Archive for April, 2009

Sketsa X David: “Greater Minds” di Kampus Kematian

Tuesday, April 28th, 2009

Sketsa X David: “Greater Minds” di Kampus Kematian

Pengadilan First Mention Coroner sudah berjalan. Berita kematian David beradu Pemilu, berlaga beragam infotainment teve. Perlu saksi signifikan di Coroner Inquiry nanti. Agar, ini kasus terhindar dari keputusan: David bunuh diri!

PETANG belum redup. Matahari masih menyengat. Kendati jam menunjukkan menjelang pukul 17, waktu Singapura, Jumat 17 April di Mandai Crematorium, tempat di mana jasad Almarhum David Hartanto Widjaja pada 3 Maret 2009 lalu dikremasi. Dua burung jalak cuek lewat mendekat kaki saya yang mencangkung di tepi jalan aspal lebar segar. Angin meniup dahan kayu hutan di sebelah menyebelah. Suasana mirip kawasan wisata Puncak, Jawa Barat.

Sebuah ambulan minibus datang. Di kedua samping badan mobil berkaca transparan. Di dalamnya sesosok mayat di dalam peti, berpenerang neon biru, bak akuarium. Lagu Mandarin mengalun riang dari CD player bervolume kencang. Hanya ada supir dan seorang pendamping. Tidak terlihat satu pun pengantar.  Suasana lalu datar.

Di bangunan sebelah kiri, seorang bapak setengah baya baru saja memarkir mobil di lahan yang lapang. Setangkai bunga ia bawa menuju bangunan macam kondominium. Di situ berderet rak penyimpanan abu; berbaris-baris berkotak-kotak. Di masing-masing pintu rak menempel bunga-bunga segar. Pria tadi tertunduk takzim, bunganya menemani. Tidak lama. Mobilnya lalu melesat lagi persis di depan saya, suasana sepi kembali. Suara lalu sekaan beralih ke gemuruh lalu-lintas di jalan tol di kawasan bawah area itu.

Deretan ruang pembakaran jenazah di bagian kanan di lahan yang lebih 10 hektar itu, bercerobong-cerobong. Di salah satu lubang pembuangan membubung asap hitam. Api baru saja bekerja tampaknya. Suasana lengang Bulu kuduk saya tegak. Panorama menghijau menghampar memagut asri menenangkan hati.

Saya membayangkan, dalam keadaan demikianlah kendaraan yang membawa jasad David Hartanto Widjaja, pada 3 Maret lalu. Kremasi dilakukan di Mandai. Mobil jenazahnya juga datang dengan nyanyian yang riang. Logika memberikan kesenangan di dalam doa menjadi beralasan. Keceriaan mengalirkan aura positif berdatangan. Maka sesuai hitungan Feng Shui tepat pukul 17.15 pada 3 Maret 2009 lalu itu jasad David disembahyangkan secara Budha

Hitungan waktu pukul 17.40,  jenazahnya masuk tungku pembakaran. Di jam yang sama di hari berbeda saya masih terpana di Mandai. Satu dua jalak terbang mengusik memori. Benak saya nanar menyesal mengapa jenazah David sebegitu cepat dikremasi, padahal hasil otopsi belum keluar dan kematiannya bermasalah. Sebuah penyesalan dalam juga menyesakkan dada keluarga almarhum.

“Habis kala itu kami berduka, kalut. Menurut kepercayaan Budha, anak yang belum menikah makin cepat dikremasi, makin baik, ditambah semua hal yang disampaikan NTU awalnya kami rasakan benar, ” ujar Hartono Widjaja, ayah David.

Pihak Kedutaan Besar Indonesia Singapura, padahal juga telah mem-book pesawat Garuda untuk membawa jasad David pulang. “Kami meminta Garuda stand by enam jam,” ujar Fahmi, Sekretaris III Bagian Konsular.

“Keluarga telah memilih melakukan kremasi.”

Topik kremasi menjadi begitu krusial. Masalahnya, pada 2 Maret 2009 lalu, mahasiswa di jurusan Elebctrical and Eletronic Engineering (EEE) di Nanyang Technological Universitry (NTU) itu sesuai rilis yang dikeluarkan kampus bergengsi berlahan 200 hektar itu, disosialisasikan bahwa David menusuk Professor Chan Kap Luk, pembimbing tugas akhirnya, lalu melukai nadi lengannya sendiri, kemudian melompat bunuh diri.

Pihak kepolisian Singapura sendiri masih dalam penyidikan. Mereka belum membenarkan rilis NTU. Kemudian rilis berubah dan bertambah dilakukan NTU, bahkan pada 3 April 2009 mereka menambahkan rilis baru yang mengatakan nilai David turun grade-nya dan beasiswanya dicabut menjadi alasan sosok cerdas, jago matematika, menguasai program dasar asembler, C, C++ lalu juga mengopprek aplikasi Open Computer Vission di risetnya itu: bunuh diri.

Kecurigaan mendalam, telah mengantarkan saya dua kali ke Singapura untuk memverifikasi kasus ini. Pertama tujuh hari di sana, kedua delapan hari pekan lalu, memverifikasi bebrbagai bahan tertulis, mencocokkan berbagai hal, lalu empat kali ke lokasi tempat David dinyatakan jatuh, lantas dugaan saya kian menguat bahwa David dibunuh.

Apalagi hasil otopsi yang dikeluarkan Health Science Authority (HAS) yang dilakukan oleh DR. Marian Wang yang di-endorse oleh Profesor Gilbert Lau itu, di antaranya menyebutkan bahwa: ada 36 kelompok luka; 14 kelompok di antaranya akibat benda tajam. Bagian luka benda tajam itu, adalah lengan kanan bagian luar seperti tusukan dalam menangkis pisau, dua sayatan di bagian lengan luar, dua bagian lengan atas luar. Bahkan bagian leher yang di tulisan Sketsa sebelumnya saya tuliskan ada tiga lapis plester, di hasil otopsi diebutkan luka memar dalam.

Maka di Mandai Crematorium petang itu saya tafakur lalu menatap langit, lamat-lamat ada suara tekukur.

David mengapa dikau dibunuh?

Baru ada jawaban suara alam.

Angin petang bertiup kencang..

Sebuah taksi datang dari arah gerbang masuk yang lapang, menguak suasana Mandai nan sepi. Sosok Yasmin, alumni NTU, bekerja di Singapura, banyak sekali membantu verifikasi independen, datang menghampiri saya. Kami lalu meninggalkan lokasi Mandai Crematorium dalam diskusi tiada henti.

RABU 22 April, pukul 11, di lobby Furama City Hotel, di kawasan China Town, Singapura. Sudah ada Hartono Widjaja, Thyai Lie Khiun, Kusuma Widjaja, Wiliam Hartanto Widjaja, ayah, ibu, paman, dan kakak alamarhum David. Juga ada Christovita Wiloto dan isteri yang membantu secara probono kehumasan kegiatan non littigasi. Tak lama kemudian Shashi Nathan, lawyer dari Harry Ellias Partnership tampil. Kordinasi di tempat itu dilakukan, mengingat pukul 11.30 berlangsung First Mantion Coroner Court kasus kematian David.

Dalam sebulan ini saya mengutak-atik, bagaimana menyederhanakan maksud pengadilan koroner. Baru malam menjelang proses pengadilan awal itulah saya menemukan jawaban: bahwa pengadilan koroner, sesungguhnya sebuah proses pengadilan membatasi wewenang negara.

Wewenang negara mana yang dibatasi?

Wewenang melakukan dan membuat Surat Penghentian Pemeriksaan Perkara (SP3). Di Indonesia SP3 bisa dilakukan kepolisian - - jika tak ditemukan banyak bukti misalnya - - dan atau juga dilakukan pihak kejaksaan. Di Singapura, jurus langkah hukum SP3 itu tidak bisa dibuat sewenang-wenang oleh negara. Dia harus melalui proses pengadilan yang disebut Coroner Court. Nah, hari itu First Mention, digelar pertama, di mana hakim memanggil penyidik, lawyer, keluarga (next of kin), sidang terbuka untuk publik.

Di bangunan pengadilan koroner, tidak ada tulisan Coronor Court. Di luar hanya tampak tulisan Subordinate Court. Ternyata di salah satu ruang di bangunan itulah digelar apa yang disebut persidangan koroner. First Mention David digelar di ruang 22 di lantai 3. Saya menghitung, kami menaiki tiga terap anak tangga pencarian keadilan yang mencapai 49.

Ruang 22 itu empat persegi, satu setengah lapangan basket. Suluruh dinding sirap-sirap kayu masih berbilah-bilah vertikal. Di dinding ada satu logo negara Singapura. Di bagian bawah logo, paling depan, meja panjang hakim. Terap agak bawah asisten administrasi persidangan. Sidang dipimpin hakim Pieter Yeo.

Setengah melingkar menghadap hakim, di sebelah kanan, tampak penyidik Soh Ceh Eng. Di luar sebelum masuk, saya sempat menyalaminya, mengenalkan diri sebagai sosok yang pernah meneleponnya, juga meminta konfirmasi soal kekagetannya ketika ditanya Hartanto Wdjaja, soal leher David yang diplester.

Shasi Nathan, lawyer keluarga David menegur saya.

“Don’t do that, Iwan.”

Barulah tahu saya masing-masing pihak jika sudah di pengadilan itu tidak beradab bertegur sapa.

Persidangan terbuka. Hari itu ada sekitar 8 orang wartawan dan blogger lokal. Seorang wartawan RCTI, kebetulan berkesempatan meliput dari Jakarta. Kami duduk di barisan belakang, khusus pengunjung. Cukup lama menunggu ketika Shashi dipanggil hakim. Mereka rapat setengah kamar hampir sejam. Kemudian barulah sidang dimulai. Hakim Pieter Yeo memimpin persidangan. Garis lurus berhadapan hakim tampak pula Shala Iqbal, penuntut umum.

