Archive for August, 2009

Dr. Ir. Ary Setijadi Prihatmanto: Tinjauan Singkat Tugas Akhir David Hartanto Widjaja

Thursday, August 13th, 2009

Pengantar Iwan Piliang:

Ary Setijadi, adalah pakar di Open Computer Science di Lab VIII Lantai II, ITB, Bandung. Ia sosok awal yang saya temui sebelum melakukan verifikasi panjang kasus kematian David. Berikut ini paparan Ary, sosok yang baru tahun ke-3 ini pulang dari Linz, Austria, untuk studi masalah Computer Vission.

Dan Computer Vission adalah aplikasi yang yang dipakai David Hartanto Widjaja, dalam tugas akhirnya. Bahan tertulis yang saya verifikasi, tidak dan atau belum menemukan arah Prof Chan Kap Luk kelainan seks, gay misalnya. Yang mengemuka kental dan kuat adalah urusan Computer Vission. Di NTU Lab Computer Vission di Electrical Elecronic Engineering ada dua.

ITB tak kalah dengan NTU dalam aplikasi ini. Jika Anda ke ITB, maka ada aplikasi diberi tajuk DSMAC, kerjsama TNI-ITB, aplikasi memandu misil tepat sasar. Tentu banyak riset lain yang bisa dibuat dari Computer Vission. Yang kita Indonesia kurang, selalu urusan dana riset TIDAK tersedia berkelanjutan!

Ini saja benang merahnya. Urusan kelimuan, berani saya katakan ITB LEBIH OKE!

Berikut paparan Ary Setijadi soal tugas akhir David.

Selamat membaca:

Tinjauan Singkat Tugas Akhir David Hartono Widjaja

Necessity is a mother of all invention. Ada tiga bidang yang terbukti sepanjang sejarah menjadi pendorong utama perkembangan teknologi dengan biaya yang seakan-akan tak terbatas, yaitu: (1) bidang militer; (2) bidang kesehatan, dan; (3) bidang hiburan. Semuanya terkait dengan kebutuhan yang tidak dapat dinilai, yaitu kebutuhan pertahanan diri, survival dan kenyamanan. Perkembangan sebagian besar teknologi dan produk-produk terkait biasanya dapat ditelusuri awalnya hingga ke tiga bidang di atas. Sebagai contoh klasik, internet yang dimulai sebagai proyek militer untuk menghadapi efek dari perang nuklir malah menjadi salah satu pendorong penting perkembangan kebudayaan manusia saat ini.

Pada beberapa dekade terakhir, teknologi yang terkait dengan media digital mendapatkan momentum yang luar biasa dan mulai memperlihatkan pengaruh yang kuat dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal di atas dapat terlihat dari sisi aplikasi yang terkait dengan inovasi konten di world-wide-web seperti facebook, Friendster dll., hingga hal-hal yang sebelumnya hanya terjadi di film-film, atau laboratorium-laboratorium besar, seperti hal-hal yang terkait dengan kecerdasan buatan, virtual reality dll.

Penggunaannya dalam bidang militer tidak perlu diragukan lagi, pada tahun 2006, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (dan kemudian Tentara Rakyat China) telah menetapkan teknologi terkait sebagai teknologi standar bagi proses pendidikan dan pelatihan, lebih jauh penerapan konsep C4ISR secara prinsip bertumpu pada konsep representasi dan visualisasi data yang akurat dan efektif.

Tugas Akhir dari alm. sdr. David Hartono Widjaja berjudul Multiview acquisition from Multi-camera configuration for person adaptive 3D Display. Rangkumannya berbunyi Multi-camera will be used to obtained multi-views of scene. Display 3D adalah tampilan yang dapat menampilkan informasi secara 3D. Contoh Display 3D misalnya hologram laser (seperti peralatan hologram conference di Star War), stereo Head-Mounted-Display dan lain-lain. Untuk dapat menggunakan Display 3D diperlukan informasi 3D dari apa-apa yang ingin ditampilkan. Informasi 3D ini yang pada tugas akhir sdr. David diperoleh dari informasi yang diperoleh dari penggunaan banyak kamera yang disebar di sekeliling pemandangan yang ingin ditampilkan. Akibatnya, sehingga display 3D yang diperoleh dapat bersifat adaptif terhadap posisi pengguna. Sebagai ilustrasi tentang 3D Display yang dapat dibuat secara sederhana di rumah kita masing-masing dapat misalnya dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=Jd3-eiid-Uw .

