Archive for September, 2009

Sketsa: Macet di Mencak-Mencak Menak

Wednesday, September 9th, 2009

Sejak awal pembangunan di jaman Orde Baru, hingga era reformasi kini, program utama Departemen Perindustrian: menjual Mobil dan Motor sebanyak-banyaknya. Program nan tokcer menangguk pajak, tapi, penambahan ruas jalan tak sejalan. Macet fisik. Macet logika pikir dasar lintas-lini. Sikap pejabat tak bergerak dari langgam feodal; mencak-mencak menak, lema saya. Pada 2014 jika keadan Jakarta dibiarkan datar, kendaraan modar. Hari ini Jakarta kota dengan 7 juta motor lebih, polusi jangan ditanya. Masihkah Gubernur DKI dan jajaran ikutan latah wira-wiri wacana, laksana laku kronis ranah penguasa kini?

MATAHARI pagi masih malu-malu. Waktu pukul 6.30 di minggu pertama Ramadan tahun ini. Saya meluncur menuju Bandung. Memasuki ruas jalan tol dalam kota ke arah Cipularang, jalanan lancar. Namun di sebelah kanan, dari mulut pintu tol hingga kilometer 14, antrian panjang mobil yang hendak menuju ke dalam kota macet tersendat. Tidak habis pikir di benak saya, mereka yang di ujung di kilometer 14 itu entah pukul berapa tiba di tujuan? Jalan tiga jalur terisi menjadi empat jalur kendaraan. Mobil berarak bagaikan deretan semut berjejar empat.

Menurut mereka yang tinggal di Bogor, keadaan sama juga terjadi dari arah Bogor setiap pagi. Antrian tersendat hingga kilometer 9.

“Aibat keadaan itu saya memilih pekerjaan yang tidak terikat dengan formalitas jam kantor,” ujar kawan di samping saya.

Ia berhenti kerja formal di kantoran, tak tahan macet menahun. Kini ia mencoba peruntungan berwirausaha mengolah kompos di bilangan Depok, Jawa Barat. Sedangkan seorang seorang kawan lain yang tinggal di bilangan Karawaci, Tangerang, mengeluhkan hal sama setiap pagi dan petang.

Jika mengikuti kerja rutin kantoran di pusat kota, macam di ruas jalan segitiga Sudirman, Kuningan, Thamrin, Jakarta, mereka menghabiskan setidaknya 5 jam sehari, bahkan lebih, untuk sekadar pulang pergi di atas kendaraan. Dengan memilih berhenti bekerja di pusat kota, waktu lima jam bahkan lebih itu, kini dapat digunakan bagi hal lain yang produktif. Mereka dihadapkan ke macet membuntu.

Rutinitas menghadapi macet, kian hari kian menjadi-jadi, menjadi sarapan pagi dan santapan petang yang mesti dilewati. Dan kemacetan kian parah bila hujan mendera. Drainase jalan, seakan tersumbat di mana-mana, membuat ruas jalan dipersempit alur air mencari jalan petirasan.

Kawan saya itu pernah mencoba solusi lain. Ia memarkir saja mobilnya di rumah. Ia membeli motor. Namun langkah beralih kendaraan itu juga tak membawa perubahan signifikan. “Macet tetap sumpek. Kesehatan suka terganggu. Debu dan polusi, ” ujarnya.

Dapat dimaklumi memang. Kini di setiap perhentian lampu merah, terutama di pagi dan petang hari menyemut motor-motor, menderu-deru kenalpot seru.

Polusi di udara jangan ditanya.

Populasi pengguna motor di DKI Jakarta, memang, dinilai sudah terlalu tinggi, hingga Juni 2008 sepeda motor 6.302.616 unit, . Anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta, Sutanto Soehodo mengatakan kepada Vivanews.com, November 2008 lalu, dengan luas jalan di Jakarta yang hanya enam persen atau 39 kilometer persegi dari luas wilayah, dan pertumbuhannya hanya 0,01 % per tahun, maka idealnya peredaran sepeda motor di Ibukota sekitar sejuta unit saja.

Tingginya populasi motor menjadi salah satu penyebab kemacetan lalu lintas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta,  pertambahan motor di Jakarta mencapai 1.500 unit per hari dan mobil 500 perhari. Maka jika dihitung kasar hari ini, saat tulisan ini saya buat, setidaknya motor sudah mencapai 7 juta unit berseliweran di Jakarata. Sudah separuh dari populasi penduduk Jakarta sendiri.

Penelitian yang pernah dilakukan Japan International Corporation Agency (JICA) dan The Institute for Transportaion and Development Policy (ITDP) menunjukkan bahwa jika tidak ada pembenahan sistem transportasi umum, maka lalu lintas Jakarta akan mati tak bergerak pada 2014. Hingga Juni 2008, jumlah mobil penumpang 1.957.225 unit, mobil beban 526.181 unit, bus 318.664 unit. Angka itu tentu sudah bertambah pesat, plus motor yang sudah 7 juta unit unit berseliweran?

