Archive for May, 2009

Sketsa XIII Kematian David: Membantu NTU Menista Nyawa

Tuesday, May 19th, 2009

Pada 20-26 Mei 2009 sidang koroner kematian David Hartanto Widjaja, 22 tahun, mahasiswa jurusan EEE, NTU, di Singapura digelar. Saksi signifikan di ruang profesor dan di tangga darurat mengkuatirkan. Temuan sebaliknya: ada data konglomerat Indonesia menyumbang NTU, NUS jutaan dolar US. Dan kilas balik angka 13.

SKETSA ihwal David ini sudah ke-13. Bila menyebut angka 13, di dalam benak saya selalu muncul nama almarhum Lumenta, mantan Direktur Utama Garuda. Untuk sebuah wawancara bagi majalah MATRA di rubrik Pria dan Kesenggangan, sekitar 1986, penggemar motor besar itu, memberikan sebuah buku fotokopian, yang diketiknya sendiri. Di buku itu, almarhum Lumenta berkisah tentang jatuhnya dua pesawat Dakota (DC 3) yang saling bertibanan di udara pada penghujung 1960-an. Kedua pesawat itu, masing-masing berpenumpang 13 orang.

“Operasi pencarian di perbatasan Lampung-Jambi itu tanpa kami duga tuntas dalam tiga belas hari,” ujar Lumenta kala itu.

Ketika saya meminta Lumenta menerbitkan kisahnya, ia bilang tidak tega dengan keluarga korban.

“Nanti saja ketika saya sudah tak ada.”

Di dalam arsip saya, buku kenangan tulisan Lumenta itu hingga kini masih tersimpan.

Urusan angka 13 berikutnya. Jika Anda perhatikan di gedung jangkung di Jakarta, acap lantai 13-nya oleh pemilik diubah menjadi lantai 12 A. Sebaliknya di Singapura. Kendati sudah datang ke-3 kali memverifikasi kasus kematian David ke Singapura, saya jarang sekali naik ke gedung menjulang. Satu dua kali pernah saya lakukan ke lantai 17 Gedung SGX, di mana Shahi Nathan, lawyer keluarga David, berkantor di Harry Ellias Partnership. Di gedung itu, lantai 13-nya dibiarkan ada.

“Umumnya lantai 4 yang dijadikan lantai 3A di sini, “ ujar seorang pejabat di Kedubes RI di Singapura. Angka empat dalam perhitungan Cina berkonotasi Si = mati.

Entah berhubungan atau tidak, konotasi angka 13 dengan sebuah kejutan, bagi saya pekan lalu terjadi. Saya menemukan data pada hari ulang tahun ke-40 National University of Singapura (NUS) dan NTU pada 2006, seorang konglomerat Indonesia memberikan sumbangan beasiswa masing-masing US $ 1 juta.

Karena sulit untuk mengkonfirmasi, perihal nama penyumbang yang memang ada dan dituliskan oleh perguruan tinggi itu di websitenya itu, tidak saya tuliskan di sini. Agar saya tidak celaka 13, terkena ketentuan yang berkait kepada UU ITE, khususnya pasal 27 ayat 3 - - sebuah pasal di mana saya pernah menjadi legal standing di Mahkamah Konstitusi, dan dinyatakan kalah.

Proses kerja jurnalisme yang mengutamakan verifikasi dari bahan tertulis, seakan mendapatkan ancaman nyata, karena UU itu telah memberikan hukuman kurungan 6 tahun dan denda Rp 1 miliar. Inilah beban runyam yang kini dihadapi oleh para jurnalis online di Indonesia.

Beban pahit itu kami rasakan pula bagaimana dalam dua bulan ini sulit mencari saksi-saksi mata kematian David. Terlebih penggalan keadaan yang terjadi di ruang Profesor Chan Kap Luk. Dugaan sosok Zhou Zheng, Project Officer, yang menjadi saksi mata di ruang itu, empat hari setelah kematian David, ditemukan pula tewas. Seutas tali gantungan menggelayut di apartmentnya di lingkungan NTU, namun jasadnya sudah berada di lantai di saat polisi Singapura datang.

Poin berikutnya apa dan siapa yang menyaksikan David di tangga darurat dari lantai B1 ke lantai B2 hingga hari belum juga ditemukan. Sosok Nany, pekerja cleaning service, yang pernah menuturkan mendengar teriakan David, “They want to kill me,” juga tidak bersua. Sebaliknya dari keterangan seorang mahasiswa NTU sejurusan dan seangkatan dengan David, ada saksi yang melihat David di jembatan kaca yang menguhubungkan kaca dengan gedung Techno Park, ketika hendak terjatuh dari ketinggian 14 meter itu.

“Bahkan ada yang memvideokan dengan mobile phone-nya.”

Malam harinya, setelah makan bertiga Nofiyanto Kartamihardja, blogger Cah Ndeso, yang Kamis pekan lalu bergabung ke Singapura, plus bersama Yasmin, sosok alumni NTU yang banyak memasok info pihak-pihak yang dapat kami wawancarai berkait dengan peristiwa ini, kami lalu mengunjungi Henderson Wave, jembatan penyeberangan tertingi yang di Sketsa XII sudah saya tuliskan itu. Sekalian saya meralat penulisan Hendersen, yang seharusnya: Henderson, itu.

Kami pulang dengan taksi dan entah kebetulan atau tidak argonya S $ 13 dolar.

“Dan ketika persidangan 20 Mei, pas 13 hari kamu di Singapura,” ujar Yasmin.

Lagi-lagi urusan angka 13.