Jika kita tinjau dari sudut kebaruan, secara umum apa yang dilakukan sdr. David tentu saja bukan hal yang betul-betul baru. Ada ratusan atau mungkin bahkan ribuan ilmuwan di dunia yang bekerja pada bidang yang sama. Hal itu adalah hal yang wajar, apalagi pada tingkat pendidikan sarjana. Tapi hal tersebut tidak berarti juga apa yang dilakukan adalah hal yang biasa. Jika sdr. David berhasil menyelesaikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan aspek implementasi praktis, atau mungkin sekedar ide baru yang unik dan original dalam metoda penyelesaiannya, maka dapat saja memang mengandung nilai strategis maupun nilai ekonomi yang tinggi. Untuk itu, kita perlu mengkaji secara lengkap dan detil draft dari tugas akhir sdr. David, yang sayangnya hingga saat ini tidak dapat kami peroleh.

Dari sisi pandang saya sebagai ilmuwan yang bekerja pada bidang yang sama, apa yang dilakukan sdr. David memang menarik. Bayangkan kita ingin berada di Monumen Arc D’Triump di Paris. Dengan membawa banyak kamera dan melakukan data akuisisi di sana dengan teknik yang mungkin ditemukan oleh sdr. David, kita dapat meciptakan ruangan di Indonesia yang jika kita berkelana di dalamnya, secara visual seakan-akan kita berada di sana. Hal ini sebetulnya sudah mungkin dilakukan dengan cara yang lain, tapi bisa jadi dapat dilakukan dengan lebih feasible jika menggunakan metoda yang sdr. David lakukan.

Lepas dari segala urusan teknologi di atas, saya ingin mengucapkan rasa duka cita saya yang dalam kepada keluarga Bpk. Hartono Widjaja atas peristiwa yang menimpa ananda sdr. David Hartono Widjaja. Begitu banyak kejadian yang buruk menimpa saudara sebangsa di perantauan, dan pada kejadian ini adalah puncaknya, menimpa anak kita yang menjadi pucuk harapan kita bersama. Hal ini semoga menjadi bahan pelajaran dan penyadaran bagi kita sebagai bangsa dan menjadi pemicu tindakan-tindakan yang lebih tegas, kuat dan strategis pada segala lapisan, terutama dari pengambil keputusan dan pembuat kebijakan.

Dr. Ir. Ary Setijadi Prihatmanto
Sekolah Teknik Elektro dan Informatika
Institut Teknologi Bandung

Sketsa Eksklusif Papua: Raibnya 17 Orang dan Miliaran di Boat di Mamberamo Raya.

Monday, August 10th, 2009

Sketsa Eksklusif Papua:

Raibnya 17 Orang dan Miliaran di Boat di Mamberamo Raya.

Di penghujung Juli 2009 di kantor Redaksi Cendrawasih Pos (Cepos) , Jayapura, saya terkesima melihat arsip Cepos pada 4 Maret 2009, menulis berita hilangnya sebuah speed boat dalam pejalanan dari Serui – Mamberamo Raya. Ikut raib 17 orang penumpang - - dua di antaranya anggota IWAPI Papua - - dan uang lebih dari Rp 2,5 miliar. Lima hari setelah peristiwa, terbunuh pendeta Zeith Kiriomah, konon tahu akan peristiwa ini. Di halaman sama, ada berita tentang tewasnya David Hartanto Widjaja, mahasiswa Indonesia di NTU, 2 Maret 2009. Di hari ke lima David tewas, mati pula Zhao Zheng, warga negera Cina. Dua peristiwa tragis dengan kematian lain di hari kelima. Berikut verifikasi awal peristiwa Mamberamo yang tak mengemuka ke media meianstream itu. Entah mengapa?.