Singkat saja acaranya. Pieter mengatakan bahwa kepastian Coroner Inquiry pada 20 -26 Mei 2009 mendatang, berlangsung marathon lima hari. Mereka juga menyebut, berdasarkan masukan penyidik setidaknya ada 16 saksi, termasuk Profesor Chan Kap Luk. Shashi Nathan, lawyer, di luar persidangan menyebut salah satu lagi saksi sosok isteri digital David di dalam permainan Game Destiny. Sosok gadis Singapura 17 tahun, yang tak pernah jumpa fisik dengan David itu, konon percaya David bunuh diri, hanya karena cuma membaca berita di koran Singapura sehari setelah kematiannya. Daftar 14 saksi lainnya, tidak diberitahu.

Sejak keluar bangunan Subordinate Court itu, Shasi Nathan sangat peduli soal saksi versi keluarga David. “Kita harus mencarinya, agar mendukung fakta-fakta yang akan kita ajukan, ” ujarnya. Maka terbayanglah oleh saya, betapa beratnya melawan proses Coroner Inquiry Mei mendatang itu, di tengah berita, alibi dan saksi yang kompak seakan telah tersaji baik.

Maka kesempatan keluarga bertemu penyidik senior, Avediar DSP, di kantor polisi Jurong West, keesokan harinya, Kamis 23 April 2009 menjadi penting. Sayangnya pada kesempatan itu hanya ayah, ibu, dan kakak David saja yang boleh masuk, plus lawyer dan Yayan GH Mulyana, Sekretaris Pertama Kedubes RI mendampingi. Pamannya, Kusuma Widjaja, harus berada di pinggir jalan yang panas. Ada pula 3 wartawan lokal, yang juga bertanya-tanya mengapa masuk ke lobby ruang tunggu saja pun pengunjung tak boleh.

Selesai pertemuan, saya bertanya kepada Hartono Widjaja, apakah soal kloning hardisk di laptop David dapat diminta segera?

“Polisi bilang baru akan dikasih seminggu sebelum persidangan.”

Baru janji.

“Kami juga menanyakan soal keganjilan yang ada atas kematian anak kami,” ujar Hartono.

Polisi meyakinkan keluarga almarhum David.

“Kami salah satu polisi terbaik di dunia, pasti bekerja dengan professional.”

Begitu kalimat akhir polisi kepada keluarga David.

Untung saja saya seakan terseterap hampir dua jam di tepi jalanan Singapura di siang yang panas. Bila di dalam saya akan bertanya lantang, bagaimana profesional, Bapak polisi jika dalam mengambil barang bukti laptop David, tidak memberikan tanda terima kepada keluarga. Lebih jauh lagi, ketentuan internasional, pengambilan barang digital, harus pula mencantumkan hashing data digital. Laptop David adalah IBM T 60 dengan hard disk 250 Giga - - cukup hihh-end untuk ukuran orang berkutat di IT.

Bagaimana pula soal tempat kejadian perkara, yang cuma dalam hitungan jam, sudah dibersihkan NTU?

Karenanya melalui perkenalan saya tak sengaja dengan Ruby Z. Alamsyah, satu-satunya orang Indonesia yang memilki lisensi digital forensik internasional, mendesak kepolisian Singapura menyerahkan kloning data di laptop David. “Itu merupakan hak keluarga memintanya,” ujar Ruby.

Dari hashing data bisa dilakukan digital forensik independen. Dan Ruby sudah menyanggupi melakukan, bahkan pergi ke Singapura dengan pro bono. Ia pun telah mengontak jaringan di AS jika dipersulit kelak. Sehingga bila urusan digital forensik ini tidak beres bisa digongkan ke tingkat dunia. Digital forensik penting bagi bahan persidangan kelak, selain saksi signifikan yang harus terus dicari.

JUMAT, 24 April 2009, hingga pukul 13 lebih saya masih berada di kampus NTU. Bulak-balik berpenampilan mahasiswa ke sana, memberi rasa berkuliah yang dalam. Pesawat saya kembali pulang ke Jakarta pukul 17.35 hari itu. Saya masih perlu menemui sosok sahabat seangkatan David, yang mulai percaya dan memberikan info signifikan. Dari 600 mahasiswa Indonesia di NTU, sejak kasus ini, memang banyak yang bungkam. Salah seorang mengakui adanya intimidasi kampus; agar mengamini rilis kematian David versi NTU.

Saksi menjadi kunci utama.

Lembaga formal seperti Kedubes kita, terbentur menjaga hubungan kedua negara. Belakangan saya ketahui sudah ada agen polisi AKBP Irwandi, yang diutus kepolisian RI ke Singapura, untuk mempelajari kasus ini. Tentu sebuah kemajuan. Namun pengalaman di lapangan memberikan fakta nyata, jika lembaga formal yang bergerak, banyak sekali birokrasi membatasi, terobosan mencari langung saksi di jalur informal lebih berbuah.

Waktu kian mepet. Jam di tangan saya sudah mendekati pukul 13.30. sama mepetnya persidangan yang menyisakan hari kerja efektif 20 hari lagi. Saya melamun di halte bus di bawah kantin A di NTU. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi, berwajah tegang hari itu, jarang mereka tersenyum. Bebeberapa gadis berwajah oriental manis, cantik, tawar datar. Masa-masa examination.

Sebuah bus bertingkat bernomor 179 menuju stasiun MRT Boonlay datang. Antrian menaikinya ramai. Saya duduk di tengah bawah. Baru saja pantat terhenyak mata tertumbuk. Saya melihat poster di bagian dinding pembatas tangga ke atas.

Sebuah poster berukuran sedang berwarna oranye dengan ilustrasi foto seorang pria klimis berdiri berkemeja berpantolan, seakan mengiklankan pakaian. Tampak tagline di poster itu:

Greater Mind’s,

For our Nation’s defence embark on career in defence science and technology. Join our team greater minds for place for greater mind. www.dsta.gov.sg.

Ada gambar kapal perang, tank, panser dan pesawat tempur di kaki pria yang jadi model itu. DSTA adalah Defence Technology Security Agent, di mana Su Guaning, Presiden NTU adalah Chaiman-nya, dan Profesor Chan Kap Luk yang diberitakan media Singapura ditusuk David, menjadi senior member. DSTA berada langung di bawah Menteri Pertahanan Singapura.

Tiba di stasiun MRT Boonlay, tempat saya mengejar MRT, tampak sebuah bus bertingkat seluruh badannya dicat beriklankan DSTA: Greater Minds!

Saya tak paham, tontonan apa yang menggiring mata. Yang pasti di saat saya kedua kali kembali ke Singapura, di imigrasi, saya telah diinterogasi, untuk apa datang ke Singapura?

Saya kembali ke Singapura, untuk urusan hati nurani dan sebuah kebenaran yang hakiki.

Bukankah yang greater itu sesungguhnya, bermuara kepada mutu peradaban? Secanggih apa pun sebuah negeri berteknologi menggapai langit ketujuh kemampuan mesin perangnya, bila satu nyawa manusia mati di lingkungannya, terindikasi dirusak pula nama baiknya, menjadi apa namanya?.

Saya lalu senyum-senyum saja, dengan greater minds di kampus kematian David. Juga lebih tersenyum lagi membayangkan “greater minds” negeriku berpemilu. Sikap sportif di khasanah kehidupan lintas lini, lintas negara, kini entah mara ke mana? ***

Iwan Piliang, Literary Ciizen Reporter, blog-presstalk.com

Singapura: Wrong-Wrong Dikit Bolehlah

Wednesday, April 22nd, 2009

Singapura: Wrong-Wrong Dikit Bolehlah

Sketsa lepas di sela verifikasi kasus kematian David, mahasiswa asal Indonesia yang terindikasi dibunuh itu. Menyimak peranan Kedubes di gemerlap kota Merlion, melayani mancaragam permasalahan TKI. Banyak PRLT yang kemudian berkembang karirnya

DARI Kedutaan Besar Indonesia di Jl.Chattsworth No.7, di Singapura, mobil Camry hitam yang disetir oleh Fahmi Aris Innayah, terus meluncur, Sabtu, 18 April 2009, menuju Sekolah Indonesia Singapura. Di halaman Kedubes masih tampak beberapa pekerja pembantu rumah tangga menunggu bis mengantar. Mereka Tenaga kerja Indonesia (TKI). Satu bis mini sudah jalan duluan.

Belum sempat membelokkan mobil ke kanan keluar pagar kedutaan, telepon selular Fahmi bergetar. Ia menjawab melalui bluetooth. Seorang penanya melalui telepon.

“Ini Kedutaan Indonesia?”

“Iya, dengan siapa?”

Suara di seberang menjawab kurang jelas.

“Saya sudah tiga kali ganti majikan Pak, dalam enam bulan.”

“Siapa namamu? Itu artinya kamu tak mendapatkan peningkatan gaji tetap?”

Belum tuntas solusi diberikan, sudah ngantri lagi telepon masuk.

“Pak Fahmi, kasihanilah saya, di kampung mana kena banjir”

“Keadaan terasa sulit banget, gaji saya dicicil, gaji delapan bulan lalu belum dibayar.”

Suara anak kecil berkelahi terdengar.

“Maaf Pak ini anak-anak berantem pula.”

Satu anak majikan menangis

“Pak nanti saya telepon lagi ya…”

Suara telepon terputus.