Yang pasti ketika menuliskan Sketsa XIII ini, paling-panjang waktu tertunda menuntaskannya, ada saja yang membuat tulisan menjadi terbengkalai. Di luar liputan Sketsa dan media mainstream yang telah mengemuka, kisah behind the scene liputan tidak kalah heboh dan seru dibanding upaya pencarian saksi, terutama adegan para crew televisi yang mendatangani apartment profesor Chan Kap Luk di Park Oasis, Jurong East, berkelit dari petugas keamanan apartment, menunggu berdiri di depan pintu yang tak kunjung dibukakan, bahkan orangtua David juga pernah datang, setelah membaca di media Singapura, bahwa ia ingin bertemu, giliran didatangi malah menghindar.

Tentunya behind the scene akan dikupas di buku saya mengenai kasus David kelak.

SABTU, 16 Mei 2009, untuk membunuh waktu dari ketegangan verifikasi, saya menyempatkan menonton pacuan kuda di Kranji, Singapura. Sudah sejak 17 April 2009 berlangusng event international pacuan kuda, dan puncaknya 17 Mei 2009, pacuan utama berhadiah US $ 3 juta.

Ketika kecil di Padang pada penghujung 1960-an, saya masih ingat bersama kakek menonton pacuan kuda di Bukit Ambacang, Padang Sumatera Barat. Karenanya ketika 1979 ke Jakarta, saya sempat menyimak pacuan kuda di Polumas, Jakarta Timur. Kini pacuan kuda di Jakarta sudah tak ada, hanya di Padang saja, karena sudah menjadi aset daerah, pacuan berlanjut hingga kini.

Akan tetapi membandingkan tempat pacuan kuda yang ada di Indonesia dengan di Singapura, benar-benar ibarat bumi dan langit. Arena penonton pacuan kuda modern, berlantai tiga, ada penonton biasa tanpa AC membayar S $ 3, ber-AC S $ 7 dan ada pula paket penonton Gold membayar S $ 98, berikut dinner buffet. Tempatnya mewah macam hotel bintang lima. Kapasitas penonton melebihi untuk 100.000 orang. Sebuah layar besar teve, ukuran dua kali lapangan basket di lapangan, membantu segenap penonton tidak perlu memakai kekeran.

Pacuan berjalan profesional. Pasar taruhan ramai. Otomasi komputer canggih. Back office berjalan dengan komputasi modern, dijamin tak bakalan ada cek-cok urusan taruhan dan hadiah. Semua berjalan cepat seirama derap kaki kuda kuda bagus mahal di lapangan yang berharga bisa mencapai jutaan dolar seekor.

Di situlah saya melihat sebuah derap ekonomi berputar besar.

Senin, 18 Mei 2009, ada headline foto di koran Strais Time, sosok Prives, kuda yang memenangi lomba dan mendapat S $ 3juta. Ditengah berita ekonomi, politik, foto kuda juara tampil di halaman satu. Di sinilah berwarnanya Singapura. Bandingkan dengan berita di koran kita.

Olahraga pacuan kuda tidak tumbuh, gerak ekonomi di sektor ini tidak berkembang. Kita harus ke Singapura untuk sekadar melihat pacuan kuda bergengsi sekaligus beradab.

PENGADILAN Coroner Court mulai 20 Mei saya yakini kredibel. Namun bagaimana fakta-fakta yang dibawa penyidik ke persidangan, inilah menjadi kunci keadilan. Saya mentatat bahwa polisi akan mengembalikan laptop David sepekan sebelum persidangan, tidak terjadi. Dalam kenyataan demikian, omongan Avadear, Deputy Superintendant (DSP), di kepolisian Jurong East, yang menyatakan polisi Singapura salah satu yang ternbaik di dunia, menjadi catatan saya. Dalam keadaan demikian, tinggalah doa saja, semoga pengadilan ini agar menunjukkan bahwa kebenaran memang masih ada.

“Hari pertama, persidangan koroner menghadirkan dua orang petugas forensik,” ujar Shashi Nathan.

Kedua ahli forensik itu adalah; Mariam Wang dan Gilbert Lau. Lalu pada 21 Mei, saksi yang diajukan ke persidangan adalah Proesor Chan Kap Luk, sosok kunci kematian David. Selanjutnya 25 saksi lain, akan dihadapkan secara maraton sepanjang persidangan yang agaknya cukup melelahkan itu.

Bila kemudian, bola yang diindikasikan digiring NTU, khususnya Chan Kap Luk, dibenarkan pengadilan; bahwa David menusuk profesor, melukai nadi lengan sendiri lalu lompat bunuh diri, maka akan lengkaplah sudah lembaga NTU dimana konglomerat Indonesia berderma maka nista nian nyawa anak bangsanya sendiri jadinya. Semoga tidak kisah tragis begini yang melinggis-kikis.***

Iwan Piliang, lileterary citizen reporter, blog-presstalk.com

JK: Kematian David, I Laga Ligo dan Mei

Wednesday, May 13th, 2009

SKETSA

Jusuf Kalla (JK) pernah mengundang blogger berjumpa, sebelum Pemilu Caleg lalu. Di pertemuan itu, saya menyampaikan kasus kematian David Hartanto Widjaja, 22 tahun, mahasiswa jenius asal Indonesia diduga dibunuh di kampusnya di NTU, Singapura. Pada 8 Mei 2009 petang, keluarga David diterima JK di kediaman. Saya menyimak dari Singapura, di saat ketat memverifikasi pencarian saksi signifikan menjelang persidangan koroner 20-26 Mei 2009 ini.

DI BALIK ketegangan menemui saksi mata, kawan dekat almarhum David, di sela kelelahan, sebulan lalu, saya menyempatkan diri mampir ke Esplanade Theatres on the Bay, Singapura. Bangunan beratap mirip durian itu dibangun berbiaya S $ 600 juta, terletak di lahan enam kali lapangan bola. Panorama sekitar mengarah laut melingkar di sekitar gedung jangkung berkelip berbinar sinar.