SEBUAH speed boat sandar di pelabuhan Serui, Papua 3 Maret 2009. Ukurannya tidak terlalu besar. Dua mesin, masing-masing 40 PK sudah menempel di bagian belakang. Di badan boat melingkar garis oranye. Di Selasa pukul 09 pagi itu, muatannya 6 drum solar, setara 34 jerigen, beras lima karung, mie instan, air mineral, dua karton bir, dua cool box.

Laut tenang, langit biru.

Ada seseorang yang sempat mencatat.

Di badan boat bertuliskan: Saweri Hung Ai U Hupa

Perjalanan menuju Mamberamo Raya yang ditempuh sekitar 10 jam oleh speed boat itu hingga hari ini tidak berujung ke tepian..

“Kamu tak perlulah ikut ke sana,” ujar Suparmu Ibrahim. Kalimatnya kepada Atieka Saraswati, sang isteri, yang kini lenyap entah di mana rimba.

“Yah proyek di Memberamo kan banyak, untungnya bagus, saya mesti ikut, toh Nia ada,” jawab Atieka.

Karena faktor jarak, bank belum merambah Mamberamo Raya, proyek pengusaha di sana harus dibayar tunai. Dan, biasanya, keuntungan yang diperoleh pengusaha juga lebih bagus. Kenyataan itulah yang menggugah wanita pengusaha itu berkeras mara ke Mamberamo Raya.

Atieka anggota Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Papua. Kepada Suparmu, ia mengatakan bahwa Rahmania, sesama anggota Iwapi, juga turut serta. Suami Rahmania, Sujadi, adalah anggota Polisi di Yapen.

“Kendati ada Nia, saya tetap merasa kuatir perjalanan itu,” ujar Suparmu.

Kekuatiran Suparmu itu lebih kepada rencana keberangkatan yang sudah tertunda sejak Senin.

Dan penundaan itu, dikarenakan seorang pejabat bernama Isak Muabuay, Kepala Bagian Umum, Setda, Pemda Mamberamo Raya, yang mencarter speed boat, mengalami mabuk, kebanyakan minum Miras, di sebuah pub di Serui sejak Jumat malam, 27 Februaari 2009. “Pesta” pejabat itu berlanjut malam Minggu, Malam Senin, sehingga jadwal berlayar Senin pagi harus ditunda Selasa.

Dalam verifikasi saya di lapangan dari 30 Juli sampai 4 Agustus 2009, kebiasaan pejabat pelesir di pub-pub menjadi langgam biasa di Papua.

“Bahkan saya pernah bersama seorang Bupati yang membelanjakan Rp 2 miliar tunai dalam semalam,” ujar Yamin, bukan nama sebenarnya, seorang manager hotel di Jayapura. Yamin biasa menyimpankan uang sang pejabat, membawakan jika dibutuhkan membayar minuman dan perempuan. Uang terendah membayar perempuan Rp 20 juta. Kebanyakan lebih.

Lain ladang lain ilalang, lain pula gaya kehidupan pejabat.

Alam Papua yang kaya, ditambah urusan Otonomi Khusus (Otsus) telah membuat sebuah dilema. Banyak anggaran melimpah ada di tangan pejabat. Otonomi khusus juga telah memberi kesempatan kepada penduduk lokal tampil sebagai pemimpin di daerahnya, namun amat disayangkan bila kesempaatan itu tidak digunakan membangun daerah, meningkatkan taraf ekonomi dan mutu peradaban ranah Papua nan jaya.

Maka ketika memandu konperensi pers di Hotel Papua, 3 Agustua 2009, menyangkut hilangnya 17 nyawa yang sedang menuju Mamberamo itu, saya menggugah kawan-kawan media mainstream Papua untuk mengawal jalannya pemerintahan daerah dan berpihak kepada warga, sesuai dengan amanah yang tertera di dalam elemen jurnalisme. Terlebih untuk kasus raibnya speed boat ini:

Mengapa pula sejak Maret pemberitaannya seakan senyap?

