Sketsa PEA I: Perjalanan Kemanusiaan; Ziad di Tanah Syeh Zayed
Monday, February 22nd, 2010Sebulan saya di Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA), sejak medio Januari 2010 hingga Februari. Perjalanan membawa pulang Ziad Salim Zimah, 44 tahun, yang semula bermasalah keluarga di Abu Dhabi, tertahan urusan legal, tak bisa balik sejak 2002. Adalah Wahid Supriyadi, Dubes RI di PAE, memfasilitasi saya memediasi masalah, sehingga Ziad dapat pulang bersama saya, bertemu kembali dengan ibunya sakit tua, pernah mengangis darah menridukan anaknya. Sebuah literair pembelajaran kesabaran, jejak hukum dan kemanusiaan.
PADA 28 Januari 2010 pagi pukul 9.00 waktu Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA) Di meja makan Dubes RI di Wisma Duta, di kawasan Villa, pemukiman baru, Muhammad bin Zayed City, sudah terhidang ayam, tempe dan tahu goreng, tumis pare dirajang tipis dengan cabe hijau. Kerupuk udang di dalam toples. Sarapan pagi itu, kali kedua saya ke sana Setelah sepekan di Abu Dhabi, saya sempat pulang dulu ke Jakarta seminggu. Pagi itu dengan Wahid Supriyadi, Dubes, kembali kami sarapan bersama.
Saya melihat ke kanan ke luar jendela. Di halaman samping, makin hijau tanaman sawi - - campuran mie ayam seperti di Jakarta - - daun singkong, tiga batang pepaya, tumbuh sepinggang. Daun bawang sup dan serai juga menghijau. Udara di luar 19 derajat celcius, mengingatkan saya akan kawasan Puncak, Jawa Barat.
Cabe rawit di meja di piring kecil, berikut pare yang ditumis, sedang saya lahap, juga hasil kebun samping, tidak begitu pahit. Justeru rasa pedas menyengat. Saya berkeringat.
“Syukurlah, Anda kembali, bisa menjembatani solusi, membantu Ziad bisa pulang, tinggal proses hukumnya diurus,” ujar Wahid.
Ziad yang dimaksud Wahid adalah sosok pria Indonesia sebaya saya. Ia pada medio 2002 ke Abu Dhabi menemui adiknya Firza, yang telah menikah dengan Saleh Alkatiri, warga negara PEA. Kehadiran Ziad ke sana, untuk mencoba mendamaikan keluarga sang adik. Di mana Firza menyatakan sudah tak kuat mepertahankan rumah tangga, karena acap menerima kekerasan fisik di rumah tangganya.
Berbeda dengan Manohara, ketika terjadi kekerasan fisik padanya belum memiliki keturunan. Tetapi pada kasus Firza, telah diperoleh dua pasang anak. Karenanya, atas keinginan Saleh, suami Firza, meminta Ziad berusaha membujuk adiknya melanggengkan perkawinan mereka.
Kepada saya, Ziad menuturkan, ”Firza bilang dia sudah sangat tak kuat,” kata Ziad pula mengutip Firza, “Mau saya paksakan meneruskan perkawinan, tetapi kalau nanti mendengar saya misalnya lompat tak kuat gimana?” Ada nada ancaman bunuh diri di mulut Firza ke kakaknya.
Mendengar kalimat adiknya itu, Ziad tak dapat berbuat apa-apa. Sang adik ipar, Saleh Alkatiri, salah seorang pengusaha papan atas di sana. Bisnisnya salah satunya menjadi vendor pakaian militer dan polisi PEA. Firza sebagai isteri kedua Saleh. Ia “minggat” pulang ke Indonesia, meninggalkan anaknya yang kini sudah di tingkat SMU dan SMP itu, bersama sang paman, Ziad di Abu Dhabi.
Malang tak dapat diduga, untung belum dapat diraih, Ziad kemudian diperkarakan oleh Saleh ke pengadilan di Abu Dhabi. Ia dituduh menggelapkan uang semasa perjalanan perkawinan dengan adiknya. Tidak tanggung-tunggung tuntutannya mencapai US $ 7 juta. Ziad yang sudah berpacaran serius dengan seorang dokter gigi cantik di Jakarta itu, dikenal keluarganya amanah, seketika seakan menghadapi tembok buntu. Sebab, begitu menghadapi proses hukum, seseorang menjadi tergembok meninggalkan PEA.