Teater utamanya berkapasitas 1.600 tempat duduk. Atap durian berduri-duri 10.868. Di Esplanade-lah pernah dipagelarkan sebuah pertunjukan teater kolosal I Laga Ligo, karya teater master piece, bagian epos terbesar di dunia. Epik ini hidup di masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan, menjadi epik tertulis terpanjang di dunia melebihi epos Mahabharata.

Di dalam I Laga Ligo, masyarakat digambarkan tampak hirarkis. Datu, sang penguasa, orang terkemuka dalam kerajaan. Dialah yang menjaga keseimbangan lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Ia pewaris kebijakan dimuka bumi. Dalam kacamata inilah saya menyimak Hartono Widjaja, ayah David, William Hartanto Widjaja, kakak, Tjhay Lie Khiun, ibu, didampingi Christovita Wiloto, advokasi kehumasan, diterima secara bijak oleh JK.

JK prihatin atas kasus kematian Atlet Nasional Olimpiade Matematika 2005 ini. Ia meminta pemerintah Singapura mengusut tuntas kasus kematian tak wajar mahasiswa Indonesia itu.

“Saya mengharapkan jaminan tidak ada initimidasi bagi saksi, agar kasus ini segera terungkap kebenarannya di pengadilan, “ ujar JK.

Sudah sejak lama saya berharap bahwa ada pemimpin bangsa menerima keluarga David sebagai bentuk kepedulian. Kali ini gayung disambut Wapres. Bandingkan misalnya, ketika seorang anak pengusaha anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Ali Said, tahun lalu diculik seseorang. Simbol-simbol negara dipakai Presiden SBY untuk menghimbau agar sang penculik mengembalikan Raisa, putri Ali Said.

Sebaliknya dalam kasus David. Sejak kematiannya pada 2 Maret 2009, negara seakan entah di mana. Padahal dari verifikasi yang kami lakukan, David terindikasi kuat dibunuh - - simak Sketsa 1 s.d.,12, saya di www.blog-presstalk.com. Lebih jauh lagi, sosialisasi yang dilakukan oleh Nanyang Technological University (NTU), di saat hari kematiannya, David disebutkan menusuk profesor, melukai nadi sendiri lalu lompat bunuh diri. Kenyataan ini menyiratkan bahwa anak jenius Indonesia, adalah sosok yang brutal. Rilis NTU berikutnya menyebutkan bahwa perihal itu terjadi karena David dicabut beasiswanya, faktor nilai pelajarannya menurun. Terseret-seret pula kegemaran David yang bermain game online. Sementara pihak kepolisian saja masih terus menyidiki kasus ini kala itu.

Sehingga penerimaan keluarga David oleh Wapres itu, menjadi sebuah bentuk perhatian, agar “kesewenangan merusak” citra anak bangsa yang dilakukan NTU itu memang layak menjadi kepedulian.

Karenanya, saya mengingat kembali ketika berada di bagian lobby Esplanade yang pernah secara bangga mementaskan karya budaya bangsa teater kolosal I Laga Ligo - - menjadi basis budaya JK. Dan terbayangkan ke depan, bahwa Wapres tidak saja sebatas menerima keluarga David, tetapi memantau kasus ini hingga akhir.

MALAM saya di gedung Esplanade itu di bagian lobby tampak 20 deret alat musik tradisonal Cina berdawai, ber-string, diletakkan di bangku yang sudah tersusun. Tak lama kemudian dua puluh gadis lansing berbaju lengan buntung terusan merah tampil. Mereka memetik dawai-dawai alat musik tradisional itu. Suara string mengalun seakan menyatu satu meraung-ruang. Lengan berbahu berleher jenjang mengayunkan jemari lentik gadis-gadis itu. Penonton bertepuk tangan. Tanpa membayar, datang ke Esplanade mendapatkan penghiburan, sekaligus harapan.

Anehnya, sosok gadis lulusan NTU di sampaing saya, yang banyak memberikan latar, info, akses terhadap temen-teman almarhum David justeru bercucuran airmata.

“Saya ingat akan kakek bermain sandiwara,” ujar Rema, sebut saja namanya begitu.

Sosok Rema telah meninggalkan Jakarta sejak sebelas tahun silam. Peristiwa kerusuhan Mei 1998, telah membuat luka yang dalam. Di saat masih duduk di sekolah menengah pertama, ia sudah harus berpisah dengan orang tuanya, berpisah kakak dan adik. Ia memendam dalam peristiwa yang tidak akan pernah hilang di dalam hidup, yang melukai hati bak disayat sembilu. Dengan keteguhan hati, Rema menjadi sosok mandiri, berkuliah di NTU. Ia kini menjadi seorang enjiner, mandiri bekerja di perusahaan Singapura.

Jauh di lubuk hati Rema yang dalam kini, tidak pernah menemukan jawab, mengapa selalu saja ada kekerasan dan kekerasan di dalam kehidupan. Karena itulah, ketika David Hartanto Widjaja diberitakan bunuh diri, ia meradang. Luka lamanya seakan menganga, mencari jawab dan benar saja; verifikasi nyata adanya, banyak kejanggalan di balik kematian David.

Jika sebuah bangsa yang dikenal dengan beragam kebudayaannya, macam akar budaya panjang yang ada di kitab epik I Laga Ligo itu misalnya, menjadi cerminan kehidupan, adalah aneh jadi sebagai bangsa di negeri Indonesia di setiap waktu masih mengedepankan kekerasan, melukai fisik sesama saudara.

Maka saya pahami apa yang dilakukan JK, baik berupaya melakukan upaya damai di Poso, Ambon, bahkan mencari jalan titik damai bagi saudara kita di Aceh, sebuah terobosan signifikan - - karena perihal kerukunan itu juga tertuang dalam kitab I Laga Ligo.