Saya yang duduk di samping kiri Fahmi, mendengar seluruh dialog itu. Tatapan saya terpana ke jalanan bersih dan lapang, beda sekali dengan ruas Jl. HR Rasuna Said, Jakarta, kini aspalnya bolong-bolong di kiri jalan, misalnya. Pikiran saya melayang kepada kepahitan dan kesulitan para TKI itu. Di Singapura jumlah mereka lebih dari 80 ribu.

Barulah dua puluh menit kemudian telepon Fahmi jeda.

“Handphone saya hidup dua puluh empat jam dalam sehari,” ujar Fahmi, staf layanan masyarakat KBRI, Singapura.

Praktis bagi Fahmi, bahwa roda kehidupan yang 7 x 24 jam, dipersembahkan menerima segenap keluh-kesah dan mencaragam persoalan kehidupan TKI. Bukan saja dari pembantu, termasuk tenaga kerja lain, macam pelaut.

Lima hari sebelum saya semobil dengan Fahmi, peristiwa lebih mencekam baru saja terjadi: seorang pembantu rumah tangga, hendak melompat dari sebuah apartemen majikannya. Segenap kepolisian Singapura bekerja intens, mereka mencoba membujuk agar sang pembantu mengurungkan niat. Bahkan level pejabat bintang dua turun tangan. Mereka putus asa merayu.

“Pihak kepolisian menghubungi kami.”

“Kami segera ke lapangan. Tak sampai sepuluh menit sosok yang akan bunuh diri itu mau dibujuk.”

“Ia butuh keluarga, sanak saudara untuk curhat.”

Apa yang dilakukan Fahmi?

Membujuk, mendengar, bahkan bila perlu memeluk laksana adik sendiri. Dari situlah ia paham keadaan kejiwaan sang TKI. Pada kasus keinginan bunuh diri dari lantai 25 itu, lebih karena kepiluan mendalam.

“Bagimana tak kecewa berat, TKI itu meninggalkan anak dan suami. Dari Singapura dia mengirim uang pulang kepada suami. Eh, uangnya dipakai suami kawin lagi!” ujar Fahmi.

Malu saya sebagai lelaki.

KAWASAN sekolah Indonesia di bilangan Jl. Siglap 20 A, di lahan lebih sehektar itu bangunannya dua lantai, di bagian bawah banyak ruang terbuka. Kelas-kelas banyakan di lantai dua. Ada pula aula yang bagian tengahnya bisa disulap untuk dua lapangan bulu tangkis. Di halaman, pohon nangka menguatkan ke Indonesiaan. Saya perhatikan dua batang berbuah, sepokok sebuah, di pohon lain tiga. Buahnya hijau tajam, mengingatkan kepada sayur mayur yang dijual di banyak tempat di Singapura, macam timun, sawit, lebih dalam hijaunya, macam sayuran yang dijual di Ranch Market di Jakarta.

Sejak pukul 10, ruang kelas di lantai dua itu sudah penuh diisi dengan kelas reguler. Pelajarnya, ya, kalangan TKI. Ada yang belajar komputer, bahasa Inggris, Mandarin, dan juga kuliah melalui seorang tutor Universitas Terbuka, mengambil gelar S1.

“Sudah ada tujuh puluh dua orang yanmg sarjana,” ujar Wardana, Duta Besar RI, Singapura.

Kantin menjual masakan Indonesia tersedia. Ada bakso. Sambil menyantap gulai ikan yang beraroma kari, saya berbincang dengan Wardana. Ia mengutarakan apa yang dilakukan kedutaan sudah suatu yang lebih di luar kapasitas diplomat. “Namun karena mereka ini warga kita, maka sisi kemanusiaan menggerakkan untuk meningkatkan kulitas mereka,” ujarnya.

Dalam pekan ini rombongan Kedubes RI, meberikan sosialisasi akan pelatihan menyiapkan SDM berkualitas. “Sehingga kelak TKI yang datang sudah matang,” kata Wardana.

Sebelum santap siang, Wardana sempat memberikan motivasi kepada sekitar 300 TKI, umumnya pembantu rumah tangga. Mereka dipandu berkelompok oleh para volounter, mahasiswa Indonesia dari berbagai perguruan tinggi di Singapura, termasuk dari NTU.

Kala itulah saya melihat Ketua Himpunan Penata Laksana Rumah Tangga Indonesia (HPLRTIS), Sumarni Markasan. Ia salah satu PRLT yang berhasil. “Ketika tiga tahun pertama di Singapura, saya dalam situasi sulit,” ujarnya. Ia bahkan pernah tidak digaji majikan.

Kompas, pada Agustus 2009 menuliskan: Penunjukan Sumarni sebagai Ketua HPLRTIS tak lepas dari figurnya yang ingin terus maju dan pantang mundur. Ia mulai bekerja di Singapura sebagai PRLT pada 1996. Saat mulai bekerja, ia sama sekali tak bisa berbahasa Inggris, juga tak memiliki keterampilan, seperti mengoperasikan komputer.

Maka, ketika bekerja pada majikan asal Amerika Serikat tahun 1998, ia mengambil kursus bahasa Inggris selama enam bulan. Lewat kursus dan interaksi dengan majikan, kemampuan bahasa Inggris Sumarni semakin baik.

Pengalaman menjadi PRLT di Singapura juga mengubah pola pikir Sumarni. Kemajuan teknologi dan penerapannya di hampir semua lini kehidupan warga Singapura semakin membuka pikirannya.

”Saya melihat, segala sesuatu dilakukan dengan komputer,” kata Sumarni. Ia lalu bertekad harus bisa menggunakan komputer.

”Saya mau menguasai komputer. Saya ingin pandai dan mau belajar. Saya mau sekolah,” kata Sumarni. Dia lalu berupaya mencari majikan yang dapat memberi keleluasaan dan waktu baginya untuk belajar.

Saat bekerja dengan majikan asal Swiss pada 2000, ia mendapatkan apa yang diharapkan. Ia belajar komputer di Institut Informatika, Singapura, selama sekitar 1,5 tahun. Belajar komputer dia lanjutkan saat berganti majikan baru yang asal Finlandia.

Belajar komputer di Institut Informatika, Singapura, bukan hal mudah. Instruktur memberi bahan dan materi dalam bahasa Inggris. Materi studi komputer, seperti Power Point, Excel, Microsoft Office, tak mudah diserap jika penguasaan bahasa Inggris lemah.

Tantangan lain suasana belajar di lembaga itu. Para siswa berasal dari berbagai kalangan, mulai dari manajer sampai pelajar, dari sejumlah negara seperti China, Malaysia, India, dan Singapura.

Gaji Sumarni kini sekitar 800 dollar Singapura atau sekitar Rp 5 juta. ”Itu belum termasuk bonus yang diberikan majikan,” katanya. Bahkan, oleh majikannya yang asal Finlandia, Sumarni diajak berlibur ke Inggris dan Finlandia.

Dari gaji yang dia kumpulkan selama bekerja di Singapura, pada tahun ke-7 Sumarni mampu membeli lahan untuk kebun senilai Rp 70 juta. Lahan yang dikelola orangtuanya itu ditanami pohon buah-buahan.

Sumarni juga menginvestasikan uang yang dia peroleh untuk membeli rumah. ”Harga rumah saya sekitar Rp 100 juta dan sekarang dikontrakkan,” kata Sumarni yang mendapat uang kontrak Rp 7,2 juta per tahun.

Maka di siang yang segar saya perhatikan Sumarni bercelana panjang hitam dan berbaju putih ketat begitu menjaga body language-nya ketika bersalaman dengan saya. Jabatan tanganya erat.

“Saya Sumarni.”

Tawanya lebar.

Saya jamin jika Anda bertemu dengannya di Jakarta, pasti menduga bahwa Sumarni seorang wanita karir.

Pede dia.

Di kelas siang itu saya simak seorang guru taman-taman kanak-kanak asal Cilacap meninggalkan profesinya, lalu mara ke Singapura. “My salary in Cilacap limited,” ujarnya

Seorang lagi yang maju ke depan kelas mengatakan,” My name is ….my English is very limited… wrong-wrong dikit bolehlah.”

Agaknya di mana ada kemauan di situ ada jalan menjadi spirit para PRLT itu. Belajar memang kudu tiada henti. Saya perhatikan mereka juga kian bersemangat memilih tutor para mahasiswa Indonesia yang cantik, ganteng.

Begitulah antara lain kegiatan Minggu Kedubes RI yang saya simak siang itu.***

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.com

Top of Form

Bottom of Form

Sketsa IX Kematian David: Belang-Belonteng Kesaksian Ketenteng

Thursday, April 16th, 2009

Sketsa IX Kematian David: Belang-Belonteng Kesaksian Ketenteng

Di tengah berita Pemilu meninggi, untung mulai bunyi berita meninggalnya David. Namun celakanya, kok, Menlu, seakan tiada empati, menyalahkan keluarga: jalan sendiri!?

AIR MANCUR di bundaran Gran Indonesia, di bilangan Jl. Thamrin, Jakarta itu melengkung mengalir. Waktu sudah menjelang Magrib di Selasa, 14 April 2009. Sosok Ganang Tidarwono Soedirman, cucu kandung Alm., Panglima Besar Soedirman, masih berbicara dengan kawannya di meja sebelah saya di Cafe Dome. Saya menghadap bundaran menyimak Jakarta senja: bus Transjakarta sesak, Metromini reyot, PPD eks Jepang bertulisan kanji, taksi, dan ojek, jalanan bergerak merayap. Di pelataran Plaza Indonesia, ada penjual kopi sase bersepeda, kontras dengan cappuccino hangat di meja saya di ruang bertamu wangi rapi jali.

“Saya masuk lho.”

“Hanya gerbong besarnya saja yang payah,” ujar Ganang menyalami saya.

