan Sketsa Puasa 2 : Berpuasa Berserial Animasi Malaysia,  Senin, 16 Agustus 2010, melalui medium sosial Facebook.</p>
<p>&#8220;Telah berpulang Bapak Denny Djoenaid, Ketua AINAKI &#8230;&#8221;</p>
<p>Sambil  menikmat mie lamien  di sebuah restoran, ketika berbuka puasa dengan  seorang kawan, di Plaza Indonesia, ingatan saya tertuj upenuh ke  almarhum Denny.  Bahkan ketika kami shalat Magrib berjamaah di lantai  tiga di  Mushalla terbaik yang pernah saya temui  di sebuah pusat  perbelanjaan di Jakarta itu, doa terus saya panjatkan bagi almarhum.</p>
<p>Saya  menelepon Rio. Saya menyampaikan penyeselan. Baru semalam saya  berkeinginan menjenguknya, tetap ikini mendapatkan kabar duka.</p>
<p>Denny  terserang kanker usus, berkomplikasi dengan diabetes.  Sebelumnya Agung  Sanjaya, animator di Bali yang banyak mengerjakan bagian proses animasi  serial Jepang, seperti Dora Emon, pernah pula mengabari ihwal penyakit  Denny.  Namun menetap  di Jakarta terkadang membuat jarak silaturrahim,  laksana  jarak  Sabang- Merauke. Sehingga kaki belum juga tergerak  bertemu, dan  tahu-tahu sudah kabar duka.</p>
<p><strong>DENNY</strong> Djoenaid, begitu ia akrab disapa.  Ia saya kenal di komunitas kecil  animator. Pertemuan saya medio 90-an, ketika usaha yang saya bangun  diambang gagal mengindustrikan animasi. Satu hal yang saya keluhkan ke  Denny, kala itu mengapa kemampuan dasar menggambar sosok mengaku  animator di Indonesia,   begitu lemah, khususnya dalam membuat dan  memahami anatomi.</p>
<p>Akibat tak memahami anatomi, orang  berjalan, digerakkan dengan begitu kakunya. Anatomi kucing dan macan,   yang tampaknya sama, tetapi tarikan kaki dan lompatan beda, begitu  seterusnya.</p>
<p>&#8220;Karenanya seorang animator yang baik, yang  bisa menggambar anatomi dengan benar, tahu persis, bahwa tumit kaki  sebelum maju ke depan ada tempo sekitar 3 frame gambar, dimana tumit  kaki belakang seakan mundur,&#8221; ujar Denny memberi petuah.</p>
<p>&#8220;Animator juga pengamat gerak yang paling baik.&#8221;</p>
<p>Ia  lalu memfotokopikan buku teknik gerakan animasi yang dikeluarkan oleh  Richard William Studio, London, tempat di mana ia pernah bekerja. Studio  yang berafiliasi dengan Disney itu, telah menjadikan hanya Denny-lah  satu-satunya oarang Indonesia, yang mampu membuat gerakan gambar animasi  persis dengan kemampuan animator Disney. Kalau gambar latar yang sesuai  dengan kemampuan Disney, kawan-kawan di Bali banyak yang mumpuni.</p>
<p>Pada  8 Juni 2004, saya bersama Achmad Hirawan, berinisiatif menemui Denny.  Kami mengajak kawan-kawa nlain, untuk mau mendirikan Asosiasi Industri  Animasi dan Konten Indonesia (AINAKI).  Sebab organisasi lama, ANIMA,   Asosiasi Animasi Indonesia, tidak berjalan. Maka dengan  pemahaman dasar   benar dan baik,  Denny, kami daulat berkenan memimpin organisasi itu.</p>
<p>Pada  medio  2006, Direktorat Pendidikan Kejuruan, Diknas, pernah mengongkosi  saya berdua Denny berkeliling Jawa-Bali. Kami diminta Diknas menilai  kemampuan menggambar anatomi guru-guru kesenian se-Jawa dan Bali. Dalam  perjalanan ke ibu kota propinsi itulah dialog saya dengan almarhum  instens.</p>
<p>Di Jogja kami tertawa terpingkal di luar ruang  kelas SMK, di mana kami menemui bahwa guru kesenian mengajarkan siswa  menggambar anatomi dengan memfoto kopi anatomi  tubuh manusia. Lalu foto  kopian itu di-<em>trace</em> di kertas menggunakan<em> light box</em>,  alias macam orang menjiplak di kertas. Dengan cara ini, bisa  dibayangkan, bukanlah pemahaman benar didapat siswa, apatah  lagi  keahlian.</p>
<p>Saya lalu teringat ketika pernah ke Paris 1994,  sempat berkunjung ke Museum Luvre. Saya bertemu dengan beberapa seniman  yang menjelaskan, jika ingin mengambil studi seni lukis, diperguruan  tinggi di sana, dua tahun pertama pasti digojlok membuat anatomi; orang  maupun hewan. Ibarat belajar musik, belajar musik klasik dari membaca  not balok, dari tingkat dasar.</p>
<p>&#8220;Dan membuat anatomi yang  benar itu memang dengan melihat, langsung menggoreskan di kertas,&#8221; ujar  Denny pula, &#8220;Karenanya, untuk menentukan seseorang itu animator atau  tidak, lihat saja tarikan garisnya dalam membuat lingkaran sekali  tarik.&#8221;</p>
<p>Hal hasil, dari lebih1.000 guru kesenian yang kami  temui se-Jawa dan Bali,  tak sampai hitungan lima jari yang mampu   membuat anatomi dengan benar. Jika pun ada lima orang, semuanya dengan  catatan khusus.</p>
<p>Atas dasar petuah lingkaran itu pulalah,  saya membuat logo AINAKI dengan goresan  tangan sendiri membentuk  lingkaran, sebagai  dasar mapping wajah. Filosofisnya, agar  masyarakat  industri animasi, punya pondasi skill kuat, lalu tidak sekadar  berkesenian. Animasi juga dominan merambah industri. Dan hingga hari ini  kami masih merasa gagal mengindustrikan animasi. Lalu Denny pun sudah  duluan pergi di usia setengah abad.</p>
<p><strong>PUKUL </strong>dua  puluh satu  17 Agustus 2010.  Bulan di langit masih setengah. Saya  melangkah pulang dari rumah nomor 8 Jl. Hidup Baru, Gandaria Utara,   Jakarta Selatan. Di kediaman orangtuanya itu,  jasad Denny di semayamkan  sejak petang di mana hujan lebat mengguyur datang. Di rumah bersahaja,  dengan teras kecil langung ke tepian jalan itu, para tamu tampak  menumpuk. Namun saya tak menemukan kawan-kawan yang pernah bergerak di  bidang animasi.</p>
<p>Di seberang jalan sayamelihat ada lima orang anak muda yang tampak celingukan.</p>
<p>Saya tanyakan apa kaliandari komunitas animasi?</p>
<p>&#8220;Iya Pak, kami murid PakDenny  di Bina Nusantara.&#8221;</p>
<p>Mereka sekaan serantak menjawab pertanyaan saya.</p>
<p>Rupanya  apa yang kami jakaki di awal mendirikan organisasi animasi, antara lain  mengajak perguruan tinggi bekerjasama  untuk menumbuhkan minat dan  meningkatkan jumlah SDM animator berkembang sudah mulai menggelinding.   Bagi saya ini sebuah kabar menggembirakan.</p>
<p>Itu artinya  kebanyakan kawula muda kini yang mengoprek aplikasi animasi seperti 3D  Studio Max, paling tidak di tingkat Bina Nusantara, sudah mulai diberi  pemahaman oleh Denny, harus mampu menggambar dasar, antara lain anatomi.</p>
<p>Sebab  acap kini, mereka yang mengaku animator, dengan hanya menguasai  aplikasi atau software sudah kadung mengaku animator. Padahal sosok  animator itu adalah insan yang bisa membuat <em>key drawing</em>, kunci  gerakan sebuah objek, manusia, atau hewan. Dan di 3D, kompetensi visual  itu bukan hanya animator, di kompetensi  animasi ada yang namanya   modeller, tukang buat karakter, dan pembuat latar lingkungan, arsitektur  dan sejenis: objek tiga dimensi tapi tak bergerak. Lebih jauh, kalau  bicara film, baik seri maupun layar lebar ada lagi kompetensi menulis  skenario yang  tak kalah sangat penting.</p>
<p><strong>SAYA</strong> kemudian pamit ke kawan-kawan mahasiswa dari Bina Nusantara itu. Kaki  saya melangkah di jalan aspal basah. Bulan dilingkaran masih setengah.  Leher saya menengadah: ya Allah  Denny telah merdeka, setidaknya ia  terhindar dari azab kubur, menghadap-Mu  di Ramadan mulia,  semoga Surga  baginya.</p>
<p>Kekhusyuan saya berdoa  terganggu sejenak. Sebuah <em>SUV Range Rover</em> hitam melintas di jalanmenurun yang tak lebar itu. Di atasnya Kusumo A  Martoredjo,  Ketua Umum Pengurus Besar Persaudaraan Bela Diri Kempo  Indonesia (PB.Perkemi) periode 2010-2014, sosok yang saya temui diruang  tamu kediaman orang tua Denny. Almarhum Denny juga seorang atlit langka  Kempo. Prestasinya luar biasa, meraih gelar DAN VI - - tak banyak orang  Indonesia bisa punya.</p>
<p>Dalam beberapa pertemuan di Kadin  Indonesia, wajah Kusumo, pengurus Kempo itu,  tidak asing bagi saya. Ia  komisaris Bumi Resouces, kelompok usaha Bakrie, bergerak di tambang batu  bara. Membayangkan kemewahan mobil Kusumo,  ingatan saya melayang ke  sebuah BMW putih  pernah saya beli dengan keringat sendiri awal 1990,  dan mobil itu pun sudah lama ludes demi industri animasi. Di Jepang  animator kaliber Denny, jangankan sebuah Range Rover, mebeli Gulf Stream  G-5, pesawat pribadi, hal biasa.</p>
<p>Seketika saya tertawa  berjalan terus menuju jalan Radio Dalam, mencari kendaraan umum yang  ada. Saya lalu nyengir membayangkan kelucuan Denny memainkan gambar  ketika membuat kartun iklan animasi untuk Puddle Pop, dan banyak materi  iklan lain. Ia memang belum berhasil membuat serial, macam enam serial  animasi wayang yang pernah saya produksi, itupun gagal masuk ke pasaran  karena tak mampu menjadi 52 episode, tak bisa masuk ke pasar global..</p>
<p>Denny fokus bekerja untuk sesuatu yang dibayar di muka.</p>
<p>Seingat  saya, Dwi Koendoro, pembuat Panji Koming di Kompas, kemudian pandai  membuat animasi, dan kini mengaku pakar animasi, belajar animasi dari  Denny Djoenaid.</p>
<p>Semoga kepergiannya membukakan hati dan  mata pengelola bangsa ini, bahwa selain memperbanyak SDM animator,  pendirian Venture Capital riil betul-betul  riil menyalurkan pendanaan  bagi industri animasi nasional mutlak adanya. Karena inilah ranah <em>credential asset </em>sangat bernilai ekonomi. Kalimat ini pasti diamini Denny. Selamat jalan <em>dunsanak</em>! ***</p>
<p>Iwan Piliang, <em>Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog-presstalk.com/?feed=rss2&amp;p=417</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sketsa Puasa 2 : Berpuasa Berserial Animasi Malaysia</title>
		<link>http://blog-presstalk.com/?p=412</link>
		<comments>http://blog-presstalk.com/?p=412#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 04:16:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>presstalk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog-presstalk.com/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[Serial Upin Ipin, diputar berulang di TPI. Ceritanya kuat,  walaupun secara teknis animasi,  visual tokoh utamanya hanyalah dua  bocah kembar plontos, minimalis; bersekolah, bermain, berkehidupan di  kampung. Literair  penggalan pengalaman  saya di industri animasi,  berupaya lalu  patah di tengah jalan  mengindustrikan animasi di   Indonesia. Padahal kemampuan animator kita, jauh lebih baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>Serial Upin Ipin, diputar berulang di TPI. Ceritanya kuat,  walaupun secara teknis animasi,  visual tokoh utamanya hanyalah dua  bocah kembar plontos, minimalis; bersekolah, bermain, berkehidupan di  kampung. Literair  penggalan pengalaman  saya di industri animasi,  berupaya lalu  patah di tengah jalan  mengindustrikan animasi di   Indonesia. Padahal kemampuan animator kita, jauh lebih baik dari  Malaysia. Sama dengan lebih unggulnya </em>skill <em>anak Indonesiadi industri perminyakan. Setidaknya Dt. Noor M. Chalid, kartunis </em>Kampong Boy<em>,  pernah ingin mengorder animasi ke saya. Pada13 Agustus lalu rasa  keindonesiaan kita seakan ditampar  oleh ditembaknya  kapal Patroli  Departemen Kelautan RI diwilayah RI, oleh Polisi Perairan Diraja  Malaysia. Mereka menangkap tiga petugas kita. Saya menyebut langgam  Malaysia ini bagaikan Orang Kaya Baru (OKB) di Indonesia . Kata orang  kampung saya, mereka  ongeh - - setingkat di atas congkak. Tarian Randai  Sungai Geringging, tanah kelahiran saya, pernah pula diaku Malaysia  sebagai keseniannya. Namun Upin dan Ipin tetaplah menghibur! Mana serial  animasi kita?</em></p>
<p><em></em></p>
<p><strong>TIGA </strong>anak  saya lelaki. Mereka sepuluh, delapan dan tiga tahun. Dua anak  tertua  kini sudah menjalankan ibadah puasa penuh.  Hiburan utama kami di saat  makan sahur bersama keluarga di Ramadan kali ini menyimak  penggelan  serial animasi Upin-Ipin, produksi Malaysia disiarkan oleh TPI.</p>
<p>Di  sebuah serialnya, Ipin membayangkan berbuka puasa melahap ayam goreng.  Lalu kakaknya,  Ros, mengajaknya berbelanja ke pasar. Kak Ros memberikan  lembaran ringgit, sedianya dibelikan untuk dua tiga potong ayam sahaja.  Namun  Upin dan Ipin, justeru merasa dapat angin. Mereka membelanjakan  semua ringgit ke aneka  ayam; ayam golek, ayam madu, ayam goreng, ayam  bakar, ayam pandan.</p>
<p>Di pasar mereka melihat  Mail,  teman sekelas, menjual ayam goreng kegemaran Ipin.</p>
<p>&#8220;Kau belilah ayamaku ni &#8216;Pin, emak aku buat, enaklah!&#8221; Mail berpromosi.</p>
<p>Si kembar itu pun sepakat membeli. Tak tanggung-tanggung, semua ayam goreng dagangan Mail bersisa,mereka borong.</p>
<p>Visual Upin dan Ipin menenteng beragam bungkusan serba ayam dengan riang pulang. Tinggallah Kak Ros <em> manyun</em> terperangah, segenap  ringgit   telah berganti ayam.</p>
<p>Di meja makan berbuka puasa. Meja penuh dengan  hamparan piring berisi  aneka penganan serba  ayam.</p>