“Pernah saya mencoba pulang pada 2002 dari Dubai, tapi passpor saya langsung di blok,” kata Ziad.
Ia lalu berhadapan dengan setidaknya 5 kasus yang kemudian dituduhkan Saleh Alkatiri. Nun di setiap ujung kasus pengadilan, Ziad dinyatakan tidak bersalah. Tetapi begitu satu kasus menyatakannya bebas, kasus berikutnya sudah menghadang. Satu kasus memakan tempo bahkan hingga dua tahun. Lantas, keputusan akhir mahkamah pada awal 2009 - - - setelah 7 tahun berperkara - - menjatuhkan vonis kepada Firza (bukan untuk Ziad) mengganti kerugian mantan suaminya sebesar US $ 500.000.
Keputusan pengadilan itulah yang membuat Ziad seakan tersandera entah hingga kapan di PEA.
Bahkan setelah Saleh Alkatiri meninggal dunia pun pada September 2009, sebulan kemudian sang adik, Hasan Alkatiri melaporkan Ziad melakukan pidana memalsukan dokumen. Lagi-lagi kenyataan ini membuat Ziad kian menghadapi tembok baja untuk bisa ke luar dari negara penghasil minyak ketiga terbesar dunia itu.
Bila dilanjutkan setori ini, sebenarnya menceritakan ketidak nyamanan tentang diri sendiri, keluarga sendiri, bangsa sendiri. Contoh kasus, selama ini passpor Ziad tidak bisa diperpanjang. Alasannya, menurut penuturan Ziad, pernah ia datang ke KBRI, dikatakan kalau KBRI belum bisa memperpanjang karena ia masih bermasalah hukum. Keterangan demikian tentu dibantah oleh KBRI. Justeru sebaliknya, yakni, Ziad tidak muncul-muncul ke KBRI.
“Bagaimana saya datang, baru sampai di gerbang KBRI, tidak dibukakan pintu, ditolak masuk oleh petugas KBRI, ia bilang urusan kamu dengan Saleh Alkatiri belum beres,” tutur Ziad.
Laku saling menyalahkan ini tentu berlangsung di era sebelum Wahid Supriyadi sebagai Dubes.
Passpor Ziad baru dapat diperpanjang awal 2010 ini. Hal itu terjadi ketika Teguh Wardoyo, Direktur Perlindungann Warga Negara Indonesia (PWNI) di Deplu mengirim stafnya, Iskandar, awal 2010 ke Abu Dhabi. Ziad dapat ditemui Iskandar dan kala itu pula paspornya diperpanjang KBRI. Namun Iskandar tak bisa membawa pulang Ziad, karena memang urusan hukumnya belum tuntas.
Adapun Teguh, tergerak, setelah mendapatkan kontak dari Muhammad Rahmad, staf ahli Fraksi Demokrat di DPR. Rahmad saya kenal ketika saya memverifikasi kasus Pembunuhan David Hartanto Wijaya di Singapura. Rahmad kala itu salah satu staf KBRI Singapura. Saya meminta bantuan Rahmad, setelah suatu siang bertemu ibu Ziad
Sosok ibu Ziad, wanita tua, berkulit putih, dengan jalan agak membungkuk. Ia kena penyakit gula, jantung dan ginjal. Kerinduan mendalam kepada anaknya yang tak bisa ia temui selama 8 tahun, menyiratkan kepedihan mendalam. Ketika saya bertemu untuk ketiga kali ketika sempat pulang ke Jakarta sepekan, saya melihat mata kanan ibu Ziad mengeluarkan darah. Rupanya karena kepedihan tajam, telah mebuat pembuluh darah di matanya ada yang pecah. Seumur-umur dalam hidup saya, baru kali itulah saya menemui fakta pepatah: menangis darah! Ibarat melihat ibu kandung sendiri, mebulatkan tekad saya, Ziad pasti harus saya bawa pulang.
Di dalam verifikasi saya di lapangan, Saleh Alkatiri, memang dekat dengan orang-orang di KBRI, bahkan mantan supir Saleh, kini juga menjadi driver KBRI. Saleh juga punya anak yang bekerja di pengadilan Abu Dhabi, punya relasi luas dengan detektif kepolisian. Kenyataan inilah tampaknya, kehadiran saya, sebagai mediator, setidaknya menjadi pemecah kristal kebuntuan.