Masuk lho, yang dimaksud Ganang adalah, lolos sebagai anggota legislatif hasil Pemilu, 9 April 2009, dari Partai Republikan, peserta Pemilu Nomor 21. Hingga saat saya menuliskan ini, perolehan suara partai baru yang mengusung Sri Sultan HB X sebagai Presiden itu, baru mengantar dua saja caleg ke DPR. Sayangnya, jika partai ini tidak memenuhi kuota 2,5% minimum suara, maka mereka tak bisa menempatkan wakil ke DPR.

Ganang sudah menunjukkan, bahwa dari daerah pemilihannya, di Jawa Tengah, publik merindukan sosok baru, muda. Apalagi sosoknya yang masih berdarah Soedirman, masih dikenang banyak orang sebagai pahlawan yang dekat di hati rakyat. Bahkan untuk mengambil mangga rakyat pengganjal perut dalam bergerilya di era perjuangan silam, Soedirman emoh. Pejuang tahu, mana hak, mana batil, termasuk arif berlaku sportif, mempersilakan pihak lain jika memang mumpuni membawa bangsa maju. Itu benang merah pejuang dulu dan kini.

Perkenalan saya dengan sosok muda satu ini, karena Ganang acap menanggapi kritis tulisan-tulisan saya di Presstalk.info, kini di blog-presstalk.com. Sehingga ketika saya melakukan polling di situs internet www.partaionline.org, maka namanya terpilih menjadi calon presiden. Kenyataan ini menjadi bukti bahwa situs internet itu benar menempatkan posisi Ganang. Itu artinya, kendati bukan sosok yang berkibar di media, tidak pula di pusat, dia punya basis massa, khususnya di daerah gerilya Soedirman. Saya cermati, hampir di semua kota besar di Indonesia, Jl. Soedirman, menjadi landmark kota, ruas panjang dan lebar.

Sejak kembali dari Singapura Minggu malam, 12 April 2009 pekan ini, setelah sepekan memverifikasi misteri kematian David Hartanto Widjaja, mahasiswa cerdas NTU asal Indonesia, saya menyimak semua media berberita penuh Pemilu; urusan data, perolehan suara, bacot tak seirama dengan laku, bahkan ihwal caleg gila.

Saya kemudian bersyukur, akhirnya media main stream mulai meluangkan tempat berita soal kematian sosok anak yang pernah menjadi wakil Indonesia dalam olimpiade matematika, Meksiko, 2005 itu. Sosok yang pernah memenangkan lomba matematikas ketika duduk di tingkat sekolah menengah.

PAGI 9 April 2009 di Singapura. Telepon geggam saya berdering. Di seberang, suara William Hartanto Widjaja, kakak kandung almarhum David, yang sudah berada di Singapura, menanyakan soal kehadiran saya ke Kedubes. Kami berjanji pukul 10, sekalian bertemu beberapa pejabat kedutaan RI.

Tidak sebagaimana hari sebelumnya, arah menuju Chatsworth Road, di nomor 7 Kedubes RI bermarkas, tak bisa dilewati taksi. Ramai orang berjalan kaki. Para pemilih silih berganti datang contrang-contreng.

Secara kebetulan di dalam Kedubes, saya melihat ada beberapa mahasisa Indonesia yang bekerja sukarela membantu jalannya Pemilu. Salah satunya, Hardian.Setiawan, akrab disapa Achong. Ia adalah kawan baik almarhum David. Ketika orangtua David ke kampus NTU, mengurusi jasad anaknya 2 Maret 2009 lalu, Achong ikut mendampingi. Dari Achong pula saya dapat nama-nama list mahasiswa NTU yang satu tugas akhir dengannya, di antaranya: Ong Ming Yong, Le Phi Hung, Ong Da Wei, Chu Xinqi, Tan Yonghan Bernard, Teo Meng Hwee.

Sekitar pukul 11, keluarga David datang. Di halaman Kedubes yang memanjang sekitar seperempat lapangan bola itu, Lie Khiun, Ibu David langsung menyapa Achong.

“Saya mau nanya sama kamu Chong, apa sesungguhnya yang terjadi dengan David?”

Nada Ibu David meninggi.

Saya perhatikan wajah Achong agak gugup.

Saya timpali dengan pertanyaan: apakah benar Achong bertemu saksi mata orang Iran?

“Benar, saya bicara dengannya, dan mahasisawa Iran itu mengatakan melihat David di lantai di atas di jemabatan kaca, dan bilang, ‘Should I jump?’”

Saya tatap mata Achong.

Sungguh?

“O, o, sebenarnya saya nggak keemu dengan orang Iran itu, yang ketemu adalah Nolan Fanini, kawan mahasiswa Indonesia juga?”

Yang benar kamu Chong?

“Kami bertemu berdua.”

Melihat jawaban yang berubah itu, emosi saya sempat meninggi. Saya melontarkan kalimat tak nyaman ke Achong, mohon maaf buat Achong, saya sempat menyenggol dagumu. Untung saya tak terpancing memukul - - sebuah laku yang tak pantas, malu saya melihat diri sendiri di kaca petang harinya. Itulah noraknya saya. Ampun!

Saya lalu meminta Achong memanggil Nolan ke Kedubes. Begitu Achong menelepon, Nolan di seberang sana, dia memang dalam perjalanan ke KBRI. Yayan Mulyana, Sekretaris Pertama Kedubes, mempersilakan kami menunggu di dalam kantor, bahkan ruangan kerjanya sendiri harus direlakannya, mengumpulkan kami yang mulai bersusana tak nyaman itu.

Begitu Nolan tiba, ia tak berkenan bicara dengan saya, kecuali hanya kepada keluarga.

Lagi, saya harus menahan perasaan.

Di ruangan, akhirnya hanya ada ibunya David, Hartono Widjaja, ayah dan Wiliam, kakak David.

Lebih satu jam kami menunggu di ruang tamu.

Nolan ke luar ruangan tidak menyalami dan menyapa saya. Achong masih berkenan bertegur sapa. Saya sempat mengatakan bahwa berkuliah sesungguhnya bukan sebatas menuntut ilmu, tetapi merumuskan logika pikir menjadi bersegitiga terbalik, mengerecut bagi wadah bercermin laku hakiki berintegriti.

Bersekolah sesungguhnya berguna memahami segala yang umum, sebaliknya juga segala yang khusus, terutama soal kemanusiaan dan kehidupan. Nah, di NTU, sebagaimana diakui satu mahasiswanya, waktu telah membenamkan ke satu hal saja: pelajaran; menonton film bermutu, pertunjukan budaya, menyimak resital piano, atau sekelebat menyihat pameran lukisan, sekadar kongkow di lepau kopi dengan kawan senegeri, menjadi kemewahan yang seakan menjauh digapai.

Ketika di Jakarta, sekembali kami dari Singapura, tepatnya, Selasa malam 14 April, di kediaman keluarga David di bilangan Tubagus Angke, Lie Khiun, ibu kandung David, menegaskan kembali ke saya bahwa, “Ketika ke Singapura mengurus jasad David, 2 Maret lalu, Rektor NTU, Su Guaning sudah menyebutkan bahwa ada saksi mahasiswa asal Iran yang melihat David lompat bunuh diri.!”

Nah, lho!

Adakah mahasiswa Iran itu?

Yang pasti rilis NTU kemudian juga berubah dan bergeser. Tanggal 3 April 2009, rilis NTU terbaru yang saya punya - - sesuai juga dengan yang diperoleh Kedubes RI Singapura - - menjelaskan kematian David sudah bertambah dan bergeser lagi ke arah memojokkan sosok David prestasinya anjlok, yang kemungkinan membuat diri David depresi.

Ketika saya menemui Christian Shandy, kawan David main game Dota, alumni NTU, di 7 April 2009 di sebuah kawasan industri di mana dia bekerja kini, dengan jernih Shandy mengurutkan grade nilai lulusan NTU kini. Yakni di tingkat first dengan rata-rata nilai 4,5, second upper 4, second lower 3,5, third classes 3 dan pass with merit di bawah 3.

“David berada di third class,” ujar Shandy.

“Dan itu bukan angka yang jelek.”

Shandy yakin itu.

Apalagi kemudian saya menemukan alumni NTU asal Indonesia yang dengan nilai 1,9 saja, diterima bekerja di sebuah kontraktor yang menggawangi fasilitas negara Singapura. Sehingga logika memojokkan prestasi itu menjadi tak masuk akal adanya. Apalagi kemudian, rata-rata ditemukan di lapangan, anak-anak kreatif yang paham akan sesuatu yang bernilai ekonomi berdasarkanm ilmu dan keahliannya, umumnya, tidak terlalu berorientasi bernilai berponten tinggi.

Karenanya saya menyebut belang-belonteng rilis NTU, itu.

Plus pula keterangan yang ketenteng saya bawa pulang harus terus dipertanyakan, sampahkah, loyangkah atau benaran emas permatakah?

Dalam kerangka pikir itulah, seharusnya lima Sketsa. baru saya produksi, hasil sepekan di Singapura lalu, saya tunda dulu.

Baru di dua Sketsa, dengan ini, saya harus kembali lagi Singapura. Dan berangkat ke Singapura bisa terjadi karena dukungan pembaca Sketsa, yang datang ke kediaman saya, mendukung ongkos. Sehingga mulai malam nanti, saya akan berada Singapura. kembali.

Siang ini, 16 April 2009, pukul 11.45, bersama Lie Khiun dan Hartono Widjaja, kami tampil dalam Topik Siang, di ANTV.. Dari studio televisi ini dilangan Kuningan, Jakarta Selatan, saya menyimak jawaban Menlu Hasan Wirajuda, “Orang tua David jalan sendiri ..”