<p>&#8220;Kau habiskan itu semua,&#8221; ujar Ros ke Upin dan Ipin. Wajah Ros dongkol.</p>
<p>&#8220;Tak lah Kak, tak kuat lagi kami makannya.&#8221; suara Upin dan Ipin memelas.</p>
<p>Susana  di ruang makan di kampung melayu, Malaysia,  itu. Opa- - nenek - - lalu  menasehati Upin dan Ipin dengan suara khas, bijak, bahwa kalau lagi  berpuasa, di siang hari,  memang serasa semua makanan seakan  terlahap,namun nyatanya di saat  berbuka, sedikit sahaja  dimakan, perut   sudah berasa kenyang.</p>
<p>Khas duniakanak-kanak, khas Melayu.</p>
<p>&#8220;Betul, betul,betul!&#8221;  ungkapan khas  Ipin.</p>
<p>Ia  acap mengulang ucapan lema betul, bentuk  persetujuannya  akan sesuatu.</p>
<p>Lalu anak Indonesia mengenallah budaya Malaysia melalui animasi. Berlanjut membanjirlah <em>merchandising</em> Upin Ipin, termasuk mewabah mainan tangkai es krim, diantaranya.</p>
<p>Lantas  pertanyaannya, mana budaya kita, mana industrianimasi Indonesia?</p>
<p><strong>PANTASKAH</strong> saya bertanya ?</p>
<p>Setelah  mencoba berbisnis di jasa iklan sejak berhenti  jadi wartawan dari  majalah SWA pada 1989, dari 1993 hingga 1995, saya  fokus  memproduksiserial animasi. Alasan saya ketika itu sederhana saja. Bahwa  menjadi pengusaha haruslah punya produk dan atau jasa yang masuk ke  pasaran. Itu pengusaha!</p>
<p>Kalimat itu terus saya  sosialisasikan di setiap menulis mengupas kewirausahaan hingga kini.  Konon, kemajuan Cina dahsyat kini, tiada lain karena kegigihan  membanjiri dunia dengan manca-ragam produk.</p>
<p>Nah setelah   &#8220;capai&#8221; di jasa yang saya rasakan lebih banyak tangan &#8220;di bawah&#8221;, saya  memilih industri tak dilirik orang ramai. Yakni serial animasi. Pilihan  saya kala itu animasi wayang, dengan membuat karakter anak-anak, ada  yang plontos macam Upin Ipin, namun berbaju wayang. Saya memilih judul   Burisrawa, berdialek Batak.</p>
<p>Mengapa wayang? Sulit bagi  saya kala itu membuat cerita berserial banyak. Cerita Kancil saja, untuk  dijadikan enam episode masing-masing 24 menit  - - untuk siaran  setengah jam - - sudah seret kisahnya. Saya memilih Wayang Carangan,  yang tak akan habis dikembangkan kisahnya hingga beratus serial.</p>
<p>Maka  singkat kata, setelah sempat melihat-lihat ke Disney, AS, saya pun  mengumpulkan animator 2D terbaik negeriini, dan membenamkan segenap uang   yang dihimpun  seperak dua perak dari usaha selama lima tahun, lalu  fokus membuat serial animasi.</p>
<p>Sesungguhnya  serial animasi  itu gampang menghitung bisnisnya. Harga penjualan paling murah serial  itu per episode US $ 1.000, lalu jika kita sudah memproduksi 52 episode,  untuk setahun, diputar seminggu sekali,maka perpaket US $ 52.000. Untuk  melego ke-1.000 stasiun teve menayangkan di pasar global sesuatu yang  dapat dijangkau.</p>
<p>Maka jika seribu teve manca negara  membeli, akan didapat US $ 52 juta, alias Rp 500 miliar lebih,  belum  termasuk pendapatan penjualan karakter untuk <em>merchandising</em>. Anggaplah pesimis, 10% saja jangkauan penjualan, masih diraih US $ 5,2 juta.</p>
<p>&#8220;Untuk  meraih seribu televisi, bukan suatuyang sulit, Karena di suatu negara  televisi lebih dari satu, belum termasuk hak ulang siar,&#8221; ujar David C.   Fill, Direktur Burbank, Sydney, perna hmengunjungi studio animasi  saya  awal 1995.</p>
<p>David pula yang melihat potensi Burisrawa  dengan perbaikan penambahan dialog. Ia menyanggupi memasarkan ke Eropa,  Asia, Timur Tengah. Amerika Serikat  tidak bisa tembus, karena karkter  yang kami buat terlalu tradisional.</p>
<p>Maka ketika satu episode serial Burisrawa yang kami produksi kelar, saya pun membuat sebuah <em>event di Hotel Le Meredien</em> pada awal 1994, membedah produksi kami. Hadir seratusan pakar,  budayawan, kalangan DPR, pemerhati anak. Kritik dan pujian mengalir.</p>
<p>Episode  pertama itu pula yang membuat Datok Noor M. Chalid - - akrab dengan  tokoh kartunnya: Lat - -  menerima saya di Kuala Lumpur, 11  Februari1995. Ia menjemput saya ke bandara dengan Pajero, yang ia  kemudikan sendiri. Ia mengajak ke sebuah klub eksekutif  tak jauh dari  Masjid Raya, Kualalumpur. Di sana sambil makan siang dengan  nasi  beralaskan potongan utuh daun pisang, kami saling tertawa, bagaimana  serial Kampong Boy, dibuat di Kanada, sebagain proses dikerjakan oleh  animator Filipina.</p>
<p>&#8220;Batang kelapa berdau npisang, pisang  berdaun kelapa. Pedati jadi macam kereta kuda kerajaan, &#8221; ujar &#8220;Lat&#8221;.  Kami lalu terbahak-bahak, menertawakan para desain karakter Kanada tidak  pula tahu tahu beda kelapa dan pisang, juga pedati  hanya gerobak,  kayu  segi empat ditarik sapi atau kerbau.</p>
<p>&#8220;Segera tahun  depan, saya akan berkunjung ke studiomu, kita jajaki kerjasama produksi,  karena di Indonesia biaya produksi rendah,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Rencana   Datok &#8220;Lat&#8221; itu tak pernah kesampaian. Sebab di penghujung 1995,  seluruh dana produksi yang saya miliki dengan jumlah seria lanimasi  kelar 6 eposide, mencapai hampir Rp 2 miliar terbenam sudah.<em> Pre Letter of Intent</em> dari sebuah televisi lokal yang berkenan membeli dan menayangkan, tak  kunjung kontrak. Padahal saya berkenan mereka beli di harga berapa saja.  Toh sudah ada komitmen pasar global.  Karena tiadanya kontrak, saya  kesulitan mencari<em> loan</em> ke perbankan lokal.</p>
<p>Produksi  yang rampung  enam episode itu mustahil dipasarkan, karena untuk tayang  setidaknya perlu 13 episode, dan untuk dijual ke pasar globali dealnya  52 episode satu paket, minimum 26 episode.</p>
<p>Maka khatam sebuah upaya membangun sebuah animasi dalam kerangka industri itu.</p>
<p>Sepuluh   tahun silam kepada Agung Sanjaya, animator di Bali,  memiliki studio  mengerjakan bagian proses animasi untuk banyak produksi serial Jepang,  seperti Dora Emon, Candy-Candy, bahkan untuk Film Animasi layar Lebar  Jepang, saya sampaikan ide untuk ke depan memproduksi serial  Wayan dan  Made.</p>
<p>Sebab dari Sanjaya saya mengerti bahwa Jepang tidak  bakalan mendukung industri animasi negara lain. Karenma itu salah satu  credential asset mereka, baik sebagai industri, maupun penetrasi budaya.  Di Bali orang kita hanya menjadi tukang yuntuk Jepang, sebatas meraih  gaji tak seberapa.</p>
<p>Maka, ide tinggallah ide. Kini Indonesia, heboh Upin Ipin.</p>
<p>Mencari permodalan untuk bisnis kreatif di Indonesia amatlah sulitnya. Apalagi yang namanya <em>venture capital </em>riil yang saya teriakan sejak 25 tahun lalu, untuk dunia industri kreatif Indonesia, hingga kini masih isapan jempol belaka.</p>
<p><strong>DI MEJA </strong>saya  ketika menuliskan literair ini, menggeletak buku Undang-Undang Nomor11,  2008, tentang Informasi Transaksi Elektronika (ITE). Di bagian halaman  awalnya ,ada tanda tangan seorang Dirjen Aplikasi Telematika,  Depkominfo. Pada awal ia menjabat sempat saya paparkan potensi Indonesia  di konten dan animasi. Karena, Departemen inilah salah satu yang  sedianya mampu mengembangkan animasi menuju industri, bekerjasama dengan  Depertemen Perindustrian dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.</p>
<p>Namun  belakangan hari, sang Dirjen boro-boro mengembangkan industri animasi  untuk konten telematika, malah membuat UU ITE yang mengakibatkan ranah  kehidupan seakan gonjang-ganjing, bahkan seorang ibu menyusui macam  Prita Mulyasari, harus dibuikan tanpa bisa pamit ke anaknya yang lagi  disusui.</p>
<p>Kala itu saya menggugat UU ITE ke Mahkamah Konstitusi (MK), seakan seorang diri. Kawan-kawan media kal aitu belum <em>ngeh</em>.  Sang Dirjen, di persidangan sempat membawa artis Azhari bersaudara,  sehingga  konten pasal 27 ayat 3 yang saya gugat, soal beratnya hukuman  ihwal pencemaran nama baik, seakan beralih ke sisi privat artis yang  harus dilindungi. Dan kuat dugaan saya sang artis datang ke MK dibayar  dengan  uang Departemen, uang rakyat.</p>
<p>Kini mantan  Dirjen  itu sudah pula menjadi Komisaris sebuah bank BUMN papan atas. Dilihat  dari iportofolio karirnya,  mampu melompat-lompat dalam hitungan pendek;  Sebelumnya Kepala PT Pos Sumut, lalu  tak sampai setahun  jadi salah  satu jajaran pimpinan Percetakan Uang Negara RI (Peruri). Maka pahamlah  saya, bahwa bicara dengan pejabat  negara, menjadi seakan menghadapi  tembok.</p>
<p>Di Departemen Perindustrian, saya pernah merintis  pengadaan motion capture. Alat untuk meng-capture gerak,sehingga  mempercepat proses produksi. Depertemen manganggarkan untuk dua tahun  uang negara Rp 3,7 miliar sesuai dengan alat asal Inggris yang saya  rekomendasikan: 18 kamera <em>infra red, real time</em>.</p>
<p>Ketika   turun anggaran tahun pertama Rp 1,7 miliar,eh, kawan di AINAKI  (Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia),  dimana organisasi ini  saya salah satu pendiri - -  bahkan logonya pun goresan tangan saya  sendiri - -  bersama sang Depertemen, malah membeli kamera  berkualifikasi sangat rendah dengan spesifikasi kualitas VGA,yang tak  sampai Rp 200 juta didapat di p-asaran. Hal ini harusnya diverifikasi  KPK.</p>
<p>Dengan membeli peralatan  dari Inggris, padahal tetap  ada profit 5%,  industri tertolong peralatan terpakai untuk kepentingan  industri secara riil.</p>
<p>Dan di tahun berikutnya saya tak  tahu lagi. Konon alat yang telah  dibeli berkriteria VGA itu   menganggur. Padahal setelah motion capture, saya mengharapkan negara  mendukung pembelian jaringan komputer untuk merender: Rendering farm.</p>
<p>Apa dinyana, wong <em>motion capture</em> gagal, apatah pula <em>rendering farm</em>.</p>
<p>Saya  kemudian lebih memilih menulis untuk publik. Dari jauh saya amati  banyak sekali sosok  mengaku begawan di dunia animasi di  Indonesia,tetapi belum ada yang mampu menjadi sebuah industri  memproduksi 52 episode.</p>
<p>Maka ketika di <em>event Indonesia  ICT Award  (INAICTA) </em>2010   ini ada animasi 3D Larjo,  masuk sebagai pemenang, Riza  Endartama,animator, lalu menjawab ucapan selamat saya di facebook-nya,  &#8220;Iya kan berkat upaya  abang juga dulu.&#8221; Ketika masih aktif di AINAKI  dulu, kami memang sempat meminta usulan kawan-kawan animator membuat  rencana  serial. Larjo (singaktan Lalar Ijo) salah satu yang terpilih  untuk dicarikan solusi menjadi serial, minimum hingga 26 episode, pada  2004 lalu.</p>
<p>Kini dalam hati terkadang ada rasa bekecil hati; apalah kita dibandingkan Malaysia kini dengan Upin Ipin saja kita telap.</p>
<p>Toh  Larjo saja barulah berdurasi 5 menit, tidakpula  sampai sepuluh episode.</p>
<p>Saya  terkadang senyum dikulum. Menertawakan diri sendiri: tahu jalan menuju  roma, apa daya tangan tak sampai. Jadi ingat sosok Jarjit Singh,  acap  berpantun di serial Upin Ipin, &#8220;Satu dua buah manggis, gagal tak usahlah  menangis.&#8221;</p>
<p>He he he</p>
<p>Begitulah  kawan-kawan,sebuah narasi tentang animasi yang tak kunjung menjadi  industri di negeri ini. Rindu akan pemimpin negeri ini paham akan  potensi dan peluang<em> credential asset</em> anak bangsanya.</p>
<p>Selamat merayakan Har i Ulang tahun Kemerdekaan!***</p>
<p>Iwan Piliang,<em> Literary Citizen Reporter,blog-presstalk.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog-presstalk.com/?feed=rss2&amp;p=412</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sketsa Puasa 1: Orang &#8220;Sampah&#8221; &#038; Pintu Air Bersampah</title>
		<link>http://blog-presstalk.com/?p=410</link>
		<comments>http://blog-presstalk.com/?p=410#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 04:24:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>presstalk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog-presstalk.com/?p=410</guid>
		<description><![CDATA[Saya  tinggal di bilangan Guntur, Setiabudi Jakarta Selatan.  Guntur lebih dikenal karena di pojokan Jalan Sultan Agung dan Perempatan  Jalan Guntur ada markas Polisi Militer (PM).  Di belakang penjara PM  Guntur, ada Pasar Manggis, tempat kami acap membeli kebutuhan  sehari-hari. Tak terkecuali gas elpiji ukuran 3 kg.  Sekelimut  pengalaman memakai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Saya  tinggal di bilangan Guntur, Setiabudi Jakarta Selatan.  Guntur lebih dikenal karena di pojokan Jalan Sultan Agung dan Perempatan  Jalan Guntur ada markas Polisi Militer (PM).  Di belakang penjara PM  Guntur, ada Pasar Manggis, tempat kami acap membeli kebutuhan  sehari-hari. Tak terkecuali gas elpiji ukuran 3 kg.  Sekelimut  pengalaman memakai tabung gas elpiji 3 kg dan kisah  pemberhentian  langkah di saat menjelang berbuka puasa Ramadan hari pertama di Pintu  Air Manggarai, Jakarta Selatan.</em></p>