Sebuah kejadian pernah pula menimpa Ziad. Oleh oknum kepolisian Abu Dhabi, ia pernah mendapatkan perlakuan kasar. Sejak itu ia lebih banyak “bersembunyi” mengurung diri. Rutinitasnya, sebagaimana ia paparkan: bangun pukul 3 dinihari, shalat tahajud. Lalu menanti waktu subuh, shalat, berzikir, tidur, bangun pukul 10, lalu shalat dhuha, berzikir menanti zuhur, dan seterusnya demikian di antara waktu shalat. Begitu monoton, percaya atau tidak, ini dilakoni Ziad selama 8 tahun. Rasa takut menghantui hari-harinya. Kejiwaan Ziad mengalami sindrom ketidak-percayaan kepada orang lain.
Pintu solusi kemudian seakan terbuka, setelah sepekan sebelumnya saya mara ke Abu Dhabi. Adalah dari Hasan Alkatiri, adik almarhum Saleh Alkatiri, saya mendapatkan keterangan, bahwa tuntutan Saleh terakhir kepada sebuah rumah yang dibeli untuk keluarga ayahnya, WNI, yang ada di Indonesia. Properti itu masih dikuasai keluarga Firza. Dan jika aset itu dikembalikan, ahli waris akan mencabut semua tuntutan kepada Ziad, dan Ziad boleh pulang ke Indonesia. Urusan khalas (selesai).
DI KEPOLISIAN Khalidiyah, Abu Dhabi, medio Januari 2010. Saya bersama Amin Appa, staf lokal bagian konsuler di KBRI, mencoba menelusuri kasus dan berkas Ziad. Mengingat semua berkas itu harus diurut dan dicabut di kepolisian sehingga black list-nya di imigrasi dapat dihapus dan ia bisa pulang.
Di siang mentari terik tapi udara dingin itu, kami sengaja meninggalkan Ziad di mobil Toyota Innova - - Kijang Innova di sana 2.700 cc mesinnya - - kuatir Ziad yang selama ini menghilang justeru akan ditangkap polisi. Logikanya jika di dalam mobil berpelat CD, tak bisa ditangkap siapapun, ada ranah kekebalan diplomatik.
Setelah berkas Ziad kami perlihatkan ke lima orang investigator dengan proses menunggu mencapai sejam, investigator meminta Ziad dihadapkan ke mereka. Dengan berpura-pura memutar mobil, seakan menjemput Ziad, kami kembali membawanya. Lama kami menunggu, waktu magrib tiba. Ziad rupanya dibawa ke ruang bawah di sel-kan dengan kaki dirantai. Saya begitu kuatir. Keadaan ini kian memperburuk kejiwaan Ziad.
Untunglah kala itu Hannan Hadi, staf konsuler KBRI berkenan datang. Ia mencoba berbicara dengan Hasan Alkatiri, adik Saleh. Dari dialog itu saya menangkap Hasan berkenan mencabut laporan pidana di kasus terbaru, di mana Ziad dilaporkannya memalsukan dokumen. “Nah jika ada kasus hukum demikian, membuat KBRI sulit berbuat. Satu-satunya cara, mendekati pihak yang memperkarakan, menyelesaikan,” ujar Hanan Hadi.
Al hasil, pada pukul 21 malam, Ziad dapat kami bawa pulang dengan jaminan KBRI, dan paspornya ditinggal di kepolisian. Dan mulai hari itu Ziad diminta KBRI tinggal di KBRI. Saya masih ingat hari itu Kamis malam Jumat - - hari di mana libur di PAE. Saya pulang lega ke Wisma Duta. Keesokan pagi, terjadi kejutan, Ziad menghilang. Komunikasi dengannya sirna. Agaknya, pengalaman singkat dirantai di polisi itu, sebagaimana saya duga, kian membuatnya trauma.
Padahal, dari body language Hasan Alkatiri saya menangkap kesan damai. Ketika ia pertama datang ke kantor polisi di depan saya, saya lihat Hasan yang berpakaian kandura putih panjang, duduk jongkok di kaki Ziad meminta maaf. Dalam bahasa Arab. Bahkan ketika rantai di kaki Ziad dilepas dan ia boleh pulang, Hasan merangkul, memeluk Ziad. Konon sikap demikian sebagai budaya Arab di urusan khalas. Sinyal itu yang membuat saya optimis. Tetapi kaburnya Ziad, membuat harapan pudar. Saya lemas. Saya memutuskan pulang ke Jakarta.