Saya perhatikan Ketua DPR Papua, John Ibo, yang di malam konperensi pers itu ikut mendampingi Suparmu Ibrahim, juga berharap sama. “Kasus ini harus kita ungkap hingga ke akar-akarnya,” ujar John Ibo. Saat itu hadir pula, Yanni, Ketua Iwapi Papua, juga tokoh salah satu tokoh masayarakat dari Mamberamo, Yoel Maitindom.

Dari dua kali pertemuan saya dengan Kabid Humas Polda Papua, Agus Arianto, dapat saya ketahui bahwa motorist yang mengemudikan speed boat bernama Gerson Wanggai alias John Wanggai, terindikasi sosok narapidana yang kabur. Ia membawa asisten yang menahkodai boat itu; Mario Wanggai, Michael Wanggai dan Lambert Wanggai.

Penumpang lain adalah: Ferdian Sunur, pengusaha, Toni Fonataba, Ayub Karobaba, anggota Satpol Air Polres Yapen, Jack Karobaba, PNS, Reba, Erna Samori, Iin dan Nurul Fatimah. Dari list nama ini, dua di antaranya isteri kedua dan adik ipar Isak Muabuay, sang pejabat, pencarter boat.

Deretan nama penumpang di atas hingga tulisan ini saya buat belum tahu nasib dan keberadaannya.

Pada hari kami melakukan konperensi pers di Papua, paginya berita ditemukannya pesawat Twin Otter Merpati mengemuka. Penumpang dan crew-nya tewas 16 orang, dalam perjalanana dari Sentani ke Oksibil. Dari Papua saya simak liputannya meriah di semua teve nasional.

Dalam logika pikir saya, urusan nyawa seakan berbeda aura liputannya. Berbeda meriah antara di udara dan di air atau laut. Padahal nyawa yang hilang sama bahkan lebih jumlahnya.

KORAN Cendrawasih Pos, pada 16 Maret memberitakan sebuah penemuan speed boat di Mamberamo. Menurut Suparmu, adalah Thomas Ondi, Kepala bagian keuangan Setda Mamberamo, yang mengaku memiliki itu boat.

“Thomas juga mengaku bahwa boat yang ditemukan itulah yang dipakai rombongan yang hilang itu,” tutur Suparmu.

Sebagai suami salah satu korban, Suparmu tak tinggal diam, ia mencoba melakukan pencarian. Mulai dari menelusuri perjalanan dengan boat yang bermesin lebih besar, mengajak Angkatan Laut, hingga menelusuri pelosok. Rute dan upaya pencariannya itu ia paparkan di foto-foto di Facebook-nya.

“Dan boat yang ditemukan itu bersih, putih polos, sama sekali tak ada tanda-tanda bekas mesin.”

“ Tidak ada atap, tidak berwana oranye di lingaran badan. Tidak ada tulisan: Saweri Hung Ai U Hupa!”

Begitu Suparmu menceritakan.

Jika demikian, bisa jadi boat itu hanyalah alibi.

Dan Suparmu melihat keanehan lain. “Pada tanggal 5 sampai 8 Maret, handphone isteri saya nyala. Tetapi dihubungi tidak menyahut.”

Sementara dari isteri penguasaha Fredie Sunur yang saya huibungi via telepon mengaku telepon satelit yang dibawa suaminya bernomor 0868811040388, sejak 4 Maret 2009 sudah tak bisa lagi dihubungi.

Selain motorist yang terindikasi narapidana kabur, ada lagi benang merah lain yang sempat dicatat Suparmu.

“Dari cerita penduduk ada salah seorang yang yang turun di tempat perhentian,” ujarnya.

Sosok yang turun itu berinisial JT. Ia pada 9 April 2009 tersangka membunuh pendeta Zeith Kiriomah. “Konon sang pendeta tak berdosa mengetahui bahwa JT menyimpan sejumlah besar uang, hasil kejahatan.”

“Dari yang saya ketahui di lapangan, dua buah cool box yang dibawa, juga berisi uang,” ujar Suparmu. Tentunya dana milik Pemda Mamberamo. Jumlahnya menurut perkiraan di atas Rp 4 miliar.

Selama di Papua pula, saya menjalin kontak dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat. Mereka menyanggah menyandera apalagi merampok. Perjuangan mereka, sebagaimana mereka sampaikan secara tertulis, membela kebenaran dan keadilan, bukan melakukan praktek kejahatan. Itu menurut mereka.