Khusus kasus Aceh, saya menjadi teringat akan liputan Alfian Hamzah, untuk majalah PANTAU 2003 lalu, di era GAM itu. Dengan jenaka Alfian menuliskan bagaimana di kamp-kamp di tengah hutan, antara TNI dan GAM saling mengatai melalui goresan-goresan spidol, cat atau arang. Di luar dar –der-dor, deskripsi tentang saling katai itu, manjadi lucu disimak, membuat geli tawa, menjadi tanya mengapa kita saling bantai?

Sesungguhnyalah di dalam perang, di dalam dendam, di dalam kemarahan, jika takzim tersenyum lebar sebentar, akan lain jadinya.

HARI INI saya berjumpa dengan Hendrik Teng, salah satu teman dekat almarhum David, yang studi di Amerika Serikat. “David itu anak pintar, jenaka, tugas saya di AS saja banyak dibantunya, padahal saya di jurusan berbeda di mekanikal,” ujar Hendrik, ketika kami bertemu di Banquet Food Court, Boonlay, Singapura, sambil makan Chicken Rice.

Hendrik kebetulan empat bulan ini bekerja di Singapura. Ia memiliki teman sekantor orang Vietnam, yang lulusan NTU dan satu jurusan juga dengan David. “Teman Vietnam itu mengatakan Profesor Chan Kap Luk, yang diduga tersangka pembunuh David, memang orangnya kasar, suka marah-marah dan mengatai mahasiswa,” ujar Hendrik.

Rema juga mendapatkan keterangan yang sama seperti paparan Hendrik. Lagi-lagi urusan hati, urusan kemarahan membara. Saya percaya obat penawarnya tiada lain membaca peradaban, mengasah rasa, hati dan budi dengan seni dan budaya, macam mendengar dentingan dawai musik tradisonal di Esplanade itu, misalnya. Mungkin saja jika Profesor Chan Kap Luk ada di Esplanade, Rema memiliki kawan bercucuran airmata.

Saya sepakat dengan JK, dalam kasus David kebenaran harus kita tegakkan. Selanjutnya iqra menyimak dan membaca peradaban melalui kitab adiluhung macam I Laga Ligo bisa menjadi sebuah terobosan meiningkatkan mutu kehidupan. Sehingga kian hari kita terhindar bar-bar. ***

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.com

Sketsa XII Kematian David: Kloning Data dan Hendersen Waves

Monday, May 11th, 2009

Upaya mendapatkan data kloning laptop, hand phone, almarhum David. Adakah benang merah baru, macam di eksternal hard disknya? Juga pencarian saksi di waktu ketat melekat.

JUMAT 8 Mei 2009 di lobby kantor polisi Jurong West, Singapura. Sekitar dua puluh anak sekolah play group dibimbing seorang guru, mendengar penjelasan lika-liku kantor polisi dan tugas kepolisian. Sepasang polisi full senyum menjelaskan keberadaan mereka. Di ruang tengah, dua polisi muda berseragam biru-biru tua, menjadi penerima tamu. Agak ke kanan sekitar delapan layar datar komputer, lengkap dengan petugas, siap melayani masyarakat.

Saya menatap ke lobby ukuran dua kali lapangan basket, suasana seperti di ruang costumer service provider telepon selular di Jakarta. Kursi dan sofa berarak. Kenyataan ini kontras dengan perlakuan yang pernah kami terima 20 hari lalu.

Seharusnya kami dapat duduk menunggu ketika di saat keluarga Almarhum David diterima resmi di ruang rapat kepolisian Jurong West. Nyatanya kala itu, hanya ayah, ibu dan kakak David saja yang boleh masuk ke dalam lingkup pagar kantor polisi ini. Pihak luar hanya lawyer dan seorang wakil dari Kedubes RI saja boleh ke dalam. Kami yang mendampingi, bahkan termasuk pamannya David, Kusuma Wijaya, harus menunggu berdiri di luar di ujung pagar di pinggir jalan Singapura bermentari terik.

“Saya heran mengapa kalian yang menemani harus menunggu di pinggir jalan, padahal lobby kantor polisi luas dan kursi banyak,” ujar Tjhay Lie Khiun, ibunda David Hartanto Wijaya, kala itu.

Itulah salah satu “kejenakaan” Singapura men-seterap tamu di pinggir jalan di antara banyak kemeriahan lain negeri Merlion ini.

Hingga kini, setidaknya sudah empat kali Jumat saya di Singapura, dua kali Jumatan diseling pulang ke Jakarta. Jumat kali ini, saya bersama Ruby Zukri Alamsyah, ahli digital forensik satu-satunya milik bangsa Indonesia. Ia anggota High Technology Crime Investigation Association (HTCIA), sebuah badan independen dunia bermarkas di Amerika Serikat untuk urusan digital forensik profesional. Orang-orang di badan ini, dalam sejam kerja setidaknya dibayuar US $ 800.

Berdua Ruby, kami berharap cemas. Kami berdiri di pintu pagar ketika meminta izin ke bagian penerima tamu. Tujuan kami menemui Avadear., DSP, Senior Investigator kasus kematian David Hartanto Wijaya, mahasiswa tingkat akhir jurusan Electronica and Electrical Engineering (EEE), Nanyang Technological University (NTU) itu.

Untuk kedatangan kali ini, Ruby tentu sudah melebihi kapasitas job-nya. Ia membayar sikap proaktifnya, ketika sebulan lalu di suatu pagi yang cerah, berinisiatif menelepon saya, menjelaskan profesinya. Karena pernah membaca seluk-beluk digital forensik sekilas, kontak Ruby itu saya rasakan ibarat menerima durian runtuh. Apalagi setelah mendengar dia mau kerja probono untuk kasus David.

Biasanya dalam bekerja, Ruby tinggal mem-forensik data yang disediakan polisi, seperti pada kasus Antazari Azhar, tersangka kasus pembunuhan Nasrudin, direktur anak perusahaan kelompok usaha RNI itu. Dan Ruby tentulah beda dibanding Roy Suryo, “bintang” media infotaintment itu.