Selama 8 tahun ini memang Ziad merahasiakan keberadaannya, juga komunikasinya melalui mobile phone, sangat kuatir dilacak polisi. Ketika kembali ke Jakarta saya yakinkan keluarga Ziad. Alhamdulillah komunikasi akhirnya bisa terjalin kembali antara Ziad dan keluarga.
Aset properti yang diminta keluarga Saleh Alkatiri, senilai Rp 1 miliar dapat saya yakinkan ke pihak keluarga Ziad untuk diserahkan. Toh Ziad, juga atas dukungan KBRI, juga akan dapat dipulangkan, jika seluruh kasus hukum sudah dicabut pihak memperkarakan.
Di depan notaris di Jakarta, keluarga Ziad menyerahkan kunci, sertifikat tanah di bilangan Duren Sawit, untuk saya bawa kembali ke Abu Dhabi
Dan di pagi saat sarapan bersama Wahid Supyaridi itu, saya sampaikan ihwal penyerahan asset itu sebagai adanya pintu solusi kasus yang merepotkan ini. Atas dasar itulah Wahid menyampaikan kalimat syukurnya.
Akan tetapi, lain padang lain ilalang, mencabut kasus di mahkamah pengadilan PAE, juga mencabut blac list di polisi dan imigrasi, tidaklah macam membalik telapak tangan. Pada tulisan lain tentang perjalanan ini, akan saya tuliskan dalam sesi tersendiri.
WAKTU menunjukkan pukul 09.30. Pagi 28 Januari 2010 itu, saya kembali menumpang mobil dinas Dubes, Mercedes Benz S 350. Di udara yang dingin saya amati, kendaraan kebanyakan dengan kapasitas mesin besar. Ada mobil seperti Mercedes Benz CL 65 (6.500 CC), biturbo, dua pintu, yang dipacu di jalur paling kiri - -khusus kecepatan tinggi - - dengan kecepatan 200 km perjam. Jalanan masing-masing 6 jalur, lebar beraspal kokoh massif dan rata. Satu dua Ferrari lewat di kiri kami. Bentley dua pintu, bahkan Roll Royce menjadi biasa di jalanan. Sekelabat lewat Bugatti Veyron hitam merah, persis mobil-mobilan mainan yang dibeli anak saya. Inilah salah satu negeri tempat menyimak manca ragam mobil mewah.
Abu Dhabi kota yang oleh pendirinya, Syeh Zayed, ditabalkan hijau. Adalah keinginan Zayed mengubah gurun berpasir gersang, menjadi hijau raya-raya. Untuk membuat kehijauan itu, di setiap meter tanah, membentang bermeter-meter selang air, baik berrukuran besar dan kecil. Di masing-masing pipa ada cerobong air dapat diprogram menyiram otomatis. Aliran pipa air itulah kemudian memberikan kehidupan bagi rumput, bunga pohonan, termasuk kurma tumbuh hijau di sepanjang trotoar dan pembatas jalan lebar.
Bersama Wiahid Supriyadi, Dubes, kami berdiskusi betapa peluang Indonesia besar merambah pasar PEA. Itulah titik perhatian Dubes saat ini. Di era Wahid ini pula kini sudah mulai masuk investasi langsung ke Indonesia, seperti investor untuk batubara dan jalan kereta api di kalimatan Timur senilai US $ 5 miliar.
“Nanti Juni, Garuda mulai lagi terbang ke Amstrerdam, dan transit di Dubai. Kita punya peluang mengirim beragam produk ke sini,” ujar Wahid.
Setiap hari tak henti-henti Wahid menjalin kontak, mencari akses bagi masuknya investasi ke Indonesia.
“Jika terfokus melayani tenaga kerja bermasalah, tidak akan ada habisnya. Sayang jam kerja diplomat habis disibukkan dengan urusan yang tak sesuai dengan kapasitasnya,”
“Lihatlah negeri ini, jangan cuma terfokus di kasus Ziad,” nasehat Wahid.
Saya sependapat dengan Dubes kita ini. Bayangkan setiap hari di banyak KBRI, kini, terutama di Timur Tengah, waktu para diplomat dan staf lokal, habis tersita mengurus TKW bermasalah di urusan yang terkadang remah-remah.