Nah, jika demikian siapa berulah?

“Sudah seharusnya kepolisian bergerak, apalagi benang merah yang dipaparkan bisa mengurut masalah, mulai dari napi yang kabur, pejabat yang mabuk, hingga pendeta yang tewas,” ujar John Ibo, Ketua DPR Papua. Dalam waktu dekat DPR Papua akan melakukan dengar pendapat dengan jajaran Polda Papua tentang kasus ini, untuk bisa diusut tuntas.

Sikap Ketua DPR Papua demikian, seharusnya membuat media bisa bekerja lebih terbuka. Media bukan bersembunyi di balik kekuatiran. Akan lebih disayangkan bila kekuatiran hanya urusan tidak kebagian angpau dari pejabat. Hingga di sini, tiada lain sebagai citizen reporter, saya berharap media di Papua, khususnya mengawal kasus ini, selain penegak hukum, kepolisian menyidik hingga tuntas. Sehingga laku bar-bar di ranah kehidupan yang kian hari seakan meninggi, bisa dibersihkan dini-dini! ***

Iwab Piliang, literary citizen reporter, blog prestalk.com

Sketsa XVI Kematian David: Laptop Memang Top

Sunday, August 9th, 2009

Sketsa XVI Kematian David: Laptop Memang Top

Jauh hari sudah saya perkirakan, keputusan pengadilan koroner Singapura, 29 Juli 2009: David bunuh diri! Pernyataan sama sudah saya ungkap di program teve Kick Andy, maupun dalam beberapa wawancara di TV One. Pemerintah seharusnya ngeh dari awal. Hukum berkaca fakta nyata atau hidangan dari lantai persidangan? Barang bukti laptop, hand phone, milik david, yang bukan alat membunuh, sedianya bisa dibawa pulang keluarga, 7 Agustus 2009, nyatanya tidak. Tiada hashing data, tanda terima fisik tanpa digital konten. Keluarga David meminta tanda terima digital konten, polisi Singapura ulur-ulur?

RABU malam, 5 Agustus 2009, saya kembali duduk menatap patung Burung karya pelukis Fernando Botero, pelukis terkenal asal Kolumbia, satu karyanya sengaja dipajang atas prakarsa UOB, di pelataran menghadap bandar Boat Quay, Singapura itu. Perahu-perahu bermesin batere yang senyap berlayar tak tampak lagi sekadar bawa turis mutar-mutar.

Malam larut.

Bulan penuh di atas kepala.

Malam itu saya berdiskusi dengan sosok akuntan yang bekerja di sebuah warehouse, anak Indonesia. Kami menjajaki kemungkinan mendirikan foundation, yang dapat melakukan advokasi, memperjuangkan nasib anak Indonesia bersekolah di luar negeri, khususnya Singapura. Latarnya selain kasus David Hartanto Widjaja, yang sudah diputus oleh pengadilan Singapura pada 29 Juli 2009 sebagai bunuh diri - - kendati tiga ahli berlevel doktor di Indonesia mengatakan David dibunuh - - masih ada kasus lain terhadap anak Indonesia di NTU, yang belum mengemuka; pelecehan seks, penjualan tugas akhir S2 oleh profesor ke industri dan peracunan di Lab., Kimia. Dan jika terus saya memverifikasi, deretan perlakuan mencekam lain, terindikasi nyata tak basa-basi.

Sebelumnya, di malam 28 Juli 2009, malam menjelang sidang keputusan kasus David, saya pun berjumpa di sebuah cafe di tempat sama dengan anak Indonesia yang menjadi direktur untuk ASEAN, di perusahaan konsultan keuangan. Ia fund manager. Sosok anak muda lulusan Ohio State University, yang hidup mapan di Singapura, prihatin mendalam akan apa yang terjadi.

“Anak-anak cerdas Indonesia diberi beasiswa, atau dimudahkan mendapatkan pinjaman dana berkuliah.”

“Setelah tamat, tiga tahun ia diwajibkan bekerja di perusahaan Singapura.”