Kejutan tampaknya. Kami dipersilahkan menuju lobby kantor polisi. Menjadi kesempatan “langka” rasanya, dibanding datang bersama keluarga almarhum David, di mana kami cuma dipersilakan berdiri di pinggir jalan.

Kandati belum memiliki janji, nomor telepon genggam Avadear sudah kami miliki sehari sebelumnya. Adalah Yayan GH Mulyana, Sekretaris Pertama Kedubes RI, ia memberikan kontaknya. Namun setiap dihubungi oleh Ruby, yang bersangkutan tidak mengangkatnya, SMS juga tidak dibalas Avadear. Padahal dari komunikasi melalui jaringan ahli forensik global yang dimiliki aksesnya oleh Ruby, tidak ada alasan pihak kepolisian tidak memberikan kloning hard disk kepada pihak keluarga almarhum.

Adalah Edwin Lim, Head of Technological Crime, kepolisian Singapura, merujuk Ruby ke kantor polisi Jurong West, meminta langsung perihal kloning data.

Tujuan kami datang ke kantor kepolisisan itu untuk meminta data kloning hard disk laptop David. Ia memiliki laptop IBM T-60, dengan Hard Disk 250 Giga. Di hard disk itulah kami menduga kelengkapan Final Year Project (FYP) atau tugas akhir David lengkap tersedia. Dugaan ini bukan tanpa alasan. Mengingat, eksternal hardisk David yang setengah tera, setelah diforensik Ruby, terdapat 6 halaman awal tugas akhir David. Perihal inis edang saya mintakan komentar dari Dr. Ary Setiyadi, dosen Lab VIII, Lt.2 ITB, yang paham hal ihwal soal Open Computer Vission - - aplikasi yang bermuara kedua saja, entertainment dan militer, di mana dipakai David dalam tugas akhirnya itu.

Hingga Sketsa ini saya tuliskan kloning data belum kami dapatkan. Investigator Avadear menurut polisi penerima tamu bernama Carlos, mengatakan investigator itu sedang tak di tempat.

“Tapi tenang, melalui akses kami di HTCIA, akan ada pihak yang akan menghubungi hand phone Anda, siapa tahu sumber ini dapat membantu, “ ujar Ruby di balik telepon tadi malam.

Saya tentu sangat berharap.

Ruby sudah pulang ke Jakarta Sabtu petang. Ia telah dikejar tugas baru, urusan memforensik digital data gembong narkoba yang ditangkap Polri, juga tak ketinggalan data berkaitan urusan Antazari Azhar itu, misalnya.

Ketika menutupkan pintu taksi Ruby di depan Hotel Furama Riverfront, yang menuju Bandara Changi, benak saya tak habis pikir, kok 230 juta penduduk Indonesia, hanya ada satu saja ahli digital forensik yang bersertifikat dimilikinya? Saya melamun di jalanan ketika pindah menginap ke sebuah hostel backpackers.

DI SEBUAH malam yang cerah sebulan lalu, di sela kelelahan mencari kawan-kawan almarhum David, yang mau bicara tentang sosok anak jenius yang diberitakan oleh NTU, kampusnya sendiri, menusuk profesor, melukai nadi lalu bunuh diri, saya menyempatkan diri mengunjungi jembatan Hendersen, atau dikenal Hendersen Wave - - sebuah landmark yang belum banyak dikunjungi orang Indonesia kini.

Jembatan yang bila malam ditingkah cahaya tampak melengkung macam badan ular itu berada pada ketinggian 36 meter. Ia menjadi jembatan pejalan kaki tertinggi di Singapura. Panjangnya 300 meter, menghubungkan taman di Mount Faber dan Telok Blangah Hill - - kawasan berbukit berpanorama gunung yang sengaja diciptakan bagi Singapura agar kian kinclong di mata pelancong.

Ketika melangkahkan kaki menyusuri jembatan yang lantainya kayu dengan lengkungan sirap-sirap baja itu, tampak lampu berkerlap-kerlip berbinar-sinar. Malam itu menjadi pengalaman tersendiri, menginjak lantai full kayu, membayangkan Kalimantan dengan dengan kayu ulinnya. Terpikir di benak saya alam Indonesia yang kaya, jika saja dibangun macam Singapura, tidak akan ada duanya.

Tidak sedikit andil Indonesia membangun Singapura; mulai dari pasir, kayu, hingga gas. “Hampir 80 % kebutuhan gas Singapura dipasok Indonesia,” ujar seorang staf Kedubes RI Singapura. Salah satu pemasok gas Singapura adalah Sembawang Cop., yang mengalirkan gas dari Natuna, Kepulauan Riau.

Saya merasa sumber daya alam negeri sendiri seakan tersia-siakan, karena tak kunjung mensejahterakan kebanyakan warga. Kini SDM pintar asal Indonesia diimingi bea siswa, diambil tugas akhirnya bagi kepentingan riset, kepentingan paten profesor sekolah penampungnya - - karena memang dari awal begitulah perjanjiannya.

Di negera sendiri, credential aset SDM itu dilepas berceceran, maka adalah hak anak bangsa merasai nasib dan peruntungannya. Adalah suatu yang wajar bila anak-anak jenius itu kemudian mati, segenap warga layak mempertanyakannya, apa dan mengapa bisa terjadi, bagaimana dengan nyawa yang hilang, kemudian dirusak pula nama baiknya?

Dalam keadaan menatap jauh ke gemerlapan Singapura di ketinggian Handersen itulah saya teringat akan tulisan saya tentang T. Wijaya Sendra, mantan direktur di Grup Usaha Kelompok Gajah Tjunggal, yang saya kenal. Ia sosok profesional yang punya rasa kebangsaan. Sebaliknya, pemilik Gajah Tunggal Group, Sjamsul Nursalim, yang menjadi tersangka kasus BLBI, hingga kini tak bisa dibawa pulang ke Indonesia dari Singapura dan kasusnya…?