<p><strong>SEJAK</strong> menjelang Ramadan, hingga puasa hari pertama, suatu kehebohan nyata di  Pasar Manggis, Guntur, Jakarta Selatan. Tabung gas elpiji 3 kg, tak  bertanda Standar Nasional Industri (SNI) tidak  bisa ditukarkan lagi ke  pedagang. Tabung terakhir  kami pakai, bagian  mulut lehernya diberi  ikat karet gelang, <em>kajai</em>, kata orang Minang.</p>
<p>Suatu  petang aku pulang. Di dapur  aku menyium bau gas. Sertamerta aku cabut  selang tabung,  lalu membawa &#8220;melon&#8221;  ke halaman. Dan kini tabung itu  tak mau diterima pedagang, padahal sebelumnya dibeli dari pedagang  sama.Dan di belakang Pasar Manggis ada perkampungan padat, yang  sehari-hari warga membeli gas dengan tabung gas tanpa SNI itu. Keajaiban  demikian,agaknya, mungkin cuma terjadi di ranah Indonesia.</p>
<p>Di  awal Ramadan ini, menikmati hidup sebagai rakyat,  ihwal berpisahnya  nyawa  dari badan akibat meleduknya tabung gas, membuat jasad bisa bak  sampah. Seakan murah.</p>
<p>&#8220;Tukang gas yang 12 kg tak lewat.  Telepon ke  penjual agen agak dekat rumah, dia bilang tidak ada  petugas  antar,&#8221; kata isteri saya.</p>
<p>Maka dengan berjalan kaki, dan   menenteng tabung  &#8220;melon&#8221; ringan, menjadi pilihan keluarga kami membeli  gas. Apalagi pedagang penjual gas &#8220;melon&#8221;: yang suka keliliang juga tak  lewat.</p>
<p>Kenyatan demikian, manalah dipedulikan oleh  Pertamina. Segenap pimpinan Pertamina, jajarannya, asyik sibuk  dengan  rutinitas yang ada. Lagian, mereka di kantoran, sudah pasti melepaskan  tanggung jawab ke para distributor, dealer dan segenap turunannya.</p>
<p>Dengan  logika demikian, mereka membenarkan diri, tetapi dengan rendah hati   saya katakan: bolehlah sebagai orang biasa bertanya, bagaimana  pengawasan produsen terhadap barang dagangan produksinya?</p>
<p>Apalagi urusan gas elpiji ini memang monopoli Pertamina memproduksi?</p>
<p>Dalam  kerangka inilah kepapaan sebagai orang biasa menjadi kian tergerus asa.  Bentuk kekecewaan publik satu dua meretas ke aksi datangnya warga ke  istana: setelah cara dan segenap akal menjadi percuma menyampaikan kata,  tak tahu lagi harus mengadu ke mana?</p>
<p>Puncaknya  seorang  Susi Hariani yang membawa anaknya, Ido,  cacad panggang,  dari  Bojonegoro mengadu ke istana, 18 Juli lalu  - - untungnya kini sudah  dalam penanganan rumah sakit dibiayai pemerintah.</p>
<p>Lebih banyak masalah tak mengemuka ke media!</p>
<p>Lebih berjibun mengendap di bawah permukaaan.</p>
<p>Kami  tinggal hanya dipisahkan Jalan Sultan Agung dan Kali Ciliwung, hitungan  jarak  tak sampai dua ratus meter, bersebelahan dengan kawasan Menteng,  Jakarta Pusat, dan tidak pula  sampai lima ratus meter dari kediaman  Rumah Dinas Wapres, mengalami keadaan tabung gas bermasalah, bagaimana    pula warga di banyak daerah?</p>
<p>Jika di pusat Jakarta saja,  tabung gas bermasalah beredar banyak, kuat dugaan saya, angka 9 juta  tabung bermasalah  dari 45 juta  elpiji 3 kg tabung beredar kini, lebih  besar lagi. Angka sembilan itu kini bisa jadi sudah sembilan belas, atau  bisa jadi dua puluh sembilan?</p>
<p>Kedengaran mengarang memang.</p>
<p>Tetapi  sebuah angka rabaan bisa jadi bukan omong kosong, karena tidak  ada  program darurat,  aksi cepat,  Pertamina memverifikasi  perihal  ke-pah-poh-an ini.</p>
<p>Hilangnya nyawa puluhan orang  mereka  anggap biasa. Sama biasanya dengan pulang perginya mereka  bekerja di  Pertamina sehari-hari menunaikan tugas, terkadang membuat mereka  bagaikan robot, melupakan aras  manusia.</p>
<p>Macam melihat robot itulah<em> body language</em> Dirut Pertamina dalam sosialisasi penggunaan tabung gas 3 kg belakangan  di televisi. Bahkan dalam iklan layanan masyarakat yang mereka buat  pun, sang  Dirut  hanya berujar, &#8220;Tabung Gas Pertamina Aman&#8221;. Tanpa ada  kerendah-hatian, membeberkan  dalam satu paparan, langkah-langkah  tanggap telah mereka lakukan, lalu prihatin mendalam dari musibah  telah  terjadi.</p>
<p>Laku demikian,  akibat langgam hidup, tak pernah  lagi mau bersinggungan dengan kenyatan hidup sehari-hari. Tak ingin  lagi merasakan bagaimana memasak dengan minyak tanah, bagaimana  merasakan antri minyak tanah. Ketar-ketir terror&#8221;melon&#8221;. Nah bila insan  &#8220;begawan&#8221; demikian dominan mengaku memimpin segenap kepentingan rakyat,  sulit memang berharap bahwa mereka akan mampu menjiwai denyut-kejut  rakyat, kusut-masai, mereka cincai-cincai!</p>
<p><strong>SATU</strong> jam lebih menjelang berbuka  Ramadan hari pertama. Saya sengaja mampir  ke Pintu Air Manggarai, yang diarsiteki Herman van Breen, pada 1922.  Dulu agaknya, kawasan pengatur aliran air mengatasi banjir kanal barat  ini bisa jadi tampak besar sekali.</p>
<p>Kini, bila Anda   berdiri di tepiannya, di sebelah kanan menumpuk batang kayu   berdiameter  lebih tiga pagutan orang biasa. Di sampingnya menumpuk  gelondongan kayu lain lebih kecil. Bersebelahan, potongan-potongan kecil  pecahan kayu digelontor air pasang.</p>
<p>Bau sekitar anyir. Anda yang alergi bau, saya pastikan akan <em>hacin-hacin</em>.</p>
<p>Petang  itu saya perhatikan dua anak muda tampak memancing. Mereka bilang suka  dapat lele,mujair, sesekali ikan gabus. Gabus bila di Riau dikenal  Ruting, jenis ikan darat banyak gizi, sekaligus dianggap  makanan  menyehatkan pria.</p>
<p>Di bagian kiri ada jalan menuju ke  tepian air bercorak coklat. Saya perhatikan menggunung sampah mulai dari  kasur hanyut, bantal, kursi pun ada. Urusan  botol plastik, patahan  kayu-kayu pendek selengan, jangan ditanya jumlahnya.</p>
<p>Seorang  bapak tua, tampak mengait pakai galah setiap aliran barang yang ada. Ia  pilah-pilah botol plastik, ember plastik pecah-belah dan barang  plastik  khanyut lainnya. Dari binar matanya terlihat bagaikan orang  mencari butiran intan di Martapura, Kalimantan Selatan.</p>
<p>Di  bagian atas bersebelahan dengan jembatan  kereta api Manggarai, sebuah  gubuk seukuran kandang ayam, menaungi  tempat tinggal seorang nenek tua.  Nenek bongkok itu menjemur potongan kayu basah dari kali. Ia hidup dari  menjual potongan-potongan kayu kecil yang kini kian dicari masyarakat  sebagai kayu bakar.</p>
<p>Petang  merembang menjelang  berbuka  pusa itu, saya membayangkan sosok Fauzi Bowo, Sang Gubernur Jakarta ini,  ada berdiri di samping saya. Ia ada sebagai rakyat biasa, melihat  bagaimana gunungan sampah, bau apek, kumuh,  anyir, dan nenek tua renta  tidak nyinyir masih bekerja.</p>
<p>Sayang, yang saya terima dari  sang Gubernur sehari menjelang Ramadan, hanya ucapan selamat menunaikan  puasa Ramadan via SMS saja.  Ia mengajak semoga amalan puasa diterima   Tuhan.</p>
<p>Terima kasih gubernur.</p>
<p>Selama Ramadan  pula dirilis ke media oleh  Pemda DKI , gubernur akan berkeliling  melakukan  Shalat tarawih. Tak ada agenda menginjak kenyataan riil  kehidupan warga DKI, yang air got, paritnya,  mampat, kalinya belum  bersih jua. Giliran hujan, air berlepak-peak di jalanan, kemacetan  menjadi-jadi.</p>
<p>Solusi angkutan massal belum juga  terealisir. Proyek MRT sudah tiga tahun bergulir, terindikasi baru hanya  memakan APBD untuk perencanaan tok, sudah lebih Rp 200 miliar.</p>
<p>Anehnya,  Monorail, jelas-jelas terindikasi lebih - - sebagaimana pernah saya  tulis di Sketsa - - kepada perebutan kepentingan pengusaha, bukan demi  kepentingan publik, tak berani juga diputuskan untuk  dilanjutkan oleh  sang gubernur. Pilar-piliar Monorail  yang berdiri kini dengan   investasi awal PT Adhi Karya, tetap saja berderetan karat sunyi.</p>
<p>Apakah kemudian lalu menunggu ada warga DKI menampar muka gubernur dan segenap jajaran pemda DKI dalam arti riil?</p>
<p>Tulisan  Sketsa Ramadan ini aku tulis dengan ajakan, sebelum tamparan riil itu  terjadi, macam &#8220;kenekatan&#8221; Ibu Ido datang ke  istana, marilah beramadan  dalam arti riil, jauhkan diri dari seremoni. Apalagi beribadah demi  seremoni. Injaklah bumi, temuilah rakyat, rasakan denyut kehidupan  rakyat nyata.</p>
<p>Toh semua dana kalian mainkan, dari rakyat jua asalnya.</p>
<p>Lain tidak!</p>
<p>Jika itu dicamkan, aku yakin Ramadan kali  ini menjadi puasa berbeda.</p>
<p>Memartabatkan harkat manusia dengan mutu kehidupan, mulia adanya!***</p>
<p>Iwan Piliang, <em>Literary Citizen Reporter,blog-presstalk.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog-presstalk.com/?feed=rss2&amp;p=410</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sketsa: Awal Ramadan Berlimpah Meteor Semoga Banyak Berkah</title>
		<link>http://blog-presstalk.com/?p=406</link>
		<comments>http://blog-presstalk.com/?p=406#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 04:43:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>presstalk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog-presstalk.com/?p=406</guid>
		<description><![CDATA[Awal Ramadan ini  penghuni bumi akan menikmati hujan  meteor. Agaknya   dapat dinikmati mata telanjang. Rabu Malam, 11 Agustus  menjadi puncak  langit berkilau membiru-biru. Semoga pertanda alam yang terjadi 133  tahun sekali ini membawa berkah. Amin.  Di bumi, di selatan Jakarta,  kususnya, di  Sabtu petang hujan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Awal Ramadan ini  penghuni bumi akan menikmati hujan  meteor. Agaknya   dapat dinikmati mata telanjang. Rabu Malam, 11 Agustus  menjadi puncak  langit berkilau membiru-biru. Semoga pertanda alam yang terjadi 133  tahun sekali ini membawa berkah. Amin.  Di bumi, di selatan Jakarta,  kususnya, di  Sabtu petang hujan membuncah-uyah. Benak saya tak habis  pikir mengapa  ruas jalan Karet Belakang, Karet Kuningan, Setiabudi,  Jakarta Selatan, sejak 1970,  belum juga memiliki  got mengalir airnya?  Di samping jalan, gedung tinggi berdiri berendeng-rendeng. Parit  patah  tertutup tanah. Tentulah berjibun ruas jalan lain tak berparit. Ihwal  got dan air tidak mengalir  bermuara ke peradaban tak kunjung baik  mutunya. Sudah 2010?</em></p>
<p><strong>KETIKA</strong> SMA  dulu, kami memiliki kegiatan ekskul di Lembaga Ilmu  pengatahun Indonesia (LIPI). Salah satu yang kami minati menyimak  langit, menikmati  wejangan tentang dunia astronomi. Masih lekat dalam  ingatan saya bagaimana Dr. Karlina, wanita ahli astronomi Indonesia  pertama memberi kami segala info.</p>
<p>Pekan ini, tepatnya  pada 11 Agustus malam, mereka gemar mengeker langit  akan  dimanjakan rentenan fenonema alam; Venus, Mars, dan Saturnus  lebih berkilau menghiasi langit mulai sejam setelah Matahari terbenam  sampai akhir malam.</p>
<p>Ketiga planet itu membentuk segitiga dengan Venus, bersinar paling  terang di titik bawah. Mars mengiringinya di kiri atas dan Saturnus di  sisi kanan. &#8220;Ketiganya bergerombol di area yang relatif kecil dan  membentuk formasi memikat,&#8221; ujar Joe Rao, astronom yang menulis untuk  situs Space.com, Sabtu 7 Agustus.</p>
<p>Venus mudah terlihat dengan mata telanjang hanya dengan memandang ke  arah barat dan barat laut. &#8220;Mars dan Saturnus sulit, karena sinarnya  cuma 1/150 dari Venus,&#8221; kata Rao. Dia menganjurkan penggunaan teropong  untuk bisa melihat formasi segitiga planet itu.<br />
Venus, Mars dan Saturnus bakal mengakhiri penampilan bareng mereka, yang  dimulai awal bulan lalu, tepatnya 12 Agustus mendatang. Badan Antariksa  Amerika Serikat NASA mengatakan planet itu menghilang di kegelapan  langit sekitar pukul 10 malam.</p>
<p>Saat itulah fenomena langit berikutnya menyusul: hujan meteor Perseid.  Fenomena ini sebenarnya telah berlangsung sejak 17 Juli,  puncaknya pada  12 Agustus, bertepatan dengan awal  Ramadan.</p>
<p>Hujan meteor Perseid muncul akibat serpihan ekor Komet Swift-Tuttle,  melintasi Galaksi Bima Sakti, 133 tahun sekali. &#8220;Bumi melewati garis  orbitnya. Ketika memasuki lapisan atmosfir, serpihan ekor komet menguap,  dan menciptakan meteor,&#8221; kata Rao.</p>
<p>Jika cuaca mendukung, masyarakat bisa melihat hujan bintang jatuh di semua tempat.</p>
<p>&#8220;Paling bagus lihat di langit yang gelap, jauh dari cahaya kota,&#8221;  ujarnya. Menurutnya, waktu terbaik untuk menyaksikan show spektakuler  ini ada dua malam: Rabu 11 Agustus menjelang tengah malam sampai  menjelang subuh Jumat 13 Agustus. &#8220;Pengamat langit yang sabar, didukung  cuaca bagus, bisa melihat sampai 60 bintang jatuh per jam,&#8221; kata Rao.</p>
<p><strong>FENOMENA</strong> alam  menjadi acuan makhluk hidup khususnya  bagi  manusia pemilik mandat akal di bumi. Mereka terbiasa menatap langit,  macam memahami ilmu Geomensi berkembang di  Cina kuna; kapan sedianya  menyemai bibit, kapan menanam, kapan pula tempo menyerang  di tenggat  peperangan sekarat: arah angin, aliran air, aroma tanah, suara semak,   jejaring robek tarantula, semuanya  pertanda.</p>