“Dan biasanya, setelah tiga tahun, karena mulai mapan, males pulang ke Indonesia.”

Begitu celotehan sosok yang pernah mengelola investasi dana BUMN Indonesia itu.

Malam itu saya membayangkan wajah Ciputra dalam biografinya. Ia ketika tamat ITB, Bandung, fresh graduate, sudah berpresentasi di depan Gubernur Ali Sadikin, kala itu. Anak muda, semangat muda, otak encer, energi besar, aset unggul membangun bangsa.

Jika lulusan segar, anak-anak brilian yang semula diwajib-sekolahkan di tanah air - - bahkan dengan anggaran pendidikan ditambah melimpah - - namun setelah tamat sekolah menengah dipungut negeri lain: Kami sepakat bahwa itu namanya bentuk lain dari out flow of national wealth, larinya kekayaan bangsa ke luar. Brain drain!

Istilah out flow of national wealth pernah diucapkan Prabowo Subianto, dalam masa kampanye Capres lalu, terhadap sumber daya alam, bahwa jumlah ekspor pertahun yang tak sesuai dengan angka penerimaan devisa tertera, nyata-nyata menggelembung membubung.

Jika di ranah Sumber Daya Manusia (SDM) juga Sumber Daya Alam (SDA), negara membiarkan, terus-menerus terjadi total loose, jelas segenap aset bangsa kian tergerus.

Dan naïf, memang, bila negara seakan alpa melalui pemimpin tertingginya hinga hari ini enggan bersuara terhadap kasus yang menimpa David Hartanto Widjaja, yang disosialisasikan oleh kampusnya di Nanyang Technological University (NTU) menusuk professor, melukai nadi sendiri, lalu melompat bunuh diri. Tuduhan dengan kenyataan tanda tanya besar!

KARENANYA, begitu mendapat kabar dari seorang alumni NTU di Singapura pada 26 Agustus 2009 malam, Boediono, Wacapres SBY, tampil dalam rangka penandatanganan kerjasama Rajaratnam, NTU, Program S2 dan S3 dengan Indonesia, di Kedubes RI Singapura, dada saya sesak.

Sakit di hati terasa menyembilu.

Agenda Boediono, pada Selasa, 28 Juli 2009, memberikan lecture di hadapan Rajaratnam Program NTU, di Hotel Shangrilla, Singapura.

Bayangkan esoknya 29 Juli, perkara kasus David diputuskan oleh pengadilan koroner Singapura. Fakta-fakta persidangan macam yang tertuang dalam Sketsa XV.

Tega-teganya pejabat Indonesia demikian?

Begitu logika awal saya.

Dugaan saya kala itu, bahwa simbol negara sudah menjadi bagian public relation NTU. Benar-benar top itu NTU mem-pas-kan sikon.

Maka sepanjang Senin, 27 Juli 2009 itu, saya mencari akses kiri kanan, untuk “membatalkan” agenda Boediono itu. Namun apalah awak ini? Di benak saya selalu terbayang wajah Tjhay Lie Khiun, ibunda David, betapa kian tersayat hatinya mendengar kenyataan itu.

Berbagai kawan saya hubungi lintas-berkas. Mulai dari Nana Krit, kawan di HIPMI, hingga sosok Nong Darol Mahmada, anggota TIM Sukses Boediono, yang kebetulan ada di pertemanan Facebook saya.

Beberapa menit menjelang pukul tujuh di Selasa pagi, di saat hendak membuka pintu rumah hendak menuju Bandara ke Singapura, telepon genggam saya bergetar.

“Hallo Mas Iwan, untuk membatalkan Pak Boediono tampil di forum Rajaratnam, NTU itu tentu tak mungkin.”

“Tetapi saya jamin Pak Boediono akan menyampaikan kalimat ini: Berbicara tentang studen asal Indonesia, kami mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya atas meningalnya David Hartanto Widjaja, mahasiswa asal Indonesia pada 2 Maret 2009 lalu di NTU. Dan semoga pengadilan Singapura, dapat berjalan fair dalam memutuskan perkara tewasnya.”