Menyimak kalimat pejabat kita itu, saya berhenti menuliskan Sketsa di sini dulu dengan satu kata di bawah ini:

Ampun! ***

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.com

Sketsa VIII Kematian David: Dari Botero Hingga Kap Luk Nan Kupluk

Monday, April 13th, 2009

Sketsa VIII Kematian David:

Dari Botero Hingga Kap Luk Nan Kupluk

Esensi jurnalisme menurut Bill Kovach di buku The Element of Journalism, adalah verifikasi. Kegiatan memverifikasi mesti dimulai dari bahan tertulis. Sketsa 8 ini, salah satu, dari perjalanan ke Singapura selama sepekan, kurang beberapa jam.

BINARAN gemerlap lampu gedung-gedung di kawasan Boat Quay, Singapura, Senin malam, 6 April 2009 itu, membayang ke laut. Rona merah, kuning, biru, putih membuat air seakan berwarna. Sesekali kapal kecil membawa pelancong hilir mudik menggerakkan laut menguak pancaran kelir membias air. Laku kapal itu mengingatkan kepada kegiatan saya menguak misteri kematian David Hartanto Widjaja di Singapura kali ini.

Sosok gadis di samping saya, alumni Nanyang Technological University (NTU), Singapura, menemani malam itu. Yasmin, sebut saja namanya begitu, duduk merapat ke samping saya. Kami mengobrol soal rekonstruksi kejadian. Banyak info sebagai latar yang diberikan Yasmin berkait ke kasus kematian David, mahasiswa fakultas Electrical and Electronic Enginerring (EEE), NTU, di semester akhir, pada 2 Maret 2009. Rilis awal dari NTU menyebutkan bahwa David telah menusuk Profesor Chan Kap Luk, 45 tahun, dosennya sendiri, lalu menyayat nadi lengan, melompat dari lantai empat kampusnya.

Seonggok makanan sengaja kami bawa duduk ke tepian tangga terbuka mengundang tikus datang. Sepasang remaja bule di belakang kami mengusir sang tikus. Kemudian tikus sekepalan tangan itu mendekat lagi. Adegan mengusir tikus itu terjadi hingga lima kali. Bagi saya pengalaman melihat tikus lapar di Singapura, menjadi tanya. Di kawasan mentereng itu kini telah bertikus. Sepuluh tahun silam ketika duduk bersama isteri di tempat sama, saya tidak melihat tikus sama sekali. Juga ketika berkesempatan lainnya ke sana, terakhir lima tahun lalu.

Memandang ke ujung kanan, sebuah hotel bintang lima plus, The Fullerton, terlihat bearsitektur kolonial beratrium. Deretan gedung jangkung, termasuk bangunan UOB Plaza, gedung tertinggi di Singapura, berdiri melangit di punggung kami. Di pelataran UOB itu, sebuah patung hitam burung gendut, karya Fernando Botero, pelukis asal Kolombia, seakan berkicau menertawakan kami.

Pikiran saya sejenak tertuju kepada karya lukisan Botero. Pada November 2006 lalu, ia memprotes kekejaman yang terjadi di penjara Abu Graib, Irak, yang dilakukan tentara AS. Lebih 60 karyanya lukis Abu Graib-nya, sempat dicekal berpameran di AS. Namun Museum Marlborough Gallery di Manhattan, New York, Amerika Serikat, berani menggelar karya kritis itu. Dan sebagai terima kasihnya, Botero yang bertaat kaedah berkarya melukis objek berwajah beranatomi gendut itu menghibahkan seluruh karya Abu Graib itu kepada Amerika Serikat.. Baru kali itulah saya melihat karya lukis Botero bernuansa darah - - walaupun tetap dengan wajah gendut lucu, sosok botok, bulat-bulat.

“Ada tikus lapar.”

“Ada karya Botero.”

Malam yang kontras.

Yasmin telah membukakan mata saya akan keberadaan Singapura terkini.

Jika saja kelak penegak keadilan Singapura di relnya, lalu David yang saya indikasikan kuat dibunuh, kemudian memang terbukti dibunuh oleh profesornya sendiri, ada baiknya pula segenap bangsa ini meminta Botero membuat lukisan, bagaimana kontrasnya sebuah kemegahan kampus NTU, simbol kemahligaian peradaban dan intelektualitas Asia di Singapura yang berada di kawasan 200 hektar di daerah …., dengan bangunan dan fasilitas mewah, justeru merendahkan derajat kemanusiaan, menggampangkan nilai seutas nyawa. Lebih celaka, sejarah telah mencatat pembohongan publik: kampus sebagai hulu intergritas, menghilirkan rilis kematian David yang ngawur. Saya menduga, tentu Botero akan suka rela, riang gembira, melukis untuk David, kelak.

Maka di Senin malam itu di Boat Quay, yang menjadi bandar perdagangan utama seabad silam itu, bersama Yasmin kami fokus mencoba membuat berbagai sketsa di kertas.

Keluarga David, telah menerima hasil otopsi yang diserahkan pihak NTU, melalui email dan mengirimkan aslinya. Otopsi dilakukan Centre for Forensic Medicine, Health Science Authority, di bilangan Outram Road, Singapura. Hasilnya menyebutkan ada 36 titik luka; 14 di antaranya luka benda tajam. Sisanya luka dalam, termasuk di bagian leher, yang di Sketsa sebelumnya, saya tuliskan ketika jasad David dilihat orang tuanya di leher anaknya berplester tiga baris.

Melalui telepon dan membaca media online di Jakarta, Senin siang, 6 April 2009, Munim Idris, ahli forensik senior dari UI, mengatakan hasil otopsi David itu tisak sah. Menurut Munim, seharusnya pihak Kedubes RI di Singapura turut meng-endorse, melalui tanda tangannya.

Perihal itu, setelah saya konfirmasikan ke pihak Kedubes, di Jl. Crosworth, di tengah kota Singapura, justeru sebaliknya. Mereka mengaku tidak punya hak akses. Justeru Kedubes meminta bantuan saya berkomunikasi menghubungi keluarga David, agar Kedubes bisa mendapatkan hasil otopsi.

“Tolong sampaikan ke keluarga David, bahwa perihal demikian, di aturan Singapura, hanya next kin, keluarga terdekat, yang dapat memintanya, “ ujar Yayan Mulyana, juru bicara Kedubes RI Singapura.

“Kami kecewa, mengapa pihak polisi Singapura menyerahkan otopsi ke NTU, bukan langsung kepada kami,” ujar Hartono Widjaja, ayah Almarhum David.

Malam itu juga saya mendapatkan kabar keluarga David, mereka akan menyusul saya ke Singapura, menemui banyak pihak; melakukan langkah non litigasi dan jika perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan lawyer Singapura perihal hasil otopsi itu, menjajaki melakukan upaya litigasi. Lagi-lagi andil Yasmin, gadis di samping saya itu banyak membantu.

Yasmin berkordinasi dengan Christovita Wiloto, yang sejak awal kasus ini telah membuat dokumentasi foto, yang didapat dari blog Straits Time. Christov juga telah membuat groups di Facebook, tentang kasus ini yang anggotanya kini telah mencapai lebih 12 ribu orang. Kami berkolaborasi, tanpa ada yang mengatur. Christ menjalankan kegiatan non litigasi, termasuk kantor PR-nya di Jakarta, memfasilitasi berbagai konperensi pers. Christ setiap akhir menetap di Singapura, menjadi sosok penting dalam gerakan tanpa bentuk yang secara spontan berjalan. Ia pula yang menjuduli saya sebagai ketua TIM Verifikasi kematian David. Sebuah jabatan informal, yang begitu saja mendarat.

Hingga larut malam saya masih berada di kawasan bandar Boat Quay, yang arealnya macam ceruk perut ikan - - dipercaya orang Cina membawa keberuntungan - - diprakarsai pendiriannya oleh Raffles itu.

Sejak Raffles menandatangani perjanjian memastikan status pelabuhan bebas bagi Singapura, segera saja para imigran dari negara tetangga membludak masuk. Dalam waktu enam bulan, pemandangan umum di lokasi ini seabad silam; para kuli dan swaylo (pekerja air) yang terbakar matahari, sibuk menjaga keseimbangan karung beras berat di pundak mereka, berjalan di atas papan bergoyang-goyang, membongkar muat manca ragam hasil bumi. Pada 1860-an itu, tiga perempat dari semua usaha pelayaran dilaksanakan di Boat Quay. Dari wilayah ini titik awal keberhasilan Singapura menjadi sentral bisnis.

Malam kian larut. Pertanyaan mengapa David dibunuh kian membuncah di benak saya. Bersama Yasmin, kami menelusuri jalan menyeberang ke arah The Merlion, patung kepala Singa, berbadan duyung. maskot Singapura itu. Patung itu, dua pekan setelah kematian David, disambar petir. Dua ruas bulu di atas kepalanya botak.

Malam itu saya lihat botaknya sudah ditambal.. Dini hari, di balik lampu gedung Esplanade beratap khas macam durian itu, kami melangkah pulang dengan bulu di tangan merinding, di tiup angin dingin, dengan kegundahan tajam.

Yasmin, “David, siapa membunuh mu?”

“Mengapa kamu dibunuh?”

Mencari jawaban itulah saya ke Singapura.

RABU, 8 April 2009, sesuai janji pukul 9.00, dengan orang tua David, dan Christovita Wiloto, kami bersepakat bertemu di stasiun MRT, Raffles Place. Dari penginapan saya di bilangan Jl. Besar, lokasi yang banyak dihuni backpackers , sangat mudah mencapainya. Sekitar lima menit saja ditempuh dari stasiun MRT kawasan Lavender.

Tiba di kawasan Raffles Place, ada taman terbuka, ada patung perunggu post modern berbentuk kapal layar. Sebelah menyebelah gedung jangkung, di antaranya Ocean Tower, Clifford Center, The Arcade UCO Bank, Bharat Building, juga UOB Center. Bila Senin malam saya menghadap laut, pagi itu panorama menghadap kesibukan kota di pagi bergerak sesak.