Perkiraan khatamnya lalu lintas Jakarta pada tahun 2014 itu didasarkan pada pertumbuhan kendaraan di Jakarta yang rata-rata per tahun mencapai 11% sedangkan pertumbuhan panjang jalan tak mencapai 1%.

Saya masih ingat, begitu Gubernur Fauzi Bowo diingatkan ihwal kemacetan ini, dalam sebuah wawancara di televisi, sosoknya mendongak. Nada suaranya tidak menunjukkan empati. Langgam demikian saya istilahkan sebagai mencak-mencak menak.

Dalam kamus bahasa Indonesia, mencak berarti meloncat-loncat, mengentak-entakkan kaki ke tanah; marah sekali. Sedangkan menak, adalah orang penting. Maka dalam konotasi judul tulisan ini, adalah orang penting yang ditanya tentang tanggung jawabnya lalu marah, paling tidak berbody language arogan.

Kendati Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah merancang pola transportasi makro (PTM) untuk menghindari kematian lalu lintas Jakarta pada tahun 2014, yang bakal memadukan empat sistem transportasi umum: bus cepat di jalur khusus (busway), kereta ringan dengan rel tunggal (monorel), jaringan mass rapid transit (MRT), dan jaringan angkutan air, namun, lagi-lagi rencana tak sesuai dengan realita.

Tahun lalu saya menulis di blog saya, bagaimana monorel akhirnya terbengkalai. Pasalnya, lagi urusan tidak adanya ketegasan pejabat, Gubernur DKI. Monorel proyek mulia yang digerakkan kalangan muda, dan mendapat respon positif oleh PT Adhi Karya dan sosok kredibel berpengalaman di Departemen Pekerjaan Umum, berpengalaman membangun ruas tol itu. Tetapi proyek itu seakan tersandra hanya oleh satu kepentingan pengusaha kakap, yang jauh hari ngiler kepada proyek monorel.

Indikasi tajam bahwa sang pengusaha itu terus menekan Pemda DKI, hingga hari ini terus menggelayut. Sosok macam pengusaha tadilah yang memenjara keadaan, memenjara kepentingan rakyat banyak yang di-endorse pejabat. Sementara Busway tak membawa perubahan kemacetan signifikan.

Sistem terpadu program PTM tadi ditargetkan selesai 2010. Namun jika melihat di lapangan di Jakarta kini yang sudah 9-9-2009, Anda akan tertawa haw-haw. Macet, macet dan macet.

PERJALANAN Jakarta- Bandung pagi itu memang tak lebih dua jam. Tujuan saya, bilangan Kopo, Bandung. Keluar pintu tol belok kanan, ke arah lapangan terbang Soelaiman. Macet mendera. Sudah belasan tahun, baik pagi, siang, petang, di sinilah titik kemacetan paling parah se Bandung. Padahal itulah ruas jalan sentral ke arah Pengalangen. Hingga kini penyakitnya sama macam di Jakarta, tidak terselesaikan oleh pemerintah daerahnya.

Keadaan kusut masai jalanan Bandung, kini hampir saban week end membuncah. Warga Jakarta dan luar kota lainnya, seakan menyerbu Bandung. Seorang kawan saya warga asli Bandung, berprinsip kini: “Sabtu dan Minggu mending di rumah saja, dari pada terperangkap kemacetan kota Bandung.”

Kenyataan itu terasa memahitkan tenggorokan. Padahal kini adanya penerbangan langsung dari Malaysia dan Singapura ke Bandung, mulai banyak datang turis dari negeri jiran itu. Mereka suka akan panorama Cihampelas dengan beragam aksesoris dagangan pakaian. Plus banyak cafe di kawsan Dago Atas yang berada di bukit dan lembah, memberikan pengalaman sendiri bersantap malam sambil melihat kelap-kelip lampu kota Bandung. Peluang mem-booster turis datang, seakan terkendala di ranah satu itu: macet!

Namun ketika hendak mengkonfirmasi ke Gubernur Jabar, di televisi saya lihat Gubernur berlanggam mencak-mencak menak pula menjawab pertanyan wartawan teve, ihwal tidak bergeraknya bantuan ke pengungsi menghadapi musibah gempa di Tasikmalaya,. 2 September 2009. Tidak terlihat empati kerendahan hati di situ.

Tadinya saya sangat berharap dengan tampilnya sosok baru, sosok muda di ranah kepemimpinan daerah, akan membawa nuansa baru. Namun melihat gaya sang gubernur pupuslah sudah harapanku. Ketika berselisih di Jl. Dago, Bandung, mobil D-1, Lexus SUV berharga Rp 1,7 miliar paling tidak, berbanding terbalik dengan masih banyaknya gizi buruk dan sekolah reot di Jabar. Miris.

Karenanya menutup Sketsa di 9-9-9 ini: saya lebih ingin menggugah: pembenahan apapun tak akan pernah terjadi. Toh, awal muasal segala hal, bermula dari diri kita sendiri, berawal dari sikap dan karakter pemimpin. Bila semua pemimpin di ranah kekuasaan gaya dan langgamnya memimpin laksana mencak-mencak menak, kiamatlah semua urusan.