Saya jawab bahwa hal itu juga sudah oke, tetapi akan lebih oke, bila Boediono juga hadir di persidangan David, karena terbuka untuk umum, sebagai bentuk kepedulian?

“Saya akan coba kordinasikan,” ujar Djoko Suyanto, mantan Panglima TNI, yang saya kontak sejak Senin siang belum berbalas.

Begitu tiba di Bandara Soekarno-Hatta, saya mendapatkan kabar kembali bahwa Boediono berkenan menerima keluarga David di Hotel Shngarilla. Pukul 14, waktu Singapura.

PUKUL 14. di Hotel Shangrilla Singapura. Sesuai kordinasi dengan Rizal Malarangeng, protokol Boediono, yang dapat menemui Boediono, adalah keluarga, plus saya. Beberapa kawan wartawan tidak diberi kesempatan masuk ke salah satu ruangan kecil di balik ball room hotel itu.

Boediono berkemeja putih lengan panjang. Jasnya disampirkan ke sandaran kursi. Kami duduk di meja bundar melingkar: Boediono, Hartono Wijaja, ayah, Tjhay Lie Khiun, ibu, William Hartanto, kakak, Widjaja Kusuma, paman, saya, Rizal Malarangeng, Chatib Basri, Raden Pardede, Wardhana, Dubes RI di Singapura.

“Saya berkenan menerima keluarga, sebagai bentuk simpatik dan duka mendalam, dalam kapasitas pribadi.”

“Tempo hari pernah juga ke Pak JK ya?” tanya Boedino.

“Iya Pak, kami memang mangharap ada perhatian dari pemerintah. Karena menurut lawyer bahwa kasus ini konpirasi dan politis, tentu tanpa maksud kami ingin merusak hubungan baik kedua negara,” jawab Hartono Widjaja.

“Saya akan coba kordinasi dengan Pak JK, apa yang sudah dilakukan?” ujar Boediono.

Tak dipungkiri siang itu menjadi ajang curhat keluarga. Dan memberi penghiburan terhadap keluarga. Apalagi kemudian usai pertemuan itu saya mendengar rekaman suara Boediono yang dilakukan Novyanto, blogger, yang turut hadir dalam lecture Boediono di pagi harinya berisi alinea pidato awal macam yang disebutkan Djoko Suyanto.

Keesokan harinya sidang akhir pembacaan keputusan perkara kematian David digelar. Sebagaimana sudah diperkirakan: Pengadilan memutuskan David bunuh diri. Bagian ini saya tak tuliskan lengkap, biarlah menjadi Sketsa tersendiri dan atau menjadi kelengkapan buku ihwal kasu David yang sedang saya tulis.

Yang pasti di saat hakim Victor Yeo menyebut David bunuh diri di sekitar sekon di jam menunjukkan waktu mejelang pukul 16.30 waktu Singapura, keluarga meninggalkan ruang sidang. Palu hakim belum diketukkan. Ibu David menangis sejadi-jadi di luar pintu ruang sidang Nomor 22 di lantai 3, Subordinat Court, itu.

Ia duduk terhempas di deretan kursi yang berjejer di pintu masuk. Airmatanya mengalir deras. Saya duduk di kiri Tjhay Lie Khiun. Seketika di wajah saya membayang raut bunda sendiri yang telah berpulang pada November 2008 lalu. Saya genggam tangan kiri Thjay, meminta ia bersabar, menahan tangis, agar David tak kian sedih di alam sana.

Tangan dingin Thjay, seakan mengingtatkan saya agar segenap barang bukti terutama laptop, hand phone, agar kelak diminta dan disereah-terimakan ke keluarga oleh polisi, agar tidak diterimakan begitu saja. Mesti dihadiri oleh ahli forensik digital yang paham akan digital konten, hashing data yang dicatat, saling diketahui oleh sesame ahli digital forensic Indonesia, agar jika dilakukan analisa digital fiorensik di Indonesia, hasilnya sama?

Terutama untuk bahan persidangan yang menyebutkan di dalam laptopnya, David pada 25 Januari 2009, dikatakan polisi Singapura mebuat surat yang menyatakan dia mau bunuh diri , ditulis pada pukul 12.54.