“Kita duduk saja di taman terbuka ini, sehinga jika ada apa-apa publik melihat kita, “ kata Christovita Woloto.

Keberangkatan saya ke Singapura, penuh dengan perlawanan batin, betapa berisikonya menelusuri kasus David. Mengingat President NTU, Su Guaning, adalah Chairman The Defence Science and Technology Agency (DSTA) lembaga penting di bawah MINDEF, kementrian pertahanan Singapura. Profesor Chan Kap Luk, juga orang penting DSTA. Sedangkan Computer Vission, aplikasi yang dipakai David ditugas akhirnya, menurut DR Ary Setijadi, ITB Bandung, hanya dua saja muaranya: entertainment atau militer. Benang merahnya Presiden NTU, Ketua jurusan Profesor Chan dan David, mengkriyakan Computer Vission, aplikasi yang sangat penting untuk mengkompres data secara maksi.. Begitu juga sosok yang kemudian ikut tewas, gantung diri empat hari setelah kematian David, project officer, Zhou Zheng Baca Cao Ceng) - - dalam satu ranah sama.

Hartono Widjaja, ayah Alm,. David, dan ibu nya, Ny,. Tjhay, kakak Wiliam Hartanto Widjaja serta pamannya Kusuma Widjaja, Christovita dan saya, berenam kami menunggu waktu pukul 11. 00, untuk bertemu lawyer Shashi Nathan dari firma hukum Harry Ellias Partnership. Obrolan di pagi itu ditemani burung-burung murai batu, berterbangan di taman di depan Osen Tower itu.

Setelah berjalan kaki ke arah kanan melalui dua blog bangunan termasuk menyusuri kawasan Lau Passa, bangunan berkerangka besi beratap khas, pasar peninggalan Inggris, tempat food court yang cukup terkenal kini. Shashi Nathan dan timnya sudah menunggu kami di kantornya.

Dari Shashi kami mendapatkan penjelasan, bahwa hasil otopsi masih terlalu umum. Otopsi dilakukan oleh DR. Marian Wang. “Turut di endorse oleh Profesor Gilbert Lau,” ujar Shashi.

Gilbert Lau, sosok senior di ranah otopsi Singapura, macam Munim Idris-nya Indonesia. Shashi, kelahiran 1967 punya akses langsung ke Gilbert, termasuk kelak meminta foto-foto otopsi jasad David – memang sudah menjadi standar baku dalam proses otopsi.

“Leher luka dalam, ada banyak luka benda tajam, memang menjadi pertanyaan, ada apa di balik kematian David,” ujar Shashi.

Kedubes RI di Singapura, juga memfasilitasi keluarga David bertemu dengan lawyer dari Drew & Napier, yang pernah membantu Kedubes dalam kasus Barokah beberapa waktu lalu. Namun dengan akses dan kemampuan yang diperlihatkan oleh Shashi, keluarga David tampaknya akan memilih Shashi Nathan. Dan untuk itu, tampaknya akan membutuhkan dana besar berurusan dengan proses hukum Singapura. Untuk ukuran keluarga yang berada di kelas menengah bawah, mungkin publik dapat mencarikan solusi bagi keluarga David.

Proses hukum Singapura, untuk kasus kematian tak wajar, akan menuju pengadilan koroner (Coroner Court). Saya memverifikasi apa sesungguhnya pengadilan ini. Kantor pengadilan ini ada di Havelock Square. Bangunanya mirip macam gedung Sapta Pesona, Menteri Pariwisata dan Budaya Indonesia di Jakarta, tapi tidak jangkung. Di luar gedung tak ada tulisan Coroner Court. Hanya ada judul: Subordinate Courts. Dan di salah satu ruang sidang di bangunan itulah ada yang disebut Coroner Court.

Persidangan koroner terbuka untuk umum. Publik dapat menyampaikan bahan, termasuk bahan yang diprakarsai oleh Citizen Reporter, atau oleh siapaun. Di dalam Coroner’s Inquiry nanti diputuskan, jika proses kematian seseorang mengindikasi kuat kematian tak wajar, maka penyidik wajib melakukan penyidikan tuntas, sehingga pengadilan dapat memutus perkara, memenjara jika emang terbukti ada pembunuh. Goal terbaik dari Coroner’s Inquiry adalah keputusan: open verdict.

Hingga hari ini melalui surat dari Jurong Police Division HQ, Jurong West Avenue 5, Singapura, melaui surat Nomor: J/200903002/0133 (SOHCE), 6 April 2009 yang ditujukan ke Consular Kedubes RI, dengan surat yang ditandatangani Soh Kien Peng, ASP, Chief Investigation Officer, dan CC kepada kelurga David, maka 17 April 2009 ini persidangan koroner sudah memasuki tahap Coroner’ Mention I. Di first mention ini, masih tertutuip sifatnya, karenanya sudah diperlukan lawyer, memverifikasi data dan segala temuan.

Proses koroner akan memakan waktu panjang dan biaya yang besar, yang diperkirakan mencapai $ 100 ribu. Persidangan pertama koroner, Shashi Nathan memperkirakan, waktunya baru mulai di Juli 2009. Seba setelah first mention, akan ada mention lanjutan, bagaikan tulisan Sketsa ini, akan berseri-seri mention.. Dan sebagai bangsa yang menghargai proses hukum, adalah sewajarnya memang proses adab hukum Bandar Singapura ini layak dikawal dan dituruti prosedurnya oleh segenap anak bangsa yang peduli. Hingga tulisan ini saya buat, Kedubes RI kita di Singapura, sedang menjajaki ke mungkinan menunjuk Shashi menjadi lawyer keluarga David. Namun sebagaimana hambatan klasik, Kedubes bekerja dengan DIPA, anggaran proyek yang sudah ada, lasus insidentil ini memerlukan pula sdukungan Deplu dan juga perlemen. Semoga saja negara bisa berbuat dalam kaus yang mencederai rasa bekebangsaan ini.

BERTEPATAN dengan keberadaan keluarga David di Singapura, New Paper, salah satu Koran di Singapura, mengutip Profesor Chan Kap Luk, sosok yang sebelum diberitakan media, ditusuk David, berkenan bersua keluarga David. Kami bersepakat agar keluarga datang ke sana. “Kami mesti ketemu Profesor Chan, biar ngga penasaran,” ujar Ny. Tjhay, ibunda Alm. David.

Saya sampaikan pula, Selasa, 7 April, bersama wartawan Metro Realitas, Metro TV, Arianty, saya sempat ke apartment Chan Kap Luk, di apartemen Park Oasis 35 di bilangan Jurong East. Kami dapat naik ke 15 apartmentnya, namun apartment Chan tidak tampak kehidupan, dan tak lama kemudian dua orang petugas dari building management kawasan itu, secara halus “mengusir” kami.

Maka di Jumat, sekitar pukul 16.00 waktu Singapura, dengan dua taksi, kami ke kediaman Chan Kap Luk. Di sana sudah ada wartawan TV One, Galuh, dengan kameramennya. Juga ada, Remy, dari The Online Citizen, wadah bagi Citizen Reporter Singapura, yang kemudian mulai terbangun gairahnya memberitakan kasus David setelah melihat keberadaan kami di Singapura.

Kami langsung menuju lantai 15 apartement Chan Kap Luk. Beberapa kali dibel, pintu aprtement-nya yang kini sudah dipasang kamera pengintai, tidak kunjung terbuka. Wartawan TV One, tanpa dosa, mewawancarai Ny. Tjhay di depan pintu apartment berpengintai itu.

Tak lama kemudian, dua orang “satpam” yang pernah mengenal saya, naik. Awalnya mereka tampak agak marah. Namun Christovita Wiloto yang ikut menemani menyambut ramah, saya menjelaskan yang datang adalah keluarga, maka kedua orang itu bercakap dalam bahasa Melayu, “Ya kami sudah mengenal di televisi.”

Mereka meminta kami menunggu di lobby. Dan berjanji akan meminta waktu Profesor Chan bertemu. Sekitar lima menit kemudian, “satpam” muda turun menemui kami, meminta waktu tambahan bernegosiasai. Setelah sepuiluh menit berlalu, Profesor Chan yang di awal kasus diberitakan ditusuk Alm David, secara resmi menyampaikan tidak berkenan menerima keluarga David melalui Satpam. Rombongan kami memutuskan pergi.

Dalam konteks inilah saya menyebut Chan Kap Luk, sebagai kupluk. Kupluk di dalam kamus bahasa Indonesia berarti peci. Namun dalam lema ini saya ingin menyebut arti slang kupluk, macam orang memukulkan kopiah kupluk ke kawannya, karena kesal,. Julukan kepada Chan Kup Luk, lebih karena kesal, berani bicara ke pers, bahwa ia berkenan menerima keluarga, giliran kalimatnya dibeli, dia bersembunyi.

Begitulah.

Sketsa VIII, ini saya tutup hingga urusan kupluk ini dulu.

Banyak Sketsa akan mengalir ihwal David, termasuk tiga kali menelusuri tempat kejadian perkara di NTU.

Yasmin mengirim SMS kepada saya, bahwa Straits Time di Senin pagi 13 April 2009 ini menurunkan tulisan setengah halamannya, yang menampar muka Profesor Chan Kap Luk. Itu artinya upaya sepekan kami di Singapura, mungkin bisa disebut sebagai langkah mendapatkan liputan media Singapura yang terkenal pro pemerintah itu.