<p>Satu  keutamaan Geomensi saya pahami, air mestilah mengalir.</p>
<p>Konon di surga  juga  di mana air mengalir.</p>
<p>Maka ketika menelepon seorang kawan di Sabtu, 7 Agustus,  yang baru  pulang  berlibur ke Beijing dan Shanghai, Cina,  saya  tanya bagaimana  dengan got dan saluran air di sana?</p>
<p>“Kalau di Orchad Road, Singapura gorong-gorong  utama  berdiameter   tujuh meter, di Shanghai bisa dua kali lipat,” ujar Masnun, sebut saja  kawan itu demikian.</p>
<p>Lama saya tak jumpa dengan Masnun. Sejak medio 1980-an ia berkecimpung  di urusan properti. Ia pernah bekerja di kelompok usaha besar. Kelompok  usahatempatnya bekerja, kini saya kritisi terindikasi menggelapkan  pajak. Kini ia mengurusi investasi Korea di sebuah kawasan resor hotel  di Bali. Sehingga ihwal sanitasi, lingkungan, pastilah menjadi perhatian  seriusnya.</p>
<p>”Orchad dengan saluran air besar dalam setahun terakhir, sudah tiga kali  dilibas banjir, walaupun dalam hitungan tak sampai enam  jam, banjir  kering mengalir.”</p>
<p>Bandingkan dengan Jakarta  dominan ruas jalannya banyak tak berparit.  Sabtu petang kemacetan hebat terjadi. Informasi dari Traffic Management  Center (TMC) Polda Metro Jaya menyebutkan bahwa genangan air  mengakibatkan arus lalulintas terputus di Cireundeu arah  Kampung  Gunung.</p>
<p>Genangan air  mencapai 30 cm,  di depan SPBU Shell, Mampang, Pasar  Cipete, Duren Tiga,  Kemang Timur,  depan Hotel Grand Kemang,  Fatmawati  Raya Selatan, Haji Nawi, membuat kemacetan parah hingga ke Arteri  Pondok Indah.</p>
<p>Jalan Veteran menuju Tanah Kusir tak bergerak.  Hal sama  terjadi ke  arah pinggiran  Jakarta, Pasar Rebo-Jalan Raya Jati Asih, hingga pintu  tol Jati Asih, Kota Bekasi,  semua kendaraan tak bergerak.</p>
<p>Bila  dalam keadaan demikian, duduk di dalam sebuah Mercedes Benz S 350  terbarupun Anda,  tidak lagi berasa nyaman. Otak buntu. Dengkul kaku.  Punggung ngilu.</p>
<p>Begitulah bila  air  tidak mengalir.</p>
<p>Tentulah banyak ruas jalan lain stagnan. Jika Anda menyigi tatap  sekejap, maka tampaklah bahwa banyak jalanan di Jakarta itu tak  berparit, kalau pun ada got cuma sedikit.</p>
<p>Dari parit nan seketek itu  dominan  mampat. Lebih sadis, got ditimbun  tanah, dibiarkan padat menahun, macam di lingkungan Karet Belakang  daerah pertama saya injak ketika pertama ke Jakarta pada 1979.  Dan hari  ini tak beda. Parit di kiri kanan jalan belum tuntas mengalir - - jika   enggan menyebut tersbumbat dan tak pernah digali.</p>
<p><strong>MINGGU</strong>, 8 Agustus pagi, saya memperhatikan batang-batang pisang   pernah ditanam almarhumah ibu saya di kiri jalan  persis di trotoar,  hanya di ruas belasan senti meter antara aspal dan tubir got. Batang  pisang itu  macam memagari Masjid Babussalam, Jalan Karet Belakang itu.</p>
<p>Satu dua tandan pisang kepok masih bersemangat berbuah. Batang nangka,  berdaging buah  tebal berwarna kuning emas, sengaja dibawa dari kampung   dulu bibitnya, kini  masih berputik bergelayutan, kandati kini sulit  menungu buah hingga matang, karena belumlah  menua sudah disikat entah  oleh siapa.</p>
<p>Di kiri di dalam parit di bawah pohon pisang itu, air seakan menumpuk  tak mengalir. Dari air mampat itu dulu, ibu  suka menyiduk dengan bekas  kaleng biskuit diberi tangkai kayu pengait. Air comberan itulah menjadi  pupuk tanaman di pinggir jalan. Itulah satu-satunya muara  aliran air  menghijaukan sebuah titik Jakarta. Di sebelah  ruas dari Masjid  Babusalam itu, got tertutup tanah, begitu pula di belahan kanannya.</p>
<p>Menahun tidak berubah.</p>
<p>Jika Anda pembaca rutin  Sketsa saya, tentulah masih ingat bagaimana  saya pernah menuliskan, bahwa sebuah kendaran  berpelat CD berbendera  Jerman, sengaja menghentikan mobilnya. Ruas jalan ini, memang acap  menjadi lalu-lintas alternatif menembus Jalan Sudirman, Karet Depan  ke  Rasuna Said, Kuningan. Penumpang mobil berdasi berjas rapi  menghampiri  ibu almarhumah yang sedang menyiram pohon pisang.</p>
<p>”Banana?”</p>
<p>”Yes&#8230;” kata ibu saya.</p>
<p>Lalu terjadilah percakapan ala Tarzan, antara mereka berdua. Ibu tak bisa berbahasa Inggris selain yes no.</p>
<p>Momen itu jika saya ingat, membuat geli kali. Dua orang  berbeda bangsa  berdialog dengan lema masing-masing, namun saling tertawa.</p>
<p>Sosok pejabat kedutaan asing  lalu geleng-geleng kepala  tak habis  pikir, di antara aspal, bibir jalan, kok, bisa tumbuh pohon pisang?</p>
<p>Dan di Minggu pagi kemarin, saya pun geleng-geleng tak berhenti  membayangkan Jakarta banyak jalanan tak berparit,  dan berani saya  menduga lebih tujuh puluh persen parit di DKI Jakarta ini tidak mengalir   airnya.</p>
<p>Itu artinya, Jakarta memang bukan surga.</p>
<p>Bisa jadi satu kalimat di atas sebuah  ungkapan bodoh. Orang Betawi akan bilang,  empok elo bilang Jakarta surga?</p>
<p>”Betul, betul, betul, ” mengutip sosok animasi Ipin, di serial Upin-Ipin.</p>
<p>Toh sebagaimana sudah saya tuliskan di atas, konon surga di mana air mengalir.</p>
<p>Terkadang terpikir di benak ini, bila berkesempatan menjadi Gubernur  DKI, dengan satu program saja: Mengalirkan air ke segenap parit, got,  gorong-gorong, kali bersih mengalir ke laut.</p>
<p>Namun apa daya, bercita-cita jadi pejabat kini tanpa fulus plus agaknya  akal bulus, ibarat bermimpi di siang bolong. Apalagi belum tampak  program gubernur sekarang signifikan memperbaiki  kota. Sosoknya sudah  pula pindah partai. Ia kini  menjadi pengurus sebuah partai politik  lain, terindikasi demi menyiapkan diri untuk jabatan kedua.</p>
<p>Begitulah. Selamat memasuki Ramadan, bulan yang membersihkan jelaga hati. Semoga.***</p>
<p>Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter,  blog-presstalk.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog-presstalk.com/?feed=rss2&amp;p=406</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Opini: Mencairkan Beku Hati di Hari Mandela I</title>
		<link>http://blog-presstalk.com/?p=403</link>
		<comments>http://blog-presstalk.com/?p=403#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 05:58:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>presstalk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[politika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog-presstalk.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[Pada 18 Juli 2010 ini ditetapkan sebagai Hari Nelson Mendela I.  Panitianya mengajak warga dunia untuk 67 menit saja minimal, berbuat  bagi mereka tertindas, bagi mereka miskin, bagi mereka papa. Data BPS  menyebutkan 32 juta orang Indonesia miskin. PBB bilang masih lebih 50%  penduduk kita miskin - - jika acuan pendapatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Pada 18 Juli 2010 ini ditetapkan sebagai Hari Nelson Mendela I.  Panitianya mengajak warga dunia untuk 67 menit saja minimal, berbuat  bagi mereka tertindas, bagi mereka miskin, bagi mereka papa. Data BPS  menyebutkan 32 juta orang Indonesia miskin. PBB bilang masih lebih 50%  penduduk kita miskin - - jika acuan pendapatan minimal  US $ 2 per hari.  Saya berusaha belajar  rendah hati dan, siapa tahu Anda, mencoba pula  berkaca  membeningkan hati: jernih bertutur jujur, demi  berbuat bagi  meningkatnya mutu peradaban.</em></p>
<p><strong>ANAK </strong>saya yang kedua, ketika masih di usia 3 tahun - - kini  delapan tahun - - suka menyanyikan lagu yang acap didendangkan Ustad Aa  Gim, ”Jagalah hati  jangan kau nodai, dan seterusnya.”  Sayangnya sang  ustad  itu kini seakan tenggelam karena menikah lagi. Kini Aa lebih  banyak ditanggap berceramah di Singapura, Malaysia, Filipina.</p>
<p>Kita di Indonesia, belum ”sehebat” Argentina, membuka diri mampu bijak  bestari. Masyarakat Argentina memisahkan urusan pribadi dengan kodrat  hati memimpin kehidupan. Kita belum semenerima  bagaikan  Argentina  menghargai  Carlos Menem, membungkus ranah pribadi, lalu  mengedepankan  prestasi diri.</p>
<p>Sebaliknya justeru prestasi  kita di  tahun  ini paling sakti. Tak ada  duanya di muka jagad kini. Prestasi itu menularkan penyakit latah ke  media besar dunia  mengabarkan  aib pribadi.</p>
<p>Di negara besar  - - AS dan Inggris - -  nan terlanjur latah  memberitakan aib video porno  Ariel, film porno  bahkan dibuat dengan  tata pencahayaan prima; artis bohai, bahkan lengkap adegan, maaf, hingga  burung terkulai. Negaranya santai-santai.</p>
<p>Kita, media di Indonesia, tak peduli lagi berapa devisa yang telah  dicetak Ariel, Peterpan, dari segenap albumnya nan laris manis di  Malaysia, Singapura, hingga Suriname, Belanda.  Semua seakan tiada, sama  seakan lenyapnya segenap kebaikan yang pernah disiarkan  Ustad Aa Gim</p>
<p>Dalam kerangka inilah saya melihat bahwa bangsa Indonesia kini  berpenyakit hati: dari kena virus busuk, memang  sudah busuk, hingga  membeku hati.</p>
<p>Apatah pula, macam kalimat saya menganjurkan negara mengirim grup band  potensial pergi sembilan  bulan belajar bahasa Inggris ke Inggris. Agar  mereka  bertutur bercengkok native Inggris, lalu membuat album barat,  berpeluang besar  meraih devisa. Sebuah ide yang akan ditertawakan saja.  Bisa saja dianggap gila.</p>
<p>Tak banyak pihak mafhum, bahwa Argentina, devisa keduanya datang dari  Polo; mulai dari ekspor kuda polo, piranti olah raga polo, hingga  mengekspor tenaga pengajar pelatih Polo. Pelatih Nusantara Polo-nya  Prabowo Subianto, di Jagorawi, Bogor, Jawa Barat, Indonesia, juga  berasal dari Argentina.</p>
<p>Hal ini saya tuliskan, sebagai contoh tabiat pikir, jika kita membuka  hati, tidak macam  kodok dalam batok, kunci otak mengalirkan isi  cemerlang bahwa  banyak sisi lain, khususnya ranah positif, membawa  kehidupan terang benderang.</p>
<p><strong>KETIKA</strong> pertama  menjadi jurnalis yunior pada medio  1980-an,  lagak saya luar biasa. Luar biasa angkuhnya.</p>
<p>Jika saya ingat kini, bah, sok kali!</p>
<p>Bayangkan sebagai reporter di kelompok media Tempo, saya dengan mudah  berjumpa pejabat, bertemu direksi papan atas perusahaan besar. Alamnya  kala itu,  acap ketemu pula  sumber berita nan ongeh  - - setingkat di  atas congkak - - ikut pula mewarnai ketinggi-hatian diri sebagai  reporter.</p>
<p>Kala itu acap saya bertemu pejabat didampingi ajudan, map, buku, data,  dan tas lain lagi  ajudan yang membawakan. Kini setelah tak menjadi  wartawan di media mainstream, corak langgam demikain tidak kian punah.  Bahakn ketika ke Papua, ada oknum Bupati di sana yang lakunya bak raja  di raja.</p>
<p>Laku pasukan pengawal presiden, yang menggebrak kap mobil, mengancam,  bukan terjadi kali ini. Sejak di era Soeharto juga acap nian. Tapi dulu  mana ada yang berani memuat menuliskan?</p>
<p>Poin saya,  kejadian demikian, sesungguhnya, titik utamanya di urusan  permasalahan hati. Hati yang tak kunjung rendah. Hati yang kotor.  Hati  yang kian meninggi  bahkan masih ingin tinggi lagi menggapai langit  tinggi-tinggi.</p>
<p>Padahal jazirah alam  dari sananya di ketinggian langit berhawa minus  derajat. Maka  tak heran, bila Anda di sana pasti bekulah hatinya.</p>
<p>Bila  hati sudah beku, maka data kemiskinan pun bisa dibulak-balikkan.  Membuat UU pun  bisa-bisa TERTEGA di dunia, misal dalam penggelapan  pajak, UU yang dibuat DPR, bunyinya boleh diselesaikan dengan cara di  luar pengadilan dengan membayar denda  MAKSIMUM  400% dari pajak yang  dihasilkan. Ini salah sastu contoh saja produk yang dihasilkan dari  kebekuan hati.</p>
<p>Urusan tertega di jagad ini, juga tampak misalnya di Direktorat Jenderal  Pajak (DJP). Sudah jelas indikasi bobol Rp 1.300 triliun di Transfer  Pricing, maka seksi yang menangani 5 orang saja dari 32.000 jumlah  karyawan. Dan lantas jika uang pembangunan kurang, karena hati beku,  yang kemudian tampaknya hanya menaikkan harga gas, BBM, listrik dan  kemudian semua harga melambung. Jalan tol, tanpa pengembangan jalan  alternatif pun,  ikut-ikutan  naik. Kita seakan hidup di negara  berbekuan hati.</p>
<p>Begitulah bila segala kebijakan diambil oleh insan berhati beku.</p>
<p>Hati beku tidak menggerakkan otak mengalirkan pikiran kreatif, apalagi  terobosan  jitu.  Maka tantangan ke depan carilah pemimpin yang tidak  beku hatinya. Sebab yang kemudian kental  ada di pasaran adalah gaya  pemimpin  bak kodok di dalam batok.</p>
<p><strong>MAKA</strong> ketika saya di awal 2000-an berjumpa dengan sosok jurnalis  senior AS di Jakarta,  Bill Kovach, yang menuliskan buku   The Element  of Journalism, secara nyata ia tegaskan, bahwa kunci utama verifikasi,  adalah kerendahan hati.</p>