Semoga hari ini bisa menjadi titik balik, setidaknya bagi dua pemimpin daerah, DKI Jakarta dan Jabar, khususnya dalam mengurus macet dan kemacetan.****

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.com

Inisiatif 9 di 9-9-09 di Ramadan.

Wednesday, September 9th, 2009

Setelah mencoba menulis dalam khasanah literair sebagai cirizen reporter - - hanya di media alternatif - - berkeliling ke beberapa daerah dalam 3 tahun terakhir, izinkan saya mensosialisasikan sembilan butir inisiatif Menggugah, Mendorong, Mewujudkan, di awal Ramadan, semoga dalam kejernihan hati menjadi aksi nyata bukan kata semata:

Inisiatif 1:

Menabalkan esensi kemanusiaan yang intangible sebagai asset hakiki peradaban.

Inisiatif 2:

Memerintahkan *) menjalankan 9 Elemen Jurnalisme bagi kalangan media, jurnalis, citizen reporter, khususnya elemen berpihak kepada warga - - fakta hari ini tak sampai 1% media mainstream di Indonesia independen; kooptasi pemangku uang dan kuasa, mengakibatkan elemen berpihak ke warga seakan sirna.

Inisiatift 3:

Memerintahkan negara menyediakan muara pendidikan dasar, menengah; menambah anggaran pendidikan menghasilkan generasi muda cerdas-bernas, bukan untuk memajukan peradaban BANGSA LAIN. - - menghapus out flow of national wealth di ranah Sumber Daya Manusia: menyediakan anggaran riset berkelanjutan di perguruan tinggi dan bea siswa nyata lokal.

Inisiatif 4:

Memerintahkan negara mempersempit out flow of national wealth di bidang Sumber Daya Alam, menyediakan instrumen pembiayaan terfokus sumber daya mineral yang dapat tertakar dan terukur sebagai jaminan, mendukung aksi nyata kepada dunia usaha, demi tumbuhnya lapangan kerja lokal di berbagai daerah.

Inisiatif 5:

Memerintahkan negara beraksi nyata - - bukan Wira-Wiri Wacana (3W) - - mendukung pembiayaan sektor pertanian, khususnya terhadap basis membumi genetic resources; mengembangkan dan menanaman bibit unggul pertanian, mulai bahan pangan (INGAT 6.750 BIBIT PADI UNGGUL NEGERI INI PUNAH), tanaman industri agro seperti Sawit, Rumbia untuk etanol, hingga buah ekssotis tropis necis; Nenas Madu Medan, Jambo Bol Madu Ungu, Manggis Putih, sekadar menyebut contoh signifikan memiliki pasar ekspor.

Inisiatif 6:

Memerintahkan negara mengembalikan kejayaan Nusantara di bahari; dengan menyalurkan pembiayaan nyata (BUKAN 3W); meningkatkan suplai Mutiara Laut Selatan ke mancanegara, ekspor industri olahan perikanan, pariwisata nyata berkonten aktif dinamis di kebaharian.

Inisiatif 7:

Memerintahkan negara membeli ulang asset-aset BUMN fital, terutama di sektor telekomunikasi, potensi intervensi nyata sendi-sendi pertahanan negara: meminimalisasi konten impor mobile phone; Indonesia terjajah di Industri hardware mobile, mempasrahkan konten dikuasai asing, SOLUSI menyediakan pembiayan riil ke industri kreatif melalui VENTURE CAPITAL, yang bukan 3W.

Inisiatif 8:

Memerintahkan negara berkerendahan hati mengakui kealpaan guna berbalik bangkit; era silam ikut membunuh industri strategis, macam pesawat N-2130, yang setara dengan Boeing 737 900 ER - - dari pembelian Lion Air saja sudah menguntungkan, - - tidak tumbuhnya industri otomotif nasional, membiarkan industri macam Perkasa Engineering, yang mampu membuat blok mesin panser berkualitas berlisensi Steyr, Austria, percuma sia-sia; Saatnya alat transportasi udara, laut, darat, termasuk kebutuhan pertahanan, mampu dibangun menjadi tuan di negeri sendiri.

Inisiatif 9:

Memerintahkan segenap anak bangsa mengkaji kembali matematika dasar dan logika dasar ber-Bahasa Indonesia, macam Subjek, Predikat, Objek, Keterangan (SPOK), menjadi langgam tutur berkerendahan hati, terutama kudu dilakukan pejabat negara, Pembuat Undang-Undang, Penegak Hukum, sehingga paham bahwa esensi hidup bermasyarakat, berbudaya adalah: Meningkatkan Kualitas Peradaban, esensi nyata Pancasila.

* Lema (diksi) memerintahkan, saya pilih, lebih ingin menggugah langsung, khususnya untuk diri saya, kita semua, mau TAFAKUR bukan sebaliknya KUFUR DI UMUR UZUR! (iwan.piliang@yahoo.com)