“Today Straits Times article smack the proffesor on his face,” ujar Yasmin di SMS-nya. ***

Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter

Sketsa VII Kematian David: Bernilai Ekonomi Mengulur-alur

Saturday, April 4th, 2009

Verifikasi mengerucutkan pembunuhan David. Risetnya 100% bernilai ekonomi. Sebuah literair berikutnya.

“ALLAHUAKBAR….”

Suara azan shalat Ashar dari Masjid Salman, ITB, Bandung, Kamis, 2 April 2009 itu berkumandang. Hujan rintik. Mendung menggantung. Daun pohon Mahoni berbatang besar-besar kuyup dibasahi hujan di tepi jalan. Di depan pilar-pilar besar dua pagutan berbatu alam di gedung Lab VIII, kampus ITB, itu seakan berlari berkejaran menghampiri.

“Marilah meraih kemenangan…”

Suara azan menjelang akhir.

Langkah cepat saya menaiki tangga ke lantai dua Lab gedung VIII itu. Waktu sudah pukul 15.30, seharusnya di jam 15.00 saya sudah berada di ruangan DR. Ary Setijadi Prihatmanto, 36 tahun. Jarang saya terlambat berjanji.

Keasyikan bertemu berdiskusi dengan Hemat Dwi Nuryanto, kawan dari komunitas open source Bandung, yang mengajak saya bergabung sejak awal 2008 lalu ikut membantu www.crayonpedia.org, portal ber-enjin Mediawiki, bagi muara seluruh materi pengajaran, dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, bila terisi penuh kelak, akan sangat bernilai: tidak perlu membeli buku pelajaran mahal macam hari ini.

Begitu masuk ke ruang presentasi Ary Setijadi, di salah satu pintu yang terkuak di sela lorong panjang. Di dalamnya tiga mahasiswa berkonsultasi, lengkap dengan lap top-nya. Mereka langsung angkat komputer jinjing itu, meninggalkan ruang, tanpa aba-aba. Saya tak sempat berkenalan.

“Silakan, saya sudah bilang ke kawan-kawan, ini sejam untuk Anda,” tutur Ary. Sosoknya menamatkan S3 di Linz, Austria. Baru dua tahun Ary pulang ke ITB, setelah diminta Diknas, memimpinjurusan baru: ITB Digital Media & Game Technology, malting the boundary of art science and engineering.

.Di ruang itu ada vertical banner tentang Digital Scene Mapping Area Correlation (DSMAC), sebuah aplikasi yang dikembangkan di fakultas elektro dan elektronika, ITB itu, untuk kepentingan mencari titik sasar sebuah missil yang diterbangkan. DSMAC itu bagi kepentingan riset, kerjasama dengan TNI.

“DSMAC ini salah satu aplikasi, bagian pembuatannya memakai program Open CV,” kata Ary pula, “Sudah sepuluh tahun ini aplikasi ini mucul di kamera.”

Open CV adalah Open Computer Vision, sebuah software yang dikeluarkan oleh Intel Corporation 1998, yang telah di-upgrade 2001. Ia dapat dipakai gratis untuk kepentingan riset dan perguruan tinggi, terutama untuk pengolahan data, pengompresan maksi, library. Aplikasi inilah antara lain dipakai oleh David Hartanto Wijaya di tugas akhirnya.

David mahasiswa jenius matematika yang dapat beasiswa dari Indonesia belajar di jurusan Elecrical and Elerctronic Engineering (EEE), smester akhir (VIII), Nanyang Technological University (NTU), yang ditemukan meninggal tidak wajar pada 2 Maret 2009 lalu. Empat hari setelah David berpulang, mati pula gantung diri Zhou Zheng, 29 tahun, asisten Profesor Chan Kap Luk, pembimbing tugas akhir David. Di hari ke-25, meninggal lagi Hun Kunlun, sesama warga negara Cina dengan Zhou. Hun tertabrak mobil, ketika hendak naik bus menuju kampusnya di NTU. Keduanya sefakultas dengan David.

Saya mengindisikan tajam David dibunuh. Di Sketsa sebelumnya, ada saksi mata, yang melihat David berlari dari ruang kerja Chan Kap Luk.David berteriak, “They want to kill me.”

Ketika memperhatikan seputar ruangan Ary Setijadi di bandung petang itu, bulu roma saya merinding. Karena Ary bilang, “Kami juga sedang membuat riset untuk aplikasi sistem kendali meriam untuk penjelajahan objek bergerak, kerja sama dengan TNI.”

Mengapa bulu saya berdiri?

Data yang saya verifikasi, rektor NTU, Su Guaning, adalah seorang doktor enjiner, lulusan Alberta, AS Ia juga bekerja untuk Defense Technology Security Administration (DTSA), di Kementrian Pertahanan Singapura. Sebelum menjadi rektor, ia juga memimpin fakultas EEE di NTU, yang kini dipimpin oleh Profesor Chan Kap Luk, itu. Dan, Chan juga tercatat pernah duduk di DTSA. Jika Lab sejenis di ITB akrab untuk penelitian urusan kepentingan militer, bukan mustahil hal demikian juga terjadi di EEE, NTU. Maka, EEE sangat penting bagi NTU, bagi Singapura.

Adalah Su Guaning, rector NTu itu, 6 jam setelah kematian David langung merilis berita, bahwa kematian David karena menusuk Prof. Chan, dengan alasan beasiswa David dicabut, melukai nadi lalu lompat bunuh dari lantai empat Lab EEE. Berita itu menyebar ke manca negara.

“Dan berita itu bohong. Setidaknya polisi Singapura sudah meralatnya melalaui intelijen senior Soh Ceh Ing,” ujar Wiliam Wijaya, kakak kandung almarhum David.

Fakta kemudian, Profesor Chan yang dikatakan luka berat, di hari Rabu,, 4 Maret 2009, sudah keluar rumah sakit. Ia kini dicutikan NTU, untuk jangka waktu yang tak jelas. NTU menutup diri dari semua liputan media dari Indonesia. Pekan lalu TVONE telah mereka tolak.

Alih-alih alam kebohongan: dari kebohongan satu melahirkan kebohongan berikutnya, beranak-pinak mungulur-alur, agar kasus ini mati dengan sendirinya; bukti nyata jasad David yang kadung dikremasi, laporan otopsi dijanjikan sebulan oleh kepolisian datang terlambat, 4 April 2009 kepada orangtua David, itupun hanya keluaran NTU. Bukan keluaran polisi.

Melalui kedutaan besar RI di Singapura, diperoleh kabar bahwa pemerintah Singapura akan membentuk pengadilan koroner - - sebuah pengadilan yang bukan untuk memutus perkara, sebuah pengadilan rekomendasi (coroner). Entah kapan waktu dilaksanakan tanpa jawaban. Tambah celaka, pada 5 April 2009 Kedubes RI di Singapura mengatakan polisi meminta waktu lagi sebulan ke depan mempelajari kasus David. Inilah deretan fakta baru yang menarik dikaji?

Seabagaimana bahan dari pelatihan reportase investigasi yang diadakan oleh Wolrd Bank-IIIJ di Jakarta pada 7 tahun silam, di mana saya salah satu peserta: kami diwanti-wanti kudu memulai verifikasi sebuah dari bahan tertulis. Ini esensi.

Bahan tertulis yang saya punya tentang kasus David, hanya judul dan abstrak tugas akhirnya. Menurut keterangan keluarga, David terakhir konsen dengan aplikasi Open CV. Judul tugas akhirnya: Multiview aquisitions from Multi-camera configuration for person adaptive 3D display. Proyek dengan Nomor: A3026-81. Summary: Multi cameras willbe used to obtain multiviews of scene. Syarat mengambil topik ini: Strong Mathematical Skills and C/C++ programing. Untuk risetnya itu, David dirujuk ke laboratorium EEE3, Information System Research Lab (Loc: S2-B3a-06).

Aplikasi dan judul tugas akhir inilah yang saya verfikasi secara terus-menerus.

Sudah lebih dari 50 sumber saya file. Secara kebetulan, latar belakang; pernah memproduksi serial animasi 2D wayang, meproduksi konten simulation right wayang 3D, uji coba membuat konten game BREW berbasis C++ untuk CDMA global, pernah bekerja di post production yang high end, terus beredar di komunitas ICT, pernah menjadi Ketua Pokja Konten dan Aplikasi, di Kadin Indonesia, mengantarkan saya mengumpulkan bahan-bahan.

Diantara deretan sumber yang saya temui antara lain Vidiyama Sonnekh, Ardi Sutedja, dan Anthony Seger, sosok unik yang hingga kini juga bermain di ranah Open CV dan games, pernah membuat konten games QQ untuk kesenangan bukan judi. Antony mamupu mebuta enkripsi yang rumit macam aplikasi yang dipakai Verisign di versi 5,.9. Dan gongnya, saya menemui Ary Setijadi, ke Bandung.

“SAYA MENCOBA sesungguhnya membuat mock up tugas akhir David itu agar bisa saya perlihatkan, kira-kira mendekatinya. Namun saya cari di Youtube, ada bagian riset David yang mendekati. Maka saya cukup memutarkan ini.”

Ary membuka link: http://www.youtube.com/watch?v=Jd3-eiid-Uw

Pada bagian video Jhonyy Chung Lee, itu terlihat visual 2D (dua dimensi dari layer teve yang flat bisa berubah menjadi 3D (tiga dimensi), layar datar teve seakan menjadi lorong tiga dimensi, di mana objek menjadi tampil diudara. Objek itu bisa pula di-tracking, dengan pengolahan data pemindaian, bisa pula mengikuti gerakan kita.

Dalam adegan Johnny Chung Lee, bergerak mengikuti gambar 3D yang kemudian mengikuti gerakannya, saya teringat program serial teve di kanal Play House Disney,

“Where were shadow.”