<p>Dan setelah aktif terus menulis, mencoba mengedepankan hati, termasuk  membasuh kisi-kisi hati yang kotor karena congkak dulu, saya menemukan  jawaban bahwa: memang tak perlu tinggi hati, apalagi kian meninggi, toh  di cakrawala sana, di ketinggian 10.000 kaki, misalnya, beku nyatalah  hati Anda.</p>
<p>Dan, jika kehidupan di Indonesia kita bukan kian enak rasanya, tak perlu  lagi saya jabarkan karena ulah apa?</p>
<p>Sehingga jika di teve Anda menyimak berita rakyat miskin dibagikan beras  dan mie instan, itulah fakta nyata, betapa bekunya hati yang membuat  program.</p>
<p>Beras karbohidrat. Mie instan isinya? Dua bungkus saja dimakan, tanpa  asupan makanan bergizi lain, saya jamin yang memakan pada sulit buang  air besar. Bahkan kakek-nenek, bisa-bisa mengeluarkan darah duburnya.</p>
<p>Tak ada bantuan ke orang miskin membagikan pisang, buah segar, apalagi  susu segar. Semuanya sudah terjangkit beku hati, otak dan nalar menjadi  seragam: bantuan, ya, beras, ya, mie instan.</p>
<p>Itulah hasil kebekuan hati yang terkadang datang menyerang secara  instan!</p>
<p>Karenanya di hari ini, di mana panitia Hari Nelson Mandela yang jatuh  hari ini, saya meneruskan ajakan, 67 menit saja Anda berbuat bagi  kemiskinan. Dan  jika Anda enggan mengeluarkan uang  bantuan - - dalam  pengelaman saya di lapangan kini, kuat dugaan makin kaya seseorang makin  pelit dan kian berhitung mengeluarkan uang - -  cukup 6,7 detik saja  tafakur.</p>
<p>Bertanyalah  ke lubuk hati yang dalam: apakah hati saya sudah latah kena  penyakit beku hati?</p>
<p>Anda sendirilah menjawabnya! Siapa tahu hari ini Anda mampu mencairkan  kebekuan hati. Dan jika berhasil, saya yakin besok, jika Anda pejabat,  akan lain lagak-langgamnya, juga kebijakannya. Dan jika tetap sama,  maka, bukan saja beku, tapi Anda telah mati hati! ***</p>
<p>Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog-presstalk.com/?feed=rss2&amp;p=403</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sketsa: Bicara Snack, Subtitusi Beras, Smesco UKM Festival</title>
		<link>http://blog-presstalk.com/?p=400</link>
		<comments>http://blog-presstalk.com/?p=400#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jul 2010 04:20:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>presstalk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog-presstalk.com/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[
 


Ketika di  Uni Emirat Arab kwartal pertama 2010, saya sempat dua kali mengunjungi Global Village, Dubai, kawasan luas bagi arena pameran dagang yang berlangsung Desember-Februari setiap tahun. Stand pameran yang ramai dikunjungi, seperti Iran, dominan menjual makanan kecil. Melihat Smesco UKM Festival ke-8, di Jalan gatot Subroto, Jakarta,  tahun ini, berlangsung 14-19 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:TrackMoves /> <w:TrackFormatting /> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:DoNotPromoteQF /> <w:LidThemeOther>EN-US</w:LidThemeOther> <w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:LidThemeComplexScript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:SplitPgBreakAndParaMark /> <w:DontVertAlignCellWithSp /> <w:DontBreakConstrainedForcedTables /> <w:DontVertAlignInTxbx /> <w:Word11KerningPairs /> <w:CachedColBalance /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> <m:mathPr> <m:mathFont m:val="Cambria Math" /> <m:brkBin m:val="before" /> <m:brkBinSub m:val=" " /> <m:smallFrac m:val="off" /> <m:dispDef /> <m:lMargin m:val="0" /> <m:rMargin m:val="0" /> <m:defJc m:val="centerGroup" /> <m:wrapIndent m:val="1440" /> <m:intLim m:val="subSup" /> <m:naryLim m:val="undOvr" /> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p><!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><em>Ketika di <span> </span>Uni Emirat Arab kwartal pertama 2010, saya sempat dua kali mengunjungi Global Village, Dubai, kawasan luas bagi arena pameran dagang yang berlangsung Desember-Februari setiap tahun. Stand pameran yang<span> </span>ramai dikunjungi, seperti Iran, dominan menjual makanan kecil. Melihat<span> </span>Smesco UKM Festival ke-8, di Jalan gatot Subroto, Jakarta, <span> </span>tahun ini, berlangsung 14-19 Juli, peluang makanan khas Indonesia jika merambah pasar Timur Tengah dan Asia Selatan menjadi begitu terbuka lebar. Sketsa akhir pekan uhwal <span> </span>makanan kecil, subtitusi beras: ada beras dari singkong, sepenggal kecil<span> </span>catatan dari pameran.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal"><strong>BUNGKUSNYA</strong><span> </span>menggunakan daun pelepah jagung. Isinya wajik,<span> </span>berbahan ketan diolah santan dan gula merah. Sebungkus seukuran tiga jari tangan.<span> </span>Deretan lima wajik ini dijahit<span> </span>merangkai, di tengahnya berlogo bertuliskan <span> </span>Wajik Kletik Dibungkus Klobot, <span> </span>Ibu Prajitno. <span lang="FI">Dibawah logo<span> </span>tertera tulisan: Sejak 1969, di Blitar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Di daerah saya, Sumatera Barat, wajik lebih berminyak seperti Kalamai, atau dikenal dodol oleh orang Betawi. Keduanya sangat mengandalkan santan kelapa.<span> </span>Namun<span> </span>wajik Kletik, lebih kering, dominan<span> </span>berasa gula merah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Manca ragam makanan tradisional kita secara tekun tahun-menahun telah memiliki pasar sendiri. Membuat wajik masuk ke pasaran, sejak 1969, sebuh perjalanan ketekunan panjang. Prestasi <span> </span>demikian dimiliki oleh banyak Usaha Kecil Menengah Indonesia (UKM) <span> </span>Indonesia. Karenanya sebuah pameran nasional menampilkan mereka, bisa menjadi langkah menuju merambah pasar global.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">”Saya juga sangat yakin hal itu jika digarap dengan baik akan menjadi peluang besar,” ujar Wahid Supriyadi, Duta Besar RI di Uni Emirat Arab, ketika saya jumpai di Abu Dhabi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal">Wajik Kletik, salah satu<span> </span>contoh makanan<span> </span>tradisional yang saya temui di Pameran Smesco UKM Festival saat ini. Makanan tradisional, kemasan tradisional, khas Indonesia. Tidak berlebihan <em>snack</em> tradisional ini memiliki potensi sebagai camilan<span> </span>menyaingi makanan kecil Iran, misalnya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Di Global Village, Dubai, stand pemeran Iran, dipenuhi aneka manisan, kacang-kacangan yang mengundang pengunjung <span> </span>antri datang. Dan bukan suatu mustahil jika, aneka wajik<span> </span>ada di stand Indonesia, apalagi kemasannya pun khas berbahan alami seperti Wajik Kletik, stand pameran Indonesia saya duga akan diserbu pengunjung.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Itu baru<span> </span>dari ranah wajik. Bicara kacang-kacangan,<span> </span>negeri ini juga tak terhitung kreatifnya. Di kampung saya, di Sungai Geringging, Sumatera Barat, usaha rumahan kipang kacang: kacang tanah segar yang digongseng kemudian diadon dengan gula merah kental dan dipress rata, dipotong kotak seukuran dua jari, lalu<span> </span>dikemas dengan daun pisang kering. Hmm rasanya khas, pilihan kacang segar, tanpa ada bagian kacang yang busuk; gula merah kelapa dan digongseng dengan api bara kelapa.. Sebuah karya tangan<span> </span>dan hati. Hingga saat ini rasa Kipang Kacang kampung <span> </span>tak tertandingi oleh <span> </span>industri yang membuat penganan sejenis. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Khusus kacang, di Smesco UKM kala ini saya menemukan gorengan kedele segar dari Salatiga dikemas dalam plastik. Keunikannya, kedele segar dipanen petani, itu langsung diolah, sehingga cita rasanya khas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Ranah perkacangan itu, jika disimak dari Sabang sampai Merauke, tidak berlebihan saya mengatakan berlimpah ruah aneka olahannya. Tinggal bagaimana mengemas, memastikan volume, potensi pasar global sungguh terbuka lebar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Selain kacang di Smesco UKM Festival saat ini, ada juga beragam kerupuk. Salah satunya<span> </span>kerupuk ikan pipih khas Kuala Pembuang, Seruyan, Kalimantan Tengah. Kerupuk sejenis di Palembang dikenal sebagai kerupuk Ikan Belida. ”Volume produksi kami bisa lebih besar dibanding Sumsel, karena potensi ikan pipih<span> </span>lebih besar,” ujar Sanusi, sang pedagang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal">Volume memang salah satu<span> </span>masalah untuk memasarkan. Jika pasar global dibuka, biasanya permintan<span> </span>rutin bervolume besar. Umumnya tuntutan untuk mengisi jaringan<span> </span>supermarket.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Jika saja satu topik kerupuk Ikan Pipih atau Belida ini digarap secara nasional, dengan volume<span> </span>yang tertakar secara nasional: maka satu lagi lahir makanan khas Indonesia merambah pasar dunia.<span> </span>Perihal yang demikian seharus menjadi<span> </span>perhatian besar HIPMI, atau Kadin Indonesia. Bukankah yang disebut pengusaha itu sosok memiliki produk dan atau atau jasa? <span lang="FI">Sedangkan skala, besaran dari produk dan atau jasa itu merambah pasar. Makan saya suka tak habis pikir jika banyak orang kebingungan tak tahu harus mengusahakan apa?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Jika saja makanan<span> </span>khas, makanan kecil, ranah kuliner negeri ini sejak lama didukung untuk merambah pasar secara luas, betapa meriahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Dua pekan lalu saya<span> </span>berjumpa dengan dua ibu turis malaysia di Bandung. Ia mengatakan salah satu hal mengundang minat<span> </span>mereka mara ke Bandung adalah: ”Di Bandung banyak nian <span> </span>pernik makanan kecil enak <span> </span>rasanya.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="FI"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="FI">TEROBOSAN</span></strong><span lang="FI"> membuat makanan non beras, layak diacungkan<span> </span>jempol kepada Prayitno, asal Penajam, Kalimantan Timur.<span> </span>Di Smesco UKM Festival kali ini, ia menampilkan<span> </span>beras yang ia beri tajuk MUSI (Mutiara Singkong). </span>Wujudnya bagaikan beras yang terpotong-potong, putih persis beras. Namun bahan bakunya singkong.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">“Sejak empat tahun lalau saya berkutat mencoba membuat produk pengganti singkong, pilihan akhirnya ke Musi,” ujar Prayitno.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kini dalam sehari ia memproduksi 50 kg Musi. Konsumennya baru dalam lingkup kecil di seputar Panajam, Kaltim. Ia menjual Rp 4.500 per kg. <span> </span>Secara berseloroh saya sampaikan<span> </span>kepada Prayitno bahwa ia lebih kreatif<span> </span>dan bermartabat dari dominannya orang Panajam, Kaltim berbisnis batubara. Prayitno<span> </span>tertawa.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">“Masyarakat acap mencampur Musi dengan beras Raskin, lalu<span> </span>jadi lebih pulen, beras Raskin menjadi terasa Rojolele,” ujar Prayitno berpromosi.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Upaya kerasnya empat tahun mencoba membuat alternatif produk pengganti beras ini luar biasa. Jika boleh disebut, agaknya, inilah produk terunik yang saya temui di Smesco UKM Festival dari ranah makanan<span> </span>ini. Anda tertantang mencoba Musi? Smesco UKM festival ini masih dapat dijumpai hingga esok.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dan jika belum puas dengan beras putih, di stand lain dari <span> </span>Supiori, Papua, Anda dapat menemukan beras merah. Namun bahan bakunya dari buah Manggrove. Biji tanaman diolah, dikeringkan, kemudian dihancurkan.<span> </span>Wujudnya lebih halus. Rasanya seperti beras, namun mengandung unsur serat sangat tinggi. Family Star produsennya menjual Rp 30 ribu per kg.<span> </span>Dan konon<span> </span>dimasak sedikit saja<span> </span>beras mangrove ini akan mekar.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Maka dari menyimak khasanah makan kecil, alternatif bahan pangan pengganti beras,<span> </span>tiada lain kalimat saya, <span> </span>negeri ini memang kaya raya dan seharusnya warganya tidak yang miskin dan<span> </span>berkesulitan hidup.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kiranya Smesco UKM Festival ini memang harus rutin berlanjut, sehingga fisik bangunan yang bagiannya<span> </span>ada dibuat <span> </span>berbentuk topi tentara Romawi itu, berkonten sesuatu yang dapat menjadi wadah mempromosikan industri UKM kita dalam skala lebih luas menjadi jenjang merambah pasar global.***</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Iwan Piliang, blog-presstalk.com</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog-presstalk.com/?feed=rss2&amp;p=400</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sketsa: Tulang Serikat Pekerja  dan Paloh di PHK Papandayan.</title>