Laku pengusaha macam Sjamsul Nursalim itu, pernah saya sebut sebagai sosok alpa diuntung. Mengawali berusaha di Indonesia, mulai dari pertanian, tumbuh ke Industri, memanfaatkan pengambilan kredit besar bank pemerintah dengan pejabat perbankan pemerintah yang memang mau berkolusi, menjadikan sosok macam Sjamsul pengusaha tambun. Di pola ini Sjamsul tak sendiri. Hampir semua konglomerasi di masanya, melanggamkan hal sama.

Terkait krisis penghujung 1997-an lalu, pabrik ban Sjamsul sempat direstrukturisasi. Namun pasar global dan jaringan distribusi lokal, masih dalam genggaman Sjamsul dari Singapura. Laku demikian bukan milik Sjamsul pribadi, tetapi sudah berjamaah dibuat pengusaha kakap, yang ujung-ujungnya memang mau menang sendiri: persoalan warga dan anak bangsa kebanyakan bukan lagi kepentingannya. Semuanya uang, eranya money talk.

Di dalam buku-buku kapitalisme baru, saya tercenung membaca, bahwa uang memang tidak mengenal bangsa. Lama-lama kecerdasan anak bangsa juga tak perlu lagi berbangsa. Atas logika ini pula tampaknya, bila kematian David Hartanto Wijaya ini, tidak mendapatkan tempat di hati orang-orang tambun uangnya, karena kepentingannya diduga bakal terganggu di Singapura.

Padahal bargaining position para konglomerat Indonesia di Singapura, besar adanya. Toh lebih sepertiga properti orang Singapura, dimiliki pengusaha asal Indonesia kini. Dan mereka semua enggan bicara soal kasus terbunuhnya David.

Pada Sabtu, 10 Mei malam ada acara Promnite mahasiswa NTU di Kedubes di Singapura. Saya menitipkan membelikan tiket kepada teman almarhum David, agar saya bisa hadir di acara itu. Namun di saat acara berlangsung, saya memutuskan untuk tidak datang. Dari bulak-balik ke Singapura, saya rasakan, bahwa kawan-kawan David yang kuliah di NTU itu tidak semuanya sahabat sebangsa yang hangat. Waktu dan keadaan serta paradigma hidup, membuat segalanya berubah.

Saya memang sedang menginjak bumi Singapura.

Karenanya satu dua orang sahabat David di NTU, yang peduli kepada kebenaran terungkap, yang berkenan mencarikan fakta kebenaran: saya hormat lahir dan batin.

Di saat saya hendak meng-upload tulisan ini, gerimis jatuh di Singapura. Satu dua petir menggelegar. Jalanan basah. Pemilik hostel backpackers tempat saya menginap di halaman meletakkan di tasa meja sebuah Nenas segar, lima jeruk, dua piring nasi, dua kue mangkok kampung yang ditancapi bilah hio. Asap lamat-lamat mengepul. Di dalam blek di lantai berisi arang dibakar. Api nyala. Kertas-kertas kuning dibakar.

Sebuah ibadah.

Air dari keran terasa kian dingin, di saat wudu Zuhur hendak saya tegakkan. Semoga  di waktu yang tersisa sembilan hari lagi, menjelang persidangan koroner, 20-26 Mei 2009, para saksi mata sigifikan yang melihat David dibunuh, nyata adanya. Amin.***

Iwan Piliang, literarary citizen reporter, blog-presstalk.com

Sketsa XI Kematian David: Mengapresiasi Saji dan Atensi

Sunday, May 3rd, 2009

Sketsa XI  Kematian David: Mengapresiasi Saji dan Atensi

Menulis Sketsa ke-11 ini saya lakukan tepat di Hari Ulang Tahun  Almarhum David Hartanto Widjaja ke-22.  Ia lahir di Jakarta, 2 Mei 1987, bertepatan dengan  Hari Pendidikan Nasional. Persidangan Coroner Inquiry, dilakukan mulai 20 Mei –Hari Kebangkitan Nasional-  hingga 26 Mei 2009 mendatang. Seharusnya NKRI bangkit menggelorakan harkat  dan martabat menjadi bangsa kian  beradab. Bukan sebaliknya.

TULISAN Sketsa ini sejak awal saya tabalkan gratis ke media online, blog, milis. Komentar,  pujian, kritik dan saran, mengalir.  Saya lebih banyak berhenti membaca  di bagian kritik, yang selalu saya harapkan dari pembaca, agar menulis bisa lebih baik lagi.  Senang bila  tulisan itu dibantai cincai.

“Enak ya jalan-jalan karena kematian orang.”

Begitu salah satu kritik yang ada di Superkoran,  apakabar.ws

Kecut juga hati.

Namun dari situlah saya mendapatkan pembelajaran. Ibarat jamu pahit, kritik itu mengobati, agar jangka panjang bisa meng-kaya-kan  hati.

Apresiasi, menurut Kamus Bahasa Indonesia, setidaknya ada tiga makna:  kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya;  penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu; kenaikan nilai barang karena harga pasarnya naik atau permintaan akan barang itu bertambah.

Berkait ke topik Sketsa ini, saya menyinggung dua saja.  Kesadaran terhadap nilai-nilai seni budaya dan penghargaan terhadap sesuatu, yang bermuara kepada melahirkan karakter, berhati dan berbudi. Kedua kata ini jelas berkorelasi tajam mengapa David Hartanto Widjaja, mahasiswa cerdas asal Indonesia itu justeru terindikasi kuat dibunuh di kampusnya di Nanyang Technological University (NTU), Singapura, 2 Maret 2009 lalu.