“Padahl tanggal dan jam segitu kami sedang makan sekeluarga di restoran Angke, Jakarta, dalam rangka imlek besoknya, “ ujar Hartono Widjaja.

Dikatakan juga oleh polisi di persidangan, David mengunjungi situs yang berisi konten tentang bunuh diri.

Atas hal di atas menjadi penting bahan dgital konten yang ada di laptop David untuk dianalisa ulang.

MAKA pada 5 Agustus 2009, bersama Hartono Widjaja, Rubby Alamsyah, ahli digital forensik satu-satunya yang kita punya, juga Nofyanto, blogger yang berinisiatif membuat www.remembrancedavid.com. Berempat kami ke Singapura. Mengingat pada 6 Agustus polisi Singapura - - sebagaimana dikabarkan oleh Yayan Mulayana, Sekretaris Pertama Kedubes RI di Singapura - - akan datang ke KBRI pukul 10 mengembalikan laptop.

Akan tetapi begitu kami mendarat, dapat lagi kabar bahwa pertemuan dengan polisi Singapura ditunda 7 Agustus pukul 10.

“Kita harus siap dengan kondisi terjelek,” ujar Ruby

Di malam hari kami sudah mendiskusikan kemungkian terburuk itu, misalnya, polisi tak membawa hashing data. Hashing data adalah berupa 32 angka, berupa digital finger print. Contoh jika seseorang mengetik di MS Words, mengubah koma saja, maka angka-angka digital itu akan bergerak. Dari situ oleh ahlinya akan ketahuan, jika setelah 2 Maret 2009, apakah laptop David ada tambahan isi, dan atau file lamanya sempat diutak-atik.

Untuk analisa awal itu, Ruby membawa sekoper peralatan digital forensiknya, bersatndar internasional, agar bisa mencocokkan data penyidik yang dijadikan barang bukti oleh polisi di persidangan. Ruby juga acap membantu pekerjaan polisi kita di tanah air.

Eh, polisi Singapura baru datang pukul 10.30 di 7 Agustus itu. Inspektur So, bersama seorang Polwan, mengendarai mobil polisi berwarna putih.

Benar saja, mereka hanya membawa fisik barang-barang David, tanpa digital konten. Terjadi sialog panjang antara HartonoWidjaja, polisi dan Ruby Alamsyah. Cukup lama meyakinkan polisi.

“Inidemi kebaikan polisi Singapura, Keluarga dan kami di Kedutaan Besar RI, maka serah terima digital konten, juga diperlukan, “ ujar Rahmat, staf yang menagni IT KBRI.

Akhirnya sekitar pukul 12.30 kedua polisi itu mkeninggalkan KBRI, bejanji sebelum pukul 15.00 kembali lagi dengan membawa data digital untuk diserag terimakan ke keluarga david. Kami menunggu di KBRI. Hingga menjelang pukul 15., kami dikabri oleh Yayan Mulyana, bahwa polisi belum bisa datang kembali.

Dan pesawat kami pulang pukul 17. hari itu, sudah membuat langkah harus bersiap menuju Bandara Changi.

Begitulah, bila dalam persidangan banyak hal seakan diatur searah, giliran orang Indonesia paham dan mengerti seluk beluk data komputer, sang Polisi Singapura, berlagak polos seakan tak tahu-menahu.

Di saat mengakhiri mengetik tulisan Sketsa XVI ini, OC. Kaligis, menelapon saya dari bandara. Ia baru saja mendarat dari Washington DC, menghadiri ulang tahun Presiden Obama.

“Iwan kita banding saja kasus David itu. Saya juga ketemu temanmu di VOA, menyarankan agar terus mensosialisasikan masalah ini di online,” ujar Kaligis di ditelepon genggamnya. VOA yang dimaksud adalah Voice of America.

Seketika benak saya tertuju ke[pada laptop David, yang top habis di dalam persidangan lalu, polisi tak menemukan tanggal di mana David mengunjungi situs tberkonten bunuh diri.

“Tanpa tanggal, “ kata polisi Singapura.

Hingga diujung inilah top habis polisi Singapura.

Begitulah kisah tentang laptop yang “top” itu. ***

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.com