		<link>http://blog-presstalk.com/?p=397</link>
		<comments>http://blog-presstalk.com/?p=397#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 04:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>presstalk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog-presstalk.com/?p=397</guid>
		<description><![CDATA[
 

Perjalanan menulis Sketsa, dominan mereportase. Sebutlah dari reportase  tukang patri menaut jalanan Jakarta, Kalimati  Pademangan seumur Jakarta tak mengalir, kasus pembunuhan David, dipenjaranya Prita Mulyasari hingga memulangkan Ziyad ”terpenjara” 8 tahun Uni Emirat Arab. Berbeda dengan media mainstream memiliki rapat perencanaan, Sketsa esok, acap saya tak menduga  menuliskan apa. Pada 14 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:TrackMoves /> <w:TrackFormatting /> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:DoNotPromoteQF /> <w:LidThemeOther>EN-US</w:LidThemeOther> <w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:LidThemeComplexScript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:SplitPgBreakAndParaMark /> <w:DontVertAlignCellWithSp /> <w:DontBreakConstrainedForcedTables /> <w:DontVertAlignInTxbx /> <w:Word11KerningPairs /> <w:CachedColBalance /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> <m:mathPr> <m:mathFont m:val="Cambria Math" /> <m:brkBin m:val="before" /> <m:brkBinSub m:val=" " /> <m:smallFrac m:val="off" /> <m:dispDef /> <m:lMargin m:val="0" /> <m:rMargin m:val="0" /> <m:defJc m:val="centerGroup" /> <m:wrapIndent m:val="1440" /> <m:intLim m:val="subSup" /> <m:naryLim m:val="undOvr" /> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p><!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif";} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><em><span lang="FI">Perjalanan<span> </span>menulis Sketsa, dominan mereportase. Sebutlah dari reportase <span> </span>tukang patri menaut jalanan Jakarta, Kalimati <span> </span>Pademangan seumur Jakarta tak mengalir, kasus pembunuhan David, dipenjaranya Prita Mulyasari hingga memulangkan Ziyad ”terpenjara” 8 tahun Uni Emirat Arab.<span> </span>Berbeda dengan<span> </span>media mainstream memiliki rapat perencanaan, Sketsa<span> </span>esok, acap saya tak menduga <span> </span>menuliskan apa. Pada 14 Juli lalu, kaki telah menggerakkan saya berada di ruang Menteri Tenaga Kerja, pukul 13.00. Menteri menerima 44 orang <span> </span>Serikat Pekerja <span> </span>Mandiri Hotel Papandayan (SPMHP), Bandung. Ketika mengkonfirmasi via </span></em><span lang="FI">hand phone<em> kepada Elman Saragih, Direksi Media Group, <span> </span>wartawan senior di Media Indonesia; bertanya mengapa Surya Paloh enggan menuntaskan <span> </span>PHK karyawan Hotel Panpandayan, Elman <span> </span>menjawab, ”Saya sedang ada pekerjaan.” HP-nya lalu dimatikan. Begitulah langgam <span> </span>wartawan menanggapi kerja dunianya sendiri. Bukan dunia lain.</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="FI"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="FI"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="FI"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="FI">TENGAH</span></strong><span lang="FI"> malam di berita malam sebuah televisi, 15 Juli saya menyimak bagaimana rombongan<span> </span>para <span> </span>advokat di Mahkamah Agung<span> </span>ribut.<span> </span>Pagi harinya koran Rakyat Merdeka menurunkan <em>headline</em> berjudul Gaduh, Pengacara Hina Ketua MA.<span> </span>Di situ juga ada foto Ketua MA, Arifin Tumpa menggeletak di lantai di barisan kaki para anggota Kongres Advokat Indonesia (KAI) dan<span> </span>Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi). Mereka bertikai. Mereka <span> </span>menepuk dada demi pengakuan, so paling absah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Sikap dan laku yang<span> </span>tersiar ke media itu, tidak mencerminkan lagi adab, norma, <span> </span>hukum yang harus dijunjung. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Siang harinya, setelah sempat menghadiri pertemuan<span> </span>Serikat Pekerja<span> </span>Mandiri Hotel Papandayan (SPMHP), Bandung dengan<span> </span>Menteri Tenaga Kerja, saya mencoba mengkonfirmasi kepada Heyden Lubis, advokat PT. Citragraha Nugratama-Hotel Papandayan, di Bandung.<span> </span>Saya bertanya ihwal kalimatnya kepada serikat pekerja, mengapa begitu kasar berkata<span> </span>kepada serikat pekerja ini <span> </span>bahwa sesuai penuturan Asep Ruhiyat, ketua SPMHP, sang pengacara ini berujar, ”Sampai tulang pun serikat pekerja tak akan<span> </span>menang.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Melalui saluran selularnya, Heyden dengan nada<span> </span>tinggi mengatakan, ”Saya tak pernah mengatakan begitu.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">”Dan hotel ini juga tak ada hubungan kepemilikan dengan Surya paloh,” ujarnya <span> </span>dengan nada sama.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Saya katakan di depan saya ada dokumen<span> </span>kepemilikan Surya Paloh sebesar 95% akan PT Citragraha Nugratama, pemilik Hotel Panghegar. Lagi Heyden membantah. <span> </span>”Tak ada Surya Paloh memiliki hotel ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Demi sebuah sambutan lebih baik, saya mengirim SMS ke selularnya menuliskan nama saya, jabatan<span> </span>di karir jurnalisme yang pernah saya sandang, <span> </span>plus, sertifikasi saya di dunia investigasi.<span> </span>Ia membalas, ”Saya lawyer di Matraman, Jakarta. Nada saya bicara memang seperti ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Saya membayangkan bagaimana para karyawan<span> </span>di serikat pekerja ini berhadapan dengan<span> </span>wakil manajemen perusahaan yang dimiliki oleh Surya Paloh, kelompok <span> </span>besar itu?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Sebagai sosok yunior Surya Paloh di HIPMI<span> </span>(Himpunan Pengusaha Muda, di mana saya pernah menjadi member dan pengusaha), acap saya memperhatikan <span> </span>ia <span> </span>berpidato sejak lama beretorika mulia. Bahkan di majalah Nasinal Demokrat, di mana di edisi perdananya, ada tulisan saya soal Transfer Pricing, yang diminta tuliskan oleh Noorca M. Massardi. Di majalah itu<span> </span>saya membaca idealisme besar bagi perubahan bangsa ini ingin digadang Surya Paloh, tak terkecuali<span> </span>untuk <span> </span>ranah pekerja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Kernyataan<span> </span>ihwal Hotel Papandayan ini, bagi saya seakan lain kata dengan irama, beda<span> </span>angguk dan anggap. Retorika <em>lawyer </em>mereka mengatakan<span> </span>bahwa Hotel Papandayan bukan milik Paloh, dibantah sendiri oleh oleh Sugeng Suparwoto, wartawan di kelompok Media Group - - pemimilik utamanya Surya Paloh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal">“Memang benar hotel ini milik Media Group dan Surya Paloh. Manajemen sudah bertindak <em>wise</em>, tetapi bisa saja yang terjadi <em>political blowing</em>.”<span> </span>Saya mengutip Rakyat Merdeka.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Saya tak paham apa maksud <span> </span>lema political blowing. <span> </span>Agaknya,<span> </span>Anda sidang pembaca lebih mafhum?</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Bagi saya ini esensinya <span> </span>urusan hati saja, urusan nasib pekerja<span> </span>di tengah kepentingan investor. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal">Sugeng mengaku manajemen sudah menempuh semua prosedur dan ketentuan perundangan sebelum melakukan pemutusan hubungan kerja.<span> </span>Ia juga<span> </span>menegaskan sudah melakukan diskusi dengan Disnakertrans, karena hotel direnovasi menghabiskaan waktu 12-18 bulan, memakan waktu panjang, maka<span> </span>diizinkan melakukan PHK.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Ihwal pesangon, paparan Sugeng pula di Rakyat merdeka:<span> </span>dilakukan dengan dua kali pesangon, ditambah dua kali pendapatan lainnya ditambah 15 % hal lain ditambah tiga bulan gaji.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Katakanlah kalkulasi <span> </span>Sugeng ini benar.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kepada salah satu pekerja yang sudah bekerja 21 tahun saya tanyakan, <span> </span>ia akan menerima uang PHK total <span> </span>Rp 50 juta. Jumlah Rp 50 juta <span> </span>angka itu jika diambil tetap akan divisit menutupi cicilan kredit rumah <span> </span>yang sudah terlanjur<span> </span>mereka beli, misalnya. Sementara untuk mengikuti ketentuan berlaku, ia masih memiliki kesempatan kerja tiga belas tahun lagi hingga usia 55 tahun masa pensiun. <span> </span>”Kami membutuhkan pekerjaan,<span> </span>di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan kini, ”<span> </span>ujar Asep Ruhiyat.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">“Lagian perusahan tidak bangkrut. Ketentua itu berlaku jika perusahaan bangkrut.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Otomatis perihal ini yang tidak diterima karyawan., Papandayan kini melakukan renovasi menjadi lebih besar gran. Dan jika Anda ke Bandung,<span> </span>Hotel yang terletak tak jauh dari Gedung Sate itu, memang kini memang <span> </span>tampak sedang melakukan <em>finishing</em> bangunan megahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Atas penolakan PHK sepihak itulah maka serikat pekerja mengajukan penuntun ke pengadilan, <span> </span>dengan resiko mereka dikucilkan dan tak digaji. Maka<span> </span>kemudian keluar keputusan pengadilan<span> </span>kasasi, meminta perusahaan membayarkan gaji April dan Mei 2010, <span> </span>sebesar Rp 93.995.492. Dan meminta perusahaan pada 1 Juli 2010 hadir ke Pengadilan Negeri Bandung. Namun entah faktor apa, pihak perusahaan tidak tampak batang hidungnya. Atas dasar itulah mereka merasa perlu mengadu ke Menteri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Lebih dari tiga orang karyawan serikat pekerja yang saya temui; mengaku serabutan<span> </span>sejak adanya kasus ini. Mereka tidak bergaji.<span> </span>Salah satu isteri karyawan stress, sampai harus dirawat di rumah sakit.<span> </span>Arif Rahman,<span> </span>yang saya temui di bawah tiang Merah Putih di depan Gedung Depnaker mengatakan ia harus bekerja serabutan, mencari barang bekas, menjadi calo menjualkan apa saja, termasuk HP bekas untuk sekadar seperak dua sehari. Bahkan<span> </span>salah seorang persis di depan pintu masuk ruang kerja Menteri Muhaimin Iskandar, memperlihatkan di HP-nya. Ia menjadi tukang cat gedung. </span>Ia memanjak bak cicak hingga ke lantai 6 bangunan, padahal sebelumnya, ia hanyalah petugas <em>front office</em> hotel.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Memang menjadi pertanyaan, jika mengembangkan Papandayan menjadi lebih besar, mengapa pula harus mem-PHK, toh setelah beroperasi, hotel ini membutuhkan lagi karyawan baru? Di sinilah letak soalnya. Acap pemilik modal menyerahkan segalanya ketatanan hukum berlaku, setelah tatanan hukum itu diikuti dan serikat pekerja terbukti menang di<span> </span>pengadilan, hukum itu sendiri masih belum ditunaikan sang pengusaha.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Karenanya kuat dugaan saya, pihak manajemen dan pemilik tak senang dengan gaya adanya serikat pekerja. Dan jika menelusuri sejarah di kelompok usaha Media Group,<span> </span>dengan mudah Anda mendapatkan di Google.com, bahwa<span> </span>pembentukan serikat pekerja di kelompok Media Group itu pun, terindikasi tidak diingini oleh Surya Paloh.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kalau sudah begitu, sebesar apapun keinginan ambisi, perihal esensi dasar pekerja saja kita lupakan, menjadi tanya besar <span> </span>akan cita-cita agung. Dalam kerangka inilah saya selama ini bertanya terhadap corak langgam para pemilik media, televisi.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Lalu apakah karena hal ini pula lantas keluar kalimat political blowing? Kendati saya tak paham diksi kalimat ini, saya mengira maksudnya sebagai membesarkan untuk kepentingan politik. Tentulah jauh panggang dari api. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Ini murni urusan hubungan pengusaha dengan tenaga kerja, yang mengesampingkan<span> </span>hati. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Khusus terhadap serikat pekerja ini, kini, mereka<span> </span>di depan hukum telah menang tanpa harus menunggu <span> </span>tulang? Apakah ada kerendahan hati memenuhi ketentuan hukum, apatah lagi ada kerendahan <span> </span>mempekerjakan mereka kembali? Kembalikan <span> </span>ke ego pemilik saja tampaknya.***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal">Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.com</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog-presstalk.com/?feed=rss2&amp;p=397</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Adil Belum Beli Buku Kelas Enam Es De</title>