Ketika berada  di Singapura untuk kedua kali  memverifikasi kematian David, dua pekan silam,  saya menyimak ada dua event seni dan budaya besar di sana; pertama 2nd Singapore International  Film Festival 14 sampai 25 April 2009, dan peragaan karya adi busana Christian Lacroix, the Costumier,  perancang terkenal  Perancis, yang karyanya menjejali beragam wardrobe pementasan teater, film mendunia, berlangsung pada  20 Maret hingga 7 Juni 2009.

Jika dalam konteks jalan-jalan, sebagaimana kritik ditudingkan  seseorang kepada saya, jujur saya akui saya  memang melakukannya. Toh di balik ketegangan mengungkap kasus kematian David, sebagai pemilik raga yang masih hidup, saya masih berkeinginan memperkaya batin, dan di  Singapura:   wahana untuk itu kini tidak berbilang.

Saya menonton ontologi film pendek di Sinematek, Museum Nasional Singapura, pada satu kali pementasan, berjudul:  Distance (10 menit),  Dreaming Kester (14 menit), Hush Baby (3 menit), Leaving Me (9 menit), Madam Chan (20 menit),  Shingaporu Monotagari (12 menit),  Sink (11 menit) dan Slimming Lesson (13 menit). Dari visual simpel, macam short animasi (2D) Hush Baby,  dengan Sutradara Tan Wei Keong, bayi menangis-nangis yang digunting-gunting kertasnya hingga ke  visual  cerita kelas berat film Sink, yang hitam putih.

Pada Film terakhir di Swimming Lesson, yang disutradarai  Kat Goh Phek Siang,  terekam kuat kekuatiran  dan kenyinyiran seorang ibu yang harus melepas  anak gadisnya menuntut ilmu ke negeri orang.  Sang ibu kuatir segalanya.

Ibu dag-dig-dug akan anaknya tidak bisa lagi menikmati makanan kesukaannya, sehingga ketika mobil tua yang disetir sang suami menjelang tiba di Bandara dan rantangnya ketinggalan. Si Ibu meraung-raung sejadinya meminta mobil pulang kembali. Makanan kudu mara dibawa.

Film Sink, yang disutradarai Kirsten Tan, secara ekstrim tampil dengan visual hitam putih, panorama laut, statis, berubah, macam animasi static. Sebuah keran kuningan dan tempat cuci tangan perselen putih,  lamat-lamat ditenggelamkan laut di pantai. Keran  berkarat.

Hari-hari  menua.

Pencarian  cinta sejati, seakan entah di mana?

Saya yakin Kirsten Tan, sang sutradara  Sink, dan crew kecil  filmnya, paham betul akan makna cinta sejati. Ketika itulah  mata saya berlinang membayangkan wajah  Ibunda David,  Tjhay Lie Khiun,  yang hingga hari ini masih terus bersedih, belum bisa memasak ke dapur.

“Masih trauma melihat pisau. Anak saya tak pernah dari kecil pegang pisau, tak pernah ngupas buah sendiri pakai pisau,” tutur Tjhay.

Jika menyimak karya-karya film pendek anak-anak muda Singapura, hampir pasti kejadian aneh dan unik di NTU, menjadi tak masuk di akal dan di benak saya. Film sebagai sebuah karya budaya, menjadi muara dari sebuah bentuk peradaban.

Sejak memverifikasi kasus kematian David, saya menemukan seorang gadis asal Indonesia, pernah mendapatkan perlakuan kasar dari seorang professor, dengan berteriak-teriak memarahi dirinya di depan kamarnya pada tengah malam buta dan mencoba menerobos masuk ke kamarnya. Parahnya lagi gadis tersebut menetap di single room dan professor tersebut merupakan dosen pengawas hall tempatnya tinggal. Apakah gerangan yang hendak dilakukan sang professor dengan berusaha menerobos kamarnya?

Saya juga mendapatkan data bahwa di kampus NTU pernah ada seorang student leader yang mengintip mahasiswi mandi sebanyak tiga kali dan notabene didukung dengan rekaman CCTV. Sang pelaku dibiarkan lalu lalang belajar di kampus bergengsi itu tanpa ada hukuman. Bahkan mahasiswa yang mengetahui secara detil siapa hidung belang tersebut, dilarang oleh NTU untuk membocorkan namanya ke media.

Kasus-kasus ini semakin menguatkan dugaan saya bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan layak dipertanyakan di ranah ke-NTU-an kini.

“Tetapi semuanya ditutup-tutupi. Beberapa kasus memang terlanjur  ditutupi  NTU.”

Begitu  keterangan gadis “malang” yang kini sudah bekerja di negeri Merlion itu.

Setelah David berpulang 2 Maret 2009 lalu, begitu diberitakan dia menusuk professor, melukai nadi sendiri lalu melompat bunuh diri, pihak kampus yang menyebar berita demikian, “mendukung” mahasiswa meng-endorse berita itu. Seorang mahasiswa Indonesia sejurusan dengan David, terang-terangan  bilang ke saya  bahwa diintimidasi NTU.

Seorang wanita karir yang dulu hijrah ke Singapura, karena rumah keluarga mereka dijarah di bilangan Mangga Besar, di peristiwa Mei 1998, alumni NTU, menuturkan: Ketika  mengambil program master, tugas akhir yang di NTU familiar disebut  Final Year Project (FYP), di depan hidungnya dijual ke industri oleh sang professor pembimbing ke industri.

Untuk program beasiswa, NTU memang mewajibkan FYP menjadi milik perguruan itu.

Di satu gedung di salah satu ruang pameran  di Museum Nasional Singapura, yang berada di sebelah Taman  Fort Canning itu, sebelum menonton ontologi film pendek, di sebuah dinding hitam dengan tanda tangan merah Christian Lacroix mencolok, mencuri pandang.  Di  atas pukul 18, pameran kampiun perancang adi busana ini gratis gratis publik. Di ruang yang gran dipamerkan  karya monumentalnya;  baik untuk teater maupun wardrobe film.