Jawaban shadow bukan saja Cuma suara, dia bisa ikut ngomong, sambil meledek kita. Bisa menjadis ebuah games dan gimmick untuk iklan produk.

Tentu tugas David tidak sama persis dengan WII untuk Nintendo yang dibuat Chung Lee, tetapi bayangan itu mendekatkan gambaran akan apa yang dilakukan David, penggemar berat mainan games ini.

“Sehingga memang tugas itu David bernilai ekonomi,” ujar Ary Setijadi.

Pertanyaannya seberapa besar nilai ekonomi tugas akhir itu?

Saya mengandaikan macam Crayonpedia.org yang memakai aplikasi gratis aplikasi Mediawiki. Jika seluruh materi ajar di Crayonpedia itu terisi, dia akan begitu bermanfaat bagi public, oarangtua Indonesia, tidak perlu lagi membeli buku, yang setiap tahun bisa triliunan negara dan orang tua membelinya. Namun dari sudut aplikasi, orang akan dengan mudah mengatakan, ah, itu kan cuma memakai enjin Wiki, “Saya juga bisa.”

Persoalanya bukan pada saya juga bisanya.; Tetapi memulai dan berbuat tuntas untuk aplikasi itu.

Analogi yang sama juga bisa terjadi pada David. Begitu selesai tugasnya, bisa jadi ada pihak yang mengaku, “ O itu, saya juga bisa.”

“Itu cuma bagian kecil dari kemampuan Open CV, yang diprogram lagi.”

Saya bertanya kepada DR Ary Setiajadi, apakah kemungkinan riset David, sesuatu yang berkait ke kepentingan militer?

“Berbagai kemungkinan bisa.”

“Toh muaranya cuma dua, jika bukan untuk kepentingan militer, paling untuk kepentingan dunia entertainment. Tidak ada lain”

“Jangan lupa game yang MMORPG, back office-nya, dipakai pula oleh tentara AS untuk latihan perang.”

“Karenanya human content interception (HCI) dalam sepuluh tahun terakhir mendapat perhatian tinggi di dunia kini.”

Demikian DR. Ari Setiajadi

Ketika melangkahkan kaki turun dari tangga Lab VIII Lt. 2 Gedung VII ITB itu, saya menatap taman yang tertata asri. Di dua tahun ini dengan adanya jurusan Digital Media & Game Technology, malting the boundary of art science and engineering, makin yakin saya bahwa perguruan tinggi teknik bergensi ini tak kalah dengan kampus terkemuka di muka jagad ini di urusan konten dan aplikasi.

Sehingga untuk hanya belajar ke fakultas EEE di NTU ke Singapura bukan lagi suatu yang membanggakan.

Bahkan hasil kerja dan riset ITB, masih banyak berderet, yang juga sensitif untuk saya dituliskan. Maka jika anak-anak jenius negeri ini yang bersekolah ke NTU, Singapura diberi beasiswa, hak risetnya menjadi milik NTU, lalu giliran ada apa-apa macam kasus dibantainya David, anak negeri ini malang-jambang.

Jauh-jauh pergi merantau hanya untuk sekadar menggergaji angin, memeras otak meregang nyawa.

SEBELUM azan magrib menjelang, saya meninggalkan kota Bandung, dengan keyakinan 100% tugas akhir David bernilai ekonomi.

“Kalau di ITB, tugas akhir itu right-nya tergantung siapa yang menuliskan. Jika mahasiswa yang manuliskan, maka right-nya ya milik mahasiswa, “ kata Ary Setijadi.

“Namun biasanya, juga ada pihak kedua yang minta namanya ikut dicantumkan, untuk mendapatkan credit point, rekan yang terlibat.”

Ketika kendaraan bergerak menjelang Jl. Pasteur di Bandung, kemacetan menggila. Bandung di kala sore sudah sama dengan Jakarta di rembang petang.

Lamat-lamat dari balik kemacetan, kembali telinga saya mendengar azan, magrib sudah.

“Hayyaalallafalaaah…”

“Mari meraih kemenangan….”

PADA Sketsa VI, saya sempat bertanya apa yang dilakukan oleh 600 mahasiswa Indonesia di NTU Singapura terhadap kematian David?

Saya mempertanyakan apa yang dilakukan Pelajar Indonesia NTU (PINTU). Pertanyan itu tidak mendapatkan tempatnya, karena saya salah mengutip dan memberikan interpretasi keliru kepada kalimat Budi Raharjo Santoso, Ketua PINTU yang saya kutip dari The Jakarta Post.

Ini bagian sanggahan Budi yang saya beri tempat terhormat di sini:

Pernyataan bung Iwan yang mengutip dari Jakarta Post , “Bahkan dengan nada meninggi Budi mengatakan, “Masih banyak mahasiswa Indonesia di NTU yang kini juga belajar, dan tidak harus terganggu karena berita meninggalnya David.””

Pernyataan yang ditulis oleh bung Iwan di sini menurut saya kuranglah bertanggung jawab. Jika kita bandingkan dengan berita Jakarta Post, pernyataan ini sangatlah berbeda.Silakan teman-teman yang lain melihat link yang sudah diberikan oleh bung Ainun

“Hasil google search spesifik pada thejakartapost.com dan keyword : budi pintu
http://www.google.com.sg/search?q=site:thejakartapost.com+budi+pintu
menunjukkan bahwa satu-satunya possible reference adalah :
http://www.thejakartapost.com/news/2009/03/25/stop-speculating-about-david039s-death-pintu.html

Pernyataan asli yang saya berikan kepada bung Ary Hermawan dari artikel Jakarta Post diatas adalah, “Menurut saya minat orang Indonesia untuk bersekolah di Singapura belum akan menurun karena kasus David belum jelas disebabkan oleh apa.”

Saya sadar bahwa setiap manusia pernah melakukan kekhilafan. Begitu juga dengan Bung Iwan disini. Oleh karena itu, saya meminta bung Iwan untuk “mengklarifikasi” artikel ini, baik yang dimuat di media ini maupun di media-media lain.

Dengan dimuatnya klarifikasi tadi, saya meralatnya, mengakui kesalahan.

BOLA salju kebengaan saya mengutip kalimat pejabat PINTU di atas rupanya mengundang teror email dan opini ke blog saya yang tidak karuan. Mulai dari makian hinga julukan wartawan bodrex, bahkan mengatakan semua tulisan saya sudah tak layak dipercaya. Jika memang demikian adanya, tulisan saya tentang Kalimati Pademangan, Jakarta  Utara, tidak akan dibaca pihak Australia. Padahl dari blog saya itulah kemudian bantaun Australia, SDM dan alatberat kibni mengalirkan Kalimati, misalnya. Sehingga bagi sosok demikian: hampir 300.000 kata tulisan yang saya buat selama 2008 saja dianggapnya sampah semua.

Begitulah sebuah resiko kesalahan. Begitulah honor sebuah kesalahan. Padahal bertekun menjadi literary citizen reporter selama ini jangan kan dapat uang, yang ada membiayai  sendiri liputan, mendarma-baktikan umur.

Sayangnya dunia jurnalisme bukan laksana nila setitik lalu akan merusak susu sebelanga. Karya jurnalistik akan kembali ke publik. Mereka yang akan menilai hasil akhirnya

Melalui Sketsa VII ini izinkanlah saya menuliskan kembali, bahwa jurnalisme esensinya verifikasi. Jurnalis bisa salah, dan ada forum mengoreksinya. Karena saya menulis di dalam naskah, maka pengakuan salah pun saya buat dalam kaskah. Kenyatan ini menjadi suatu langgam baru, di dalam kita ber-web 2.0, berjunalisme 2.0 di dalam blog. Bahkan jurnalisme diambang 3.0.

Setiap Sketsa baru, bisa mengoreksi Sketsa sebelumnya karena verifikasi yang terus berjalan.

DARI keluarga David saya mendapatkan tambahan info: bahwa David pernah kerja praktek di Panasonic, Singapura. Ingat, Panasonic adalah perusahan yang kini terdepan melakukan R &D di bidang kamera digital dan HDTV.

“Bahkan David rencananya memang pernah bilang kalau tamat mau diambil Panasonic,” ujar Wiliam Hartono Wijaya, kakaknya.

Logikanya, jika kalangan industri justeru membutuhkan David, tentulah dia tidak dibunuh?

Industri butuh jenis manusia-manusia David.

Kini, fokuss verifikasi saya tertuju jitu kepada kalangan internal NTU. Dengan latar rektor dan ketua jurusan EEE sebagai bagian orang kementrian pertahanan Singapura, maka cara-cara militer dalam menyelesaikan kasus, ronanya menjadi nyata. Simaklah kini telah terjadi keunikan baru:

1. Hasil otopsi yang tanggal 3 April 2009 diterima keluarga David, adalah keluaran NTU, bukan keluaran pihak kepolisian Singapura.

2. Menurut KBRI Singapura, polisi Singapura masih meminta waktu sebulan lagi mengusut kasus ini.

3. Ada isu akan ada pengadilan koroner, yang hasilnya hanya sebuah rekomendasi, sebuah pengadilan yang tidak memutuskan perkara.

Karenanya dua kata akhir judul Sketsa VII ini Mengulur-alur, itulah premis saya.

Dalam situasi demikian jika PINTU memang sulit diharapkan berbuat bagi teman sebangsanya, lebih ingin dipahami posisinya, maka aksi nyata memang tinggal berpulang kepada pemerintah NKRI?

Adakah NKRI itu?!

Sikap proaktif langkah verifikasi melalui jalur citizen reporter (blogger) ini, akan terus berjalan, dan ketika naskah ini Anda baca, bisa jadi saya sudah di Singapura. Dan jika ada apa-apa terhadap keberadaan saya di Singapura, Anda Sidang Pembaca, sudah bisa menjawabnya. ***

Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com