		<link>http://blog-presstalk.com/?p=394</link>
		<comments>http://blog-presstalk.com/?p=394#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 09:53:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>presstalk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog-presstalk.com/?p=394</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Iwan Piliang
Bis Kopaja Enam-Enam petang itu menabrak jalur Busway menuju Manggarai
Metro Mini Enam Dua  melanjutkan perjalanan menuju Pasar Minggu,
Adil kelas enam es de seusia anak pertamaku menjadi kernet
Ia bilang ibunya sudah berpulang
Adil pagi sekolah, siang hingga larut mengkernet
Ia perlihatkan  dua garis di pangkal pahanya biru-biru
Ayahnya  sang supir suka memukul
Adil menundukkan kepala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Iwan Piliang</p>
<p>Bis Kopaja Enam-Enam petang itu menabrak jalur Busway menuju Manggarai<br />
Metro Mini Enam Dua  melanjutkan perjalanan menuju Pasar Minggu,<br />
Adil kelas enam es de seusia anak pertamaku menjadi kernet<br />
Ia bilang ibunya sudah berpulang</p>
<p>Adil pagi sekolah, siang hingga larut mengkernet<br />
Ia perlihatkan  dua garis di pangkal pahanya biru-biru<br />
Ayahnya  sang supir suka memukul<br />
Adil menundukkan kepala menekuk kaki  di pojok kiri</p>
<p>Adil, penumpang!  Teriak si supir<br />
Di perempatan Pancoran , billboard berukuran lapangan volley<br />
Presiden dan Ibu Negara bervisual beragam kegiatan: Tingkatkan  Kesejahteraan Rakyat<br />
Adil  bilang buku kelas enam  es de-nya  belum terbeli</p>
<p>Di Durentiga  menyeberang  berselingkitan motor menabrak lampu merah<br />
Motor bikin penumpang bis komprang-komprang berkurang<br />
Berlabuh ke sebuah cafe bertajuk O,  o-alah, ruko-ruko bersulap  berdandan  meng-cafe<br />
Petuah sang kawan  di cafe O, setiap kekayaan tambun cenderung berunsur  kriminal</p>
<p>Sang kawan  di Bareskrim Mabes Polri, mengaku gamang melihat kejahatan  kerah putih<br />
Lalu kami malam-malam menenggak dingin eskrim<br />
Lantas  hujan berlabuh rusuh, bertanya haruskah mengkriminil  baru  meluruh lusuh?<br />
Membayangkan mengirim mimpi ke Adil menyeruput  es krim</p>
<p>Di jalanan  pukul dua tiga tiga puluh bis telah tiada<br />
Menyusuri jalan raya Pasar Minggu menuju Pancoran<br />
Rombongan pengajian  Mejelis Zikir Rasulullah menyemut baru usai<br />
Lapak pedagang sarung, kopiah, mukenah, minyak wangi, menepi jalan masih  berdiri</p>
<p>Adil kiranya sudah di peraduan, hanya sebuah omprengan tua saja lewat<br />
Dua gadis dan beberapa penumpang pria  berwajah lusuh acuh<br />
Mereka  bekerja  di sebuah rumah sakit<br />
Mereka bilang jumlah pasien meningkat, insomnia dan lainnya penyakit.</p>
<p>Berjalan dari Pasar Rumput  menuju rumah<br />
Enam pasang tunawisma terlelap di pelataran toko-toko sepeda<br />
Nyanyian nyamuk menyeka minat  menggigit darah pahit<br />
Tujuh gerobak membalut tubuh, membayangkan Adil tidur pulas bak manusia  gerobak</p>
<p>Satu dua pengumpul berang bekas memilah gelas dan botol plastik<br />
Menghitung bak  lembar dolar di sebuah money-changer di sepelemparan  batu Menteng<br />
Tiga wanita ber-rok pendek di  keremangan Pasar Rumput  lalu empat  lelaki menari-nari<br />
Musik dangdut menghentak mengingatkan senandung kernet Adil di bis tadi  petang</p>
<p>Sebuah lampu menyorot kepala patung sosok Gajah Mada di Markas PM Guntur<br />
Bertanya ke hati,  wajah asli  Maha Patih Gajahmada-kah?<br />
Hidung melengkung, muka keras, garis di jidat melilit, dagu belah kotak<br />
Sejarah kadung menghafal tahun tanpa perlu verifikasi apalagi berguna  nyanyian prestasi</p>
<p>Alam seakan tak perlu membaca mengejawantahkan lema adil<br />
Membuka lembaran kamus Bahasa Indonesia yang  lusuh<br />
Adil:  tidak berat sebelah, tidak memihak; berpihak kepada kebenaran.<br />
Dapatkah kelak sosok kernet bernama Adil menjadi insan nan  adil?</p>
<p>Menatap anakku, membayangkan Adil yang belum membeli buku kelas enam es  de.<br />
Anakku pun, belum membeli buku kelas enam es de<br />
Di rumah televisi menyala sendiri menyiarkan ulang sebuah talk show tipi<br />
Sesosok bergelar doktor  hukum tata negara bertajuk Yusril  berdebat  keabsahan Jaksa Agung dan keadilan</p>
<p>Hampir  semua doktor  tak pernah lagi meninjau kawasan kumuh<br />
<span> Apatah  pula sepenggal ruas Manggarai-Durentiga-Mangga</span></p>
<div>rai, bukan Manggarai NTT<br />
Kendati  letaknya tak sampai sekilo dari rumah Wapres ekonom bergelar  doktor<br />
Adil hanyalah sepenggal  lema  tak  beda dengan Yusril, sebuah nama saja</p>
<p>Dini hari pekak telinga mendengar perdebatan doktor-doktor di tipi<br />
Teringat  kawan diminta menjawabkan  pertanyaan mantan seorang pejabat  ambil doktor<br />
Rupanya  pertanyaan itu dibocorkan  tim penguji sang pejabat calon  doktor<br />
Agar cantik disimak orang diliput media di ujian doktor ala perjokian  kotor</p>
<p>Adil yang belum bisa membeli buku kelas enam es de.<br />
Para pejabat pendidikan, mantan pejabat, tokoh berlomba-lomba  mengambil  gelar doktor<br />
Lalu ranah intelektual  kotor demi gelar doktor-doktor<br />
Adil tetap saja adil, sebuah kata tanpa makna</p>
<p>Adil yang belum bisa membeli buku kelas enam es de<br />
<span> Hanyalah penggalan  kecil Indonesia di ruas Menggarai-Durentiga-Mangga</span>rai<br />
Ribuan kilometer Indonesia berjuta Adil belum membeli buku kelas enam es  de<br />
Masih adakah Adil berhati wangi, bak Malaikat Subuh dijual di pinggir  jalan tadi?</p>
<p>Adil  sosok kernet yang belum bisa membeli buku  kelas enam es de<br />
Sebotol Malaikat Subuh lima ribu di pinggir jalan usai acara Majelis  Zikir Rasulullah<br />
Lima ribu bisa mahal bisa murah, relatif  di kala kosong koin Rp 100  begitu berarti<br />
Serelatif mencari malaikat keadilan  di bumi Indonesia nan tak kunjung  wangi.</p>
<p>Demi Adil yang belum bisa membeli buku kelas enam es de<br />
Kepada-Mu  Tuhan doa kupanjatkan agar Adil dapat  membeli buku kelas  enam es de<br />
Semoga Malaikat Subuh wangi membelai Adil belum bisa beli buku kelas  enam es de<br />
Amin. Adil. Amin.</p>
<p>Jalan Malabar, Guntur, Jakarta Selatan, 13 Juli 2010</p>
<p>Statusku di facebook:<br />
Di wall-ku ini sudah aku tarok sebuah tulisan: Adil Belum Beli Buku  Kelas enam Es De. Ini bukan Sketsa. Bukan pula Opini. Dibilang puisi,  selama ini aku bukan penulis puisi, juga mungkin tak bakat menulis  puisi. Tetapi apun menurut kawan2, ia adalah sebuah karya tulisan yang  aku kerjakan dengan hati. Untuk kritikus sastra, silahkan dikritisi,  boleh disebut puisi atau tidak? Lebih baik kita membedah karya. Thx.  salam</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog-presstalk.com/?feed=rss2&amp;p=394</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sketsa: Bangga Garuda Mengibarkan Indonesia</title>
		<link>http://blog-presstalk.com/?p=391</link>
		<comments>http://blog-presstalk.com/?p=391#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 06:42:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>presstalk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog-presstalk.com/?p=391</guid>
		<description><![CDATA[Pada 7 Juli 2010, Jeremias Tandaju menulis surat pembaca di
detik.com, akan peristiwa tak nyamannya naik Garuda. Ia dari Menado
transit di Makassar, lalu oleh seorang pramugari meminta kursinya
diserahkan ke isteri seorang pilot, sementara ia harus menunggu 50
menit lagi, benarkah demikian ceritanya? Mengapa Garuda berusaha
mandiri di tengah gempuran bisnis penerbangan murah lokal maupun dunia
tak menjadi kebanggaan, termasuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>Pada 7 Juli 2010, Jeremias Tandaju menulis surat pembaca di<br />
detik.com, akan peristiwa tak nyamannya naik Garuda. Ia dari Menado<br />
transit di Makassar, lalu oleh seorang pramugari meminta kursinya<br />
diserahkan ke isteri seorang pilot, sementara ia harus menunggu 50<br />
menit lagi, benarkah demikian ceritanya? Mengapa Garuda berusaha<br />
mandiri di tengah gempuran bisnis penerbangan murah lokal maupun dunia<br />
tak menjadi kebanggaan, termasuk oleh pemimpin negara? Kini negara<br />
sibuk mengurus pembelian pesawat kenegaraan. Bukankah dengan dipakai<br />
Presiden, memberi nilai tambah citra bagi Garuda Indonesia? Mungkin<br />
Presiden kudu belajar dulu ke David Ogilvie, bangga memakai produk<br />
kliennya sendiri selain membuatkan iklannya.</i></p>
<p><b>PEMBACA</b> rutin Sketsa saya tentu masih ingat, ihwal kasus Garuda<br />
tak mendapat pasokan Avtur di Bandara Timika, awal tahun ini, karena<br />
tidak membawa direksi PT Freeport Indonesia, yang jadwal<br />
penerbangannya, memang di jam berikutnya, sementara Garuda yang<br />
meningggalkan sang direksi yang mulia PT Freeport Indonesia, sudah<br />
kedodoran terlambat dari jadwal. </p>
<p>Premis saya kala itu, keangkuhan laku direksi PT Freeport Indonesia,<br />
sebagai bentuk kesewenangan, sok kuasa. Permintaannya tersebut diuji<br />
dengan ketentuan berlaku di ranah dunia penerbangan mana pun, tetap<br />
keliru, apalagi melanggar norma, terlebih adab hidup bermasyarakat.</p>
<p>Karena ulah direksi PT Freeport Indonesia ketika itu, Menteri<br />
Perhubungan sampai harus turun tangan, memanggil kedua belah pihak.<br />
Energi menjadi terkuras hanya untuk berapat urusan norak. Diakui atau<br />
tidak. Lema saya: waktu terbuang hanya karena urusan ego. Bagi saya,<br />
kasus itu sebuah catatan yang tak akan pernah raib, sebagai kumpulan<br />
perilaku para pejabat, khususnya cara bertutur para pemangku kuasa yang<br />
terus saya himpun di negeri ini. Di dalam kasus ini, khusus ihwal oknum<br />
direksi sebuah perusahaan besar terpandang.</p>
<p>Karenanya ketika Jeremias Tandaju menulis surat pembaca di detik.com,<br />
saya mengkonfirmasi kepada yang bersangkutan melalui SMS ke nomor<br />
mobile phone-nya. Aplagi yang terjadi dengan Garuda?</p>
<p>”Apa yang saya tulis benar. Pramugari bertanya, apakah ada penumpang yang terbang sendiri tanpa keluarga?”</p>
<p>”Saya tunjuk tangan. Lalu pramugari meminta saya turun di saat transit<br />
di Makassar itu, untuk menunggu 50 menit lagi ke penerbangan<br />
berikutnya.”</p>
<p>”Alasan sang pramugari ada isteri pilot harus berangkat bersama pernerbangan itu, kalau tidak, pesawat tak akan berangkat!”</p>
<p>Di media sosial facebook, perihal ini segera menyebar. Setidaknya Linda<br />
Djalil, mantan wartawan Tempo yang kini aktif sebagai blogger, mencoba<br />
menghubungi Emirsyah Satar, Dirut Garuda, namun yang bersangkutan tidak<br />
aktif hand phone-nya.</p>
<p>Saya mencoba menghubungi Pujobroto, Humas garuda via SMS. Karena<br />
kesibukannya yang padat, baru malam ia memberi jawaban. Kamis pagi, 8<br />
Juni, di saat hendak take off ke Kuala Lumpur, ia mengirim kabar, bahwa<br />
sudah men-cek kasus ini, dan ternyata penumpang itu, bukan isteri<br />
pilot. Ia penumpang Garuda yang memohon karena urusan sangat mendesak,<br />
minta didahulukan berangkat. </p>
<p>Pertanyaan bagi saya, mengapa sang pramugari harus menggertak bahwa<br />
sang penumpang isteri pilot? Apakah sebagai jalan pintas? Bukankah hal<br />
itu sebuah kebohongan, sekaligus merusak reputasi sang pilot?</p>
<p>Sebelum Pujobroto memberikan keterangan lagi, saya menduga, bahwa jika<br />
benar kelakuan sang pilot Garuda, seperti yang dituturkan sang<br />
pramugari, bagi saya ia tak ubahnya bak supir Kopaja 66, jurusan<br />
Manggarai-Blok M, Jakarta. Untungnya ini bukan laku sang pilot, tetapi<br />
urusan cara berdiplomasi.</p>
<p>Bila supir Kopaja, Metro Mini, seenaknya berhenti, bahkan menurunkan<br />
penumpang untuk pindah ke bis berikutnya, karena ia mau balik haluan.<br />
Sudahlah di dalam bis itu serasa di atas kaleng rombeng;<br />
komprang-kompreng suara kaca jendela, segenap suspensi mati pula,<br />
sehingga bis menginjak lubang kecil saja membuat seluruh jok<br />
bergetar-getar, lalu daun kuping Anda pasti turut bergoyang. </p>