Seluruh ruangan hitam.  Tata cahaya benar-benar diatur sempurna. Untuk poster berupa stiker dari digital printer dilampu-soroti oleh sinar yang seakan memberi rona kabut. Desain baju-baju rumit dengan manekin tingi jenjang, bagitu dipotret tanpa pencahayaan, ditangkap lensa kamera dengan tajam dan bagus. Tak sembarangan pameran tampaknya. Karya-karya Lacroix memang dominan bagi pentas teater dan film

Terpikirkan juga, apa bisa kemasan  pameran seperti itu digelar di Indonesia? Di mana ada ruang pameran yang ber-ceiling- tinggi? Siapa membiayai?

Saya menyimak tak banyak pengunjung datang.  Saya tak paham apakah hal begini juga penting bagi mahasiaswa dan dosen NTU untuk dikunjungi?

Yang saya lihat, apalagi di masa-masa examination  di NTU di saat saya di Singapura, kekuatiran akan nilai  jeblok mahasiswa tinggi.  Nilai seakan harus dikejar. Nilai A menjadi segala. Seakan-akan jika tidak dapat A, Anda bukan manusia.

Di tengah langgam elo-elo, gue-gue juga tajam, diperlukan kearifan pergaualan, banyak melihat dan menatap kehidupan sosial, agar terhindar dari kondisi macam kodok dalam batok.

Begitulah keadaan  lingkungan bergengsi di lahan 200 hektar yang menjadi tujuan sekolah anak-anak hebat negeri ini.


JUMAT,  1  Mei 2009.  Saya menemani keluarga David ke Mabes Polri, tepatnya diterima oleh Kadiv Humas. Dalam hal ini diwakili oleh Wakadiv, Sulistyo. Selain ayah dan paman,  tampak juga Chsristovita Wiloto, dari Wiloto PR, yang sejak awal kasus ini telah berupaya mensosialisasikan di facebook, bahwa kematian David layak dipertanyakan. Melalui group di Facebook, yang kini sudah mencapai 16.000 lebih, langkah pro aktif Christ itu, kini juga menggalang dana dalam tiga pekan terkahir sudah mencapai lebih dari Rp 220 juta, bagi keperluan keluarga membayar pengacara di Singapura, yang berjumlah lebih $ 60 ribu.

Pada kesempatan itu Polri menyampaikan perhatiannya untuk kasus ini, dengan mengirimkan Tim yang dipimpin Kompol Hermawan – - siang itu ikut bergabung - -  dan 25 April lalu baru saja pulang dari Singapura. Pihak Interpol Mabes Polri pun kini sudah mulai memberi perhatian tinggi, dan ini layak diapresiasi.

Selain Polri, KBRI, peranan media mainstream memberitakan kasus David ini kini juga sudah mulai tajam. Semoga saja tensinya ke depan kian meninggi.  Kerja teman-teman wartawan teve  ke lapangan layak diacungi jempol, mereka bernyali, misalnya, ketika kami infokan alamat Profesor Chan Kap Luk, saksi kunci. Hampir semua  crew televisi kita yang ke Singapura punya keunikan tersendiri mendapatkan visual kediamannya.

Cerita di balik kerja kawan-kawan teve itu menjadi sebuah behind the scene yang tak kalah unik. Sebagai pribadi saya berterima kasih kepada kawan-kawan media itu. Dan berharap pada 20-26 Mei 2009 mendatang meliput langsung persidangan koroner kasus ini. Semua itu menjadi atensi nyata  menguak kebenaran kasus ini.

Di balik apresiasi dan atensi yang sudah ada kini, menyimpan dalam kegundahan saya.  Yakni perihal saksi, eye witness, yang berpihak kepada dugaan David dibunuh masih lemah.

Di lain sisi  tim penyidik di kepolisian Singapura sudah  memiliki bukti penggalan sisi waktu di mana David ada di jembatan kaca, lalu melompat ke bawah. Adegan inilah yang terus menerus digiring NTU, bahwa David bunuh diri dan di lengannya memang berdarah-darah,  bukti David melukai diri - - sebagai  alibi rilis NTU.

Mengapa NTU selalu dan selalu menutupi berbagai kasus menimpa warganya? Pihak kampus enggan bicara.

Saya masih mencari saksi, ada apakah yang terjadi ruang Ptrofesor Chan Kap Luk,  juga di tangga darurat?

Mengapa pula lengan kanan bagian luar david berdarah, bersayatan empat kena  pisau seakan menangkis, seusai dengan hasil otopsi. Mmengapa pula di lehernya ada lebam, haemorrhaege, bahasa otopsinya?

Sayang saksi kunci lain, Zhou Zeng, poject officer, mati pula empat  hari setelah David berpulang. Zhou, diduga ada di lokasi ruang Chan Kap Luk di saat David berdarah-darah. Dan, Zhou yang satu laboratorium dengan David diberitakan gantung diri.

Jasad David yang kadung cepat dikremasi, saksi kunci utama juga mati.

Dua weaknesses yang ada.

Dari semula hanya memverifikasi secara kerja jurnalistik saja, saya pun berusaha membantu menemukan saksi kunci, yang ibarat mencari ketiak ular,  untuk secepatnya dapat ditemui. Karenanya saya ingin segera berada  di Singapura.  Apalagi persidangan koroner kasus ini sudah mendekat.

Di balik waktu masih ada di kala jeda, saya memang akan berjalan-jalan lagi menyimak Lacroix, dan kegiatan kebudayaan lain di Singapura. Panggung Lacroix, salah satunya,  memberikan saya pelajaran.

“… Theatre has become much more than recreation, as this art cannot bear mediocrity nor lack of passion”

Pangantar  akhir Lacroix di buku pamerannya.

Sebaliknya, bila lenyapnya nyawa David, lantas  cuma menjadi sebuah teater kehidupan yang faktanya  digiring kuat bunuh diri, maka  kenyataan ini yang kudu dilawan kini.

Siapa takut!***


Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com