Sebagai contoh, di Abu Dhabi saya bertemu dengan anak, sebut saja Santi, TKW asal Cianjur. Ia baru bekerja 3 bulan, lalu terdampar di KBRI. Katanya ia diperkosa adik majikannya.
Ketika saya tanya, umurnya baru 18 tahun. Lebih parah ia tak mengerti apa itu diperkosa.
Saya tanya badannya diapakan?
“Dada saya diraba. Tetek saya dikenyot-kenyot,” jawab Santi polos. Maaf hal ini saya tuliskan, agar Anda mendapatkan kesan betapa lugu dan polosnya sosok Santi, contoh TKW yang dikirim oleh bangsa ini ke negeri orang.
Lalu?
“Celana saya dibuka”
Sampai di sini tak tega saya menuliskan, Sidang Pembaca. Intinya dari deskripsi Santi, ia baru hendak dimasukkan “senjata” pria dari belakang. Konklusi, pelecehan seksual terjadi.
Tetapi apakah sudah diperkosa? Wallahuawam. KBRI menghadapi dilema; pertama jika dilaporkan polisi, negara kita pasti disalahkan, mengapa mengirim anak di bawah umur? Santi tak mau pula di otopsi, lebih parah, di benaknya yang ada pulang, minta dipulangkan. Padahal PJTKI yang mengirimnya, konon, illegal pula. Kasus demikian ribuan corak dan ragamnya. Energi diplomat kita terkuras untuk hal demikian.
“India, Pakistan, Banglades yang lebih miskin, tidak mengirim tenaga kerja wanita ke negeri orang, Filipina mengimkan tenaga terdidik seperti kasir untuk supermarket,” kata Wahid. Saya lihat kegemasan di wajahnya.
Saya katakan, tidak akan pernah sebuah bangsa bermartabat, jika memperlakukan para perempuannya, berhamburan menjadi babu di negeri orang, lalu kemudian direndahkan, diperkosa, dilecehkan.
Dalam perjalanan ke kantor KBRI, kawasan Maharba Area Street 32, di pagi hari itu, terlintas di benak saya, bahwa segala masalah TKW di luar negeri, bermula dari laku kita di dalam negeri. KBRI di luar negeri ketiban apes.
Salah satu kegundahan yang sama di benak kami adalah: bagaimana para diplomat di luar negeri waktunya habis di urusan TKW. Mulai dari isu perkosaan, pengiriman tenaga kerja di bawah umur.
Setiba di KBRI, saya seakan sudah memiliki pos sendiri. Saya menuju dapur. Di lokasi ini akses wifi untuk internet berjalan cepat. Ada meja makan di mana saya dapat membuka laptop. Dan begitu senangnya saya, Ziad rupanya sudah ada di dapur. Itu artinya, kami bersama KBRI, bisa meneruskan mengurut berkas kasus Ziad, mulai dari mahkamah, polisi, investigator. Sudah saya bayangkan kerja yang melelahkan, membutuhkan kesabaran sekaligus bikin dag dig dug.
Kendati kuatir, hati saya kian mantap dapat membawa Ziad pulang, selain bekal sertifikat tanah yang sudah di tangan, sikap Wahid Supriyadi, Dubes, telah memperlakukan saya di luar dugaan. Ia memberi penginapan lebih dari memadai, makan lebih dari tiga kali sehari jika mau, menyediakan supir, mobil dan penterjemah untuk ke mahkamah. Sikap Wahid ini tentu berbeda dengan apa yang saya alami ketika memverifikasi kasus pembunuhan David Hartanto Wijaya di Singapura - - baca di 17 Sketsa soal David di blog-presstalk.com Saya menduga sikap ini karena keterbukaan berpikir sang Dubes, toh, jika kasus Ziad selesai, artinya menyelesaikan satu dari sekian banyak masalah yang mereka hadapi.
Laku demikian, memang seharusnya diperbuat oleh KBRI di luar negeri, memberi fasilitas dan perlindungan kepada warga negaranya. Jika bukan KBRI siapa lagi?
Di Sketsa PEA berikutnya, saya bertutur lika-liku mengurus berkas Ziad, potensi negeri kita yang kaya seharusnya bisa seberkibar Persatuan Emirat Arab, yang kini telah memiliki gedung pencakar langit di Dubai, Burj Khalifah, tertinggi di dunia.***
Iwan Piliang, literary citizen reporter, blog-presstalk.com, 22 Februari 2010