<p>Belum lagi aroma oli terbakar di saluran pembuangan panas ada di<br />
belakang bangku supir. Anda yang tak biasa, saya pastikan membuat<br />
hidung sakit. Nasib berkendaran umum demikian bukan sepuluh tahun lalu,<br />
tapi saat ini, hari ini, dan mana mungkin dijajal Gubernur DKI dan<br />
jajaran? </p>
<p>Belum pula jika hujan mendera, kaca bis tak bisa ditutup, penumpang<br />
kuyup. Azab jadi masyarakat kecil pengguna kendaraan umum di Jakarta<br />
begitu. Nah jika salah satu azab itu, menurunkan penumpang sekenanya,<br />
mendera penumpang Garuda, bagi saya absurd kali?</p>
<p>Untunglah komunikasi cepat Pujobroto, kendati pun belum menuntaskan<br />
jawaban pertanyaan saya, setidaknya, ia telah menyampaikan bahwa ada<br />
seseorang penumpang yang hendak ditolong, tetapi saya duga eksekusinya<br />
keliru.</p>
<p>Sembari menunggu progres kasus ini, saya menuliskan sketsa ini.</p>
<p>
<b>JIKA</b>Anda cermati, urusan langgam berkomunikasi di ranah pejabat<br />
publik, kian hari memang kian pah-poh saja. Inti soal, langgam begawan<br />
sebagai pejabat cenderung mengedepankan ego. Sehingga bertutur tidak<br />
lagi dengan berkerendahan hati, apalagi bernurani hati?</p>
<p>Dalam kerangka inilah,  saya memberi porsi perhatian  kepada Garuda. </p>
<p>Jika Anda menyimak bisnis penerbangan kini, persaingan amat ketat.<br />
Bahkan Ryan Air di Inggris sudah akan melayani pernerbangan penumpang<br />
berdiri untuk jarak pendek.</p>
<p>Di dalam negeri kue Garuda sudah digerogoti banyak pemain. Mereka<br />
adalah swata nasional yang memang juga harus ditumbuhkan. Namun berkaca<br />
ke belahan jagad manapun, banyak negara di dunia mendukung dengan<br />
segenap cara bahwa penerbangan nasional negaranya tumbuh pesat. </p>
<p>Secara signifikan kita dapat menyimak Singapore Airline, selain<br />
dukungan negara yang kuat, pelayanan prima memang menjadi kunci utama<br />
suksesnya usaha jasa penerbangan. Saya pernah menaiki Etihad milik Uni<br />
Emirat Arab (UAE), smester pertama tahun ini. Laku subsidi bagi sang<br />
penerbangan oleh pemerintahnya bukan basa-basi. Bahkan sosok<br />
penerbangan negara sama, bertajuk Emirat, yang di kejuaraan World Cup,<br />
sepak bola dunia 2010, dapat Anda simak beriklan board di lapangan<br />
pertandingan di Afrika Selatan. Sponsor mereka bayarkan konon lebih<br />
dari US $ 100 juta, sebagai bentuk subsidi UAE, negara. Demi citra: Fly<br />
Emirat!</p>
<p>Kini jika bertanya ke lubuk hati, apakah kita bangga ber-garuda? Saya<br />
sebagai pribadi, masih memiliki kebanggan itu. Setidaknya di saat-saat<br />
transit di bandara internasional dunia, begitu ada, melirik Garuda,<br />
bangga hati di sana, apalagi bertuliskan Garuda Indonesia. Ada<br />
Indonesia-nya!</p>
<p>Maka ketika negara memutuskan membeli pesawat kepresidenan sendiri<br />
dengan harga mahal, perawatan mahal, ongkos perjalanan lebih mahal,<br />
bagi saya sebuah langkah salah. Sama gegabahnya dengan membangun gedung<br />
baru DPR berbiaya Rp 1,6 triliun dengan menyebut alasan gedung lama<br />
miring. Boleh saja menyebut sebagai citra juga, bahwa negara punya<br />
pesawat kenegaraan. Tetapi bermartabat mana bangga dengan Guruda<br />
mengibarkan kata Indonesia di badannya?: Garuda Indonesia!</p>
<p>Dan menyangkut citra, sudah saatnya Garuda Indonesia mulai melirik<br />
media sosial. Ingat kini, teknologi telah membuat sosok Jeremias<br />
misalnya, dengan cepat memuat surat pembaca ke media online, cukup,<br />
agaknya dari email di Black berry-nya. Lalu kabar menyebar ke<br />
setidaknya 30 juta komunitas online. Hari berikutnya berkelipatan dua,<br />
60 juta pembaca. Dalam kerangka inilah, komunikasi publik kini tak bisa<br />
lagi dihadapi dengan cara-cara konvensional. Aapalagi dengan<br />
terus-terusan berlagak begawan.</p>
<p>Sebagai dukungan bagi Garuda yang ada Indonesia di badannya, saya<br />
sebagai praktisi media sosial aktif (blogger) menuliskan ini, for free.<br />
Saya bangga Garuda, Mengibarkan Indonesia!</p>
<p>Iwan Piliang, blog-presstalk.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog-presstalk.com/?feed=rss2&amp;p=391</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Opini: Meledek Obama &#038; Urusan Celeng Diproses Polisi?</title>
		<link>http://blog-presstalk.com/?p=389</link>
		<comments>http://blog-presstalk.com/?p=389#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 04:48:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>presstalk</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sketsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog-presstalk.com/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan sambil berseloroh acap di di media (teve) saya sampaikan  yuk kembali belajar Bahasa Indonesia, karena bahasa logika, saya  mengajak belejar SPOK. Kata celeng bermuara kepada celengan. Kendati  bentuknya kodok, tak pernah dibilang kodokan. Lantas esensi alias subjek  liputan utama  TEMPO diapakan?  Logika-logika aneh mengalir setelah  reformasi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Belakangan sambil berseloroh acap di di media (teve) saya sampaikan  yuk kembali belajar Bahasa Indonesia, karena bahasa logika, saya  mengajak belejar SPOK. Kata celeng bermuara kepada celengan. Kendati  bentuknya kodok, tak pernah dibilang kodokan. Lantas esensi alias subjek  liputan utama  TEMPO diapakan?  Logika-logika aneh mengalir setelah  reformasi yang tak mengantar  meningkatnya  mutu peradaban.</em></p>
<p><strong>BARU</strong> pekan lalu saya menulis Sketsa soal Biennale Indonesia Art  Award 2010, yang pamerannya berakhir 27 Juni 2010 ini. Di pameran adi  karya seni Indonesia itu, peraih award membuat karya seni sosok patung  Barack Obama  naik becak.</p>
<p>Dalam sekuen foto yang digelar di pameran itu, sang patung sempat jatuh  dari becak di Yogyakarta. Tangan patung itu patah, kakinya juga.  Lalu  adegan becak yang dinaiki patung difoto di  depan rumah sakit  Muhammadiyah di Yogyakarta, jidatnya dibalut perban, lengan dan kaki  Obama sudah tersambung.</p>
<p>Di saat dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta,  patung itu  sehat  wakafiat. Obama mengangkat jari  kanan membentuk V, simbol peace. Oleh  pembuatnya, Wilman Syahnur,  patung dan parade foto patung Obama  nyungsep dari becak itu sebagai kritik terhadap sang presiden AS itu,  yang tak pantas menerima hadiah  Nobel Perdamaian.</p>
<p>Logika saya apakah  sang penerima yang harus dikritik atau sang panitia  pemberi? Bisa menjadi sebuah diskusi.</p>
<p>Di Sketsa saya bertajuk Becak Obama dan Oh Miranda pekan lalu itu, saya  bertanya mengapa Wilman tidak  membuat saja patung Miranda Goeltom naik  Becak dengan Nunun, yang mengaku pikun, karena tersangka  mengalirkan  sogokan kepada anggota komisi keuangan DPR, terindikasi demi mentasnya  Miranda menjadi Deeputi Gubernur Bank Indonesia. Keduanya bisa dibuat   patung naik becak lalu difoto diberdirikan dengan latar gedung KPK.</p>
<p>Setidaknya melalui ide saya itu, saya ingin bertanya kepada pematung  bahwa tangau di seberang lautan tampak tapi gajah di pelupuk mata tidak  kelihatan? Kepada Jim Supangkat, kurator yang juga ketua Dewan  Juri,  saya ingin bertanya  mengapa tidak berani berseloroh kepada sang  pematung? Dan sebagai seniman, apalagi korator independen, perihal itu  bisa saja jadi bahasan, bukan?</p>
<p>Mengapa hal ini saya  pertanyakan? Mengingat  Miranda Goeltom membuka  pemaran seni itu pada 17 Juni 2010. Ia ketua Yayasan Seni Indonesia. Dan  menurut hemat saya di pembukaan itu, para seniman hanya  takzim,  manut-manut, santun-santunan, basa-basi, apatah sambil berharap ada  koleksi karya seni yang  bakal dibeli Miranda atau koleganya?</p>
<p>Bagi saya inilah bentuk pergeseran seniman adi luhung Indonesia kini  dibanding eranya Soedjojono dan kawan-kawan, di masa silam. Sama dengan  bergesernya karakter negarawan bak sosok Hatta, ke ranah pejabat dan  aparat di era kini.</p>
<p>Di media sosial, khususnya di facebook saya, banyak kawan berkomentar,  dan menyatakan bahwa kalau mengkritik Obama tidak  berisiko. Berbeda  dengan mengkritik pejabat publik Indonesia, selain siap diproses hukum,  terkadang nyawa bisa dimunirkan.</p>
<p>Saya  tak habis pikir.</p>
<p>Demikiankah ternyata kemajuan hebat kita  lintas-lini setelah reformasi?</p>
<p><strong>BELUM</strong> sepekan  berlalu dari penutupan pameran seni itu, Senin, 28  Juni 2010, majalah TEMPO menurunkan laporan utama ihwal rekening  milik  jenderal polisi. Tak terkecuali di sana ada rekening Susno Duadji,  terindikasi  berisi lebih Rp 3 miliar.</p>
<p>TEMPO menampilkan cover visual grafis air brush, sosok perwira polisi  yang ditarik oleh tiga buah celengan babi.</p>
<p>Celengan babi, wujud nyatanya,  terbuat tanah liat. Di ranah masyarakat  memang acap digunakan sebagai tempat menabung uang receh. Saya masih  ingat ketika kanak-kanak dulu, sosok celengan bulat dengan wujud  bergambar muka babi  oleh pedagangnya, sempat menjadi wadah celengan  saya. Seingat saya sosok kodok juga dominan, dan saya juga pernah punya  celengan kodok.</p>
<p>Seorang kawan Fecebook, menyampaikan soal kata celeng yang menjadi  celengan. Dalam penelusuran literasi saya, kata celeng memang menjadi  istilah celengan. Kendati wujudnya ayam, atau kodok, tek pernah  diucapkan ayaman atau kodokan</p>
<p>Cover sebuah majalah memang sebuah karya kreatifitas. Ia ditabalkan  menyampaikan konten produknya yang utama untuk edisi itu. Liputan utama  TEMPO  indikasi uang tambun yang dimiliki oleh beberapa perwira polisi,  yang jika memakai akal waras, dibandingkan dengan gaji para pemegang  rekeningnya, sungguh tidak masuk akal.</p>
<p>TEMPO lalu ludes di pasaran sebelum sempat beredar. Saya tak paham siapa  pembelinya, karena saya belum melakukan verifikasi untuk menulisnya  dalam format reportase untuk Sketsa.</p>
<p>Di opini ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa laku memborong TEMPO itu  sebuah langkah  naïf, jika tak hendak dibilang bodoh. Di era dunia  online kini sudah demikian dinamis, dan hampir 30 juta orang Indonesia  berlalu lintas online, maka dengan mudah dapat diperoleh konten majalah  itu di www.tempointeraktif.com.</p>
<p>Ada juga pihak yang menduga bahwa hilangnya TEMPO di pasaran oleh laku  oknum TEMPO sendiri. Namun apa iya? Dalam keadaan cah flow media kini  menjadi kian ketat,  membeli produk sendiri menjadi laku gila. Apalagi  di ranah media kini yang integritasnya banyak layak dipertanyakan,  kawan-kawan,  TEMPO, masih menjadi oase kejujuran bagi saya. Tetapi  begitulah, negeri kita kadung  terbuai dan acap dibuai rumor-rumor  kotor.</p>
<p>Satu yang fakta, sesuai kelimat disampaikan pejabat Polri. Inspektur  Jenderal Edward Aritonang, juru bicara Mabes Polri,  mengatakan cover  TEMPO edisi rekening gendut itu sangat mencemarkan, menghina, merusak  nilai-nilai kehormatan Polri. Kata Aritonang pula,  banyak telepon dari  berbagai daerah dari markas polisi dari daerah mempertanyakan mengapa  mereka seolah-olah bergelimang binatang?</p>
<p>Singkat  kata sesui keterangan Aritonang, silakan TEMPO menganggap hal  itu sebagai karya seni, tetapi Polisi akan meneruskan ke langkah hukum.  Dan langkah hukum akan dilakukan oleh Kepala Pembinaan Hukum Mabes  Polri.</p>
<p>Bagi saya kalimat itu sebagai sebuah sikap reaktif Polri.</p>
<p>Karena pendidikan saya dari jurusan komunikasi, laku demikian secara  psikologi komunikasi adalah sikap melawan  perasan massa, oleh seorang  pejabat publik. Jika saja saya pejabat Polri, saya akn mempertimbangkan  sisi plus minusnya dari sudut citra. Entahlah, bagaimana  berhitungnya  polisi kini?</p>
<p>Momen seperti ini, jika Polri tidak reaktif,  jika saja ia dapat tampil   rendah hati, maka akan mengatakan: Kami berterima kasih, atas liputan  TEMPO, media pada umumnya.</p>
<p>Dari liputan  TEMPO bergambar perwira dan celengan babi itu, memberi  kesempatan kami kian berbenah diri menjadi polisi, penegak dan pelayan  keadilan lebih baik ke depan. Kami yakin kami bukan  warga hewan, dan  tak ada pula niat kami menjadi babi ngepet apalagi babi  benaran  - -  diucapkan sambil bercanda tawa.</p>
<p>Kalau mau menambahkan, celengan itu memang dari kata celeng, kami tak  pernah mendengar ada ayaman, kodokan, walaupun celengan ada yang  berbentuk hewan lain. Ah mungkin saya cuma bermimpi memberi teori.</p>
<p>Aklhirnya, selamat ulang tahun Bhayangkara, Polri. Semoga lebih baik  citranya ke depan. Amin***</p>
<p>Iwan Piliang, blog-presstalk.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog-presstalk.com/?feed=rss2&amp;p=389</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
